Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).
Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.
Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pernikahan yang digelar di ballroom privat hotel bintang lima itu berlangsung dengan begitu khidmat namun sarat akan kecanggungan. Di bawah pendar lampu kristal yang hangat dan aroma dedaunan segar, Farra duduk bergeming dengan kebaya putih berdesain simpel yang melekat pas di tubuhnya. Jemarinya yang biasa terlatih memegang alat bedah dan mencatat dosis farmakologi kini gemetar hebat di atas pangkuan. Di sisinya, Barra tampil gagah dengan jas hitam membalut bahu tegapnya. Dengan satu tarikan napas yang mantap dan suara lantang tanpa keraguan, Barra mengesahkan ijab kabul di hadapan penghulu serta keluarga inti mereka. Saat kata "sah" bergema, rasa haru bercampur tidak percaya membuncah di dada Farra; dalam sekejap mata, garis takdirnya telah terpaut sepenuhnya dengan cowok paling angkuh di sekolahnya.
Sebagai bentuk perayaan atas kesepakatan dua keluarga besar tersebut, kedua orang tua mereka memberikan hadiah pernikahan berupa paket menginap selama tiga hari di Presidential Suite hotel bintang lima tempat acara berlangsung. Sebuah jeda manis yang sengaja disiapkan agar mereka bisa saling mengenal lebih dekat sebelum kembali berkutat dengan tumpukan modul Ujian Nasional.
Usai acara makan malam keluarga yang riuh dengan berbagai petuah, pintu Presidential Suite yang megah itu akhirnya tertutup rapat. Ruangan seluas apartemen mewah itu menyajikan pemandangan gemerlap lampu Jakarta dari balik dinding kaca setinggi langit-langit. Namun, bukannya menikmati pemandangan, Farra langsung buru-buru melangkah ke kamar mandi utama. Rasa canggung dan gugup yang menumpuk sepanjang hari membuat tubuhnya terasa kaku, dan ia hanya ingin segera membersihkan diri.
Namun masalah baru muncul di depan cermin kamar mandi. Retsleting gaun kebaya modern yang ia kenakan tersangkut rapat di area punggung tengah, tepat di batas yang tak sanggup dijangkau oleh jemarinya. Farra sudah mencoba memutar badan dan meraihnya dari berbagai sudut, tetapi retsleting berbahan logam itu tetap geming. Napasnya mulai memburu karena kesal bercampur panik.
"Barra..." panggil Farra akhirnya dengan suara pelan, terpaksa memunculkan kepalanya sedikit dari balik pintu kamar mandi.
Barra yang sedang duduk di tepi ranjang sembari melepaskan jam tangannya menoleh. "Kenapa, Farra?"
"Bisa... tolong sebentar? Retsleting belakangku macet, susah banget dibuka," cicit Farra dengan wajah yang mulai memerah.
Barra bangkit dan berjalan mendekati kamar mandi. Tanpa banyak bicara, ia melangkah masuk dan berdiri tepat di belakang Farra. Di depan cermin besar, mata mereka beradu melalui pantulan. Jemari tegap Barra yang hangat mulai menyentuh tengkuk Farra, menggeser kesamping rambut Farra yang disanggul agar tidak menghalangi. Sentuhan ringan kulit jemari Barra di punggungnya membuat Farra mendadak menahan napas; desir halus yang asing perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dengan perlahan dan hati-hati, Barra menarik retsleting yang tersangkut itu ke bawah. Suara gesekan retsleting terdengar begitu jelas di dalam kamar mandi yang hening. Begitu retsleting terbuka sempurna, bagian belakang gaun itu terbelah, memperlihatkan kulit mulus punggung Farra.
Barra tidak langsung melangkah mundur. Tatapannya di cermin makin dalam, sementara kedua tangannya perlahan berpindah ke pinggang Farra, menahan posisi gadis itu agar tetap di tempatnya. Deru napas Barra yang hangat kini terasa jelas di sekitar telinga dan leher Farra.
"Barra...?" bisik Farra ragu, jantungnya berdegup kencang.
"Farra," suara Barra terdengar jauh lebih berat dan serak dari biasanya. Keangkuhan yang biasa ia tunjukkan di sekolah seolah menguap sepenuhnya, berganti dengan intensitas yang dipenuhi gairah. "Boleh aku minta hak aku sebagai suami kamu malam ini?"
Farra terpaku. Ia membalikkan badan secara perlahan hingga kini berhadapan langsung dengan Barra. Jarak mereka begitu dekat hingga Farra bisa merasakan detak dada Barra yang sama memburunya. Di dalam matanya yang jernih, Farra melihat kejujuran dan rasa hormat yang besar—Barra benar-benar meminta izin, bukan memaksakan kehendak.
Rasa takut dan ragu di dada Farra perlahan meluruh. Ia menatap manik mata Barra lekat-lekat, lalu memberikan anggukan pelan sebagai jawaban.
Senyum tipis penuh kehangatan terbit di bibir Barra. Ia tidak langsung membawa Farra ke tempat tidur. "Kita mandi dulu bareng, ya? Biar kamu lebih rileks," bisiknya lembut.
Farra kembali mengangguk malu. Di bawah guyuran air hangat shower yang membasahi tubuh mereka, kecanggungan yang tersisa di antara mereka perlahan mencair. Barra membersihkan rambut dan tubuh Farra dengan sangat lembut, mendaratkan kecupan-kecupan halus di bahu dan leher Farra di sela-sela siraman air, menciptakan kehangatan baru yang membakar perlahan di antara mereka.
Usai mengeringkan badan dan membungkus diri dengan jubah mandi, Barra menggendong Farra keluar menuju ranjang berukuran king-size beralaskan seprai sutra. Di atas ranjang yang hangat itu, malam pertama mereka akhirnya benar-benar dimulai. Sentuhan Barra tidak lagi terburu-buru, melainkan sarat akan kelembutan, gairah, dan rasa hormat yang mendalam. Desahan pelan dan bisikan penyatuan saling menyahut di remang cahaya kamar, menyegel ikatan pernikahan rahasia mereka dalam sebuah malam yang panjang dan penuh kesan.