Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Setibanya di kantor, Tiyas langsung disambut tumpukan agenda rapat dan laporan yang menunggu di atas meja kerjanya.
Namun, pikirannya belum benar-benar bisa fokus. Ada misi lain yang kini mendominasi kepalanya—misi untuk membongkar pengkhianatan yang selama ini bersembunyi di balik senyuman manis dan topeng kesetiaan.
Sebelum rapat pagi dimulai, ia memanggil seseorang yang sudah lama ia percaya: Wildan, staf bagian IT senior yang telah bekerja bersamanya sejak awal perusahaan ini berdiri.
Wildan masuk sambil membawa laptop dan segera ia berdiri di hadapan Tiyas.
“Dan, aku butuh bantuanmu. Tapi ini sangat pribadi,” ucap Tiyas pelan begitu mereka berada di dalam ruangannya dengan pintu tertutup rapat.
“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya Wildan, menangkap nada serius dari suara atasannya.
“Pantau semua komunikasi dan aktivitas Gio di kantornya. Termasuk Mia. Email, pesan, CCTV, bahkan kalau bisa lokasi pertemuan mereka di luar. Aku butuh bukti nyata. Tapi kamu harus bergerak di balik layar, jangan sampai mereka tahu.” perintah Tiyas.
Wildan sempat terdiam sejenak, menimbang risiko dari permintaan tersebut.
Namun, begitu melihat tatapan penuh luka yang tersamar di balik sorot mata tegas Tiyas, ia mengangguk mantap.
“Baik, Bu. Saya akan lakukan sebersih dan serahasia mungkin.” jawab Wildan.
Tok! Tok!
Belum sempat percakapan mereka selesai, terdengar suara ketukan pelan di daun pintu.
“Sayang, kamu di dalam?”
Wajah Tiyas bertransformasi dalam sekejap. Tanpa aba-aba, topeng ketenangannya terpasang sempurna.
Di sisi lain, Wildan dengan sigap bangkit dan menyelinap keluar melalui pintu samping yang mengarah langsung ke ruang arsip, bergerak nyaris tanpa suara.
Tiyas melangkah tenang, lalu membuka pintu lebar-lebar seolah tidak terjadi apa-apa di dalam sana.
“Ya, aku di dalam. Ada apa?” tanya Tiyas tersenyum tipis.
Gio berdiri di ambang pintu dengan senyuman santai.
“Aku cuma mau mampir sebentar sebelum meeting. Kamu kelihatan sibuk sekali.” ucap Gio.
“Biasa, Mas. Namanya juga dunia kerja,” jawab Tiyas ringan, menahan gejolak geli sekaligus muak di dalam hatinya.
Ia menatap suaminya seperti sedia kala. Tidak ada nada curiga, tidak ada sisa amarah dari kejadian di lobi kantor pagi tadi.
Seolah-olah ia tidak pernah melihat suaminya berciuman mesra dengan sepupunya sendiri.
Gio melangkah masuk dan duduk santai di sofa ruang kerja Tiyas, memainkan kancing lengan bajunya sambil sesekali melirik layar ponsel.
Lalu, dengan nada manja yang dulu selalu berhasil meluluhkan hatinya, Gio membuka suara.
“Sayang, boleh minta tolong transfer lima puluh juta? Pimpinan meminta aku dinas luar kota secara mendadak.”
Tiyas menoleh ke arah suaminya. Ekspresinya tetap lembut, tidak terusik sedikit pun oleh kebohongan yang meluncur begitu lancar dari mulut pria itu.
“Oh, dinas luar?” tanyanya ringan, menyembunyikan senyum sinis di balik kerlingan matanya.
“Dinas luar kemana, Mas?” tanya Tiyas.
“Ke Bandung, sayang. Disana ada proyek baru yang harus dicek langsung. Tapi aku belum sempat lapor kamu tadi pagi karena buru-buru,” jawab Gio salah tingkah dengan gestur yang dibuat senatural mungkin.
Tiyas mengangguk pelan, lalu meraih ponselnya dari atas meja.
Dengan tenang, ia membuka aplikasi mobile banking.
Sebelum menekan tombol eksekusi, ia menatap Gio sekilas dengan tatapan penuh kehangatan palsu.
“Lima puluh juta, ya? Kamu yakin cukup, Mas?”
“Iya, cukup kok. Nanti kalau dana reimburse kantor cair, aku ganti.”
