Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Angin malam berembus cukup kencang menyapu permukaan air kolam renang infinity di balkon Penthouse A Mega Tower.
Ardi berdiri bersandar di pagar kaca balkon dengan segelas jus jeruk dingin di tangannya.
Dia menatap hamparan lampu kota Jakarta di bawah sana dengan pikiran yang sangat tenang dan jernih.
"Rasanya baru kemarin aku memunguti sisa makanan karena kehabisan uang di akhir bulan," batin Ardi sambil tersenyum menertawakan masa lalunya.
"Dan sekarang, kota raksasa ini terasa seperti papan catur kecil di bawah kakiku," gumamnya pelan.
Tiba-tiba, antarmuka cahaya emas Sistem muncul melayang tepat di depan pandangan matanya.
Layar itu berkedip merah terang, menyela waktu santainya dengan sebuah peringatan darurat yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
[Peringatan Darurat Tuan Rumah!]
[Sistem mendeteksi adanya lima individu bersenjata tajam sedang menyusup naik menggunakan akses lift VVIP.]
[Tingkat Ancaman: Mematikan. Tujuan: Pembunuhan.]
Ardi mengernyitkan dahinya, namun sama sekali tidak ada kepanikan di wajah tampannya itu.
"Sistem pertahanan Mega Tower ternyata bisa ditembus juga ya," batin Ardi meletakkan gelas jusnya ke atas meja santai.
"Sepertinya anak manja bernama Bastian itu berlari mengadu pada ayahnya sambil menangis," gumam Ardi menganalisis situasi dengan sangat cepat.
Dia tidak repot-repot memanggil pihak keamanan gedung karena itu hanya akan membuang waktu.
Dengan keahlian Bela Diri Campuran tingkat Grandmaster yang baru dia beli, Ardi justru merasa sangat bersemangat.
"Bagus, aku kebetulan sedang butuh pemanasan sebelum tidur," ucap Ardi sambil meregangkan otot leher dan jari-jemarinya.
Ardi berjalan masuk kembali ke ruang tengah penthouse yang sangat luas itu dan berdiri tepat di tengah-tengah karpet Persia.
Ting!
Suara bel lift VVIP berdenting pelan di lorong luar, menandakan para tamu tak diundang itu telah tiba.
Terdengar suara alat pemotong elektronik yang sedang merusak panel kunci sidik jari di pintu ganda milik Ardi.
Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh detik, pintu kayu raksasa berukir emas itu terbuka paksa dengan suara berderit pelan.
Lima orang pria berbadan kekar yang mengenakan pakaian serba hitam melangkah masuk dengan sangat hati-hati.
Mereka semua memakai topeng ski yang hanya memperlihatkan kedua mata, dan masing-masing menggenggam sebilah parang panjang yang mengkilap tajam.
Pemimpin kelompok itu, seorang pria dengan tato kalajengking di lehernya, langsung menatap lurus ke arah Ardi.
"Wah, ternyata target kita sudah menunggu dengan patuh di ruang tengah ya," ucap pria bertato itu dengan suara serak yang mengerikan.
"Apakah kalian tidak pernah diajari sopan santun untuk mengetuk pintu sebelum bertamu?" jawab Ardi santai sambil melipat tangannya di dada.
Kelima pembunuh bayaran itu tertawa pelan mendengar ucapan Ardi yang terdengar sangat konyol di telinga mereka.
"Bocah sombong, kau pikir uang miliaranmu itu bisa menyelamatkan nyawamu malam ini?" ejek si pemimpin sambil mengayun-ayunkan parangnya.
"Berapa banyak uang yang dibayarkan oleh Grup Rajawali pada kalian?" tanya Ardi mencoba memancing konfirmasi dari mulut musuhnya.
Pria bertato itu sedikit terkejut karena Ardi bisa menebak dalang di balik serangan ini dengan sangat tepat.
"Tuan Bramantyo membayar kami masing-masing seratus juta rupiah hanya untuk memenggal kepalamu yang tidak berharga ini," jawab pria itu membusungkan dadanya.
"Hanya seratus juta? Harga nyawaku ternyata sangat murah di mata kalian," balas Ardi dengan nada kasihan yang dibuat-buat.
"Banyak bicara! Habisi bocah tengik ini sekarang juga!" perintah sang pemimpin pada empat anak buahnya di belakang.
Empat pembunuh bertubuh besar itu langsung menerjang maju secara serempak dengan parang terhunus ke udara.
Mereka mengincar empat titik vital di tubuh Ardi secara bersamaan agar target mereka tidak bisa kabur.
Namun di mata Ardi yang kini memiliki insting Grandmaster MMA, pergerakan mereka terlihat sangat lambat dan penuh celah.
Ardi memutar tubuhnya dengan sangat lincah ke arah kanan, menghindari tebasan parang pertama yang mengincar lehernya.
Wush!
Angin dari sabetan senjata tajam itu hanya menebas udara kosong.
Brak!
Ardi mengayunkan tendangan memutar yang sangat kuat tepat ke arah rahang pembunuh pertama.
Pria berbaju hitam itu langsung terlempar ke udara dan menabrak pilar marmer hingga pingsan seketika dengan rahang hancur.
Tiga pembunuh lainnya terkejut setengah mati melihat kekuatan fisik Ardi, namun mereka sudah terlanjur melompat maju menyerang.
Ardi menangkap pergelangan tangan pembunuh kedua yang mencoba menusuk perutnya.
Krak!
Dengan satu pelintiran cepat, tulang lengan pembunuh itu patah menjadi dua bagian yang tidak wajar.
"Arghhh! Lenganku!"
Jerit pembunuh kedua itu menjatuhkan parangnya dan berlutut menahan rasa sakit.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Ardi menggunakan tubuh pembunuh kedua itu sebagai pijakan untuk melompat ke udara.
Bugh! Bugh!
Dua tendangan berturut-turut mendarat telak di dada pembunuh ketiga dan keempat.
Suara tulang rusuk yang retak bergema mengerikan di dalam ruangan mewah yang kedap suara itu.
Kedua pembunuh itu muntah darah dan terpental sejauh lima meter hingga menabrak meja kaca kristal sampai hancur berkeping-keping.
Semua serangan mematikan itu terjadi hanya dalam kurun waktu kurang dari lima belas detik.
Pemimpin pembunuh bertato kalajengking itu kini berdiri mematung dengan kaki yang gemetar hebat.
Matanya terbelalak lebar menatap keempat anak buah elitnya yang sudah terkapar tidak berdaya di lantai bak serangga mati.
"I-ini mustahil, informasi dari Tuan Bramantyo menyebutkan kau cuma pemuda lemah yang kaya mendadak!" gumam pria bertato itu terbata-bata mundur ke belakang.
"Apakah kau benar-benar percaya pada informasi dari seorang pria tua bangka yang anak bungsunya baru saja menangis ketakutan tadi?" ejek Ardi tersenyum sinis.
Pria bertato itu menelan ludah dengan susah payah, dia tahu betul dia sedang berhadapan dengan monster malam ini.
Dengan sisa keberaniannya, dia berteriak keras dan menerjang maju mengayunkan parangnya secara membabi buta ke arah Ardi.
"Mati kau bajingan!" teriak pria itu mengincar kepala Ardi.
Ardi tidak mundur sama sekali, dia justru melangkah maju menyambut serangan putus asa itu.
Dia memiringkan kepalanya sedikit, membiarkan mata parang itu lewat hanya beberapa sentimeter dari telinganya.
Duk!
Tangan kanan Ardi meluncur bagai kilat dan meninju tepat di ulu hati pria bertato kalajengking tersebut.