Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
Cheryl Dipecat
Keesokan paginya, Opa William memanggil Nathan ke ruang kerja Kediaman Halim.
“Cheryl nggak boleh lagi memakai Prima untuk mendekati keluarga,” katanya tanpa pembuka.
Nathan berdiri di depan meja. “Prima punya pemegang saham dan aturan. Opa nggak bisa memecat orang hanya karena masalah keluarga.”
Tongkat Opa mengetuk lantai. “Opa tahu. Jadi pakai aturan yang benar. Periksa semua yang dia lakukan dengan nama perusahaan.”
Reno sudah mengirim laporan sejak subuh. Cheryl memakai kontak divisi kemitraan untuk memperoleh jadwal terminal khusus, menghubungi fotografer saat berstatus perwakilan Prima, serta membayar kampanye gosip melalui vendor promosi yang pernah bekerja dengan perusahaan.
Ada juga persoalan lebih lama: klaim karya di acara amal perusahaan, penyebaran informasi hubungan pribadi kepada mitra, dan ketidaksesuaian beberapa laporan biaya.
“Komite internal akan memeriksa,” kata Nathan. “Aksesnya dibekukan selama proses. Kontraknya berakhir bulan depan dan nggak akan diperpanjang.”
“Kamu akan membelanya?”
Nathan teringat semua kali pertanyaan itu akan dijawab tanpa berpikir.
“Tidak.”
Opa menatapnya lama. “Bagus. Memutus kesalahan bukan berarti menghapus masa lalu. Tapi kalau kamu masih memberi jalan setelah tahu, berarti kamu ikut memilih akibatnya.”
Nathan mengangguk.
Ia tidak mengatakan bahwa pagi tadi dirinya memeriksa pintu kamar Renata tiga kali. Setelah hampir pingsan, Renata menolak dibawa ke dokter dan mengatakan hanya kurang makan. Nathan meminta Bik Inah mengawasi, tetapi tidak berani memaksa.
Sementara itu, Renata sudah meninggalkan Puri menuju klinik swasta.
Di Prima Aeroteknik, kartu akses Cheryl berhenti berfungsi pukul sepuluh.
Seorang staf HR menunggunya di ruang rapat bersama petugas kepatuhan. Di atas meja ada surat pembebastugasan sementara, pemberitahuan investigasi, dan konfirmasi bahwa kontraknya tidak akan diperpanjang setelah masa berjalan selesai.
“Ini lelucon?” tanya Cheryl.
“Anda tetap menerima hak sesuai kontrak,” jawab staf HR. “Namun mulai hari ini, akses ke data mitra, jadwal penerbangan, serta komunikasi eksternal atas nama Prima dicabut.”
“Saya ikut membangun perusahaan ini.”
“Status pendiri tidak menghapus kewajiban kepatuhan.”
Cheryl menatap nama Nathan pada halaman persetujuan direksi.
“Saya mau bicara dengannya.”
“Direktur Nathan menyerahkan komunikasi kepada HR dan penasihat hukum.”
“Dia nggak mungkin melakukan ini.”
Staf kepatuhan menggeser daftar hak Cheryl. Ia boleh didampingi pengacara, menyerahkan tanggapan tertulis, dan meminta salinan bukti yang tidak melanggar data pihak lain. Gaji sampai akhir kontrak tetap dibayar. Barang pribadi dapat diambil hari itu dengan pemeriksaan wajar.
“Jadi kalian mau membuat ini terlihat baik di atas kertas?”
“Kami menjalankan proses yang tercantum dalam kontrak Anda.”
Cheryl membaca setiap halaman, mencari celah untuk menyebut dirinya korban. Semua prosedur justru membuatnya semakin marah. Jika Nathan memecatnya dengan emosi, ia bisa menyerang balik. Dengan pembekuan akses dan tidak memperpanjang kontrak berdasarkan temuan kepatuhan, Prima tidak memberinya panggung mudah.
Ia menandatangani tanda terima, bukan pengakuan kesalahan.
Tidak ada yang menjawab.
Cheryl kembali ke mejanya dengan dua petugas menyertai. Rekan kerja pura-pura sibuk, tetapi layar ponsel dan tatapan mereka mengikuti setiap gerakannya.
Ia memasukkan barang pribadi ke dalam kotak: foto masa awal Prima, plakat penghargaan, beberapa dokumen yang sudah diperiksa, dan cangkir bertuliskan pendiri.
Seseorang berbisik di belakang partisi.
“Katanya kontraknya nggak diperpanjang.”
