Indonesia
NovelToon NovelToon
SHADOWS OF THE THRONE

SHADOWS OF THE THRONE

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Iblis / Tamat
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: IΠD

Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

After Day

Malam pertama di kedai itu telah berlalu, dan rencana Miyura untuk segera pergi ke gereja keesokan harinya tertunda. Ayah dan Ibu dengan lembut menahannya, meminta gadis itu untuk tinggal lebih lama guna beradaptasi dan membantu di kedai terlebih dahulu sebelum pergi ke mana-mana. Miyura, yang tidak enak menolak kebaikan mereka, akhirnya mengangguk setuju dan mulai menghabiskan hari-harinya di sana.

​Beberapa hari kemudian, suasana di kedai terasa hangat. Ibu membawakan sebuah gaun klasik milik masa mudanya yang masih tersimpan rapi untuk dicoba oleh Miyura. Ketika gadis itu mengenakannya, gaun berlengan panjang berwarna putih dengan korset cokelat bermotif itu ternyata pas dan melekat sempurna di tubuhnya.

​"Wah, lihat dirimu, Rin," puji Ibu dengan mata berbinar-binar kagum, memutar tubuh Miyura pelan untuk melihat penampilannya dari berbagai sisi. "Bentuk badanmu sangat bagus dan ideal. Gaun ini jadi terlihat jauh lebih indah saat kau kenakan dibandingkan saat aku muda dulu."

​Miyura merona malu, menundukkan kepalanya sambil merendah. "Ah, tidak juga, Ibu... Ibu terlalu memuji. Ini hanya karena gaunnya memang bagus dan terawat," balas Miyura dengan suara lembut, mencengkeram ujung kain gaunnya karena salah tingkah.

​Di tengah kehangatan percintaan kecil di antara mereka berdua di dalam ruangan lantai atas tersebut, tiba-tiba—

​Cklek!

​Pintu kamar terbuka dengan lebar secara tiba-tiba. Goto melangkah masuk tanpa aba-aba, tampak santai hendak mengambil beberapa barang miliknya.

​Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, Ibu langsung berteriak kaget bercampur geram, melotot tajam ke arah anaknya. "Goto! Kenapa kau nyelonong masuk dan menerobos kamar begitu saja tanpa mengetuk pintu dulu?!" maki Ibu dengan nada tinggi sambil berkacak pinggang, buru-buru berdiri menghalangi pandangan.

​Goto tertegun di ambang pintu, mengerjap kebingungan dengan sebelah alis terangkat. Ia menatap ibunya, lalu melirik sekilas ke arah Miyura yang berdiri kaku di dekat jendela.

​"Bentar, Bu... ini kan kamarku?" protes Goto dengan nada polos bercampur heran, menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa aku dimarahi di kamarku sendiri?"

​"Meskipun ini kamarmu, hargai privasi gadis yang sedang berganti pakaian, bodoh!" sahut Ibu ketus, sementara Miyura semakin menunduk dalam-dalam, wajahnya memerah padam karena rasa malu yang teramat sangat.

Goto mengangkat kedua tangannya, berniat untuk meluruskan kesalahpahaman dan membela diri dari amukan sang ibu. Namun, melihat tatapan tajam ibunya yang belum mereda, ia hanya bisa menghela napas panjang tanda menyerah.

​"Baiklah, baiklah... aku mengerti," ucap Goto dengan nada pasrah sambil menggelengkan kepala pelan. "Aku akan menunggu di bawah saja."

​Tanpa membuang waktu lagi, pemuda itu berbalik badan dan melangkah keluar kamar.

​Brak.

​Pintu kayu tertutup rapat kembali, meninggalkan keheningan sejenak di dalam ruangan. Ibu menghela napas panjang, lalu melangkah mendekati Miyura yang masih berdiri kaku dengan wajah memerah karena malu. Sambil menepuk-nepuk pundak gadis itu dengan lembut, Ibu mencoba mencairkan suasana.

​"Jangan dimasukkan ke dalam hati ya, Rin," kata Ibu dengan senyuman maklum di wajahnya. "Goto memang terkadang menyebalkan seperti itu. Meskipun usianya sudah dewasa dan dia sempat menikah... entah kenapa, sejak istrinya meninggal dunia beberapa tahun lalu, sikapnya sering kali kembali kekanak-kanakan dan ceroboh."

​Miyura hanya terdiam membisu. Pandangannya menatap lurus ke arah pintu yang tertutup rapat, sementara bayangan sosok mendiang istrinya yang disebut-sebut oleh sang ibu berkelebat sebentar di kepalanya. Merasa canggung namun tidak enak hati, Miyura akhirnya mengangguk pelan.

​"Iya, Ibu... tidak apa-apa," jawab Miyura dengan suara lirih, mencoba meredam debar di dadanya dan kembali menenangkan diri di balik balutan gaun klasik pemberian wanita paruh baya tersebut.

Mengingat kembali beberapa hari kebelakang, kebaikan hati Goto yang telah merelakan kamar tidurnya untuk dipakai oleh Miyura—sementara pria itu sendiri memilih tidur beralaskan alas tipis di area kedai lantai satu—tanpa sadar telah meninggalkan jejak yang dalam di hati gadis itu. Rasa kagum dan nyaman perlahan-lahan bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih hangat.

​Sambil menatap bayangannya sendiri di cermin kecil sudut kamar, Miyura menarik napas pelan untuk mengumpulkan keberanian. Ia menoleh ke arah Ibu yang masih duduk di tepi tempat tidur, lalu meremas jemarinya sendiri karena gugup.

