Indonesia
NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teror di Balik Bayangan Malam

Sisa-sisa ketegangan akibat kedatangan Raka di lobi kampus masih menggantung pekat, bahkan setelah pria itu dan anak buahnya pergi meninggalkan area gedung perkuliahan.

Langkah kakiku terasa kaku saat menyusuri lorong menuju ruang kelas. Di sampingku, Varro melangkah dengan wajah amat kaku. Rahangnya mengatup rapat, dan jemari tangan kanannya yang menggenggam jemariku tak juga melonggar.

"Varro, pegangan lo kekencangan," bisikku pelan, melirik tangan kami yang bertaut.

Varro tersentak kecil, seolah baru saja tersadar dari lamunan panjangnya. Ia memelankan langkah, melonggarkan cengkeramannya, namun tetap enggan melepaskan jemariku.

"Sorry, Gisel. Gue gak fokus," sahut Varro pelan. Suara baritonnya yang biasa terdengar percaya diri kini terselip nada cemas yang teramat tebal.

"Gue gak apa-apa, beneran. Lo gak usah panik begitu," kataku mencoba tersenyum untuk mengurangi beban di wajahnya.

Varro berhenti tepat di depan pintu keruang kelasku. Ia memutar tubuhnya, menatap lurus tepat ke dalam kedua bola mataku dari jarak dekat.

"Nanti sore selesai kuliah, lo langsung tunggu gue di sini. Jangan melangkah satu meter pun tanpa gue, ngerti?" desaknya dengan nada penuh komando mutlak.

"Tapi sore ini gue ada shift kerja di kafe, Varro. Gue gak bisa bolos kerja terus-terusan," sanggahku realistis.

Varro mengerutkan alisnya, hendak memprotes keras, namun ia menahan napasnya saat melihat tatapan mataku yang tak kalah teguh. Ia menghembuskan napas berat secara perlahan.

"Oke," jawabnya mengalah. "Gue yang bakal antar lo ke kafe, dan selama lo kerja, anak-anak Starlit bakal berjaga di sekitar lokasi. Dan ingat, simpan HP baru itu di saku yang mudah lo jangkau."

Aku mengangguk pelan. "Iya, Pangeran Varro. Gue janji bakal hati-hati."

Sore harinya, langit Jakarta kembali berubah redup dinaungi awan hitam tebal. Hujan gerimis tipis mulai membasahi permukaan jalanan saat Varro mengantarku sampai ke pelataran kafe tempatku bekerja menggunakan mobil sport-nya.

Suasana kafe sore ini terbilang cukup lengang. Hanya ada beberapa meja yang terisi oleh pelanggan yang ingin berteduh dari hujan. Meski aroma kopi dan lagu bernuansa akustik yang diputar Bu Maya terasa sangat menenangkan, hatiku sama sekali tidak bisa tenang. Kalimat Raka tadi pagi di kampus terus bergema di dalam kepalaku bagaikan kaset rusak.

“Kita lihat seberapa kuat lo bisa menjaga cewek ini saat malam mulai turun nanti.”

Aku melirik ke arah luar jendela kaca kafe yang berembun. Di seberang jalan, dua unit sepeda motor besar milik anggota geng Starlit tampak terparkir tenang di depan kedai kelontong. Varro benar-benar membuktikan ucapannya. Ia menempatkan orang-orangnya untuk mengawasiku dari kejauhan tanpa membuatku merasa terganggu saat bekerja.

"Gisel, kamu kenapa dari tadi melamun terus? Ada masalah?" panggil Steven ramah seraya meletakkan sebuah nampan bersih di balik meja kasir.

Aku tersentak pelan, menguasai raut wajahku. "Eh, enggak kok, Stev. Cuma agak capek aja gara-gara tugas kuliah menumpuk."

Steven mengulas senyum hangatnya. "Kalau cape, kamu istirahat sebentar di belakang. Biar lantai satu aku yang pegang dulu."

"Gak usah, Stev. Gue gak apa-apa kok," jawabku menolak halus.

Jam dinding di atas bar menunjukkan pukul delapan malam lewat empat puluh menit. Jam operasional kafe sudah hampir berakhir, dan Bu Maya sudah lebih dulu pamit pulang ke lantai dua. Aku dan Steven mulai bersiap merapikan meja serta mengunci pintu kaca depan.

"Gisel, biar sampah di dapur aku yang buang ke bak penampungan di lorong belakang ya," tawar Steven seraya menyambar dua kantong plastik hitam besar.

"Jangan, Stev! Biar gue aja yang buang," celatukku cepat. Lorong belakang kafe itu merupakan gang sempit yang agak gelap dan sepi. Aku tidak ingin Steven yang tidak tahu apa-apa terlibat masalah jika tiba-tiba ada orang berniat jahat di sekitar sana.

