Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:5
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Aku Mau Sepasang Matanya

"Bawa dia pergi," kata Baskara.

Keempat lelaki melepaskan Bimo. Suryani segera menyambut tubuh putranya yang nyaris jatuh.

"Ke rumah sakit," perintahnya kepada paramedis. "Cepat!"

Baskara menghalangi tandu dengan satu kalimat.

"Dengar baik-baik, Bimo."

Lelaki itu mendongak dengan susah payah.

"Malam ini kau masih bisa keluar dari rumah ini karena Ratri belum mengambil nyawamu. Kalau ada lain kali, Mama Suryani boleh menyiapkan kain kafan sebelum datang."

Suryani memeluk putranya lebih erat. "Kau mengancam adikmu sendiri demi perempuan ini?"

"Saya sedang memberi peringatan terakhir."

"Baskara..."

"Pergi."

Tidak ada suara keras. Tetap saja Suryani tidak berani membantah lagi.

Petugas medis membawa Bimo menuju ambulans. Pakar hukum keluarga dan para kerabat mengikuti dari belakang. Suryani menjadi orang terakhir yang pergi. Sebelum melewati gerbang, ia menoleh kepada Ratri dengan kebencian yang menjanjikan perang lain.

Ratri membalasnya tanpa ekspresi.

Polisi selesai menyegel kamar dan membawa salinan rekaman. Mereka menyerahkan surat tanda terima barang bukti kepada Wira, lalu meninggalkan rumah setelah memastikan jadwal pemeriksaan akan diatur melalui kuasa hukum.

Para wartawan masih berteriak di jalan, tetapi penjagaan Baskara membuat mereka tidak bisa mendekat.

Halaman perlahan kosong.

Tinggal Ratri, Baskara, Wira, Panji, dan dua kelompok pengawal yang masih saling mengukur.

Ratri memandang noda darah Bimo di lantai.

Ia tahu apa yang baru dilakukan Baskara.

Lelaki itu memang mempermalukan dan menghukum Bimo di depan semua orang. Namun, dengan mengambil alih hukuman, ia juga mengakhiri hak Ratri untuk terus menyiksa lelaki tersebut malam ini. Bimo dibawa ke rumah sakit dalam keadaan hidup, dilindungi oleh pengakuan publik bahwa ia sudah menerima hukuman dari kakaknya.

Baskara terlihat kejam kepada adiknya.

Padahal ia baru saja menyelamatkan nyawa Bimo dari tangan Ratri.

"Anda masih sama," kata Ratri.

Baskara menatapnya. "Apa maksudmu?"

"Selalu melakukan satu hal sambil menyembunyikan tujuan lain."

"Saya tidak menyembunyikan bahwa Bimo bersalah."

"Tapi Anda menyembunyikan bahwa Anda ingin membawanya pergi sebelum saya selesai."

Panji menunduk. Wira justru mengencangkan rahang.

Baskara tidak menyangkal.

Ratri berjalan mendekat. Setiap langkah membuat pandangannya berdenyut, tetapi ia tidak memperlambat diri.

"Saya belum selesai dengan Bimo."

"Dia sudah mengaku. Polisi memegang bukti."

"Saya tidak bicara tentang polisi."

"Lalu apa yang kau inginkan?"

Ratri berhenti satu langkah di depannya.

"Sepasang matanya."

Wira menoleh cepat. Panji tetap diam, tetapi jemarinya menegang di sisi tubuh.

"Dia melihat sesuatu yang bukan haknya," lanjut Ratri. "Dia juga memandang saya seolah tubuh saya barang milik keluarga Adiningrat. Saya mau kedua matanya."

Baskara menatap wajah istrinya lama sekali.

Tiga tahun lalu, Ratri masih mudah tersenyum. Ia akan menyisihkan makanan untuk pelayan yang pulang terlambat, diam-diam membayar biaya sekolah anak sopir, dan meminta maaf bahkan saat orang lain menginjaknya.

Perempuan itu telah hilang.

Yang berdiri di hadapannya sekarang dibentuk oleh tiga tahun fitnah, kesendirian, dan bahaya yang tidak bisa ia cegah dari kejauhan.

"Tidak," kata Baskara.

Ratri tersenyum dingin. "Akhirnya jujur."

"Saya tidak akan menyerahkan matanya."

"Karena dia adik Anda?"

"Karena malam ini cukup."

"Cukup bagi siapa?"

Baskara tidak menjawab.

Ratri sudah menduga penolakan itu. Namun, tetap saja ada sesuatu yang tenggelam di dalam dadanya, sisa kecil harapan yang seharusnya sudah mati tiga tahun lalu.

Ia selalu tahu Baskara masih hidup.