​"Ibu..." panggil Miyura dengan suara yang amat pelan dan ragu-ragu.

​Ibu menoleh dengan senyuman hangat, menatap penuh perhatian kepada gadis berambut hitam tersebut. "Ada apa, Rin? Kenapa wajahmu terlihat serius begitu?"

​Miyura menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona merah di pipinya. "Jika... jika seandainya aku merasa menyukai Kak Goto... apa itu hal yang aneh?" tanyanya terbata-bata, mencurahkan isi hatinya yang selama ini terpendam.

​Ibu tidak tampak terkejut mendengar kejujuran itu. Sebaliknya, senyuman penuh ketenangan terukir di bibirnya yang keriput. Ia merentangkan tangan, meraih sebelah tangan Miyura dan mengelusnya dengan lembut.

​"Tentu saja itu tidak aneh, Rin," jawab Ibu dengan nada menenangkan. "Kau gadis yang baik, dan Goto adalah pemuda yang bertanggung jawab. Sangat wajar jika perasaan seperti itu tumbuh di hatimu."

​Ibu menghela napas pelan, sorot matanya menerawang sejenak ke masa lalu sebelum kembali menatap manik mata Miyura. "Hanya saja... membuat Goto jatuh cinta lagi bukanlah hal yang mudah. Luka kehilangannya begitu dalam. Kemungkinan besar, pada awalnya ia hanya akan menganggapmu sebagai adik perempuannya sendiri."

​Miyura merasakan secercah rasa nyeri mencubit dadanya mendengar perkataan itu.

​"Tapi..." Ibu melanjutkan dengan nada yang penuh keyakinan, "bukan berarti itu tidak mungkin. Jika ketulusanmu bisa meruntuhkan tembok pertahanannya dan membuatnya luluh, maka segalanya bisa berubah."

​Ibu kemudian menceritakan kisah pilu di balik masa lalu putranya. "Dulu, istri Goto yang bernama Evelyn jatuh sakit-sakitan tepat setelah pernikahan mereka, hanya beberapa minggu berselang. Sayangnya... takdir berkata lain, Evelyn berpulang sebelum mereka sempat dikaruniai keturunan atau merasakan kebahagiaan rumah tangga yang utuh. Itulah kenapa Goto sangat terpukul dan menutup hatinya rapat-rapat."

​Miyura mendengarkan setiap patah kata yang diucapkan Ibu dengan seksama. Ia mengangguk perlahan, namun bahunya merosot turun dan ia kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasa bahwa jarak antara dirinya dan hati Goto bagaikan jurang yang teramat curam.

​Melihat ekspresi sedih di wajah gadis itu, Ibu segera tersenyum lebar dan menepuk-nepuk punggung tangan Miyura dengan penuh kehangatan.

​"Hei, jangan berkecil hati begitu, Rin," hibur Ibu dengan suara lembut yang menyemangati. "Perasaan tulus dan waktu memiliki cara mereka sendiri untuk menyembuhkan segalanya. Ibu selalu mendukungmu, jadi jalani saja semuanya dengan sabar, ya?"

Miyura tersentak pelan dari lamunannya. Semburat kemerahan di pipinya kian pekat, diiringi oleh rasa bersalah yang tiba-tiba mencuat di dadanya. Ia menarik tangannya perlahan dari genggaman sang ibu, lalu menundukkan kepalanya semakin dalam hingga dagunya hampir menyentuh dada.

​"Maafkan aku, Ibu..." ucap Miyura dengan suara bergetar dan sarat akan rasa bersalah. "Aku tahu aku sangat lancang... baru beberapa hari menumpang di sini, baru saja mengenal kalian, tapi aku sudah berani berbicara selancang ini tentang perasaan pribadi..."

​Ibu justru tertawa kecil—suara tawa yang begitu hangat dan menenangkan, sama sekali tidak mencerminkan kemarahan ataupun kejengkelan. Ia kembali merangkul pundak Miyura dengan penuh kasih sayang.

​"Kenapa harus meminta maaf, Rin? Tidak ada yang salah dengan kejujuran seorang gadis muda sepertimu," balas Ibu lembut. "Wajar jika kau merasa canggung karena kita baru saling mengenal beberapa hari. Tapi di rumah ini, kau tidak perlu menyembunyikan isi hatimu di balik rasa sungkan yang berlebihan."

​Miyura mendongak perlahan, menatap manik mata wanita paruh baya itu yang memancarkan ketulusan tanpa batas, membuat air mata haru hampir menetes di pelupuk matanya.

​Melihat ekspresi gadis itu, Ibu tersenyum semakin lebar seraya menepuk pelan lengan gaun yang dikenakan Miyura. "Sudahlah, jangan terus dipikirkan. Ayo kita turun ke bawah sekarang," ajak Ibu sambil beranjak dari tepi tempat tidur. "Hari sudah semakin siang. Kau berniat pergi ke gereja hari ini, bukan? Goto sudah menunggu di lantai bawah untuk mengantarmu sampai ke depan pintu gereja."

​Mendengar nama Goto disebut, jantung Miyura kembali berdegup kencang. Dengan perasaan campur aduk antara gugup, malu, dan hangat, Miyura mengangguk pelan. "B-Baik, Ibu... terima kasih banyak," ucapnya lirih, lalu berjalan mengikuti langkah sang ibu keluar dari kamar menuju lantai bawah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!