Indonesia
NovelToon NovelToon
Hujan Yang Tak Pernah Reda

Hujan Yang Tak Pernah Reda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Rico Warsa

Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Cerita yang Tak Pernah Terucap

Malam itu, mereka memutuskan untuk tetap tinggal di rumah sakit, menunggu di ruang keluarga yang disediakan bagi kerabat pasien ICU. Sari sudah tertidur di salah satu sofa, kelelahan emosional akhirnya mengalahkan kekhawatirannya. Denis sudah pulang untuk mengambil beberapa keperluan, berjanji akan kembali pagi-pagi sekali.

Kirana duduk berhadapan dengan Ibu, hanya berdua di ruangan yang temaram. Secangkir teh hangat yang dibelikan Raka sebelum ia pulang tergeletak tak tersentuh di antara mereka.

"Bu," Kirana akhirnya memecah keheningan, suaranya lebih tenang dari sebelumnya. "Aku ingin dengar semuanya. Bukan potongan-potongan, bukan penjelasan setengah-setengah. Aku ingin tahu bagaimana semua ini bermula."

Ibu menatap cangkir tehnya lama, seperti mencari keberanian di dalam uap yang mengepul darinya. Akhirnya, ia mulai bicara, suaranya pelan namun mantap.

"Bapakmu bertemu ibu Denis sebelum kami menikah. Hubungan itu berakhir sebelum aku dan Bapak bersama, tapi ternyata wanita itu sudah mengandung Denis saat itu. Bapak tidak tahu sampai bertahun-tahun kemudian, setelah kita menikah, setelah kamu dan Kak Sari lahir."

"Lalu apa yang terjadi?" tanya Kirana, mencoba menahan diri untuk tidak memotong.

"Ibu Denis menghubungi Bapak saat Denis berusia lima tahun, memberitahu kebenarannya. Bapakmu... dia hancur. Dilema antara tanggung jawab sebagai ayah dan menjaga keluarga yang sudah dibangunnya bersamaku." Ibu menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca mengingat masa itu. "Aku marah besar waktu itu, Kirana. Aku merasa dikhianati, meski secara teknis dia tidak berselingkuh dariku. Tapi kebohongan bertahun-tahun itu terasa sama menyakitkannya."

"Kenapa kalian tidak bercerai saja?" Kirana bertanya, meski ia sendiri tidak yakin ingin mendengar jawabannya.

"Kami hampir bercerai," aku Ibu jujur. "Tapi kalian masih kecil waktu itu, dan aku... aku masih mencintai Bapakmu, terlepas dari semua kemarahanku. Kami memutuskan untuk bertahan, dengan syarat Bapak tetap bertanggung jawab pada Denis, tapi diam-diam, tanpa melibatkan kalian berdua."

"Jadi kalian memilih berbohong pada kami selama bertahun-tahun demi menjaga keluarga yang katanya utuh ini?" Ada kepahitan di suara Kirana, meski kali ini lebih ke arah kesedihan daripada amarah.

"Kami pikir itu yang terbaik saat itu," jawab Ibu, suaranya nyaris berbisik. "Kami pikir kalian tidak perlu menanggung beban dari kesalahan yang bukan kalian buat. Tapi ternyata... ternyata kebohongan itu justru menciptakan luka yang berbeda. Luka yang membuatmu pergi tanpa pernah benar-benar tahu alasannya."

Kirana merasakan matanya memanas. Ia selama ini menyimpan kemarahan pada Ibu, membayangkan sosok yang dengan sengaja menyembunyikan kebenaran demi kepentingannya sendiri. Tapi mendengar cerita ini, ia melihat sosok lain—seorang wanita yang juga terluka, yang membuat pilihan sulit dengan caranya sendiri, meski pilihan itu ternyata salah.

"Kenapa tidak pernah bilang, walau setelah aku dewasa?" tanya Kirana, suaranya melembut.

"Aku takut," Ibu akhirnya mengakui, air mata mulai mengalir tanpa ia coba tahan lagi. "Aku takut kau akan membenciku, membenci Bapakmu. Aku takut kebenaran itu akan menghancurkan hubungan kita yang sudah rapuh. Dan ternyata... ketakutanku sendiri yang justru menghancurkannya."

Kirana menggenggam tangan Ibu, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sejak kepulangannya. "Bu, aku tidak bilang aku sudah baik-baik saja dengan semua ini. Tapi aku mengerti kenapa kau membuat pilihan itu, meski aku berharap kau tidak melakukannya."

Ibu balas menggenggam tangan putrinya erat, seolah takut kehilangan momen kecil itu. "Maafkan Ibu, Kirana. Maafkan Ibu karena tidak cukup berani untuk jujur lebih awal."

Untuk pertama kalinya sejak kepulangannya, Kirana merasakan sesuatu yang mendekati kedamaian—bukan karena semua masalah telah selesai, tapi karena akhirnya ada kejujuran yang mengalir bebas di antara mereka, tanpa lagi ada tembok kebohongan yang memisahkan.

"Kita akan melalui ini bersama, Bu," bisik Kirana. "Aku, kau, Kak Sari... dan mungkin, pelan-pelan, Denis juga."

Ibu mengangguk, senyum kecil yang penuh kelegaan menghiasi wajahnya yang lelah—senyum pertama yang Kirana lihat sejak ia kembali ke rumah ini.

Di luar jendela, hujan yang sejak sore mengguyur kota akhirnya benar-benar reda, menyisakan langit malam yang perlahan mulai cerah, seolah alam turut merayakan kejujuran kecil yang baru saja terjadi di antara ibu dan anak itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!