Indonesia
NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3

Cindy keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur ternyata di sana masih ada Damian yang duduk anteng di meja makan.

“Maaf yah, anda jadi menunggu lama…” ujar Cindy sambil berjalan kembali ke arah kompor. Ia menyalakan kembali api kecil untuk melanjutkan masakannya yang sempat tertunda. Pagi ini ia membuat nasi goreng korset sederhana dengan aroma bawang putih yang langsung menyeruak memenuhi ruangan.

Damian tersenyum tipis, katanya mengikuti setiap pergerakan Cindy. “Sama sekali tidak apa-apa Cindy. Saya justru senang bisa duduk di sini. Suasana rumah ini hangat sekali, berbeda dengan rumah di sebelah.“

Cindy terkekeh pelan sambil mengaduk nasi di atas kuali. “Hangat dari mana? Semalam saja dinginnya sampai ke tulang. Oh yah, ngomong-ngomong panggil kamu saja Damian. Jangan terlalu formal pakai anda, rasanya seperti sedang rapat dengan bos saja.“ ujarnya terkekeh geli.

“Baiklah kalau itu maumu,” jawab Damian dengan aksennya yang khas, agak kaku namun terdengar sangat elegan di telinga Cindy. “Tadi itu….telepon dari kekasihmu?“

Pertanyaan itu membuat gerakan tangan Cindy yang sedang memegang spatula terhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang mendapati tatapan intens dari mata biru Damian seolah-olah sedang menuntut jawaban jujur.

“Bukan kok,” Cindy terburu-buru menjawab. Entah kenapa ia merasa perlu meluruskan hal itu agar Damian tidak salah paham. “Iru Mahendra, editor video sekaligus sahabatku sejak kuliah. Dia mau ke sini siang nanti untuk bantu edit konten, tapi mamanya sedang sakit jadi agak telat datangnya.“

Damian mengangguk perlahan. Matanya menatap punggung Cindy dengan kilatan aneh yang tak bisa orang lain artikan. Namun sedetik kemudian wajahnya kembali melembut. “Begitu rupanya. Sahabat yang baik. Jadi, hari ini kamu akan sibuk bekerja?“

Cindy terkekeh, “nggak terlalu sibuk sih, paling cuma merekam beberapa video dan merapikan konsep video berikutnya,” kata Cindy sambil mematikan kompor. Ia menyendok nasi goreng yang masih mengepul itu ke atas dua piring porselen putih. Satu piring ia letakkan di hadapan Damian, lengkap dengan sendiknya dan satu lagi untuk dirinya sendiri.

“Nah, silahkan di cicipi, menu sarapan darurat ala kadarnya,” ucap Cindy penuh harap sembari ikut duduk di hadapan Damian.

Damian menatap piring di depannya cumi lama seolah-olah sedang mengagumi sebuah karya seni. Ia mengambil sendok dengan jemarinya yang panjang dan putih pucat. Ketika satu suapan nasi berhasil masuk ke dalam mulutnya, Cindy dengan harap-harap cemas memperhatikan ekspresi wajah pria itu.

“Bagaimana? Enak?“ tanya Cindy penasaran.

Damian terdiam sejenak, mengunyah cukup lama hingga ia menelan nasi itu melewati tenggorokan jenjangnya. “Sangat enak,” jawab Damian lirih, suaranya terdengar halus, namun ada sedikit nada sendu di dalamnya. “Sudah sangat lama saya tidak merasakan masakan rumah seperti ini. Rasanya benar-benar nyata.“

Cindy mengernyitkan alisnya sedikit, merasa kalimat Damian agak janggal. “Nyata? Maksudnya?“

Damian tersenyum tenang, meredam rasa penasaran Cindy sebelum sempat berkembang. “Maksudku, setelah bertahun-tahun hidup dengan makanan instan dan restoran di Belanda, masakan rumahan buatan seseorang yang penuh dengan rempah-rempah terasa begitu berharga. Benar-benar menyentuh hati.“

Cindy tersenyum malu, ia bahkan menekan-nekan sendoknya ke nasi goreng di depannya yang belum dia sentuh sama sekali “Kamu ini biasa saja memujinya,” sahut Cindy, wajahnya kembali merona. Demi menutupi kesaltingan nya ia segera menyiapkan nasi ke mulutnya, menikmati nasi goreng itu sesekali mengobrol dengan Damian.

