Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.
Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Apakah hidupku memang diciptakan hanya untuk menjadi pengawal bagi Keyna saja?" gumam Keira pelan. Matanya menatap papan tulis di depan kelas dengan pandangan yang kosong dan tak berjiwa.
Ia kini duduk di ruang kelas, menatap lurus ke depan namun pikirannya melayang jauh tak tertahankan. Rasa malu yang luar biasa masih terasa membekas di hatinya setiap kali teringat betapa ayahnya telah memarahinya di hadapan semua orang kemarin.
Ia tak keberatan dimarahi, bahkan dipukul pun ia terima dengan lapang dada. Namun satu hal yang tak sanggup ia lupakan, tatapan dan perkataan ayahnya yang seakan tak pernah menganggapnya sebagai putri kandungnya sendiri.
Betapa beratnya menerima dipermalukan di hadapan orang banyak.
Beberapa menit kemudian, bel istirahat pun berbunyi. Keira yang sejak tadi hanya melamun tanpa menyimak pelajaran, memilih berjalan menuju kantin untuk membeli makanan. Biasanya ia membawa bekal dari rumah, namun ayahnya kini melarang hal itu, memaksanya pergi ke kantin setiap hari.
Sebenarnya, sepasang anak kembar itu seharusnya duduk bersama di satu kelas. Namun Bara sengaja menempatkan Keyna terpisah jauh darinya. Tak ada seorang pun yang menyadari bahwa mereka bersaudara. Bahkan di lingkungan sekolah, keduanya tak pernah terlihat saling menyapa atau berbicara.
Sesampainya di kantin, Keira memilih duduk di bangku paling pojok dan memesan makanan yang cukup sederhana sesuai apa yang ia mampu beli.
Saat ia sedang menunduk makan, matanya tak sengaja tertuju pada sosok adiknya yang berdiri tak jauh dari sana. Tiba-tiba, seorang gadis berjalan mendekat sambil membawa mangkuk berisi kuah panas yang mengepul, seakan hendak menyiramkannya kepada Keyna.
Tanpa berpikir panjang, Keira langsung melangkah maju dan menghalangi tubuh adiknya. Kuah panas itu pun tumpah tepat membasahi punggungnya yang tak terlindungi kain tebal. Keira menahan rasa perih yang luar biasa itu, berusaha tak memperlihatkan betapa sakit yang ia rasakan.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Keyna terkejut, segera berdiri di hadapan kakaknya.
"Dia bermaksud menyirammu dengan kuah panas itu," ucap Keira singkat sambil menahan napas agar tak mengerang kesakitan.
Gadis bernama Ana itu segera membantah dengan wajah yang memerah. "Itu tidak benar! Aku sama sekali tak berniat melakukan hal mengerikan itu kepadamu, Kak Keyna!"
Keyna justru menatap kakaknya tak percaya. "Aku tak percaya begitu, Ra. Ana gadis yang baik dan lemah lembut. Aku mengenalnya sejak kita masih bersekolah di luar negeri."
Memang benar, sejak pertama kali berkenalan dengan Ana di luar negeri, Keyna selalu mengenalnya sebagai gadis yang pendiam, sopan, dan penuh kebaikan hati.
Sedangkan bagi Keira, gadis itu sama sekali belum ia kenal sebelumnya, ia baru masuk ke sekolah ini saat mereka kembali ke tanah air. Keyna pun tak mengetahui sifat aslinya. Selama masa-masa sulit di sekolah terdahulu, Ana-lah yang selalu menemani Keyna saat ia merasa kesepian dan sulit beradaptasi.
"Aku tak berdusta, Ana benar-benar bermaksud melakukannya!" tegas Keira yang tak ingin menyaksikan adiknya terluka.
Ana justru menangis tersedu-sedu seakan dirinyalah yang menjadi korban. "Apa salahku sehingga kau memfitnahku begitu? Kau yang justru mendorongku saat aku hendak memberikan makanan kepada Kak Keyna!"
"Dusta!" bentak Keira tak mampu lagi menahan amarah. Ia tak menyangka gadis yang tampak begitu lemah itu ternyata pandai memutarbalikkan kenyataan.
