Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.
Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).
Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 — Harga dari Keseimbangan
Paginya, Kaito bangun dengan senyum yang masih nempel di wajahnya, inget-inget lagi semalem kayak lagi muter ulang film favorit yang nggak bosen-bosen dia tonton. Dia ngecek HP-nya, dan pesan pertama yang dia liat bikin senyumnya makin lebar.
Rin: Pagi. Masih nggak nyangka semalem beneran kejadian.
Kaito: Sama. Tapi gue seneng banget itu kejadian.
Rin: Ketemu jam makan siang? Ada kedai deket kantor gue yang enak banget.
Kaito: Jam makan siang gue kosong. Kirim lokasinya ya.
Kaito berangkat kerja hari itu dengan langkah yang jauh lebih ringan dari biasanya, bahkan Tanaka sempet nyeletuk "lo abis menang lotre apa gimana, mukanya sumringah banget" yang cuma dibales ketawa canggung sama Kaito.
"Ada apaan sih? Cerita dong," Tanaka maksa, penasaran.
"Nggak ada apa-apa, cuma lagi ngerasa hidup gue enak aja belakangan ini." kata Kaito, masih nyengir.
"Aneh banget lo, yaudah deh kalo nggak mau cerita." Tanaka geleng kepala, tapi ikut senyum.
Makan siang bareng Rin di kedai kecil deket kantornya berjalan lancar, penuh obrolan ringan dan ketawa-ketawa kecil, dua orang yang baru aja masuk fase baru dalam hubungan mereka, masih canggung tapi juga excited buat eksplor hal-hal baru bareng.
Rin cerita soal kliennya yang ribet, Kaito cerita soal Tanaka yang penasaran abis, dan buat sesaat, semuanya kerasa normal, ringan, kayak pasangan biasa yang lagi menikmati awal hubungan mereka.
Tapi begitu malemnya mereka login buat sesi guild rutin, suasana berubah drastis.
Amagi udah nunggu di markas dengan wajah serius yang nggak biasa, layar data di depannya penuh sama grafik merah yang jelas nunjukin sesuatu yang nggak beres.
"Ada yang harus kalian liat," katanya langsung ke inti tanpa basa-basi biasa.
Kaito sama Rin duduk, natap panel yang ditunjukin Amagi.
"Ini data laporan komunitas dari dua puluh empat jam terakhir, lonjakan drastis laporan soal 'kesialan ekstrem' drop rate nol persen berturut-turut, kegagalan crafting yang nggak masuk akal, bahkan beberapa laporan soal kejadian buruk di dunia nyata yang dikaitin ke waktu tertentu." kata Amagi.
Dia nunjukin grafik yang nunjukin lonjakan tajam, garis merah yang naik drastis persis di satu titik waktu, jauh berbeda dari pola normal hari-hari sebelumnya.
"Berapa banyak laporannya?" tanya Rin, suaranya udah mulai tegang.
"Tiga puluh dua laporan dalam rentan satu jam, biasanya dalam kondisi normal, laporan kayak gini paling banter dua atau tiga dalam sehari penuh." jawab Amagi.
"Waktu tertentu maksudnya?" tanya Kaito, walau dia udah punya firasat nggak enak soal jawabannya.
Amagi natap dia, ekspresinya berat. "Semalem. Sekitar jam sembilan malem."
Kaito ngerasa darahnya turun drastis. Jam sembilan malem itu persis waktu dia sama Rin jalan pulang dari stasiun.
"Itu... itu pas kita..." Rin nggak sanggup nerusin kalimatnya, tangannya mulai gemeteran.
"Gue nggak bilang ini pasti berhubungan, tapi korelasi waktunya terlalu deket buat diabaikan begitu aja. Dan mengingat lompatan resonansi 91% yang Kaito laporin semalem..." kata Amagi cepet.
"Jadi kebahagiaan gue, bikin orang lain menderita?" gumam Kaito, suaranya pelan dan berat.
Ruangan itu sunyi, nggak ada yang langsung bisa jawab pertanyaan itu.
"Kita nggak tau pasti, korelasi bukan berarti sebab-akibat langsung. Amagi sendiri bilang gitu." kata Souma coba nenangin situasi.
"Tapi kalo emang bener? Kalo emang tiap kali gue bahagia, tiap kali resonansi gue naik, itu artinya ada orang lain di luar sana yang bayar harganya?" tanya Kaito, suaranya makin berat.
Mei yang dari tadi diem akhirnya nyeletuk pelan. "Kaito, inget kata-kata si entitas waktu itu. Dia bilang ini sistem keseimbangan yang udah ada dari lama, bukan sesuatu yang lo ciptain."
"Tapi gue yang jadi wadahnya, gue yang bikin ini semua kelewat batas." kata Kaito.
Rin ngambil tangannya dengan ngenggem erat. "Kaito, denger gue. Kalo emang bener ada hubungan kayak gini, itu bukan berarti lo harus berhenti bahagia. Itu berarti kita perlu ngerti lebih dalam, biar kita bisa cari cara nyeimbanginnya tanpa harus nyakitin siapa pun, termasuk diri lo sendiri."
"Gimana caranya? Gue bahkan nggak tau harus mulai dari mana." tanya Kaito, ngerasa putus asa.