“Karena foto bandara?”
“Bukan cuma itu. Dia pakai vendor kantor untuk kampanye pribadi.”
Cheryl membanting laci hingga suara logam terdengar di seluruh lantai.
Ponselnya menampilkan pesan dari Yohan, salah satu pemegang saham lama yang selalu siap membantunya.
Kalau butuh pengacara atau dana, bilang. Aku percaya kamu nggak seburuk yang mereka katakan.
Cheryl membalas dengan satu kalimat.
Aku butuh tempat bertemu yang sepi.
Ia tidak mencintai Yohan. Namun kesetiaan lelaki itu tetap berguna.
Saat berjalan menuju lift dengan kotak di tangan, Cheryl melewati dinding foto para pendiri Prima. Nathan berdiri di tengah foto terbesar. Cheryl pernah yakin tempatnya di sisi lelaki itu tidak bisa digantikan.
Kini kartu aksesnya mati, cincin merah muda hilang, dan nama Renata memenuhi setiap percakapan yang dulu memujinya.
Di lantai atas, Reno meletakkan laporan HR di meja Nathan.
“Selesai.”
Nathan membaca halaman terakhir. “Pastikan hak kontraknya dibayar penuh.”
“Kamu masih merasa bersalah?”
“Aku nggak mau memberi dia alasan mengatakan proses ini balas dendam keluarga.”
Reno mengangguk. “Catatan perjalanan lama juga datang. Cheryl mendarat di Jakarta sehari setelah kecelakaan gunung.”
Tangan Nathan berhenti di atas berkas.
“Yakin?”
“Manifes dan stempel imigrasi cocok. Aku sedang mencari siapa yang pertama kali menyerahkan kain berdarah kepadanya.”
Kecurigaan yang selama ini hanya retak kini membuka lubang besar. Nathan memasukkan laporan itu ke laci terkunci. Ia tidak menghubungi Cheryl. Untuk pertama kalinya, ia memilih mengumpulkan fakta sampai lengkap.
Sore hari, sebuah mobil mengantar Cheryl ke kafe privat di belakang gedung pertemuan Jakarta Selatan. Yohan membayar ruangannya tetapi tidak masuk. Ia hanya mengirim pesan bahwa orang yang ingin menemuinya sudah menunggu.
Seorang lelaki berjas abu-abu duduk di sudut. Tidak ada nama di meja, hanya sebuah map hitam.
“Anda mewakili siapa?” tanya Cheryl.
Lelaki itu mendorong secangkir teh ke arahnya. “Seseorang yang mengikuti perubahan di Prima dan keluarga Halim.”
“Saya nggak suka teka-teki.”
“Bagus. Bos saya juga nggak.”
Ia membuka map. Di dalamnya ada informasi publik tentang Purnama, foto Renata bersama Xavier di Maladewa, serta ringkasan konflik keluarga Halim.
Cheryl tidak menyentuhnya. “Apa yang kalian mau?”
“Tahu apa yang Anda mau lebih penting.”
“Saya ingin hidup saya kembali.”
“Nathan Halim?”
Mata Cheryl mengeras. “Dia milik saya. Renata yang datang dan mengambil semuanya.”
Lelaki itu tidak mengoreksi. Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dan meletakkannya di meja.
Gordon Tanzil. Direktur Bank Gemilang.
“Bos Gordon menyukai perempuan yang tahu apa yang dia mau,” katanya. “Dia bisa membuka pintu yang sudah ditutup keluarga Halim.”
“Berapa harganya?”
“Nanti Anda akan diberi tahu.”
“Saya nggak akan melakukan sesuatu yang bodoh hanya karena marah.”
Lelaki itu tersenyum tipis. “Tentu. Itu sebabnya pertemuan ini hanya perkenalan. Tidak ada kesepakatan malam ini.”
Ia berdiri dan membiarkan kartu itu di meja. “Kalau Anda menelepon, berarti Anda bersedia mendengar syarat. Kalau tidak, kartu itu bisa dibuang.”
Tidak ada ancaman terang-terangan. Justru kebebasan palsu tersebut terasa lebih berbahaya.
Cheryl seharusnya pergi. Nama Gordon terdengar di lingkaran bisnis sebagai lelaki yang tidak pernah memberi bantuan tanpa mengambil sesuatu lebih besar.
Namun pintu Prima sudah tertutup dan Nathan tidak lagi menjawab.
Ia mengambil kartu itu.
Ketika mengangkat wajah, air mata di matanya sudah hilang.
Cheryl tersenyum.
Ia memilih bahaya.