Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Rumah besar Wijaya mulai berdenyut dengan semangat baru setelah Daniel menyerahkan diri. Pengkhianatan itu meninggalkan luka, tetapi juga membawa kejelasan. Adrian tidak lagi sendirian dalam perjuangannya. Dia memiliki putrinya, gadis kecil yang selama ini dia anggap perlu dilindungi, ternyata adalah pelindung yang paling tangguh.
Pagi itu, Adrian duduk di ruang kerjanya dengan Adeline di pangkuannya. Untuk pertama kalinya, dia tidak menyembunyikan dokumen-dokumen atau berbicara dengan nada yang dibuat-buat. Dia menunjukkan semua yang dia ketahui tentang perusahaan, tentang Victor, tentang semua ancaman yang menghadang mereka.
"Lihat ini, Sayang," kata Adrian sambil menunjukkan sebuah grafik di layar komputernya. "Ini adalah aliran dana yang dicurigai mengalir ke rekening Victor. Daniel membantu kami mengidentifikasi semua transaksi ini sebelum dia menyerah."
Adeline menatap grafik itu dengan serius. Dia tidak mengerti semua angka dan garis, tetapi dia mengerti bahwa ini adalah bagian dari teka-teki yang harus mereka pecahkan. "Apa yang bisa Adeline lakukan untuk membantu, Ayah?"
Adrian tersenyum, tersenyum yang tulus dan penuh kepercayaan. "Ayah ingin kamu mendengarkan dengan saksama setiap kali ada pertemuan keluarga atau rapat perusahaan. Jika kamu mendengar suara hati yang mencurigakan, beri tahu Ayah segera. Kita akan bekerja sama seperti tim detektif."
Adeline berseri-seri mendengar kata-kata ayahnya. Untuk pertama kalinya, dia merasa dianggap serius. "Aku akan melakukannya, Ayah. Aku akan mendengarkan dengan sangat keras."
Mereka berdua mulai bekerja sama setiap hari. Adrian menjelaskan situasi perusahaan dengan kata-kata sederhana yang bisa dimengerti Adeline. Dia mengajarinya tentang siapa saja orang-orang penting di perusahaan, apa peran mereka, dan mengapa mereka mungkin memiliki motif untuk mengkhianati.
Adeline belajar dengan cepat. Dia mulai mengenali pola-pola suara hati yang mencurigakan, dan dia mulai bisa membedakan antara orang yang hanya stres dan orang yang benar-benar menyembunyikan niat jahat.
Suatu sore, ketika ada rapat keluarga besar, Adeline duduk di samping ayahnya dengan mata waspada. Kerabat-kerabat berkumpul, berbicara tentang masa depan perusahaan dan langkah-langkah yang harus diambil. Adeline mendengarkan dengan seksama, menangkap setiap bisikan hati yang lewat.
Di antara semua suara hati yang tenang dan biasa, ada satu suara yang menonjol. Suara itu datang dari seorang kerabat jauh bernama Tio Rudi, seorang pria paruh baya yang jarang muncul dalam acara keluarga. Suara hatinya berbicara tentang ketakutan yang tidak biasa, ketakutan bahwa rencananya akan terbongkar.
Mereka semua berkumpul di sini untuk membicarakan masa depan perusahaan. Mereka tidak tahu bahwa aku sudah menjual beberapa rahasia perusahaan pada kompetitor. Jika mereka mengetahuinya, aku akan hancur. Aku harus berpura-pura biasa dan berharap tidak ada yang curiga.
Adeline menegang. Dia menoleh pada ayahnya dan berbisik pelan, "Ayah, Tio Rudi. Suara hatinya mengatakan bahwa dia menjual rahasia perusahaan pada kompetitor."
Adrian tidak menunjukkan reaksi apapun di wajahnya, tetapi jari-jarinya mengepal erat di bawah meja. Dia mengangguk kecil pada Adeline dan melanjutkan rapat seolah tidak terjadi apa-apa.
Setelah rapat selesai dan semua tamu pulang, Adrian memanggil Daniel yang baru saja dibebaskan dengan jaminan untuk membantu penyelidikan. Mereka berdua mulai menyelidiki Tio Rudi secara diam-diam.
"Aku tidak pernah menyangka dia bisa melakukan ini," kata Adrian dengan suara hancur. "Dia adalah saudara dari ibuku. Kami tumbuh bersama."
Adeline menggenggam tangan ayahnya dengan lembut. "Ayah, Adeline tahu ini menyakitkan. Tapi lebih baik kita tahu sekarang daripada nanti, kan?"
Adrian menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu benar, Sayang. Lebih baik kita tahu sekarang. Terima kasih sudah memberitahu Ayah."
Malam itu, ketika mereka duduk berdua di teras belakang, Adrian berbicara dari hatinya. "Ayah dulu berpikir bahwa melindungimu berarti menyembunyikan semua masalah dari dirimu. Ayah pikir kamu terlalu kecil untuk mengerti semua ini. Tapi Ayah salah."
Adeline menatap ayahnya dengan mata jernih. "Adeline tidak pernah terlalu kecil untuk mengerti, Ayah. Adeline bisa mendengar semua suara hati. Adeline tahu ketika Ayah sedih, ketika Ayah takut, ketika Ayah khawatir. Dan Adeline selalu ingin membantu."
Adrian memeluk putrinya erat. "Ayah minta maaf karena selama ini Ayah menganggapmu hanya anak kecil yang perlu dilindungi. Sekarang Ayah melihatmu sebagai mitra. Sebagai seseorang yang memiliki peran penting dalam keluarga ini."
Adeline tersenyum bahagia. "Ayah tidak perlu minta maaf, Ayah. Ayah sudah berubah. Ayah sudah percaya padaku. Itu yang terpenting."
Mereka berdua duduk dalam keheningan yang nyaman, menatap bintang-bintang di langit malam. Adrian merasa ringan, bebas dari beban yang selama ini dia pikul sendirian. Dia tidak lagi harus menyembunyikan ketakutannya. Dia memiliki putrinya, gadis kecil yang akan selalu mendengarkan dan selalu berada di sisinya.
"Besok," kata Adrian akhirnya, "Ayah akan memanggil Tio Rudi untuk berbicara. Ayah akan memberikan kesempatan padanya untuk mengakui semuanya. Jika dia menolak, kita akan menggunakan bukti yang kita kumpulkan."
Adeline mengangguk. "Aku akan mendengarkan, Ayah. Jika dia berbohong, aku akan tahu."
Adrian tersenyum. "Dengan kamu di sisiku, Sayang, aku merasa bisa menghadapi apapun. Kita berdua melawan dunia, ya?"
Adeline tertawa kecil dan memeluk ayahnya. "Ayah dan Adeline melawan dunia. Selamanya."
Di luar, malam semakin larut. Rumah besar Wijaya berdiri tegak di bawah cahaya bulan. Di dalam rumah itu, sebuah ikatan baru telah terbentuk antara ayah dan anak. Ikatan yang didasarkan pada kepercayaan, kerja sama, dan cinta tanpa syarat. Dan dengan ikatan itu, tidak ada yang bisa mengalahkan mereka.