Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily yang telah melahirkan bocah laki-laki yang pintar tak mengingat Leon. Akankah keduanya dapat kembali bersatu lagi untuk merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Diharapkan tidak menabung bab. Terima kasih 🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Dua puluh jam lebih Leon memejamkan matanya dan pagi ini ia membuka matanya. Ia mengedarkan pandangannya tampak kedua orang tuanya sedang menunggunya dalam keadaan tertidur.
Leon menggerakkan jemarinya membangunkan papanya.
Frans yang tidur lantas terbangun, ia mengucek matanya dan tersenyum senang akhirnya putranya telah sadar. Frans segera memencet tombol memanggil dokter dan perawat. Ia kemudian membangunkan istrinya.
Tak lama kemudian, dokter dan 3 orang perawat memeriksa kondisi kesehatan Leon. Mereka juga bernapas lega karena pasien berhasil melewati masa kritisnya.
"Di mana Emily, Pa?" tanya Leon pelan ketika dokter dan perawat berlalu.
Frans dan istrinya saling pandang.
"Pa, Ma, apa tadi dia ke sini?" tanya Leon lagi.
"Iya, Leon!" jawab Rachel.
Leon lantas tersenyum.
"Dia memang sempat ke sini," kata Rachel.
"Aku pikir aku sedang bermimpi. Ternyata Emily memang datang menemuiku," ucap Leon bahagia.
"Apa kamu memang ingin berniat kembali padanya setelah dia menembakmu?" tanya Rachel.
"Ma, Emily mengalami amnesia. Aku yakin dia tidak sengaja melakukannya," jawab Leon.
Rachel diam. Ia tak mungkin memaksa putranya agar berhenti mengejar Emily.
"Bagaimana dengan Zayn? Apa dia baik-baik saja?" tanya Leon.
"Zayn bersama ibunya, kamu tenang saja ada yang menemani mereka," jawab Frans.
"Huh, syukurlah!" kata Leon.
"Leon, besok pagi Charles akan tiba di sini!" ucap Frans.
"Charles? Mau apa dia ke sini?" tanya Leon.
"Papa yang meneleponnya dan mengabarkan keadaan kamu," jawab Frans.
"Pa, kenapa harus melibatkan Charles lagi?" tanya Leon yang sedikit kecewa.
"Papa bingung, Leon. Kamu sendirian di sini. Musuh-musuh kamu masih berkeliaran. Apalagi Papa dengar kalau Anggoro dua atau tiga tahun lagi akan bebas," jawab Frans yang sangat khawatir dengan keselamatan putranya.
Leon terdiam.
"Charles ke sini untuk membantu kamu menyingkirkan Jason," kata Frans.
"Jika Emily sembuh dari amnesianya, mungkin sangat mudah menyingkirkan Jason," ucap Leon.
"Kata Jenni, Emily sudah mengingat semuanya. Dia menyesal telah menembak kamu. Dia juga merasa bersalah membiarkan kamu difitnah," tutur Rachel.
"Benarkah?" Leon begitu senang mendengarnya.
Rachel mengangguk mengiyakan.
"Aku ingin bertemu dengannya, Ma!" Leon menyibakkan selimutnya.
"Leon, ini masih gelap. Emily juga masih tertidur. Jangan mengganggu waktu istirahatnya, apalagi Zayn juga pasti tertidur!* cegah Rachel.
"Tunggu sampai matahari terbit, kamu boleh menemuinya!" kata Frans.
***
Jarum jam menunjukkan pukul 6 pagi, Leon yang tak sabar ingin bertemu meminta sang mama mengantarkannya ke ruang perawatan istrinya.
Begitu pintu terbuka, mata Emily berbinar. Ia turun dari ranjang, menghampiri suaminya yang duduk di kursi roda. "Leon!" lirihnya.
Leon lalu berdiri dan tersenyum.
Emily yang begitu sangat merindukan suaminya lantas memeluknya dan menangis.
Rachel dan Jenni yang menyaksikan keduanya, meneteskan air mata haru.
"Maafkan aku, Leon!" isak Emily. "Harusnya aku tidak menyakitimu!"
"Justru karena kau melakukan itu, makanya kau mengingat semuanya!" kata Leon yang bersyukur.
Emily melepaskan pelukannya dan berucap, "Tapi, aku tidak suka caranya. Aku hampir saja kehilanganmu!"
Leon pun terdiam.
"Aku janji akan membalas mereka yang sudah memanfaatkan sakitku selama ini!" Emily memegang kedua tangan suaminya.
"Aku yakin jika ingatanmu pasti kembali!" kata Leon tersenyum bahagia, perjuangannya tak sia-sia merebut hati istrinya.
Emily kembali memeluk suaminya.
"Ibu, Ayah!" panggil Zayn yang sudah terbangun, ia tidur seranjang dengan ibunya.
Sepasang suami istri itu menoleh ke arah putranya dan melemparkan senyuman.
Zayn turun dari ranjang dibantu Jenni. Ia lalu menghampiri kedua orang tuanya dan mendongakkan kepalanya menatap sang ayah. Ia kemudian memeluknya dan berkata, "Aku senang Ayah sudah sadar dan sembuh!"
"Kamu dan Ayahmu sekarang tidak terpisahkan lagi. Kita akan tinggal bersama!" kata Emily saat putranya melepaskan pelukannya dengan ayahnya.
"Hore, akhirnya aku punya ayah!" seru Zayn riang.
-
Siang ini Emily diperbolehkan pulang tetapi Leon belum diizinkan karena menunggu 2 hari lagi. Meskipun sedikit kecewa, Emily menenangkan suaminya. Ia berjanji sering datang berkunjung. Bahkan, Emily sengaja menginap di hotel terdekat agar tak terlalu jauh ke rumah sakit. Tentunya supaya Zayn dan Jenni dapat tidur nyenyak.
Emily sengaja tak kembali ke rumah Jenni karena tak ingin bertemu dengan Caroline dan Belinda.
"Besok pagi aku janji datang ke sini!" kata Emily berpamitan dengan suaminya di ruang rawatnya.
"Aku tidak mau Jason menemui kamu lagi!" ucap Leon menunjukkan rasa cemburunya.
"Dia tak tahu kalau aku sudah keluar dari rumah sakit!" kata Emily.
"Jika dia masih berani mendekatimu, maka aku akan memberikanmu hukuman!" bisik Leon.
Emily menepuk pelan dada suaminya, "Kau begini masih saja kejam!"
"Bukankah kau menyukaiku seperti yang dulu?" tanya Leon.
"Ya, tapi tidak dengan bisnis gelap yang kau jalani itu," jawab Emily.