Indonesia
NovelToon NovelToon
Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Romantis / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.

Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.

Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.

Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Monisha Affan 14.

Langit malam di alun-alun kota berubah menjadi lautan warna-warni. Suara bising tawa anak-anak, musik organ tunggal yang berderit sumbang, dan aroma harum popcorn bermentega menyatu di udara. Ini adalah malam minggu pertama mereka setelah menikah.

Bagi Mona dan Affan, malam ini terasa jauh berbeda dari keramaian remaja lainnya.

Mereka bukan lagi sekadar dua orang siswa SMA yang sedang pacaran secara terang-terangan.

Status mereka kini telah berubah. Di dalam dompet Affan tersimpan kartu keluarga baru, dan di jari manis tangan kiri mereka berdua, sebuah cincin perak sederhana melingkar pas.

Mona menarik ujung jaket denim Affan dengan pelan. Ia merasa risih dengan kerumunan orang yang lalu-lalang menyenggol bahunya. "Sayang, ini ramai banget. Nanti kalau ada guru BK yang lihat gimana?" bisiknya cemas, matanya mengedar menatap sekeliling.

Affan menoleh, lalu tersenyum kecil melihat wajah istrinya yang sedikit panik di balik syal rajut merah muda.

Affan merangkul pundak Mona dengan mantap, membawa gadis itu lebih dekat ke sisinya untuk melindunginya dari desakan orang banyak.

"Semua akan baik-baik saja, saya sudah siap kalau misalkan hubungan rahasia kita akan ketahuan" Affan mendekatkan wajahnya ke telinga Mona, suaranya tenggelam di antara suara bising wahana kora-kora, "kalau ada guru yang lihat, saya tinggal bilang saja kalau lagi jalan sama istri sah. Mau saya teriak sekarang?"

Mona langsung mencubit pinggang Affan dengan kesal. Wajahnya langsung bete "Jangan sembarangan! nanti kita bisa dikeluarin dari sekolah. Kita kan sepakat mau merahasiakannya sampai lulus."

Affan tertawa lepas. Tawa yang membuat mata Mona terpejam karena malu sendiri. "Jangan keras-keras ketawa nya anjir"

Affan meraih tangan kanan Mona yang bebas, lalu menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari gadis itu.

Genggaman yang terasa begitu pas, hangat, dan mengalirkan rasa aman yang semakin aneh di dada Mona.

Kemarin, saat status mereka masih menjadi musuh bebuyutan karena perbedaan kepribadian yang kontras, genggaman tangan seperti ini selalu mendatangkan pancaran kebencian dan kemarahan diantara mereka. Namun sekarang justru kebalikan. Hangatnya genggaman Affan membuat Mona tidak lagi munafik soal perasaan sayang nya. Sama persis seperti pertama kali perasaan itu muncul dikala hujan badai beberapa hari lalu.

"Tuh, lihat ada abang-abang jual gulali bentuk beruang," kata Affan sambil menunjuk ke arah sudut pasar malam yang dipenuhi anak-anak kecil. "Mau?"

Mona menggeleng kepala, tapi matanya berbinar menatap gulali raksasa berwarna merah muda itu. "Udah malam, nanti gigi saya sakit."

"Alasannya klasik," ejek Affan lembut. Ia langsung menarik Mona mendekati gerobak penjual gulali. "Pak, ambil satu yang warna pink ya."

Sambil menunggu gulali itu jadi, Affan memperhatikan Mona yang sedang sibuk merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin malam.

Pernikahan di usia muda memang bukan keputusan yang mudah. Ada banyak cemoohan kecil dari para pesaing hubungan, bisik-bisik tetangga di sebelah rumah kontrakan mungil mereka yang kemarin tidak diundang ke acara syukuran, belum lagi beban pikiran tentang kecurigaan murid sekolah yang makin meluap.

