Indonesia
NovelToon NovelToon
Mr.Possessive

Mr.Possessive

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Biqy fitri S

Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam Yang hangat

Pagi itu, setelah sarapan penuh kehangatan di rumah, Jingga berangkat ke kantor dengan hati campur aduk. Mobil yang membawanya melaju terasa seperti masih menyimpan gema dari kejutan-kejutan yang diberikan Levin semalam.

Begitu masuk ruangannya, Arin langsung menyerbu dengan wajah penuh semangat.

“JINGGAAAAA!” serunya setengah berteriak, sampai membuat beberapa rekan kerja menoleh.

Jingga kaget dan buru-buru menutup pintu. “Astaga, Rin! Apa-apaan sih, bikin jantung gue  copot aja!”

Arin tak peduli, ia langsung meraih tangan sahabatnya itu, matanya berbinar.

“Jangan pura-pura nggak tahu ya! Lo sadar nggak semalaman IG, Twitter, semua media sosial rame? Heboh banget, Ji! Levin… calon suamimu itu… udah bikin Nusantara geger!”

Jingga terdiam sejenak, jantungnya berdentum. “Maksud kamu postingan dia?”

Arin mengangguk cepat. “Ya ampuuun! Bukan cuma postingan, Ji. Drone dengan tulisan Will You Marry Me? itu udah dishare ribuan kali! Semua fans Levin heboh. Semua bertanya-tanya, siapa wanita beruntung itu. Dan gue yang tahu langsung merasa… AAAHHH… sahabat gue ternyata pemeran utamanya!”

Jingga menutup wajahnya dengan kedua tangan, pipinya merah padam. “Astaga, gue jadi malu…”

Arin mengguncang pelan bahunya. “ Ji,itu udah nasional! Bahkan tadi pagi berita gosip udah angkat judul: Levin Putra Artama, pewaris sekaligus pembisnis melamar wanita misteriusnya!”

Tangis tawa Jingga bercampur jadi satu. “Aku nggak nyangka dia segitunya, Rin. Aku pikir semua ini cuma karena perjodohan… tapi ternyata…”

Arin menatapnya lembut, senyumnya perlahan melembut. Ia menggenggam tangan Jingga erat, nadanya penuh emosi.

“Ji, gue yang paling tahu seberapa sakitnya masa lalu lo. Gue yang lihat lo jatuh, patah hati, kehilangan kepercayaan, bahkan hampir nutup diri. Gue tahu semua luka itu masih ada. Tapi sekarang… lihatlah. Levin nggak cuma datang, dia hancurin semua tembok yang lo bangun. Dia bikin lo berani lagi buat percaya sama cinta. Itu… bikin gue ikut bahagia, Ji.”

Air mata mengalir dari mata Jingga. Ia menatap Arin dengan pandangan penuh syukur. “Lo benar, Rin. Gue pikir gue nggak akan pernah bisa merasa dicintai seperti ini lagi…”

Arin langsung menariknya ke pelukan erat. “Lo pantas bahagia, Ji. Dan gue lega akhirnya ada orang yang bisa nyembuhin lo dengan caranya sendiri.”

Tiba-tiba, ponsel Jingga berdering. Nama Levin terpampang jelas di layar. Jantung Jingga refleks berdetak lebih cepat, sementara Arin langsung menyorongkan wajahnya, penasaran.

“Angkat, Ji! Jangan lama-lama bikin calon suami lo nunggu,” goda Arin sambil menahan tawa.

Dengan sedikit gugup, Jingga menempelkan ponsel ke telinganya.

“Halo, Vin…” ucapnya pelan.

Suara berat Levin terdengar hangat di seberang sana.

“Hai, sayang. Kamu sibuk malam ini?” tanyanya lembut.

Jingga melirik Arin yang pura-pura memasang telinga. “Hmm… belum ada rencana sih.”

Levin tersenyum dari balik telepon.

“Kalau begitu, maukah kamu menemaniku makan malam? Anggap saja kita merayakan semalam… Tapi, aku juga ingin kamu mengajak Arin. Aku tahu dia orang yang selalu ada buat kamu, jadi biar malam ini aku yang traktir sahabatmu itu.”

Jingga tertegun, matanya sedikit berkaca-kaca karena tak menyangka Levin begitu memperhatikan hal-hal kecil dalam hidupnya.

“Serius ngajak Arin juga?” tanyanya setengah tak percaya.

“Ya, tentu. Aku ingin membuat orang-orang terdekatmu ikut merasakan bahagiaku bersamamu.” jawab Levin tegas, namun hangat.

Arin yang sedari tadi memperhatikan langsung bersorak pelan, menepuk-nepuk bahu Jingga.

“Ji! Jangan pikir panjang, terima! Gue kan sahabat tersayang lo, masa gue nggak ikut makan gratis bareng calon abang ipar?”