Sambil mengunyah, sesekali Cindy memperhatikan Damian. Cara pria itu makan terlihat begitu rapi, hampir tanpa suara, layaknya seorang bangsawan dari masa lalu. Kulitnya bersih, halus dan terlihat putih pucat. Bukan putih segar tapi sedikit pucat. Tidak seperti kulitnya yang sedikit kemerah-merahan. Dan anehnya lagi, Cindy baru menyadari sesuatu kalau sedari tadi Damian sama sekali tidak mengeluarkan keringat setetespun padahal di dapur ini uap hangat dari masakan cukup untuk membuat orang berkeringat. Yah meskipun Cindy sadar kalau pagi ini udaranya sangat dingin dan ada beberapa tipe orang yang gak gampang keringetan.

“Damian,” panggil Cindy serius usai keheningan.

“Ya, Cindy?“, Damian mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata coklat terang milik Cindy.

“Para pekerja di sebelah itu… mereka merenovasi rumahmu sampai bagian dalam juga? Soalnya setahuku, rumah kolonial begitu biasanya banyak bagian struktur kayu yang sudah lakukan di makan usia.“

Damian meletakkan sendoknya di atas piring menatap pada mata Cindy yang memancarkan kehidupan. “Ah, benar. Rumah itu memang sudah sangat tua dan rapuh. Banyak sudut gelap, berdebu dan menyimpan terlalu banyak kenangan masa lalu. Mereka hanya merapikan bagian depan dan struktur utama agar tidak roboh. Rumput-rumput liar sudah pasti akan di bersihkan begitu pula dengan bagian dalam rumah. Toh kamu tau juga bukan bahwa struktur bangunan kolonial itu terkenal kuat, mungkin hanya memperbaiki beberapa pintu dan jendela yang di makan rayap. Dan sisanya biar tetap seperti aslinya.“

“Apa kamu gak takut tinggal di rumah sebesar itu dan sekuno itu sendirian? Apalagi bangunannya sudah lama kosong,” tanya Cindy penasaran, mengingat dirinya sendiri saja kadang merasa merinding di rumahnya sendiri, padahal rumahnya jauh lebih terawat.

Damian terkekeh rendah, suara seraknya bergema lembut di ruangan dapur. “Takut? Tidak Cindy. Justru sebaliknya, rumah tua seperti itu tidak akan menyakitimu. Yang perlu di takuti di dunia ini adalah niat buruk manusia yang masih hidup, bukan bangunan kosong atau masa lalu yang tertinggal di dalamnya.“

Cindy tertegun mendengar jawaban filosofis itu. Ia menatap cangkir teh hijau milik Damian yang sudah kosong. Lalu menatap ke luar di mana angin pagi tiba-tiba berembus masuk melalui celah jendela dan pintu belakang yang terbuka, membawa wangi bunga kenanga yang sama dan entah dari mana asalnya, membuat bulu kuduk Cindy meremang sesaat tanpa alasan yang jelas.

“Kamu benar,” bisik Cindy pelan, mengusap lengannya yang mendadak terasa dingin. “Manusia hidup kadang jauh lebih menyeramkan?“

Beberapa bulan kemudian suasana di rumah Cindy masih tetap sama. Dan rutinitasnya setiap hari pun tetap sama hingga rasa bosan yang datang, pergi entah kemana.

Cindy kini tidak sendirian dia punya tetangga baru di sebelah rumah nya. Rumah yang sudah 20 tahun ia hidup selalu kosong. Kini telah di huni oleh pria tampan yang pertama kali ketemu langsung di buat jatuh hati.

Hampir setiap sore, jika Damian tidak sedang sibuk mengurus sisa-sisa berkas kepindahannya dari Belanda atau begitulah pria itu katakan, dia akan mampir ke rumah Cindy. Seperti sore ini, ketika langit di luar mulai meredup keperakan dan hawa dingin kembali merayap dari lantai tegel abu-abu, Damian sudah duduk manis di kursi anyaman rotan di teras belakang, menemani Cindy yang baru saja menyelesaikan sesi live streaming nya.

Minumnya dihabiskan, Damian. Tumben sore ini agak lama di luar?“ Tanya Cindy sambil meletakkan sepiring pisang goreng kipas yang masih berasap di atas meja kayu.

Damian mendongak, menyambut kehadiran Cindy dengan senyuman khasnya yang selalu berhasil membuat jantung Cindy berdegup sedikit lebih cepat. Pria itu mengenakan kemeja linen putih lengan panjang yang digulung hingga siku. Kulit lengan itu tetap putih pucat, hampir tanpa rona, kontras dengan warna kayu meja yang gelap.

“Di sebelah sedang agak bising. Para bekerja sedang memasang kembali engsel pintu jati di aula utama,” jawab Damian lembut. Ia meraih cangkir tehnya, membiarkan uap panasnya menerpa wajahnya yang kaku namun sempurna.