"Lho, gak apa-apa kok, cuma buang sampah doang," sahut Steven heran.

"Gak apa-apa, sekalian gue mau cuci tangan di kran luar," jawabku beralasan seraya menyambar dua kantong plastik itu dan melangkah menuju pintu belakang.

Begitu menginjakkan kaki menembus pintu kayu belakang kafe, hawa dingin dan aroma tanah basah menyergap kulitku. Lorong sempit di samping kafe terasa begitu hening, hanya diterangi oleh pendar lampu jalanan yang redup dan berkedip-kedip.

Aku melemparkan dua kantong plastik sampah ke dalam bak penampungan besar. Namun, saat aku memutar tumit hendak kembali masuk ke dalam kafe, derap langkah kaki bersol tebal mendadak berdetak dari arah ujung gang yang gelap.

Brak!

Pintu kayu belakang kafe yang baru saja kubuka mendadak didorong keras dari luar oleh sebuah tangan kekar, lalu ditutup rapat hingga terkunci dari luar.

Jantungku seketika berdegup kencang secara maraton. Aku refleks melangkah mundur dua tindak seraya menyapukan pandangan cepat. Dari dalam kegelapan ujung lorong, tiga sosok pria berpakaian serba hitam dan mengenakan masker kain melangkah keluar secara perlahan, mengepung ruang gerakku.

"Gisella Vanessa Setiawan..." panggil salah satu pria berbadan tinggi dengan suara parau yang dingin. "Akhirnya kita bisa bicara berdua tanpa ada gangguan dari Varro dan anak-anak Starlit-nya."

Kewaspadaanku seketika melonjak ke tingkat tertinggi. Anak-anak Starlit yang berjaga di seberang jalan utama pasti tidak bisa melihat ke area lorong belakang yang tersembunyi ini.

Tanganku refleks masuk ke dalam saku jaket denimku. Jemariku yang gemetar meraba permukaan halus ponsel pintar baru pemberian Varro. Mengingat instruksi penting dari Varro kemarin malam, tanpa membuang waktu dan tanpa menarik kecurigaan mereka, aku menekan tombol power ponsel itu sebanyak tiga kali berturut-turut di dalam saku!

Klik! Klik! Klik!

Sinyal darurat SOS dan koordinat GPS posisiku kini telah terkirim secara otomatis ke ponsel milik Varro.

"Kalian siapa?! Mau apa lagi?!" bentakku menyembunyikan kepanikan, mengulur waktu seraya memasang kuda-kuda bertahan.

Pria tinggi di tengah menyunggingkan senyum liciknya dari balik masker. "Gak usah banyak tanya, Cewek Cantik. Bos kami, Raka, cuma mau lo ikut sama kami sebentar malam ini. Kalau lo penurut dan gak banyak tingkah, lo gak bakal terluka sedikit pun."

"Gue gak sudi ikut sama pemuda kekanak-kanakan kayak kalian!" seruku seraya menyambar sebuah tongkat kayu bekas yang tergeletak di tepi bak sampah.

"Jual mahal banget!" bentak pria kedua murka. Pria itu merangsek maju secara mendadak, mengulurkan tangannya hendak mencengkeram bahuku!

Aku mengayunkan tongkat kayu di tanganku sekuat tenaga!

BUK!

Pukulan kayuku mendarat telak di bahu pria itu hingga ia mengaduh kesakitan. Namun, pria tinggi di tengah memanfaatkan celah tersebut untuk melangkah cepat dan mencekat pergelangan tangan kananku dengan sangat kuat hingga tongkat kayuku terlepas dan terjatuh ke lantai aspal.

"Dapat lo!" gertak pria itu tertawa puas seraya memelintir tanganku ke belakang punggung!

"Lepasin gue, Bajingan!" teriakku histeris seraya mencoba menyikut perutnya dengan siku kiriku.

Namun pria ketiga menyusul dan memegangi bahu kiriku rapat-rapat, mengunci seluruh pergerakanku hingga aku tak sanggup berkutik lagi. Rasa panik dan putus asa mulai menggerogoti dadaku saat mereka mulai menyeretku secara paksa menuju arah ujung gang yang gelap!

"Varro..." gumamku lirih menahan perih di pergelangan tanganku, memejamkan mata rapat-rapat.

ROAARRR!

Raungan mesin V8 yang amat dahsyat dan memekakkan telinga mendadak bergema membelah keheningan malam.

