Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Tiri

Ayah Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:710
Nilai: 5
Nama Author: fazamanmut

Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

malam yang seram

"Apa aku pura-pura tertidur saja ya?" gumamku pelan di tengah keheningan kamar yang mencekam.

Ide itu muncul tiba-tiba dari pikiran kacauku, seperti pelampung terakhir bagi orang yang tenggelam. Jika aku tertidur, aku tidak bisa diajak bicara. Jika aku tertidur, aku tidak bisa dipaksa menandatangani dokumen palsu. Jika aku tertidur, mungkin Samudra akan merasa bosan dan pergi. Atau setidaknya, dia tidak akan bisa memaksaku berinteraksi secara sadar.

Itu rencana yang putus asa. Tapi saat ini, itulah satu-satunya senjata yang kumiliki.

Aku segera bertindak. Dengan tangan yang masih gemetar, aku memastikan kunci pintu kamar sudah terkunci rapat.

Klik. Suara itu terdengar kecil, tapi bagiku itu adalah suara benteng pertahanan pertama.

Lalu, aku berjalan menuju jendela. Tirai tebal sudah tertutup, tapi aku memeriksa kembali kuncinya. Jendela kaca geser itu kukunci erat-erat, memastikan tidak ada celah udara, tidak ada suara dari luar, dan yang paling penting, tidak ada cara bagi siapa pun untuk masuk tanpa memecahkan kaca yang pasti akan membuat keributan besar.

Setelah memastikan semua aman, aku kembali ke tempat tidur. Kasur king size itu terlihat luas dan empuk, tapi malam ini terasa seperti pulau isolasi.

Aku menarik selimut tebal berwarna putih gading itu, lalu merebahkan tubuhku sepenuhnya. Aku tidak hanya menutupi kaki atau perutku. Aku menarik selimut itu hingga menutupi seluruh tubuhku, dari ujung kaki hingga ke atas kepala, menyisakan celah sangat kecil di bagian hidung untuk bernapas. Gelap. Hangat. Terisolasi.

Dalam kegelapan di bawah selimut itu, aku memejamkan mata rapat-rapat. Aku mengatur napasku agar terdengar lambat dan dalam, meniru irama napas orang yang sedang tidur nyenyak.

Hembus... Tarik... Hembus... Tarik...

Jantungku masih berdegup kencang di balik rusukku, suaranya terdengar seperti drum perang di telingaku sendiri. Aku takut Samudra bisa mendengarnya jika dia mendekat. Aku takut dia tahu aku bohong.

Tapi aku harus mencoba. Aku harus bertahan.

Menit-menit berlalu. Keheningan di lantai atas terasa absolut. Hanya suara dengungan AC sentral yang konstan. Aku mulai merasa panas di bawah selimut tebal itu, keringat dingin mulai berkumpul di dahiku, tapi aku tidak berani bergerak sedikitpun. Aku berpura-pura menjadi patung. Menjadi mayat hidup yang tak berdaya.

Tiba-tiba...

Dug. Dug. Dug.

Suara langkah kaki berat terdengar di koridor luar kamarku. Langkah itu lambat, berat, dan semakin mendekat. Bukan langkah Ibu yang ringan. Itu langkah Samudra.

Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamarku.

Hening.

Aku menahan napas. Seluruh otot tubuhku menegang di bawah selimut. Aku bisa merasakan kehadiran dia di balik kayu pintu yang tipis itu. Apakah dia akan mengetuk? Apakah dia akan memanggil namaku?

Atau... apakah dia sudah memiliki kunci cadangan?

Pintu kamarku tidak berbunyi. Tidak ada ketukan. Hanya hening yang mencekam selama beberapa detik yang terasa seperti abadi.

Lalu, terdengar suara gagang pintu diputar perlahan.

Creeeek...

Suara engsel pintu yang tua terdengar nyaring di keheningan malam. Pintu itu terbuka.

Langkah kaki berat itu masuk ke dalam kamarku. Dug. Dug. Dug. Semakin dekat ke arah tempat tidurku.

Aku memejamkan mata lebih kuat lagi, menggigit bibir bagian dalam agar tidak berteriak. Di bawah selimut, tanganku mengepal erat-erat, kuku-kukuku menancap ke telapak tangan.

Jangan bangun. Jangan bangun. Jangan bangun.

Langkah kaki itu berhenti tepat di samping tempat tidurku. Aku bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya, bau parfum mahal bercampur keringat yang menusuk hidungku bahkan melalui lapisan selimut.

Dia berdiri di sana. Mengamatiku.

"Angela..." bisiknya. Suaranya rendah, serak, dan berbahaya. "Tidur nyenyak sekali ya?"

Tidak ada jawaban dariku. Aku tetap pura-pura tertidur, napasku tetap diatur meski paru-paruku rasanya mau meledak.

