Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.

Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.

Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.

Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.

Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27 : Suasana Semakin Tegang

Beberapa menit kemudian...

Mobil Adrian akhirnya tiba di depan rumah sakit tempat Nadira bekerja. Seperti biasa, Adrian memperlambat kendaraannya sebelum berhenti di area depan lobi.

Namun kali ini, Nadira sudah menunggunya. Wanita itu berdiri sambil membawa tas kerja di bahunya. Begitu melihat mobil Adrian berhenti, Nadira langsung berjalan menghampiri.

Adrian menurunkan kaca jendela. "Sudah lama menunggu?"

Nadira menggeleng. "Tidak. Aku baru saja keluar."

Ia kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Adrian kembali menjalankan mobilnya.

"Bagaimana hari ini?" tanyanya.

Nadira memasang sabuk pengaman. "Lumayan melelahkan."

Adrian meliriknya sekilas. "Masih mengurusi Deren?"

Nadira terdiam sesaat, lalu mengangguk.

"Bagaimana keadaannya?" lanjut Adrian.

Nadira menghela napas. "Tadi pagi dia sempat mengamuk lagi."

Adrian langsung mengernyit. "Mengamuk?"

"Iya, dia berteriak ketakutan dan terus mengatakan tidak mau ditangkap."

Adrian menggenggam kemudi lebih erat. "Apa dia mengatakan sesuatu?"

Nadira menatap jalan di depan. "Seperti biasa, dia bilang dirinya bukan penjahat. Dia juga mengatakan ada orang yang ingin membuatnya terlihat seperti orang gila."

Adrian hanya terdiam dan fokus pada jalan.

"Dan ada satu hal lagi," lanjut Nadira.

Adrian langsung menoleh. "Apa?"

Nadira menatap Adrian yang masih fokus menyetir.. "Dia mengatakan kalau dirinya hanya mengikuti perintah. Tapi ketika aku bertanya perintah siapa, dia langsung ketakutan."

Adrian menarik napas panjang. "Berarti Deren memang mengetahui sesuatu."

"Itu yang aku pikirkan."

Mobil terus melaju meninggalkan kawasan rumah sakit.

Nadira kemudian memandang Adrian. "Bagaimana audit di perusahaan?"

"Semakin banyak kejanggalan," jawab Adrian dingin.

"Apa masalahnya masih ada sama Anton?" tanyanya.

"Masih sama." Adrian terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Tapi sekarang aku punya alasan lebih kuat untuk mencurigainya."

Nadira semakin fokus mendengarkan Adrian. "Alasan apa?"

"Clara mengatakan bahwa sebelum Deren mengundurkan diri, dia pernah bertengkar dengan Anton."

Nadira langsung terkejut. "Apa... bertengkar?"

Adrian mengangguk. "Iya, mereka katanya sempat bertengkar di ruang arsip."

"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Nadira semakin serius

"Clara tidak mendengar semuanya." Adrian berhenti sejenak. "Tapi dia mendengar Deren mengatakan bahwa kalau transaksi itu terus dilakukan, semuanya akan terbongkar."

Nadira hanya terdiam.

"Dan Anton mengancamnya agar tidak ikut campur."

Wajah Nadira berubah sangat serius. "Berarti Deren benar-benar tahu tentang transaksi itu."

"Sepertinya," jawab Adrian singkat.

Nadira menggenggam tali tasnya. "Adrian..."

"Hm?"

"Aku semakin yakin Deren bukan pelakunya."

Adrian mengangguk. "Aku juga."

Mereka kembali terdiam. Namun beberapa saat kemudian, Nadira tiba-tiba bertanya, "Kamu masih ingat rencana malam ini?"

Adrian tersenyum tipis. "Bagaimana mungkin aku lupa?"

Nadira menahan senyum. "Jadi kamu akan menyamar sebagai pengawal?"

"Iya, karena Om Gunawan yang menyuruhku."

"Dan kamu akan menurut begitu saja?" tanya Nadira sambil mantap wajah Adrian begitu dekat.

Adrian mengangkat bahu. "Kalau itu bisa membantuku mengetahui siapa yang mengambil alih Mahendra Group, aku akan melakukannya."

Nadira menatapnya beberapa detik. "Semoga tidak ada yang mengenalimu."

"Termasuk kamu?" jawabnya datar.

Nadira terkekeh kecil. "Kalau aku melihatmu memakai pakaian pengawal, mungkin aku juga akan pura-pura tidak mengenalimu."

Adrian tersenyum, namun suasana santai itu tidak berlangsung lama. Saat mobil berhenti di persimpangan, Adrian tanpa sengaja melihat sebuah mobil hitam di kaca spion.

Mobil itu berada beberapa kendaraan di belakang mereka. Adrian memperhatikannya beberapa detik.

Ketika mobilnya bergerak, mobil hitam tersebut ikut bergerak.

Adrian tidak mengatakan apa-apa, ia hanya terus mengemudi dengan tenang.

Nadira yang menyadari perubahan ekspresinya bertanya, "Kenapa?"

Adrian tetap menatap jalan. "Sepertinya kita tidak sendirian."

Nadira langsung menoleh ke belakang.

"Jangan menoleh kebelakang," ujar Adrian pelan.

Nadira segera menghadap ke depan. "Ada mobil hitam si belakang kita?"

"Iya," jawab Adrian pandangannya masih fokus kearah jalan.

Nadira menelan ludah. "Menurutmu mereka mengikuti kita?"