Tiyas menekan tombol kirim, menuntaskan transaksi itu sembari menyelipkan senyuman manis.
Namun, di dalam relung hatinya, ia mencatat satu poin penting: daftar kebohongan Gio bertambah satu lagi hari ini.
Secara bersamaan, ia mengirimkan pesan singkat rahasia kepada Wildan melalui ponselnya:
[Pantau Bandung.]
Melihat istrinya yang sudah mentransfer uang, Gio bangkit dari duduknya dan berpamitan.
"Terima kasih sayang," Gio mencium pipi Tiyas.
Setelah Gio berpamitan dan meninggalkan ruangannya, Tiyas menarik napas dalam-dalam.
Sekilas ia melirik ponselnya—transaksi telah berhasil, pesan ke Wildan sudah terkirim, dan bayangan wajah Gio pagi tadi masih berkelebat di benaknya.
Ia merapikan pakaian kerjanya, mengambil tablet materi rapat, lalu melangkah keluar.
Langkahnya mantap, penuh wibawa, seolah tidak ada badai apa pun yang sedang merobek-robek hidupnya.
Di sepanjang lorong menuju ruang rapat, beberapa staf menyapanya dengan hormat.
“Selamat pagi, Bu Tiyas.”
“Pagi, Bu. Rapat divisi sudah siap di ruang utama.”
Tiyas membalas sapaan itu dengan anggukan anggun dan senyum profesional.
Tak ada satu pun orang di gedung ini yang tahu bahwa di balik figur pemimpin yang disegani itu, tersimpan reruntuhan hati dan strategi pembalasan yang tengah dirajut perlahan.
Ribuan kilometer dari Yogyakarta, suasana hati Narendra jauh dari kata tenang.
Sejak panggilan video bersama Tiyas tadi, hari-hari di Bali yang biasanya ia nikmati bersama deburan ombak dan angin tropis kini terasa hambar. Tidak ada lagi kedamaian.
Di balik layar laptop dan tumpukan cetak biru desain resor mewah, pikirannya terus melayang ke Yogyakarta.
Ia masih tidak percaya jika Mia—istri yang selama ini ia naungi dengan penuh cinta, namun ternyata diam-diam mengkhianatinya dengan suami dari sepupunya sendiri.
Narendra duduk termenung di balkon vila tempat ia tinggal sementara proyek berjalan.
Di tangannya, secangkir kopi hitam mengepul tipis, perlahan mendingin tanpa pernah disentuh.
Layar laptop di hadapannya menyala, menampilkan sebuah folder tersembunyi yang ia beri nama: Kebenaran.
Di dalam folder itu, ia mulai mendokumentasikan semuanya.
Salinan video bukti dari Tiyas tadi pagi, screenshot pesan-pesan Mia yang mulai menunjukkan gelagat janggal dalam beberapa bulan terakhir, serta catatan kronologi tanggal, lokasi, dan kebohongan-kebohongan kecil yang selama ini ia toleransi.
“Mia,” gumam Narendra lirih, suaranya getir.
Ia masih kesulitan menerima kenyataan bahwa wanita yang ia nikahi dengan ikrar suci sanggup melakukan pengkhianatan setega ini.
Ponsel di atas meja bergetar singkat. Sebuah pesan masuk dari Mia.
[Sayang, hari ini aku ke luar kota, ada urusan mendadak. Jangan lupa makan ya. I love you.]
Narendra menatap layar itu cukup lama. Ada rongga hampa yang menganga di dadanya. Ia tidak membalas pesan tersebut.
Tangannya kembali bergerak di atas kibor laptop, melanjutkan catatan pribadinya.
Ia tahu ia tidak boleh gegabah. Kemarahan yang meletup-letup tanpa persiapan hanya akan membuatnya jatuh di lubang yang sama.
“Aku harus bertahan satu bulan lagi di sini.” gumam Narendra pelan pada angin laut yang berhembus.
“Dan, setelah aku kembali, aku akan selesaikan semuanya. Termasuk kamu, Mia.”
Ia menatap garis horizon lautan di hadapannya, namun pikirannya sudah tertuju pada satu nama di ujung pulau Jawa: Tiyas.
Wanita yang kini menjadi rekan sependeritaannya dalam badai pengkhianatan yang sama.
Dua jiwa yang terluka, perlahan menyatukan tekad untuk bangkit melawan kepalsuan.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