Indonesia
NovelToon NovelToon
ILA ( Si Gadis Permata Biru)

ILA ( Si Gadis Permata Biru)

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Arrosyad

Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Helm yang sia-sia

Kami akan memasuki kawasan perkotaan kota Bandung. Gapura ke luar jalan kecil tinggal beberapa meter lagi di depan, menuju ke jalan besar.

Aku berbelok, mengambil satu arah di jalan besar dua lajur. Suasana kota mulai bisa di rasakan. Banyak mobil memadati jalanan, mulai banyak terlihat toko dan sejenis resto cepat saji, orang-orang berjalan diatas trotoar yang bersih. Semuanya terlihat mengagumkan, tidak ada yang kusam. Bangunan berderet yang tampak mendetail kan rasa elegan dengan ke san campuran warna klasik. Hitam, putih, coklat. Di tambah pekatnya cahaya dari papan atau neon acrylic. Ini padahal siang hari lohh. Sungguh keren.

“Kau gak mau mampir dulu ke kafe?” Ila berkata di belakangku. Dia memandangi sekitar.

“Loh buronan kok malah ngelunjak” Aku berkelakar.

Wajah Ila langsung merungut sebal. “Ih, dasar”

Aku terbahak.

Puluhan menit berlalu. Kerennya, pemandangan yang ada semakin memukau jika semakin masuk wilayah pusat kota Bandung. Gedung-gedung berdiri gagah, berdinding kaca yang tampak hitam dan biru langit. Banyak layar menempel di bawahnya, menampilkan iklan produk atau berita, ada juga beberapa gedung yang sudah menggunakan proyeksi. Tampak animasi hologram seperti terbang di atas gedung.

Melaju lagi, kami akhirnya menemukan cabang jalan. Terpisah karena ada halaman rumput dengan luas sekitar satu kilometer, lumayan besar. Di mana di tengahnya terdapat sebuah patung logam Harimau berdiri gagah menampakkan ototnya. Ini adalah monumen Maung Bandung yang ke dua. Jika monumen yang pertama di tempat lain.

Lampu merah. Kami berhenti terlebih dahulu di tengah padatnya jalan.

Ila menepuk pundak ku.

Aku menoleh “ada apa?”

Ila terlihat jeri. “ada polisi.. Beli helm ayok” Gadis itu menunjuk ke depan.

Tanpa membalas aku segera mencari celah untuk memutar balik motorku. Agak sulit karena ini motor besar. Tapi aku berhasil ke luar dari barisan puluhan mobil menunggu lampu hijau.

Aku segera memacu gas motor. Melirik ke sembarang arah. “aman kan, gak ngejar?”

Ila terbahak. “aman bang. Ngebut amat”

Aku hanya nyengir. Ila tidak berfikir betapa buruknya nasib kita jika ke na tilang nanti.

Tidak lama kemudian kami langsung menemukan toko aksesoris motor. Berlapis di nding kaca kokoh di pinggir jalan. Di dalam sepertinya terlihat sebuah helm.

Aku segera minggir. Menempatkan motor ke tempat parkir yang di sediakan. Kemudian segera turun dan masuk ke dalam toko tersebut. Ila menyusul di belakang ku.

Begitu aku masuk, suara bel terdengar mendenting. Salah satu pegawai wanita langsung menyambutku.

“Selamat siang” ucap pegawai wanita tersebut sambil menyatukan ke dua tangan.

“kami butuh helm mbak” aku cepat membalas. Kami harus kembali ke jalan.

Wanita di depanku sempat terdiam sejenak menatapku. Kemudian memutar tubuhnya. “Lewat sini kak”

Aku mengikuti wanita itu. Ila di belakangku, berjalan sambil melihat aksesoris atau beberapa peralatan motor yang ada di toko.

Kami di bawa ke tempat yang di perlukan. Banyak bola bola helm di sini. Tapi anehnya tidak ada kaca pada tempat untuk wajah terbuka.

“Silahkan di pilih kak” Ujar wanita dengan sopan.

Aku berbisik ke pada Ila terlebih dahulu. “ini kok gada kacanya?”

“Hah?” Ila mencoba mengambil salah satu. Mulai mengamati. “ouhh. Ini helm pintar. Ada kacanya kok. Tinggal di tekan” Ila menekan suatu tombol. Kaca pun muncul menutupi bagian terbuka untuk wajah.

E.. Norak amat aku ya. Kudet.

Aku menoleh ke belakang. Wanita yang tadi bersama kami berdiri mengamati. “ini berapa duit mbak”

“Ouh.. Itu helm pintar, sembilan ratus aja kak” jawab wanita itu.