Samudra tertawa kecil. Suara tawanya berat dan mengerikan. Dia duduk di tepi kasur. Pegas kasur berderit pelan menampung bobot tubuhnya yang besar. Kasur miring ke arahnya, membuat tubuhku sedikit terguling ke sisi kanan, ke arah dia.

Tangannya yang besar dan gemuk terulur. Jari-jarinya yang tebal menyentuh selimut di atas kepalaku, lalu membelainya dengan gerakan lambat dan posesif.

"Lucu sekali kamu," gumamnya. "Berpikir bisa menyembunyikan diri dari Ayah dengan selimut?"

Jantungku hampir copot. Dia tahu! Dia tahu aku pura-pura!

Tapi sebelum dia bisa menarik selimut itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan keras di pintu kamar sebelah kamar Ibu.

"Sayang?" Suara Ibu terdengar samar dari balik dinding. "Papa? Kamu di sana? Mama butuh bantuan..."

Samudra mendengus kesal. Tangannya berhenti membelai selimut. Dia diam sejenak, seolah sedang menimbang pilihan: melanjutkan aksinya dengan paksa, atau menghormati panggilan istrinya yang sah.

Akhirnya, dia berdiri. Pegas kasur kembali ke posisi semula.

"Kita lanjutkan nanti, Angela," bisiknya tepat di atas kepalaku, napasnya hangat dan menjijikkan menembus kain selimut. "Ayah punya banyak waktu. Dan kamu... kamu tidak bisa lari selamanya."

Langkah kakinya terdengar menjauh. Pintu kamar ditutup lagi.

Aku tetap diam di bawah selimut selama lima menit penuh, memastikan dia benar-benar sudah pergi. Baru setelah itu, aku menarik selimut dari wajahku, menghirup udara segar dengan napas tersengal-sengal. Air mata mengalir deras di pipiku.

Aku selamat. Untuk malam ini.

Tapi kata-katanya bergema di kepalaku: Kamu tidak bisa lari selamanya.

Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku melompat dari tempat tidur. Kakiku masih gemetar hebat, tapi adrenalin ketakutan memaksaku untuk bergerak cepat.

Aku menyeret almari meja rias kayu jati yang berat itu. Kaki-kakinya berdecit keras di atas lantai marmer, suara yang terdengar nyaring di tengah keheningan malam, tapi aku tidak peduli. Aku mendorongnya dengan sekuat tenaga hingga posisinya miring dan menyangga gagang pintu kamar dari dalam.

Sekarang, bahkan jika Samudra memiliki kunci cadangan, dia tidak akan bisa membuka pintu ini tanpa menghancurkan almari itu terlebih dahulu—sesuatu yang pasti akan membuat keributan besar dan membangunkan seluruh rumah, termasuk Ibu.

Aku mundur beberapa langkah, napasku masih tersengal-sengal. Mataku terpaku pada celah bawah pintu. Tidak ada bayangan. Tidak ada suara langkah kaki lagi. Hening. Hanya suara dengungan AC yang konstan dan detak jantungku sendiri yang perlahan mulai melambat.

Mungkin dia sudah tidur, pikirku, mencoba meyakinkan diri sendiri. Atau mungkin dia benar-benar pergi ke kamar Ibu seperti yang dipanggil tadi.

Aku berjalan kembali ke tempat tidur, tapi kali ini aku tidak berani menutupi seluruh tubuh dengan selimut. Aku hanya menarik selimut tipis hingga dada, matanya tetap terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang gelap. Setiap suara kecil, desiran angin di luar jendela, derit kayu rumah yang menyusut karena dingin membuatku tersentak.

Jam dinding di dinding seberang menunjukkan pukul 23.45.

Satu jam lagi menuju tengah malam. Satu jam lagi menuju hari baru.

Aku membalikkan badan, menghadap ke dinding, dan memeluk bantal erat-erat. Air mata masih mengalir pelan, membasahi sarung bantal sutra yang dingin. Aku merasa sangat sendirian di dunia ini. Ibu tertidur pulas di kamar sebelah, percaya pada kebahagiaannya. Bi Inem sudah pulang ke kamarnya di lantai bawah.

Tapi setidaknya, untuk malam ini, pintuku terkunci. Almari itu menjadi penjaga setia. Dan aku masih bernapas.

Aku selamat, bisikku dalam hati. Aku harus kuat sampai pagi. Besok... besok aku akan mencari cara. Harus ada cara.

Perlahan-lahan, kelelahan fisik dan mental mengambil alih. Kelopak mataku terasa berat. Rasa takut itu belum hilang, tapi tubuhku terlalu lelah untuk tetap waspada sepenuhnya. Dalam kegelapan, aku akhirnya tertidur juga, tidur yang gelisah, penuh mimpi buruk tentang tangan-tangan gemuk yang mencengkeram dan senyuman-senyuman jahat yang mengintai dari balik kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!