"Kita mulai dari gerbang, kita udah deket ke seratus persen. Mungkin di sana ada jawaban yang lebih jelas soal apa yang bakal kejadian, dan gimana caranya kita ngendaliin semua ini dengan bener. Kita nggak bisa terus jalan buta kayak gini." kata Rin tegas.
Amagi ngangguk setuju. "Sementara itu, aku bakal terus pantau data. Kalo emang ada pola yang lebih jelas, kita bakal tau lebih cepat."
Kaito diem sambil natap tangannya yang masih digenggam Rin, ngerasa campuran emosi yang susah dia pisahin, rasa takut, rasa bersalah, tapi juga rasa syukur karena dia nggak sendirian ngadepin semua ini.
Dia inget lagi hari-hari awal dia main, waktu dia masih mikir semua ini cuma soal drop item dan critical hit, jauh banget dari beban moral seberat ini.
"Maaf, kalo emang semalem jadi penyebabnya." katanya pelan.
"Jangan minta maaf, buat hal yang bahkan kita belum tau kepastiannya. Dan bahkan kalo emang bener, lo nggak salah buat bahagia, Kaito. Nggak ada yang salah dari itu." kata Rin tegas.
"Tapi kalo orang lain menderita karena kebahagiaan gue?"
"Maka kita cari cara biar kebahagiaan lo nggak harus dibayar sama penderitaan orang lain, itu yang bakal kita cari tau. Bukan dengan lo berhenti ngerasa bahagia, tapi dengan kita ngerti sistem ini lebih dalam." kata Rin.
Souma yang dari tadi diem merhatiin akhirnya ikutan nimbrung, suaranya lebih serius dari biasanya. "Kaito, lo inget nggak, hidup lo dulu sebelum semua ini? Lo sial terus, dan itu nggak bikin orang lain otomatis lebih beruntung. Nggak ada yang nyalahin dunia gara-gara lo sial. Sekarang kenapa lo harus nyalahin diri lo sendiri gara-gara lo beruntung?"
Kata-kata itu bikin Kaito diem, ngerasa ada sesuatu yang bener di balik logika sederhana itu, walau hatinya masih berat.
Dia natap Souma, sahabat yang udah nemenin dia dari sebelum semua kejadian gila ini dimulai, dan ngerasa berterima kasih banget punya orang yang selalu bisa nunjukin sudut pandang yang dia sendiri nggak kepikiran.
"Lo selalu tau apa yang harus diomongin ya," gumam Kaito, senyum kecil muncul di wajahnya walau masih berat.
"Bakat alami," Souma nyengir coba nyairin suasana dikit.
"Gue butuh waktu buat mikirin ini, tapi... makasih buat kalian semua." kata Kaito.
Mei nyender ke pundak Souma, natap Kaito dengan mata yang penuh empati. "Kita di sini Kaito. Selalu."
Malam itu, sebelum mereka semua logout, Rin sempet nahan Kaito sebentar, ngajak dia jalan-jalan santai di sekitar markas mereka cuma berdua.
"Gue nggak nyesel semalem, apa pun yang kejadian karena itu, gue nggak nyesel." kata Rin di sela jalan santai mereka. Suaranya pelan tapi mantap, kayak dia beneran udah mikirin ini masak-masak sebelum ngomong.
"Gue juga nggak, tapi gue takut Rin. Takut kebahagiaan gue jadi beban buat orang lain." kata Kaito.
Rin berhenti sambil natap dia lurus. "Kalo emang bener kayak gitu, kita cari solusinya bareng-bareng. Tapi jangan biarin ketakutan itu ngerampas kebahagiaan yang udah susah payah lo dapetin, Kaito. Lo pantas buat bahagia. Titik."
Kaito natap dia lama, ngerasa kata-kata itu ngendep dalem walau belum sepenuhnya ngilangin rasa berat di dadanya.
"Makasih Rin, buat selalu jujur sama gue, apa pun kondisinya." kata Kaito.
Mereka jalan lagi dalam diam yang nyaman, dua orang yang baru aja mulai babak baru dalam hubungan mereka, sekarang harus ngadepin kenyataan kalo babak baru itu datang bareng pertanyaan besar yang belum ada jawabannya.
Di langit malam virtual, bintang-bintang buatan berkelip pelan, seolah nggak peduli sama beban yang lagi mereka pikul, terus bersinar kayak biasa, menemani dua orang yang berjalan menuju ketidakpastian bareng-bareng.
Sebelum logout, Kaito sempet berhenti sebentar, natap Rin yang jalan di sampingnya. "Rin."
"Ya?"
"Apa pun yang kita temuin nanti di gerbang, apa pun jawabannya, gue seneng lo ada di sisi gue buat ngadepin ini." kata Kaito.
Rin senyum, walau matanya masih nyimpen kekhawatiran yang sama kayak Kaito. "Sama Kaito. Selalu."
Mereka berdiri sebentar di bawah langit buatan itu, saling genggam tangan, ngebiarin keheningan malam jadi tempat mereka nyerap semua ketidakpastian yang baru aja mereka hadapi, sebelum akhirnya satu-satu logout, kembali ke dunia nyata yang entah kenapa malam itu kerasa nggak sepenuhnya terpisah lagi dari dunia yang mereka tinggalin di dalam game.