Namun, melihat Mona berdiri di sampingnya malam ini, mengenakan piyama tidur panjang nya bergambar marsha and the bear, Affan merasa semua ketakutan itu lenyap.

"Nih," Affan menyerahkan gulali berukuran besar itu pada Mona.

Mona menerimanya dengan senyuman lebar. Ia menggigit bagian telinga beruang gulali tersebut, membuat pipinya sedikit terkena serbuk gula merah. Affan yang melihatnya reflek mengangkat tangan, mengusap lembut sisa gula di pipi Mona dengan ibu jarinya.

Sentuhan itu membuat Mona tertegun. Mengunyah gulalinya pelan-pelan, ia menatap Affan lekat-lekat.

Di bawah cahaya lampu neon pasar malam yang berkelap-kelip, wajah Affan terlihat semakin dewasa. Ada garis ketegasan di rahang pemuda itu, sebuah tanda bahwa ia sedang berusaha keras memikul tanggung jawab besar sebagai suami di usianya yang baru tujuh belas tahun.

"Kenapa lihatin saya terus?" tanya Affan salah tingkah, meski sudut bibirnya terangkat.

"Enggak apa-apa," jawab Mona tulus. "Cuma aneh aja. Kemarin, waktu kita masih berantem perkara aturan sekolah, saya kira kamu cowok paling menyebalkan sedunia. Sekarang... kamu malah benar-benar jadi teman hidup saya"

Affan terkekeh pelan. Ia menghentikan langkah nya di dekat sebuah jembatan kecil di tepi arena pasar malam, menjauh sedikit dari kerumunan pusat permainan. Affan menghadap ke arah Mona, menangkup kedua pipi istrinya dengan kedua tangan hangatnya.

"Beberapa hari saya mungkin masih suka buat kamu kesal karena naruh handuk basah di kasur, saya masih belum bisa masak sesuai jadwal yang dibuat, dan saya masih anak SMA masih tahap pembelajaran," ucap Affan serius, menatap tajam ke dalam mata cokelat Mona. "Tapi satu hal yang pasti, Mon... mencintai kamu adalah hal paling benar yang pernah saya lakukan."

Mona merasakan debar jantungnya bergemuruh hebat, jauh melebihi rasa takut ketahuan guru BK tadi. Air mata haru hampir tumpah di pelupuk matanya, namun ia menahannya dengan sebuah senyuman paling manis.

"Gombal," cibir Mona pelan, meski ia langsung memajukan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Affan. Mendengarkan detak jantung pemuda itu yang berirama tenang.

Affan memeluk Mona erat-erat, mencium puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Di atas kepala mereka, kembang api kecil tiba-tiba meluncur meledak, menghiasi langit malam pasar malam dengan pijar emas yang memantul di mata keduanya.

Mereka berdiri di sana untuk waktu yang lama, mengabaikan dinginnya angin malam, menyatu dalam kehangatan sebuah ikatan yang tak pernah mereka duga akan seindah ini di masa-masa putih abu-abu mereka.

"Semoga sandiwara kita saat di sekolah bisa bertahan sampai kelulusan. Sejujurnya, saya engga suka kalau Rendy deketin kamu"

"Entahlah, saya juga gak suka kalau Selly deketin kamu."

"Mona, Affan. Kalian kok pelukan? Apa kalian pacaran? Tadi saya dengar jelas soal sandiwara, sandiwara apaan ya?" Tiba-tiba Andin mendekat ke posisi mereka, kebetulan Andin juga berada di pasar malam ini bersama Elin, sahabat mona satu lagi di sekolah.

Sementara itu, Andin mengangkat kedua pergelangan tangan mereka yang sama-sama di isi oleh cincin pernikahan yang sama. "Ini?"

......................

...****************...

To be continue.

1
Shabrina Darsih
keahuan juga sm sahabat mona
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan
Shabrina Darsih
mona. mennding jujir aja sm sahabat nya andini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!