Adrian tidak langsung menjawab. "Aku belum tahu." Ia kemudian mengambil jalan yang berbeda dari rute menuju vila. "Kita lihat dulu apakah mereka tetap mengikuti."

Mobil Adrian berbelok memasuki jalan yang lebih sepi.

Beberapa detik kemudian...

Mobil hitam itu ikut berbelok.

Tatapan Adrian langsung berubah tajam. "Sepertinya..." gumamnya.

Nadira menatapnya. "Mereka memang mengikuti kita," ucapannya terdengar panik.

Nadira menatap Adrian dengan wajah tegang.

“Mereka memang mengikuti kita.”

Adrian tidak menjawab. Kedua tangannya tetap kuat menggenggam kemudi. Tatapannya fokus pada jalan di depan, sementara dari kaca spion ia terus mengawasi mobil hitam yang semakin mendekat.

“Pegangan,” ujar Adrian tiba-tiba.

Nadira langsung menoleh. “Kenapa?”

“Sebentar lagi kita masuk jalan sempit.”

Belum sempat Nadira bertanya lagi, Adrian menginjak pedal gas. Mobil melaju lebih cepat.

Nadira refleks memegang pegangan di samping pintu. “Adrian!”

“Tenang.”

Adrian membelok tajam ke sebuah jalan kecil yang diapit bangunan dan pepohonan. Jalan itu jauh lebih sepi dibandingkan jalan utama. Beberapa detik kemudian, mobil hitam kembali terlihat di belakang mereka.

Nadira menelan ludah. “Mereka masih mengikuti.”

“Aku tahu.”

Adrian kembali mempercepat mobilnya. Ia sengaja mengambil beberapa belokan secara berurutan, mencoba memastikan apakah mobil itu benar-benar membuntuti mereka.

Belok kiri, lalu kanan, kemudian masuk ke jalan kecil yang hanya cukup dilewati dua mobil. Namun mobil hitam itu tetap mengikuti.

Adrian mengumpat pelan. “Berarti memang bukan kebetulan.”

Nadira mulai panik. “Apa yang harus kita lakukan?”

Adrian berpikir cepat. “Kamu hubungi Om Gunawan.”

Nadira langsung mengambil ponselnya dari dalam tas. “Tapi bagaimana kalau mereka...”

“Hubungi sekarang.”

Nadira segera mencari nama Gunawan dalam daftar kontak. Sementara itu, Adrian kembali memperhatikan kaca spion. Mobil hitam itu semakin dekat.

“Angkat Om... angkat...” gumam Nadira.

Akhirnya panggilan tersambung.

“Adrian?” suara Gunawan terdengar dari seberang.

“Om, ini aku,” jawab Nadira cepat.

Gunawan langsung menyadari nada panik dalam suara Nadira. “Ada apa?”

“Kami sedang diikuti mobil hitam.”

Gunawan terkejut. “Apa?”

“Iya Om... setelah meninggalkan rumah sakit, mobil itu terus mengikuti kami. Adrian sudah beberapa kali mengubah rute, tapi mereka masih mengejar.”

Gunawan langsung berubah serius.“Kirim lokasi kalian sekarang.”

Nadira segera membuka fitur berbagi lokasi. “Sudah Om.”

“Jangan turun dari mobil. Jangan berhenti di tempat sepi. Aku akan mengirim orang,” jelas Gunawan.

“Baik, Om.”

Panggilan berakhir.

Adrian melirik Nadira. “Sudah?”

“Sudah. Om Gunawan akan mengirim pengawal.”

Adrian mengangguk.

Namun tiba-tiba...

BRAK!

Sebuah mobil hitam lain muncul dari sebuah persimpangan dan hampir memotong jalan mereka.

“Pegangan!”

Adrian membanting setir, mobil mereka bergeser tajam. Ban berdecit keras di atas aspal. Nadira menjerit kecil dan spontan memegang lengan Adrian.

Mobil Adrian nyaris menabrak pembatas jalan sebelum akhirnya kembali stabil.

“Astaga...” Nadira menarik napas panjang.

Adrian tetap fokus, tatapannya berubah dingin. “Sial! Mereka bukan cuma satu mobil.”

Nadira langsung menatap kaca spion. Mobil hitam yang tadi berada di belakang mereka kini semakin dekat. Sementara mobil lain yang hampir menghadang mereka mulai berputar dan kembali mengejar.

“Mereka sudah menyiapkan semuanya,” ucap Adrian pelan.

“Adrian...”

“Tenang Nadira.”

Adrian kembali menginjak pedal gas. Ia tidak berniat membiarkan mereka mengepung. Mobil melaju keluar dari jalan kecil dan kembali memasuki jalan utama.

Adrian kemudian mengambil jalur berbeda, melewati beberapa kendaraan dengan kecepatan tinggi, mobil hitam itu masih mengejar.

Namun kali ini, dari kejauhan terdengar suara beberapa kendaraan mendekat. Adrian melirik kaca spion, dua SUV hitam muncul dari belakang.

Nadira membelalakkan mata. “Itu... orang Om Gunawan.”

1
It's me Sky
terimakasih kakak selalu suport karyaku🙏
Arditya
novel bagus ini sih, wajib di baca. Author satu ini gk pernah gagal buat buku. semangat thoor,😎
Amoera
suka banget sama alur ceritanya, mantap thoor👍
Amoera
Asli ini sih novelnya bagus thoor, menegangkan... semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!