Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Tap. Tap. Tap.
Langkah sepatu bot kulit beradu dengan trotoar beton terdengar semakin jelas dan mendekat ke arah halte.
Tiga pemuda berjaket kulit hitam dengan emblem klub motor tertempel di dada mereka berdiri mengelilingi gerobak Galang.
Wajah ketiganya terlihat kusam dan dipenuhi keringat bercampur kotoran debu jalanan.
"Hei penjual baru, kau tahu aturan main jualan di wilayah sini?" tegur salah satu pemuda dengan rambut gondrong.
Pemuda itu menendang pelan roda gerobak Galang membuat rangka kayunya sedikit berderit ngeri.
Galang menelan ludah dan menatap ketiga orang berwajah garang itu dengan sangat waspada.
Ingatan buruk tentang preman pasar yang menghancurkan gerobaknya kemarin malam kembali berkelebat di benaknya.
"Maaf Mas, saya baru malam ini mencoba jualan di sini," jawab Galang dengan nada setenang mungkin. "Ada yang bisa saya bantu?"
Pemuda kedua yang memiliki bekas luka melintang di pelipisnya mendengus remeh.
"Kalau mau jualanmu aman setiap malam, siapkan jatah makan gratis untuk kami bertiga sekarang juga," ancamnya sambil menepuk etalase kaca dengan keras. "Atau gerobak rongsokanmu ini tinggal kenangan."
Galang tersenyum tipis mendengar ancaman basi ala preman jalanan tersebut.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah lagi tunduk pada pemalakan seperti ini.
"Saya jualan nasi goreng, harganya tiga puluh lima ribu seporsi," ucap Galang tanpa ragu sedikit pun. "Kalau kalian mau beli silakan duduk, tapi saya tidak melayani premanisme di sini."
Pemuda berambut gondrong itu membelalakkan matanya tanda tidak percaya dengan keberanian Galang.
"Tiga puluh lima ribu untuk makanan kaki lima? Kau benar-benar sudah gila ya!" bentaknya dengan wajah memerah.
Namun sebelum pemuda itu sempat mengangkat kerah baju Galang, hidungnya menangkap sisa aroma masakan dari wajan besi di depannya.
Kruyuk.
Perut ketiga anak motor itu berbunyi secara bersamaan memecah ketegangan yang baru saja terbangun.
Mereka bertiga baru saja selesai balapan liar di pinggiran kota dan belum mengisi perut sama sekali sejak sore tadi.
Rasa lapar dan lelah akibat kurang tidur benar-benar menyiksa ketahanan fisik mereka saat ini.
"Aroma harum apa ini?" gumam pemuda ketiga yang sejak tadi hanya diam mengamati.
Galang melihat celah kesempatan yang bagus dan segera menyalakan kompor gasnya kembali.
Cetek. Wusss.
"Kalian terlihat sangat kelelahan sehabis balapan," ucap Galang sambil menuangkan sedikit minyak goreng ke dalam wajan. "Biar kubuktikan kenapa harga nasi gorengku ini sangat pantas untuk kalian bayar."
Sreng!
Bawang putih tunggal yang menyentuh minyak panas langsung meledakkan aroma gurih yang menusuk rongga hidung ke udara.
Ketiga anak motor itu seketika terdiam dan terpaku menatap gerakan tangan Galang.
Wangi karamelisasi kecap hitam premium dan telur ayam kampung benar-benar menghipnotis kesadaran mereka hingga mereka menelan ludah.
Hanya dalam waktu kurang dari tujuh menit, tiga piring nasi goreng yang mengepul panas sudah tersaji rapi di meja kayu.
"Silakan dimakan, kalau rasa lelah kalian tidak hilang, kalian bebas pergi tanpa perlu bayar sepeser pun," tantang Galang sambil menyilangkan tangan di dada.
Tanpa ba-bi-bu lagi, ketiga pemuda garang itu langsung menarik kursi dan meraih sendok garpu mereka.
Kunyah. Kunyah.
Mata pemuda gondrong itu membulat sempurna saat suapan pertama menyentuh permukaan lidahnya.
"Gila, rasa gurih apa ini?" teriaknya dengan mulut yang masih penuh dengan kunyahan nasi.
Trang. Trang.
Suara sendok yang beradu keras dengan piring terdengar sangat berisik bagaikan orang yang sedang kelaparan berminggu-minggu di tengah gurun.
Mereka bertiga menghabiskan porsi masing-masing dengan rakus dalam waktu kurang dari tiga menit saja.
Begitu suapan terakhir tertelan masuk ke perut, keajaiban dari resep sistem perlahan mulai bekerja menyusuri aliran darah mereka.
Rasa pegal luar biasa di punggung akibat membungkuk terlalu lama di atas motor balap perlahan menguap.
Mata mereka yang tadinya berat karena kantuk kini terbuka lebar dan terasa sangat segar bugar.
"Tubuhku rasanya ringan sekali," gumam pemuda berbekas luka itu sambil memutar-mutar bahunya dengan heran.
"Benar, rasanya seperti baru bangun dari tidur nyenyak seharian penuh," tambah temannya dengan wajah takjub memandangi tangannya sendiri.
Sikap garang dan arogan mereka seketika luntur tak berbekas berganti dengan rasa hormat yang luar biasa pada penjual di depan mereka.
Pemuda gondrong itu merogoh saku jaketnya, mengeluarkan dompet kulit, dan meletakkan dua lembar uang seratus ribu di atas etalase kaca.
"Ambil saja semua kembaliannya Bang," ucap pemuda itu dengan nada yang kini terdengar sangat sopan dan tunduk. "Nasi goreng buatan Abang memang pantas dihargai mahal seperti ini."
"Terima kasih banyak Mas," jawab Galang sambil tersenyum puas mengantongi uang tersebut.
Ketiga pemuda itu pun pergi menuju motor mereka dengan langkah yang tegap dan wajah yang cerah.
Ting.
[Progres Penjualan: 4/50 porsi.]
Galang menghela napas panjang menatap angka transparan di layar sistem yang masih sangat jauh dari target kelulusan.
Waktu terus berjalan mundur tanpa ampun meninggalkan rasa cemas di hatinya.
Satu jam berlalu dengan lambat, lalu dua jam berikutnya ikut berlalu.
Halte bus mulai berangsur sepi dan Galang baru berhasil menjual sepuluh porsi tambahan kepada beberapa penumpang malam yang kelaparan.
[Waktu tersisa: 1 jam 15 menit.]
[Progres Penjualan: 14/50 porsi.]
Keringat dingin mulai membasahi punggung kemeja pudar yang dipakai Galang.
Ancaman mengerikan bahwa gerobaknya akan disambar petir terus membayangi pikirannya hingga membuatnya gelisah.
"Apakah aku akan gagal memalukan di misi keduaku ini?" batin Galang yang mulai dilanda kepanikan luar biasa.
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar riuh dari arah gedung perkantoran tinggi di seberang jalan.
Sekelompok pria dan wanita dengan tali ID card perusahaan yang masih menggantung di leher berjalan setengah berlari menyeberang menuju halte.
Jumlah rombongan dadakan itu terlihat sangat banyak, kira-kira ada sekitar lima belas orang.
"Itu dia gerobak kayunya!" teriak seorang wanita berkacamata tebal sambil menunjuk heboh ke arah Galang.
Rombongan pekerja kantoran itu langsung berkerumun memadati area di depan gerobak Galang.
"Mas, ini benar gerobak nasi goreng yang baru saja diunggah Mbak Nadia di Instastory barusan kan?" tanya seorang pria jangkung dengan napas ngos-ngosan.