Jingga akhirnya tertawa kecil, lalu menjawab di telepon, “Baiklah, Vin. Nanti malam kita makan bareng… sama Arin.”

Dari seberang, suara Levin terdengar lega.

“Terima kasih, sayang. Sampai ketemu malam nanti.”

Jingga terdiam, pipinya bersemu merah. Sementara Arin langsung berseru, “Astaga, Ji! Gue deg-degan denger nya, gimana nanti setelah sah jadi suami-istri?!”

Mereka berdua pun meledak dalam tawa, sementara Jingga masih merasakan detak jantungnya yang tak juga tenang.

---

Malam itu, restoran mewah di pusat kota terasa begitu hangat dengan lampu-lampu temaram. Levin sudah memesan Ruangan VIP khusus di sudut dengan pemandangan kaca besar menghadap kota yang penuh gemerlap lampu malam. Ia ingin suasana santai namun tetap elegan.

Tak lama, Jingga datang bersama Arin. Jingga terlihat anggun dengan dress sederhana, sementara Arin dengan gayanya yang ceria, langsung menghidupkan suasana.

“Wow, jadi ini restoran langganan anak sultan?” bisik Arin dengan mata berbinar, membuat Jingga hanya bisa tertawa kecil.

Levin berdiri, menyambut mereka berdua. Ia tersenyum hangat, lalu menarik kursi untuk Jingga sebelum duduk di sampingnya.

“Terima kasih sudah datang, dan terima kasih juga kamu ikut, Arin. Aku ingin kamu juga merasakan bahagiaku malam ini,” kata Levin tulus.

Arin terperangah sejenak, lalu menepuk dada sendiri.

“Ya ampun, aku terharu. Jarang-jarang ada calon abang ipar yang segini perhatian sama sahabat pacarnya. Ji, sumpah, jangan sampai kamu sia-siain cowok kayak gini,” ujarnya dengan gaya lebay, membuat semua tertawa.

Makan malam berlangsung hangat. Mereka membicarakan banyak hal, mulai dari cerita persahabatan mereka hingga kisah kocak Arin. Levin sesekali hanya tersenyum melihat Jingga begitu hidup bersama sahabatnya.

Tak lama kemudian, seorang pria dengan jas rapi dan aura serius melangkah masuk. Roy, sekretaris pribadi Levin, datang dengan langkah tenang.

“Pekerjaan sudah selesai, Tuan,” ucapnya singkat sambil sedikit menunduk pada Levin.

Levin mengangguk. “Bagus. Kalau begitu, duduklah, ikut gabung sama kami.”

Roy sempat menolak halus, tapi Levin memberi tatapan tegas.

Arin langsung menepuk meja.

“Wah, kebetulan banget! Duduk sini dong, Roy. Aku tadi baru bilang ke Levin, kurang satu cowok keren biar makin lengkap.”

Levin menahan tawa kecil melihat tingkah Arin, sementara Jingga sudah sibuk menahan senyum. Roy, yang biasanya dingin, justru terlihat kaku. Ia akhirnya duduk, walau jelas wajahnya memerah samar.

Arin tak membuang waktu. Ia menyandarkan dagu di tangannya, menatap Roy tanpa malu.

“Kamu makin keren ya sekarang… pakai jas segala. Eh, jangan bilang ini takdir? Aku lapar, kamu datang… mungkin memang semesta jodohin kita,” ucapnya dengan gaya dramatis, membuat Jingga nyaris menutup wajah dengan tangan.

Roy berdeham, mencoba mengalihkan pandangan.

" maaf nona jangan asal bicara"

" panggil aku Arin, biar makin akrab," tersenyum genit.“Tapi bener, Roy.” Arin tersenyum nakal. “Kamu tuh paket komplit. Ganteng, pinter, sukses… aduh, siapa sih yang nggak jatuh cinta sama kamu? Nih aku contohnya.”

Levin menahan tawa keras-keras kali ini.

“Arin, kamu serius banget ngomongnya, sampai Roy kelihatan keringetan tuh,” ucap Levin sambil menggoda.

Roy benar-benar dibuat kikuk. Ia menegakkan punggungnya, berusaha terlihat tenang, padahal jelas telinganya memerah.

Jingga akhirnya tak tahan dan tertawa keras.

“Arin! Astaga, kamu bisa bikin Roy pingsan kalau terus-terusan digodain.”

Roy akhirnya menutup wajahnya sebentar dengan tangan, jelas tak terbiasa diperlakukan seperti itu. Tapi di balik rasa kikuknya, terselip senyum kecil yang tak bisa ia sembunyikan.

Makan malam pun berlanjut dengan suasana yang penuh gelak tawa. Kali ini bukan hanya tentang Levin dan Jingga, tapi juga tentang drama kecil antara Arin yang terang-terangan menggoda Roy, dan Roy yang tak tahu harus bagaimana menghadapi rayuan sahabat Jingga itu.

1
csgym
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!