Anjani Pitaloka Notokoesoemo terbiasa hidup serba kecukupan, apapun yang ia inginkan pasti mampu ia dapatkan, termasuk jabatan yang sekarang ia pakai.
Anjani adalah perempuan yang berpengaruh di dunia bisnis. Dia mempunyai kekuasaan, gelar dan harta melimpah.
Tidak hanya itu, Anjani juga mempunyai suami seorang CEO di perusahaan ternama. Siapapun pasti tergiur dengan kehidupan pribadinya, tentu juga menilai bahwa dia adalah perempuan yang kehidupannya sangat sempurna.
Namun, setelah lima tahun pernikahan, Anjani mengetahui Syahrul Bhaskara telah berselingkuh dengan seorang sekretaris bernama Yeshika Larasati.
Hidup Anjani seperti berhenti, dan otaknya berpikir, ternyata selama ini ia tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya?
Semalaman menangis, akhirnya ia memutuskan untuk diam. Alih-alih mengemis cintanya lagi, ia membiarkan mereka bermain, dan ia menyelidiki seberapa jauh mereka berselingkuh untuk ia jadikan objek balas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lullabyyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seseorang Yang Rela Tidak Diakui
"Aku," ucapan Syahrul terhenti. Bukan karena Yeshika yang mengendus-endus lehernya, tetapi karena hal lain yang mengganggu pikirannya.
Menarik leher perempuan itu sehingga mereka saling bertatapan. Syahrul sekali lagi mendapati wajah Anjani di wajah perempuan yang menjadi selingkuhannya ini. Sejak tadi ia ingin bertanya, mengapa ada kejadia seaneh ini menimpanya?
Jengkel dengan apa yang terjadi, Syahrul segera mendorong Yeshika turun dari pangkuannya, sementara ia langsung berdiri dari kursinya. Ia tidak tahan terus melihat bayang-bayang Anjani di diri orang lain, dirinya seperti sedang dimainkan saja.
Wajah Yeshika langsung berubah drastis, ia tidak menyangka akan diperlakukan sekenanya oleh Syahrul, sebelum-sebelumnya ia tak pernah diperlakukan seperti ini.
"Syahrul, apa maksudmu?" tanya Yeshika mencoba untuk sabar. Kakinya melangkah maju, sedangkan tatapannya meminta penjelasan.
"Berhenti di situ," suruh Syahrul, sedangkan tangannya menunjuk Yeshika supaya berhenti melangkah.
Yeshika kesal, di sisi lain Syahrul langsung memalingkan wajah ke atas, tetapi justru wajah Anjani yang merona muncul di lampu.
"Sialan!" gumam Syahrul sambil memukul pelan pelipisnya. "Aku nggak tahu jawabannya, Yeshika, tidak untuk sekarang!" lanjut Syahrul untuk membalas pertanyaan Yeshika.
Mendengar jawaban yang tidak sesuai dengan keinginannya membuat Yeshika menggigit mulut bagian dalamnya, menahan gejolak amarah yang akan meledak.
"Aku sudah mengorbankan apapun, melakukan apapun. Aku bersabar, terus menunggumu. Terus berada di sisimu, memihakmu. Aku rela tidak diakui di depan umum. Namun, ketika aku meminta kejelasan hubungan kita, kenapa responmu begitu? tidak tahu katamu!!!" cerca Yeshika sambil menatap Syahrul marah, dan matanya sudah memerah hendak menangis.
Melihat emosi Yeshika menjadi tidak stabil, pria itu segera mendekatinya dan mengusap air mata yang keluar dari mata perempuan itu.
"Tidak sekarang, ya?" pinta Syahrul dengan suara lembut.
Yeshika menatap Syahrul kecewa, tangannya bergerak menggeser tangan pria di depannya yang berupaya menghentikan tangisnya, "Lalu kapan? Aku sudah berada di sini, di depanmu, selalu memperhatikanmu yang bahkan Anjani istrimu tidak pernah bisa melakukannya. Apa yang kamu tunggu?!"
Syahrul justru terdiam. Tangannya berhenti bergerak untuk mengusap pipi kekasihnya. Tubuhnya seolah terseret oleh badai dan membuatnya tertabrak sesuatu yang terasa nyeri di ulu hatinya.
Yeshika menyadari bahwa Syahrul bahkan tak bisa mengatakan apapun untuk mengakuinya, sekarang ia tahu ke mana arah hubungan mereka, ia seketika berteriak histeris, "Ternyata selama ini kamu nggak pernah milih aku? Kamu masih cinta Anjani?!"