Sebuah mobil sport BMW M8 Coupe berwarna hitam legam menerobos masuk ke dalam lorong sempit tersebut dengan kecepatan tinggi. Lampu sorot depannya yang menyala amat terang menyilaukan mata ketiga pria yang sedang menyergapku.

SREEEET!

Mobil itu melakukan pengereman ekstrem hingga bannya berdecit keras di atas aspal basah, berhenti persis hanya berjarak setengah meter dari tubuh kami.

Pintu pengemudi terdorong terbuka secara kasar. Sosok Varro melangkah keluar dari dalam mobil. Pria berpostur 183 sentimeter itu sama sekali tidak mengenakan jaket pelindung, ia hanya membalut tubuhnya dengan kemeja putih yang kini tergulung berantakan.

Namun, yang membuat bulu kuduk ketiga pria pembegal itu berdiri seketika adalah raut wajah Varro.

Wajah tampan itu kini sepenuhnya dipenuhi oleh aura kemurkaan yang teramat dahsyat. Bola mata cokelat gelapnya berkilat tajam bagai seekor predator yang siap mengoyak siapa saja yang menyentuh wilayah kekuasaannya. Pria itu melangkah maju dengan derap tegas yang bergetar hebat oleh amarah yang meledak.

"Lepasin... tangan... lo... dari... cewek... gue!"

Suara bariton Varro meluncur begitu rendah, dalam, dan dingin, sebuah suara ancaman kematian yang membuat cengkeraman tangan dua pria yang memegangiku seketika gemetar hebat dan terlepas begitu saja.

Aku terbebas dan jatuh terduduk di lantai aspal. Dalam sekejap mata, Varro sudah merangsek maju menyerang.

BUK! BUK! BRUK!

Pertarungan brutal meletus di lorong sempit yang basah. Tanpa rasa ampun sedikit pun, Varro melayangkan kombinasi pukulan dan tendangan yang amat presisi dan menghancurkan. Pria tinggi yang tadi memelintir tanganku dihantam dengan satu pukulan mentah tepat di rahang hingga tubuhnya melayang membentur dinding bata dan pingsan seketika. Dua pria lainnya yang mencoba membalas dihajar tanpa celah hingga terkapar merintih darah di tanah.

Hanya dalam hitungan kurang dari satu menit, ketiga anak buah Raka telah lumpuh tak berdaya di atas lantai aspal.

Varro berdiri di tengah-tengah tubuh musuhnya yang terkapar. Napasnya memburu rapat, dadanya naik turun dengan kencang. Ia tidak memedulikan kepalan tangannya sendiri yang memar dan mengucurkan sedikit darah.

Pria itu memutar badannya cepat, menatap ke arahku. Dalam sekejap, aura mengerikan di matanya runtuh, berganti menjadi raut kepanikan dan rasa cemas yang amat mendalam.

"Gisel!"

Varro berlari kecil dan berlutut di hadapanku. Tanpa ragu sedikit pun, lengan kekarnya merangsek maju dan menarik tubuhku ke dalam dekapan dadanya yang amat hangat dan tegap. Pria itu memelukku dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di celah leherku dengan napas yang bergetar hebat.

"Maaf... maafin gue, Gisel..." bisik Varro dengan suara yang terdengar begitu pecah dan emosional. "Gue hampir aja terlambat... Maaf..."

Aku terpaku di dalam pelukannya. Aroma parfum mahal bercampur aroma hujan dari kemejanya menyerbu indra penciumanku. Detak jantung Varro yang berpacu cepat bertabrakan dengan dadaku, menyalurkan rasa hangat dan rasa aman yang tak tertandingi.

Aku mengangkat kedua tanganku perlahan, membalas pelukannya dengan meremas kain kemeja di belakang punggungnya.

"Gue gak apa-apa, Varro... Gue selamat gara-gara lo," bisikku pelan di dekat telinganya.

Varro melepaskan pelukannya perlahan, menangkup kedua pipiku dengan telapak tangannya yang hangat. Matanya menatap lurus tepat ke dalam bola mataku dengan binar ketegasan mutlak yang tak tergoyahkan.

"Gisel..." panggil Varro dengan suara bariton yang amat dalam.

"Iya, Varro?" tanyaku menahan napas.

"Mulai detik ini... lo ikut gue. Gue gak bakal membiarkan lo berada jauh dari jangkauan pandangan mata gue lagi, bahkan untuk satu detik pun," kata Varro mantap.

Di bawah pendar lampu lorong yang redup dan derasnya hujan malam itu, aku menatap mata sang ketua Starlit, menyadari bahwa perang dingin antara Varro dan Raka telah berubah menjadi pertaruhan hidup dan mati yang sesungguhnya.

Bersambung……

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!