Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.
Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.
Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Malam Pengusiran di Ibu Kota
Gemerlap lampu kristal raksasa menerangi aula utama Grand Imperial Auction House di jantung ibu kota. Malam itu, lelang barang antik dan aset bernilai triliunan rupiah sedang berlangsung. Para elit, politisi, dan taipan bisnis berkumpul dengan balutan pakaian desainer terbaik mereka.
Namun, di pintu masuk utama aula tersebut, sebuah drama yang memalukan tengah menjadi tontonan para tamu VIP.
Mia Zimmer berdiri dengan wajah pucat, menggigit bibir bawahnya menahan air mata penghinaan. Di sampingnya, ayahnya, Thomas Zimmer, dan ibunya, Sarah, diadang oleh enam orang petugas keamanan berbadan tegap.
Dari dalam aula, melangkah keluar Reginald Zimmer paman Mia yang baru saja mengangkat dirinya sendiri sebagai Patriark Keluarga Zimmer setelah kematian kakek Mia semalam. Reginald mengenakan setelan jas mewah, memegang segelas wine, dan menatap Thomas dengan senyum penuh kemenangan yang kejam.
"Reginald! Apa maksudnya ini?!" bentak Thomas, wajahnya memerah karena amarah dan rasa malu dilihat oleh puluhan rekan bisnisnya. "Kakek baru saja meninggal, dan kau memblokir aksesku ke dana keluarga lalu menuduhku menggelapkan uang perusahaan? Dan sekarang kau melarangku masuk ke acara lelang yang selama ini selalu aku kelola?!"
Reginald tertawa pelan, sebuah tawa yang merendahkan. Ia mendekat dan menepuk pipi saudaranya itu dengan pelan.
"Dengar baik-baik, Thomas. Kau bukan lagi bagian dari Keluarga Utama Zimmer," desis Reginald dengan suara yang sengaja dikeraskan agar para tamu lain bisa mendengar. "Bukti penggelapan dana yang kau lakukan sudah kuserahkan ke dewan direksi. Mulai detik ini, kau, istrimu, dan putrimu yang tidak berguna ini resmi diusir dari keluarga. Kalian tidak berhak menggunakan nama Zimmer, dan kalian tidak berhak atas satu sen pun dari harta kakek."
"Itu fitnah! Kau memalsukan laporan keuangan itu untuk merebut posisiku!" jerit Sarah sambil menangis, mencoba membela suaminya.
"Keamanan, buang sampah-sampah ini dari hadapanku. Kehadiran mereka menodai udara elit di ruangan ini," perintah Reginald tanpa belas kasihan.
Para petugas keamanan langsung bertindak kasar, mendorong Thomas dan keluarganya keluar dari gedung lelang yang megah itu. Para tamu elit yang dulu sering menjilat Thomas kini hanya berbisik-bisik, menertawakan kejatuhan mereka tanpa ada satu pun yang berniat membantu.
Sementara itu, jauh di atas balkon lantai dua yang gelap dan tersembunyi dari pandangan, seorang pria berpakaian serba hitam berdiri mematung. Ia adalah kapten dari Shadow Guard, pasukan pengawal elit Istana Phantom yang dikirim langsung oleh Arthur Summers.
Pria itu menyentuh alat komunikasi di telinganya. "Markas, target telah diusir secara publik oleh Reginald. Tidak ada ancaman fisik yang fatal saat ini. Hanya penghinaan verbal."
Dari seberang saluran, suara Silas Mercer terdengar dingin. "Tahan posisimu, Kapten. Perintah Jenderal sangat jelas: kalian hanya bertugas melindungi nyawa mereka dari upaya pembunuhan dan menggali informasi lebih dalam. Jangan melakukan intervensi pada masalah internal keluarga mereka, atau keberadaan kita akan tercium oleh intelijen Kekaisaran Utara."