"Jangan-jangan selama ini hatimu memang tidak pernah berpindah darinya? Lalu aku ini apa Syahrul!!!!" Yeshika berjalan cepat ke arah Syahrul, lalu menamparnya kuat-kuat.
Kepala Syahrul berhasil tertoleh ke samping, ujung bibirnya menjadi sedikit perih dan menyadarkannya dari lamunannya, lantas ia terkekeh pelan.
Syahrul menatap Yeshika, tangannya langsung menarik perempuan itu dalam dekapnya, segera ia meminta maaf.
"Maaf, Sayang. Emosiku kurang stabil. Aku ingin hubungan kita dirahasiakan lebih lama lagi, bisa?" Syahrul menangkup pipi tirus Yeshika menggunakan kedua tangannya, lalu menatapnya dalam.
Yeshika berhenti menangis sesaat. "Kenapa?"
"Proyek besar Anjani masih berjalan, tunggu sebentar lagi hingga aku menemukan celah, kita raup untungnya semua dan kubiarkan kamu nanti menjadi Majesty baru," tutur Syahrul dengan penuh keyakinan, berhasil memunculkan senyum di wajah Yeshika.
"Apa kamu yakin?" Yeshika menatap Syahrul penuh selidik, takut jika dibohongi.
Syahrul mengangguk cepat, lalu berpamitan pergi. Setelah pria itu pergi keluar dari ruangan, Yeshika hanya bisa berdiri termenung sendiri di tengah-tengah ruangan kosong itu, sementara pandangan jatuh pada lantai.
"Anjani, lihatlah hari kejatuhanmu semakin dekat," bisik Yeshika sambil menyeringai.
...****...
Sementara itu, di sebuah ruangan yang berada di lantai paling atas gedung tinggi, ada seorang pria yang berdiri membelakangi anak buahnya yang tak jauh darinya.
"Bagaimana perkembangannya?" tanyanya. Pandangannya jauh lurus ke depan, pada langit malam yang tak punya ujung.
"Semua berjalan sesuai rencana, Tuan Besar."
Dia menyeringai bak iblis setelah mendengar jawaban dari bawahannya. Ia langsung membalik badan, tangannya meraba sebuah map merah dengan tulisan Yeshika Larasati di bagian tabel nama.
Jemarinya bergeser membenarkan sebuah foto yang ia taruh di atas meja, lalu bergumam pelan, "Lalu Anjani?"
"Sejauh ini belum menyadari pergerakan kita, Tuan Besar."
Pria yang memakai busana serba hitam, kemejanya dibiarkan terbuka hingga menampilkan bentuk badan atletis di balik kain satin hitam, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang hanya penuh dengan rak-rak buku dan beberapa kursi.
"Tidak mungkin selamanya dia tidak tahu. Dia wanita yang terlalu peka akan sekitar. Salah satu Majesty yang keamanannya setara dengan Majesty Of Information. Jangan lengah, Axton!"
Pria botak yang sejak tadi menundukkan kepala segera mengangguk, lalu menggerutu, "Namun, dia hanya seorang perempuan. Tuan Besar bisa menyingkirkannya kapanpun Anda mau."
"Tidak semudah itu." Orang yang dipanggil Tuan Besar oleh Axton langsung menunjukkan tatapan pemburu.
"Kami disebut Majesty bukan semata-mata karena punya kekuasaan, tetapi karena kemampuan kami di bidang tertentu yang dipercaya oleh publik. Beberapa pihak akan menilai setiap pergerakan kami dan ekonomi ibu kota juga dipengaruhi oleh kami. Oleh sebab itu aku menyuruhmu untuk tidak terlena, karena Anjani itu Majesty. Kekuasaan Majesty bisa menggiring opini publik, jika kamu salah langkah, aku bisa mati!" Ia bersuara dengan nada dingin, matanya menatap Axton sinis, dan tangannya mengepal di atas meja.
Axton buru-buru meminta maaf dan berpamitan pergi sebelum ia mendapatkan pukulan dasyat dari bosnya.
Setelah kepergian Axton, ia menarik foto perempuan yang sejak tadi ia raba-raba di atas meja, seketika langsung ia banting ke atas meja hingga tangannya berdarah.
"Anjani, wanita sialan ini." Dia memberang hingga memporak-porandakan ruangannya dengan pukulan dan tendangan.
"Kau akan kehilangan semuanya satu persatu!" teriaknya murka.
"Aku Majesty Of Finance, sialan! Bisa-bisanya kau perlakukan aku begitu!!" lanjutnya sambil menginjak-injak foto Anjani di dalam pigura, tidak peduli dengan tangannya yang sejak tadi masih mengucurkan darah.