Aku sedikit tersentak. Mahal juga ya. Tapi tidak papa lah untuk seumur hidup. Lagipun aku ada uang lebih. Aku mengambil dompet di lempitan sarung –sejauh ini aman, sedikit terperangah karena uangku pas. “Ini hasil menabungku setahun ini?” Aku bergumam.

“Kenapa bang?” Ila menatapku.

Aku menyeringai. “Uangku, pas cak. Kau bayar sendiri”

Ila terbahak. “emang siapa yang minta bayarin”

“yaudah mbak. Ambil dua, tapi anak ini bayar sendiri” Ucapku ke pada wanita yang dari tadi menunggu di belakang.

“Oke. Tunggu di kasir ya” Pegawai wanita tersebut beranjak mengambil dua helm dan mulai mengemasnya.

“Ehh jangan di kardusin. Mau pakai sekarang” aku cekatan menahannya. “langsung kami bawa saja helm nya”

Pegawai wanita sedikit tertawa. “baiklah. Silahkan” Orang itu menyerahkan dua helm. Satu untukku dan satu lagi di pegang Ila.

Pegawai wanita ingin pergi beranjak, tapi lagi-lagi ku tahan.

“Nih langsung ku bayar. Biar langsung serah terima. Saya ambil helm ini dengan harga yang telah di tentukan” ujarku sambil menjulurkan uang tunai.

“Eh aku juga..” Ila seketika membayar bersamaan.

Pegawai wanita terdiam. Sedikit terkesima atas aksi kami.

“ayo Ila kita pergi” Aku langsung berjalan menuju pintu ke luar.

“makasih ya mbak..” Ucap Ila di belakangku. Dia mulai menyusul.

Sampai di luar, aku mulai menaiki motor. Ila menampakkan senyumnya. “ada apa?”

Ila tidak langsung membalas. Masih tersenyum. “kau ini, orangnya sedikit aneh”

Aku berdecak. Apalah. “ah kita lagi buru-buru”

Ila cengingisan

Aku segera mencopot peci dan memasang helm. Selaput kaca bening langsung menutupi wajahku. Tidak hanya itu, selarik proyeksi muncul di kaca tersebut.

Halo tuan, selamat datang di dalam fitur helm pintar. Seperti nya hari sedang panas, ya?. Helm akan mengaktifkan mode pendingin.

Terdengar suara di telinga ku. Seperti nya program dari helm ini sendiri. Sungguh keren. kepalaku kembali sejuk.

Aku mulai menaiki motor. Sejenak menoleh ke arah Ila, anak itu terlihat senang. “nih tolong masukkan ke dalam tas ku” aku menjulurkan songkok hitamku.

Ila mengambilnya. Dan mulai membuka tas pemberian dari Pak Baruh dan Bu Evi.

“ihh baik banget” Ila tiba-tiba berkata.

Aku menoleh ke belakang. “kenapa?”

“isi tas nya makanan doang” Jawab Ila, kembali menutup tas.

Aku berhembus senang. “ouhh. Itu karena aku”

“Yeuh”

Kembali ke jalan. Kali ini tidak terlalu padat dengan mobil. Lebih banyak kendaraan roda dua. Laju motor ku stabil, lebih asyik menikmati pemandangan sekitar.

Aku sekarang tidak perlu kawatir nyasar mencari arah menuju terminal. Navigasi telah sempurna di dalam fitur helm pintar.

Belok kiri.

Aku mendengar kode. Segera berbelok di cabang jalan. Seperti nya sekarang sudah dekat dengan pusat kota Bandung. Aku mulai melihat lima gedung pencakar langit yang menembus awan. Sebuah animasi cahaya proyeksi berpilin di permukaan di nding kaca Gedung tersebut.

Sangat mengagumkan.

Kota futuristik yang sangat maju. Layar iklan menempel di sembarang gedung, menampilkan adegan dalam layar yang luar biasa. Tidak cukup itu, di atasku terlihat pipa transparan. Itu adalah perlintasan LRT dengan tiang baja menjadi penopang di bawah nya. Perlintasan tersebut yang terlihat meruang banyak ruang di langit Bandung raya. Semuanya memanjang menuju satu arah, berkumpul di pusat kota.

Dua puluh lima menit kemudian terasa cepat karena asyik memandangi keadaan kota Bandung raya. Kami akhirnya sampai di terminal. Dan lagi-lagi hal menarik di temukan di sini. Sebuah gedung berdiri kokoh di tengah terminal. Tak lupa bangunan-bangunan kecil di bawahnya.

1
Marina
keran, keren bgt
Arrosyad: makasih ibu'
total 1 replies
Kiritsugu Emiya
Harus jam berapa baru bisa update ya thor? Jangan sampai terlalu malam~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!