Kecelakaan tragis merenggut orang tua Hana, menyisakan utang menumpuk yang mengandaskan mimpinya.
Demi bertahan hidup, ia rela menjadi office girl tak terlihat di Adhitama Group.
Namun, satu malam kelam merobek takdirnya. Akibat sabotase racun pemicu gairah, Alvaro Adhitama, CEO dingin dan berkuasa kehilangan kendali dan merenggut kesucian Hana secara biadab.
Didera rasa bersalah, Alvaro menuntut pernikahan. Sadar akan jurang kasta di antara mereka, Hana memilih kabur meninggalkan ibu kota.
Sayang, kekuasaan Alvaro sanggup mencegat pelariannya. Ditekan dominasi mutlak sang CEO, Hana akhirnya pasrah diseret kembali dan tanpa menyadari ada benih baru yang mulai tumbuh di rahimnya.
Bagaimana Kelanjutannya???? Ada yang penasaran??
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAA!!!
Follow IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Bukan Barang Milikmu
"Gadis kecil," tegur seorang wanita paruh baya penjual jamu yang sedang merapikan dagangannya di pinggir trotoar. Wanita itu menatap Hana dengan dahi berkerut cemas.
"Kamu tidak apa-apa, Nak? Wajahmu pucat sekali seperti orang sakit." tanya wanita paruh baya itu dengan khawatir.
Hana tersentak pelan, buru-buru menyapu pelipisnya dan memaksakan sebuah senyum tipis yang amat pahit.
"S-saya tidak apa-apa, Bu. Cuma sedikit kurang tidur." sahutnya pelan.
"Jam tiga pagi begini sendirian di pinggir jalan bawa tas besar... Mau mudik atau melamar kerja ke luar kota?" tanya wanita itu prihatin, memperhatikan jemari Hana yang masih gemetar kaku.
"Saya mau pindah, Bu," jawab Hana lirih. Suaranya terdengar pasrah namun menyimpan keputusan yang tak bisa diubah lagi.
"Mencari suasana baru... di tempat yang lebih tenang." Hana mencari alasan yang masuk akal.
"Kasihan... Hati-hati di jalan ya, Nak. Zaman sekarang dunia ini tidak ramah buat perempuan sendirian," pesan wanita penjual jamu itu tulus seraya menyerahkan sebuah kantong plastik berisi minuman hangat.
"Ini, minum dulu supaya badanmu tidak kedinginan." ucap sang ibu sambil memberikan sebuah minuman nya.
"Terima kasih banyak, Bu... tapi saya tidak punya uang lebih..." sahut Hana terpotong ucapannya.
"Tidak usah bayar. Anggap saja rezeki pagi," pangkas wanita itu ramah.
Hana menerima kantong plastik hangat itu dengan mata berbinar air mata. Kebaikan kecil dari seorang asing di pinggir jalan terasa jauh lebih berharga daripada seluruh kemewahan dan janji pernikahan yang ditawarkan oleh CEO Adhitama Group.
Ia melanjutkan langkahnya menuju pul bus malam dan agen travel kecil yang berderet di ujung jalan. Di sana, beberapa calon penumpang tampak duduk tertidur di atas bangku kayu panjang di bawah naungan atap seng.
"Mbak Hana Anindita?" panggil seorang pria berkaos seragam travel yang berdiri di dekat loket tiket.
Hana mengangguk pelan, melangkah mendekati loket. "Iya, Pak. Saya yang pesan tiket keberangkatan jam empat pagi menuju Purwokerto."
Pria petugas travel itu memeriksa lembaran kertas di tangannya dengan dahi berkerut heran. Ia melirik jam tangan, lalu menatap Hana dengan pandangan aneh.
"Anu, Mbak... ada sedikit masalah teknis dengan armada kami." seru sang petugas travel.
Jantung Hana mendadak berdegup kencang oleh sengatan cemas. "Masalah? Maksud Bapak apa? Busnya tidak jadi berangkat?"
"Bukan tidak jadi, Mbak, tapi ditunda sekitar setengah jam," jelas petugas itu seraya mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Katanya ada pemeriksaan mesin mendadak dari pusat. Padahal biasanya bus jam empat selalu tepat waktu. Aneh sekali pagi ini." jelasnya lagi.
Hana meremas tali ranselnya kencang-kencang. Firasat buruk mulai menari-nari di dalam pikirannya.
'Kenapa harus ada penundaan sekarang? Kenapa persis di saat aku harus segera pergi?' batin Hana.
"Pak, tolong... apa tidak ada bus lain yang berangkat sekarang?" desak Hana, suaranya dipenuhi nada panik yang tak sanggup disembunyikannya lagi.
