Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Penyeberangan Dunia Lain / Fantasi Isekai
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Pertama di Desa Wanasari

Sinar matahari pagi menembus celah-celah bilik kayu, jatuh dalam garis tipis keemasan tepat di atas wajah Galih. Ia mengerjap beberapa kali sebelum benar-benar terjaga, sisa mimpi semalam masih melekat samar di kepalanya, potongan gambar pusaran hitam, wajah teman-teman sekelasnya yang menjerit, dan sosok Ki Wira yang berdiri tenang di tengah semuanya. Ia menghela napas panjang, mencoba memisahkan mana yang mimpi dan mana yang benar-benar telah terjadi. Suara ayam berkokok dari kejauhan dan gemericik air yang samar dari arah belakang rumah perlahan meyakinkannya bahwa ini bukan lagi sekadar bayangan tidur.

Tubuhnya masih pegal di beberapa bagian, sisa lelah dari kejaran maut kemarin siang. Ia bangkit perlahan, meraba dinding kayu kasar di sekelilingnya untuk memastikan dirinya benar-benar sadar sepenuhnya, bukan sekadar berpindah dari satu mimpi ke mimpi lain. Dinding itu terasa nyata di bawah jarinya, kasar dan dingin, jauh berbeda dari tembok kamarnya yang dicat putih di rumah.

Galih melangkah keluar kamar dengan langkah hati-hati, masih mengenakan kemeja seragam yang sudah dicuci semalam namun tetap terlihat aneh di rumah kayu ini. Dari ambang pintu, ia melihat Sekar sudah berada di halaman, menyapu tanah dengan gerakan cepat dan teratur, sesekali berhenti untuk merapikan beberapa peralatan latihan, pentungan kayu dan bilah bambu yang tersandar di dinding rumah, dedaunan kering berkumpul rapi di satu sudut seolah baru saja disapu berkali-kali sampai sempurna.

Rambut Sekar diikat asal ke belakang, lengan baju kerja sederhananya digulung sampai siku, memperlihatkan otot lengan yang terbentuk dari kebiasaan latihan bertahun-tahun. Ia bergerak dengan efisiensi yang jelas sudah menjadi rutinitas, tidak ada gerakan yang terbuang percuma, sapuan demi sapuan jatuh di tempat yang sama seperti sudah dihitung sejak awal.

"Pagi," sapa Galih canggung, berdiri di anak tangga terakhir sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.

Sekar hanya melirik sekilas tanpa menghentikan sapuannya. "Minggir. Kau menghalangi jalan."

Galih buru-buru menggeser tubuhnya ke samping, hampir tersandung anak tangga sendiri. Ia berdiri kaku di sudut halaman, tidak tahu harus melakukan apa, sementara Sekar terus bekerja seolah tamu barunya itu tidak ada.

"Mau kubantu?" tawarnya lagi, berusaha mencari cara untuk tidak terlihat seperti beban yang hanya berdiri diam.

"Kau bahkan tidak tahu di mana barang-barang ini disimpan," jawab Sekar datar, mengumpulkan debu terakhir ke dalam pengki bambu. "Duduk saja di sana. Jangan sentuh apa pun."

Nada suaranya bukan galak, tapi tegas dan tanpa basa-basi, seperti orang yang sudah terbiasa mengerjakan segalanya sendiri dan tidak percaya orang lain bisa melakukannya dengan benar. Galih menurut, duduk di anak tangga sambil memperhatikan Sekar merapikan senjata latihan satu per satu, menyusunnya berdasarkan panjang dan jenis dengan rapi di rak kayu sederhana. Sesekali gadis itu menimbang sebilah bambu di tangannya, memeriksa apakah ada retak halus sebelum meletakkannya kembali ke tempat semula.

Galih memperhatikan dalam diam, mencoba mengingat pola susunan itu, siapa tahu suatu saat ia benar-benar diizinkan menyentuhnya.

Ketika sarapan sudah siap, mereka duduk bertiga mengelilingi meja kayu rendah di ruang tengah. Nasi putih hangat, sayur bening, dan ikan asin goreng tersaji sederhana di atas piring seng, jauh dari mewah namun mengepul menggugah selera setelah semalaman perutnya kosong. Ki Wira makan dengan tenang, sesekali melempar senyum ke arah Galih, namun Sekar tetap mempertahankan wajah datarnya sepanjang waktu.

