Indonesia
NovelToon NovelToon
Takdir Sang Ophelia

Takdir Sang Ophelia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Ashe Lepidoptera

Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.

Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.

Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.

Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Aidoneus masih mempertahankan senyum kecilnya. “Entahlah. Bisa saja kepala sekolah itu yang bertindak di balik layar.” 

Kenapa jawabannya abstrak begitu? 

Kaiser ingat sehari sebelum kecelakaan Airin kakaknya ada pertemuan dengan kepala keluarga Maharaja—pemilik sekolah. Mungkin disana dia menyampaikan pendapatnya dan membuat pembullyan Ophelia berhenti. 

Kenapa? Padahal bukan seperti kakaknya pernah bertemu dengan gadis itu atau sesuatu. 

“Oh, di depan kamu berhenti dulu.” 

“Ada apa?” 

Senyum Aidoneus semakin lebar. “Kakak mau memperlihatkan sesuatu.” 

Begitu mobilnya berhenti di tempat aman, Aidoneus memperlihatkan sebuah foto pada Kaiser. 

Seorang pria terlihat diikat di sebuah kursi dengan mata yang ditutup kain kemerahan. Wajahnya terlihat babak belur, dengan jari-jari tangan yang—

Kaiser langsung memalingkan wajah. 

“Foto siapa itu?!” tanyanya cepat. Ia langsung merasa mual. “Kenapa foto begitu diperlihatkan padaku?” 

Aidoneus tertawa. “Keren ya? Arga memang berbakat kalau urusan begini.” 

Kak Arga? Kakaknya Airin? 

Kaiser memang tahu kalau dia itu punya pekerjaan yang agak ekstrim, tapi sampai seperti itu?

“Dia—”

“Ya.” Kakaknya mengangguk. “Ini adalah orang yang menyerang Airin beberapa minggu lalu.”

Kaiser langsung terdiam. Ia selalu heran bagaimana bisa Airin sepolos itu ketika kakaknya pandai menyiksa orang.

“Sepertinya orang yang mengirim pemburu ini menggunakan anonim, dia tidak bisa mengatakan satu nama pun walau sudah disiksa selama itu.”

Aidoneus menyimpan ponselnya. “Tapi—” dia kembali tersenyum. “Pemburu ini mengatakan alasan kenapa pengirimnya ingin mencelakakan Airin.” 

Kaiser menelan ludahnya, mempersiapkan diri. “Kenapa?” 

“Sepertinya di sekolah ada seseorang yang sudah lama menaruh hati padamu, tapi karena terlihat jelas kamu suka dengan Airin, dia melampiaskan rasa kesalnya pada gadis itu.” 

Kaiser membulatkan mata.

“Sepertinya dia tidak suka jika ada gadis manapun yang dekat dengan pangerannya,” lanjut Aidoneus.

Perkataan Ophelia kembali terngiang di telinga Kaiser.

—”Itu seperti, kamu sengaja melambaikan daging segar di depan predator yang kelaparan.” 

—”Lebih baik tertawa atau pura-pura tidak lihat saja lain kali. Itu akan lebih membantuku.”

Kaiser menaruh kepalanya di atas setir kemudi, seluruh tubuhnya terasa lemas. 

Oh.

Dengan suara lirih, ia bergumam. “Jadi itu maksudnya.” 

“Yah, bukan berarti semua salahmu juga.” Aidoneus mendengus dan mengusap kepala adiknya pelan. “Orang-orang dengki seperti itu akan tetap ada, walau kamu tidak dekat dengan siapapun.” 

“Tapi Airin terluka karena diriku,” ujar Kaiser pelan. 

Ophelia juga mesti melalui itu semua gara-gara dia.

Aidoneus bersandar di kursinya. “Berada di puncak sosialita, apapun yang kita lakukan pastinya akan memengaruhi orang lain. Mau itu teman, kekasih—segala tindakan mesti dipikirkan berulang kali karena…” 

Aidoneus berhenti sebentar, tatapannya jauh ke depan jalan sana. “...mau tidak mau itu akan mengubah hidup mereka.” 

“Kalau aku cuma membuat Airin dalam bahaya, lebih baik kami jangan—”

“Bukan berarti kamu mesti menjauh dari gadis itu juga.” Aidoneus langsung menyela. “Airin memang polos, tentu. Tapi dia cuma butuh dilatih—hanya harus sedikit lebih terbiasa lagi untuk bisa bersanding denganmu. Itupun, kalau kalian benar-benar serius.” 

Kaiser menggigit bibirnya.  

“Diskusikan dulu saja dengan Airin oke? Hal seperti ini harus diputuskan oleh kalian berdua.” 

Pemuda itu mengangguk. “Aku mengerti.” 

...****************...