"Ke kota mana saja tidak apa-apa, Pak! Asalkan berangkat sekarang!" seru Hana memohon.
Petugas loket itu tampak kaget melihat reaktif Hana yang berlebihan. "Mbak, tenang dulu. Semua bus tujuan luar kota memang ditahan dulu sepuluh menit untuk pengecekan. Mbak duduk saja dulu di dalam. Ada teh hangat gratis di kantin."
"Saya tidak mau duduk, Pak! Saya harus berangkat sekarang!" jerit Hana pelan, matanya menyapu sekeliling area terminal yang mulai riuh oleh beberapa orang yang lalu-lalang.
Sengatan ketakutan yang pekat merayapi seluruh dinding dadanya. Hana merasa ada puluhan mata asing yang sedang mengawasinya dari balik kegelapan lorong terminal.
Ia tahu betul bagaimana cara kerja orang-orang berkuasa yaitu mereka tidak akan membiarkan mangsanya lepas begitu saja dengan mudah.
'Aku tidak boleh menunggu di sini. Kalau aku menunggu, dia akan datang.' bisik naluri bertahannya yang paling dalam.
Tanpa memedulikan panggil petugas loket yang kebingungan, Hana membalikkan badan dan berlari keluar dari area pul travel tersebut.
Kakinya yang masih memar dan nyeri akibat peristiwa semalam dipaksa menerjang dinginnya aspal jalanan. Ia tidak peduli ke mana langkahnya membawa, asalkan ia menjauh dari titik tersebut.
"Mbak! Mbak Hana! Tiketnya bagaimana?!" teriak petugas loket dari kejauhan, namun suaranya melenyap ditelan angin malam.
Hana terus berlari menyusuri gang-gang sempit di pemukiman warga yang masih terlelap. Napasnya tersengal-sengal, dadanya terasa menyengat perih seperti terbakar. Air mata keputusasaan kembali meleleh membasahi pipinya yang dingin.
Ia berhenti di sebuah lorong sempit yang dihimpit oleh dua tembok bata tua, menyandarkan tubuhnya yang lemas pada dinding yang basah oleh embun. Hana mencengkeram dadanya yang naik-turun memburu, berusaha keras menekan suara tangisnya agar tidak pecah di kesunyian pagi.
"Tuhan... tolong Hana..." bisik gadis itu seraya terisak pelan.
"Hana cuma mau hidup tenang... Hana tidak mau jadi bagian dari dunia mereka..." lirihnya lagi.
Hana sadar betul, jika ia menyerah sekarang dan membiarkan Alvaro menemukannya, ia akan selamanya terjebak dalam perangkap kekuasaan pria itu.
Alvaro mungkin berjanji akan bertanggung jawab dan memulihkan nama baiknya melalui pernikahan, tetapi pernikahan yang lahir dari tragedi kejam dan paksaan kasta hanya akan menjadi sangkar emas yang membunuhnya secara perlahan.
Di dalam sangkar itu, ia akan selalu dipandang sebagai office girl miskin yang berhasil menjebak sang CEO. Di dalam sangkar itu, ia akan selalu teringat pada malam berdarah di lantai empat puluh delapan setiap kali menatap mata pria itu.
"Aku bukan barang milikmu, Pak Alvaro," gumam Hana dengan nada suara yang perlahan berubah menjadi ketetapan hati yang bulat.
"Kau bisa membeli seluruh gedung di kota ini, tapi kau tidak akan pernah bisa membeli kebebasanku." lirihnya lagi.
Hana menghapus air matanya menggunakan punggung tangan, lalu merapikan tali ransel di bahunya.
Dari arah jalan raya utama, terdengar deru mesin bus ekonomi tujuan antar-provinsi yang melaju pelan sambil membunyikan klakson panjang yaitu sebuah bus umum biasa yang tidak terikat oleh jadwal travel resmi.
Tanpa ragu sedikit pun, Hana melangkah keluar dari lorong gelap itu menuju pinggir jalan raya, mengibaskan tangannya menahan bus tua yang berguncang keras tersebut.
Ketika pintu lipat bus terbuka dengan suara berdecit nyaring, Hana memanjat tangga besi itu tanpa menoleh lagi ke belakang untuk meninggalkan ibu kota, rumah peninggalan orang tuanya, dan bayangan Alvaro Adhitama yang sedang memburu jejaknya di tengah kegelapan fajar.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...Novel "Bukan Suami Biasa" sudah tersedia versi Audio dan Video AI nya yaaaa, gas bacaaaa!!!...
...***Cover Versi Novel***...
...***Cover Versi Audio dan Video AI***...