"Cukup, Keira!" Keyna ikut membentak. "Kaulah yang kelakuanmu tak terpuji di sini! Jangan menuduh orang lain tanpa alasan, dan berhenti menyakiti hati Ana!"
Keyna hendak menambahkan sesuatu, namun tiba-tiba ia memegangi dadanya dan menunduk menahan rasa sakit yang mendadak menyerangnya.
"Kau kenapa, Kak?" tanya Ana pura-pura cemas.
Hendra, sahabat Keyna yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu pun segera mendekat. "Kau baik-baik saja?"
"Aku merasa sesak napas..." Setelah mengucapkan itu, Keyna tak mampu lagi berdiri tegak. Keira segera menangkap tubuh adiknya yang terkulai lemas dan membawanya bergegas menuju ruang kesehatan.
"Ingat saja, jika sesuatu terjadi pada Keyna, kaulah orang pertama yang akan kucari!" ancam sahabat Keyna dengan nada marah sebelum ikut berjalan pergi.
Salah seorang siswa yang menyaksikan itu pun bersuara sinis. "Gadis itu pun tak tahu diri. Tak cukup menyusahkan keluarganya, kini ia juga mendatangkan masalah kepada siapa pun yang dekat dengannya."
Ana pun menangis tersedu-sedu dan berlari meninggalkan tempat itu sambil berkata, "Jika Kak Keira tak menyukaiku, tak seharusnya ia menuduhku melakukan hal yang tak pernah kulakukan!"
Keira yang mendengar segala cemoohan itu hanya dapat menunduk dan menahan rasa perih yang mendalam di dadanya.
'Aku tak berdusta... sesungguhnya ia yang berniat jahat... namun tak ada satu pun yang mempercayai perkataanku.'
Suara-suara cemoohan itu terus terdengar di sepanjang jalan yang ia lalui.
***
"MENGAPA KAU SELALU MENYAKITKAN KAKAKMU?!" bentak Bara begitu mengetahui keadaan putrinya. Amarahnya meledak seketika dan ia tak segan-segan melampiaskannya kepada Keira.
Keira hanya diam menunduk. Tak ada gunanya menjelaskan. Selama ini kebenaran tak pernah didengar dari mulutnya.
"Aku berusaha melindungi Keyna dari segala bahaya! Namun apa yang kau lakukan? Berkali-kali kau membuatnya jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit!" Bara menatapnya dengan tatapan yang penuh kebencian. "Aku memerintahmu menjaganya, bukan menyiksanya!"
Adik tirinya, Arya, yang berdiri di samping ayahnya pun ikut menyalahkannya. "Untuk apa Ayah memintamu menjaga Keyna? Bukankah kehadiranmu justru mendatangkan bahaya baginya?"
Hati Keira terasa semakin perih mendengar ucapan adiknya yang begitu tajam. Ia tak sanggup menjawab satu pun pertanyaan itu.
"Ikut aku," perintah Arya dingin. Ia menarik lengan kakaknya dan menyeretnya menuju gudang di bagian belakang rumah, tak memedulikan rasa sakit yang tampak jelas di wajah Keira.
Sesampainya di sana, Arya mendorong tubuhnya hingga jatuh tersungkur.
"Kau harus diberi pelajaran agar tak pernah lagi menyakiti Keyna! Aku pastikan kau tak akan pernah bisa melukainya lagi!"
"Berlutut!" perintah Arya dengan nada yang tak dibantah. Keira menurut berlutut.
Araya kehilangan kesabaran, ia pun mengambil sebilah rotan dan memukulkan ke tubuh Keira berkali-kali dengan penuh kemarahan.
Keira tetap diam dan tak bersuara meski rasa sakit itu menjalar ke segenap tubuhnya. Ia tak melawan, tak membela diri. Biarlah... mungkin memang pantas ia menerima segala hukuman itu sebagai ganti rasa bersalah yang tak pernah ia ucapkan.
Setelah puas melampiaskan amarahnya, Arya pun pergi meninggalkan gudang itu. Pintu ditutup rapat dan dikunci dari luar. Tinggallah Keira sendirian dalam kegelapan, menahan rasa sakit yang membakar kulit sekaligus melukai hatinya jauh lebih dalam daripada luka yang tampak di tubuhnya.