Karena itulah ia membiarkan desas-desus tentang dirinya tumbuh semakin liar. Ia tampil kejam di depan keluarga, menghancurkan setiap orang yang mencoba menginjaknya, dan sengaja membiarkan dunia percaya bahwa ia sanggup menumpahkan darah.

Kalau Baskara mengawasinya dari suatu tempat, ia ingin lelaki itu melihat.

Ia ingin memaksanya keluar.

Malam ini, caranya berhasil.

Tetapi kepulangan Baskara tidak terasa seperti kemenangan.

Tatapan Baskara jatuh pada pusaka berbungkus kain lurik di tangan Ratri. Darah telah meresap sampai ukiran logam di dalamnya terlihat samar.

"Eyang Suryo memberikannya kepadamu?"

Ratri menutup telapak. "Anda tidak berhak menanyakan milik ibu saya."

"Kain pelindungnya harus diganti. Darahmu sudah menembus simpul."

"Anda tahu banyak untuk orang yang tidak pernah pulang."

Baskara mengeluarkan saputangan putih dari saku jas. Ia hendak membungkus tangan Ratri, tetapi perempuan itu mundur.

"Jangan sentuh saya."

Tangannya berhenti di udara.

Ratri melihat bekas luka tipis di bagian dalam pergelangan Baskara ketika mansetnya bergeser. Satu garis, lalu garis lain yang tertutup bayangan. Terlalu rapi untuk luka kecelakaan.

Sebelum ia sempat memperhatikan lebih jauh, Baskara menurunkan lengan dan menutup kembali mansetnya.

Satu rahasia lagi.

Seperti biasa.

"Ndoro."

Panji melangkah mendekat. Suaranya sangat rendah. "Orang-orang di sana masih menunggu. Kita tidak bisa menunda lebih lama."

Baskara tidak segera menjawab.

Sejak lahir, ia membawa waskita yang membuat hidup orang lain terbuka seperti jalan di bawah cahaya. Ia bisa melihat bayang-bayang nasib hampir semua orang untuk satu tahun ke depan. Kecelakaan, pengkhianatan, keuntungan, bahkan rahasia yang belum diucapkan sering muncul kepadanya sebelum peristiwa itu terjadi.

Hanya satu orang yang tidak pernah bisa dilihatnya.

Ratri.

Setiap kali ia mencoba mencari masa depan perempuan itu, yang ditemukannya hanya kehampaan. Tidak ada besok. Tidak ada satu bulan lagi. Tidak ada bayangan setahun ke depan.

Seolah garis takdir Ratri berhenti tepat di depan matanya.

Itulah sebabnya ketika darah Ratri mengalir malam ini, sesuatu di dada Baskara ikut terjerembap. Sukma mereka terikat oleh sumpah yang bahkan belum diingat Ratri. Jarak ribuan kilometer pun tidak pernah benar-benar memisahkan rasa sakit mereka.

Dan sekarang ikatan itu terasa semakin tipis.

"Pergilah kalau urusan Anda lebih penting," kata Ratri. "Anda sudah ahli melakukannya."

Baskara ingin menyentuh wajahnya. Tangannya bahkan bergerak sedikit sebelum ia tahan.

"Biarkan dokter memeriksamu."

"Tidak perlu."

"Ratri."

"Pergi."

Baskara menatap darah yang mengalir di lehernya, lalu memandang Wira. "Jangan tinggalkan dia."

"Saya tidak butuh perintah Anda untuk menjaga Nyai Ratri," jawab Wira.

Panji menahan napas. Tidak banyak orang berani berbicara seperti itu kepada Baskara.

Namun, Baskara hanya mengangguk tipis.

Ia berbalik dan berjalan menuju gerbang. Para pengawal serta personel bersenjata bergerak mengikutinya. Cahaya kendaraan satu per satu meninggalkan dinding rumah.

Ratri tetap berdiri sampai mobil terakhir hilang dari pandangan.

Barulah bahunya jatuh.

Belati terlepas dari tangan Wira ketika Ratri tiba-tiba mencengkeram lengannya. Darah segar mengalir dari belakang kepala perempuan itu, membasahi telapak dan pusaka yang masih digenggamnya.

"Nyai!"

"Cari tahu Baskara tinggal di mana," bisik Ratri. "Siapa orang-orangnya, siapa yang dia temui, dari mana semua kekuasaan itu berasal. Jangan lewatkan apa pun."

"Kita ke rumah sakit dulu."

"Periksa dia. Kali ini... dia berbeda."

Kaki Ratri kehilangan tenaga.

Wira menangkapnya sebelum kepalanya menghantam lantai.

"Nyai Ratri!"

Perempuan itu tidak lagi menjawab.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!