"Ada beberapa aturan di rumah ini," kata Sekar tiba-tiba, meletakkan sumpitnya sejenak. "Piring dicuci sendiri setelah makan. Air harus diambil dari sumur belakang setiap pagi, jangan biarkan bak kosong. Kalau keluar rumah, bilang dulu, jangan buat kami mencarimu seperti kemarin."

"Baik," jawab Galih cepat, mengangguk-angguk.

"Kayu bakar juga harus ditambah kalau menipis. Jangan sentuh senjata latihan tanpa izin. Dan jangan buang-buang makanan, di sini tidak ada warung setiap sudut jalan seperti tempat asalmu."

Galih hanya bisa mengangguk lagi, menelan ludah pelan. Rentetan aturan itu meluncur cepat, seolah Sekar sudah menghafalnya luar kepala dan sudah lelah mengulanginya pada siapa pun yang datang dan pergi di rumah ini.

"Satu lagi," lanjut Sekar, menunjuk sumpitnya ke arah Galih. "Jam segini setiap hari, kau bantu ambil air di sumur. Aku tidak mau melakukan semuanya sendirian hanya karena ada mulut tambahan di rumah ini."

"Kau dengar aku?" tanya Sekar tajam ketika Galih terdiam terlalu lama.

"I... iya, aku dengar," jawabnya buru-buru, mengangkat sumpit lalu memasukkan nasi ke mulutnya sekadar mengalihkan kecanggungan.

Ki Wira terkekeh pelan melihat interaksi keduanya, namun tidak ikut campur, membiarkan Sekar terus memegang kendali atas urusan rumah tangga seperti biasa.

Sambil memperhatikan gadis itu berbicara tegas namun tetap teliti menyisihkan porsi lauk terbaik untuk kakeknya, Galih mulai menyadari sesuatu. Sikap ketus Sekar bukan sekadar kebencian atau ketidaksukaan pribadi padanya. Gadis itu mengurus seluruh rumah ini sendirian, dari memasak, membersihkan halaman, merawat peralatan latihan, hingga menjaga kakeknya yang sudah tua, semua tanpa mengeluh sedikit pun. Ketegasannya adalah caranya bertahan, bukan sekadar sikap dingin tanpa alasan. Galih membayangkan betapa lelahnya menjalani rutinitas seperti itu setiap hari, tanpa ada seorang pun yang membantu meringankan bebannya, sebelum akhirnya seorang pemuda asing tiba-tiba dititipkan begitu saja ke rumahnya.

"Habis makan, bersihkan piringmu sendiri," ujar Sekar lagi, seolah membaca pikiran Galih yang mulai melunak terhadapnya. "Aku bukan pembantu di sini."

"Iya, aku tahu," sahut Galih cepat, menahan senyum kecil yang tiba-tiba muncul tanpa sebab jelas.

Setiap kali Sekar melontarkan teguran, sekecil apa pun, Galih hanya mengangguk patuh, berusaha menyerap semua aturan baru itu secepat mungkin. Di sela kesibukan menyesuaikan diri, sesekali bayangan rumahnya sendiri melintas, suara ibunya yang biasa membangunkannya setiap pagi, aroma nasi goreng buatan ibunya yang khas. Ia menepis rasa rindu itu cepat-cepat, memfokuskan diri pada apa yang ada di hadapannya sekarang.

Menjelang siang, aroma masakan tradisional mulai menguar dari dapur, campuran rempah dan sayuran yang dimasak Sekar untuk makan siang. Baunya hangat dan menenangkan, mengingatkan Galih samar-samar pada masakan rumah meski bumbu dan cara memasaknya jelas berbeda jauh. Ia duduk di beranda, menghirup udara desa yang masih asing, membiarkan aroma masakan itu menjadi satu-satunya hal yang terasa familiar di tengah dunia yang terus berubah di sekelilingnya. Dari dalam dapur, sesekali terdengar denting panci beradu dan langkah kaki Sekar yang cepat namun teratur, suara-suara kecil yang perlahan mulai terasa seperti bagian dari rutinitas baru yang bisa ia pegang. Untuk sesaat, jiwanya yang masih terombang-ambing menemukan sedikit ketenangan, cukup untuk membuatnya percaya bahwa mungkin ia bisa bertahan di sini, setidaknya untuk hari ini.

1
quancyberx studio
untuk novel nya lumayan dan perlu peningkatan dari segi kata paragraf dan lain nya
quancyberx studio
semangat ya
PLEMIK: Kamu juga semangat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!