“Lagipula menghabiskan sore di sini jauh lebih menyenangkan.“

Cindy ikut duduk di kursi sebelah Damian, meluruskan kakinya yang terasa pegal setelah berjam-jam berdiri di depan kamera studio. “Ah, stukuerlah kalau pengerjaan rumahmu sudah mau selesai. Aku sempat mikir apa kamu gak kesepian ya di rumah sebesar itu? Mana furniturnya pasti masih kosong banget.“

“Tidak juga,” Damian menatap pisang goreng di atas meja lalu mengambil sepotong dengan gerakan yang sangat pelan terkesan halus. “Rumah itu tidak kosong Cindy. Masih banyak barang peninggalan lama yang tersimpan di ruang bawah tanah dan loteng. Beberapa lemari ek tua, cermin besar dengan bingkai ukuran perak…. semua masihbada di sana. Hanya perlu di bersihkan dari debu puluhan tahun.“

“Wah serius?“ mata coklat terang milik Cindy berbinar tertarik. Sebagai konten kreator yang menyukai estetika, mendengar kata peninggalan lama, langsung memicu rasa penasarannya.

“Boleh kapan-kapan aku lihat ke dalam? Aku penasaran banget sama arsitektur asli bagian dalamnya. Dari luar saja sudah kelihatan megah banget.“

Gerakan Damian yang sedang mengunyah pisang goreng terhenti sekulas. Ada kilatan aneh di matanya, sesuatu yang dingin dan tajam kembali melintas di mata birunya, sebelum akhirnya digantikan oleh binar kehangatan yang tampak dipaksakan.

“Tentu saja boleh,” kata Damian setelah menelan makanannya dengan anggun.

“Tapi….mungkin tidak dalam waktu dekat. Di dalam masih terlalu berdebu, banyak paku-paku berkarat yang berserakan di lantai. Saya tidak mau kulitmu yang bersih terluka atau kamu mendadak sesak napas karena debu yang tebal.“

Cindy memayunkan bibirnya sedikit, merasa agak kecewa namun tetap memaklumi. “Iya juga sih, kemarin pas Mahen ke sini, dia juga sempat melongok dari balik pagar tembok samping. Katanya dia merinding lihat pohon beringin tua di halaman belakang rumahmu itu. Dia bilang auranya agak beda. Padahal aku juga punya pohon beringin itu…” katanya sambil menunjuk ke arah di mana pohon beringin yang tumbuh di halaman luas belakang rumahnya. Berdiri kokoh dengan akar-akar yang kuat. “tapi dia malah takut dengan pohon beringin di belakang rumah mu.“

Mendengar nama Mahen di sebut, rahang Damian tampak mengeras sesaat. Kehangatan yang tadi ada di wajahnya mendadak surut, di gantikan oleh ekspresi datar yang dingin.

“Sahabatmu itu… dia terlalu sering datang ke rumahmu akhir-akhir ini, bukan?“

Cindy agak terkejut dengan perubahan nada bicara Damian yang tiba-tiba sedikit meninggi dan terdengar lebih berat dari biasanya. “Eh? Mahen ya? Iya kan akhir-akhir ini proyek video kontenku lagi padat-padatnya Damian. Jadi hampir tiap tiga hari sekali dia ke sini buat serah terima materi edit.“

“Saya hanya berpikir…” Damian meletakkan cangkirnya kembali ke ratakan porselen dengan ketukan yang terdengar tegas di keheningan sore. “Rumah ini terlalu tersembunyi, Cindy. Kamu seorang wanita yang tinggal sendirian. Membiarkan pria asing meskipun dia sahabatmu keluar masuk dengan bebas sampai larut malam….itu bisa berbahaya.“

Cindy tertegun, ada rasa hangat yang aneh yang menjalar di dadanya karena merasa di perhatikan, namun di sisi lain ia juga merasa ada aura posesif yang kuat dari kalimat Damian. “Mahen bukan orang asing, Damian. Dia sudah seperti saudaraku sendiri. Tapi…terima kasih ya sudah mengkhawatirkan ku.“

Damian tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Cindy dengan pandangan dalam, seolah sedang mengunci eksistensi gadis itu agar tidak terlepas dari jangkauannya.

Perlahan angin Muson timur kembali berembus lambat, menggoyang dedaunan pohon beringin di belakang halaman rumah nya dan entah mengapa, wangi bunga kenanga yang pekat kembali tercium, mengalahkan aroma pisang goreng yang baru saja matang. Meninggalkan jejak aneh yang membuat jantungnya bersesir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!