"Dimengerti. Saya juga mencatat bahwa Reginald Zimmer baru saja melakukan kontak mata dengan seorang pria beraksen asing di sudut VIP. Pria asing itu memiliki tato kalajengking di lehernya kemungkinan besar terafiliasi dengan The 7 Assassins. Dugaan Jenderal bahwa Reginald dibantu oleh pihak luar untuk melakukan kudeta ini sepertinya benar."
"Terus awasi mereka dari bayang-bayang," tutup Silas.
Di luar gedung lelang, angin malam ibu kota berhembus sangat dingin. Mia, Thomas, dan Sarah berdiri di trotoar yang sepi, diusir tanpa membawa apa-apa selain pakaian yang menempel di badan mereka. Rekening bank mereka telah dibekukan. Mobil mereka telah disita.
"Ayah... apa yang harus kita lakukan sekarang?" isak Mia pelan, memeluk ibunya yang masih menangis. "Kita tidak punya uang. Kita tidak punya tempat tinggal."
Thomas memejamkan matanya sejenak, menghela napas panjang menahan beban dunia yang baru saja runtuh di pundaknya. Namun, berbeda dengan pria lemah, Thomas adalah seorang ayah yang selalu bersiap untuk kemungkinan terburuk.
"Jangan menangis, Mia, Sarah," ucap Thomas dengan suara bergetar namun tegas. Ia merogoh saku bagian dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah kunci kuningan tua. "Ayah sudah menduga bahwa ambisi pamanmu suatu hari nanti akan menghancurkan kita. Bertahun-tahun yang lalu, Ayah diam-diam membeli sebuah rumah kecil di distrik pinggiran menggunakan nama samaran. Rumah itu tidak terhubung dengan aset Keluarga Zimmer."
Mata Mia sedikit melebar. "Ayah punya rumah darurat?"
"Ya. Itu sangat kecil dan kumuh, tapi setidaknya kita punya atap untuk berlindung malam ini," jawab Thomas sambil merangkul istri dan putrinya. "Kita akan berjalan kaki ke halte bus malam. Mulai hari ini, kita harus belajar hidup sebagai rakyat biasa."
Satu jam kemudian, mereka tiba di sebuah lingkungan padat penduduk yang kumuh di pinggiran ibu kota. Rumah yang dimaksud Thomas adalah sebuah bangunan bata kecil beralaskan semen kasar. Atapnya sedikit bocor, dan udara di dalamnya berbau debu serta kelembapan.
Tidak ada kasur empuk, tidak ada pelayan, dan tidak ada lampu kristal. Sarah duduk di atas kursi kayu lapuk dan kembali menangis meratapi nasibnya yang berubah drastis dalam semalam.
Mia mengambil sebuah kain lap dan mulai membersihkan debu di meja kayu kecil. Tangan lembutnya yang biasanya hanya memegang cangkir teh porselen kini harus berhadapan dengan kotoran. Namun, gadis itu tidak mengeluh.
Saat membersihkan debu, pikiran Mia melayang ke kota metropolis, teringat pada sosok Arthur Summers. Mia tahu bahwa pria itu memiliki kekuasaan dan jaringan intelijen yang luar biasa. Jika Mia meneleponnya dan meminta tolong, Arthur pasti akan datang menyelamatkannya.
Namun, Mia menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia mengingat kisah Arthur. Arthur berhasil bangkit dari nol karena ia tangguh.
Jika Arthur bisa bertahan dari pengkhianatan keluarganya, maka aku juga harus bisa, batin Mia dengan tekad yang baru. Aku tidak akan membebani Arthur dengan masalah keluargaku. Aku akan mencari keadilan untuk kakek dan ayahku dengan tanganku sendiri.
Di luar rumah kecil itu, di atas atap gedung seberang jalan yang gelap, dua anggota Shadow Guard berjongkok dalam senyap. Mata mereka yang dilengkapi teropong inframerah terus mengawasi rumah keluarga Thomas.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...