Ophelia sengaja pulang ke kediaman Pratama setelah makan siang, entah kenapa dia tidak mau melihat wajah Ayah angkatnya hari ini. 

Rasanya benar-benar mual.

“Oh, kamu udah pulang.” Chelsea terlihat menatapnya dari atas tangga. 

“Ophelia.” 

Tubuhnya langsung tersentak mendengar itu.

Randi Pratama terlihat berdiri dari sofa, “Ikut Ayah ke ruang kerja.” 

De javu. 

Dengan jantung yang berdebar dan nafas yang semakin berat, Ophelia mengikuti Ayah angkatnya ke dalam ruangan. 

Di tempat ini, satu tahun yang akan datang—ophelia akan tiada. 

Ia hanya bisa duduk dengan kaku, melihat tempat dimana dia dicambuk sampai mati di depan meja itu. 

Randi terlihat tidak sadar dengan serangan panik yang dialami Ophelia dan bertanya dengan santai. “Kamu baru menengok Airin ‘kan? Bagaimana kondisi dia sekarang?” 

“Lebih baik,” ucap Ophelia pelan. 

“Baguslah.” Pria berusia 35 tahun itu tersenyum dan meminum kopinya. “Semenjak kamu menyelamatkan gadis itu, keluarga Purnomo menawarkan beberapa kerjasama yang benar-benar menguntungkan. Ayah bahkan bisa menjalin hubungan yang bagus dengan keluarga Mahawirya karena dikenalkan mereka.”

Randi berdiri dari kursi dan menepuk pelan bahu Ophelia. “Kerja bagus. Keluarga kita semakin dikenal karena dirimu.” 

Randi terdengar mengoceh tentang hal lain. Dia menawarkan beberapa hadiah untuk Ophelia seperti benda mahal yang ingin ia beli, makanan apa yang ingin dia makan atau sesuatu yang dia mau. 

Namun Ophelia hanya bisa mengepalkan telapak tangannya mendengar itu. 

Satu-satunya hal yang ia mau sekarang hanya penderitaan pria di depannya ini. Ia ingin balas dendamnya terpenuhi. 

Tapi itu perlu waktu. 

“Aku mau berkunjung ke panti,” ujar Ophelia. “Kemarin adik-adikku bilang mereka rindu.” 

Randi mengangguk. “Kamu bisa pergi kesana besok.” 

Balas dendamnya mesti sempurna. 

Ophelia ingin melihat Randi menderita sepelan mungkin, se-sengsara mungkin, sebelum akhirnya dia mati mengenaskan. 

Seperti Ophelia dulu.

Namun ia mesti menyusun lebih banyak bidak untuk itu.

...****************...

—Sebelas bulan kemudian—

Seorang gadis terlihat mengantuk di bangkunya. Bel istirahat baru berbunyi, ia bisa tidur sebentar sebelum pelajaran dimulai lagi. 

“Wakil ketua.” 

Cih, Ophelia baru akan tidur. 

“Wakil ketua~” 

Ophelia mengangkat kepala, melihat Airin yang sudah berdiri di sampingnya. “Ke kantin yuk.” 

Di kelas dua, ajaibnya Ophelia dan Airin berada di kelas yang sama. Dia kembali terpilih menjadi wakil ketua kelas sedangkan Airin menjadi bendahara. 

“Jangan bilang kamu bawa bekal lagi,” ucap Airin. “Nggak bosen apa menunya salad sama dada ayam terus?” 

Jangan tanya kalau soal itu.

“Bawa. Tapi kayaknya aku bakal makan makanan kantin aja.” 

Persetan dengan berat badan. Lagipula entah kenapa, akhir-akhir ini ayah angkatnya lebih membebaskan Ophelia dari biasanya. Penimbangan yang biasa dilakukan satu kali seminggu sekarang menjadi sebulan sekali, terkadang saat makan malam Randi membiarkan Ophelia dan Chelsea untuk memesan makanan cepat saji.

Bahkan Ophelia dibebaskan untuk mengunjungi panti asuhannya kapanpun dia mau. 

Entah apa yang direncanakan orang gila itu.

Sedangkan kehidupan sekolahnya, dalam hampir satu tahun terakhir tidak banyak perubahan yang terjadi. 

Reine terpilih menjadi ketua OSIS, sedangkan Kaiser keluar dari organisasi itu semenjak Airin kembali masuk sekolah. Ophelia menjadi lebih baik dalam taekwondo dan masih memegang peringkat satu di angkatan. 

Semuanya berjalan normal, tidak ada pembullyan apapun. 

Tidak ada.

Tapi—

“Airin~” temannya itu tiba-tiba dipeluk dari belakang.

Reine bertindak mencurigakan beberapa bulan terakhir ini.

1
aku
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!