Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 : STUDY TOUR KE YOGYAKARTA DAN PERJUANGAN RANGGA
Kehidupan di SMA Negeri 1 Kabupaten berjalan seperti biasa setelah Festival Seni Tahunan usai. Kemenangan dan penghargaan yang diraih Rangga dan teman-temannya membawa kebanggaan bagi sekolah, tetapi tidak ada yang berubah secara drastis. Rangga tetap menjadi siswa yang rajin belajar, tetap berjualan di pasar malam setiap akhir pekan, dan tetap dekat dengan Anisa, Bram, Fajar, dan Gilang. Suasana sekolah kembali normal—dering bel, hiruk-pikuk siswa di koridor, tawa di kantin, dan kesibukan belajar di kelas. Namun ada satu hal yang berbeda: Rangga kini lebih dikenal dan dihormati oleh siswa-siswa lain. Banyak yang menyapanya dengan ramah, dan beberapa bahkan meminta nasihat tentang puisi atau seni.
Namun ada satu perubahan yang cukup berarti dalam kehidupan Rangga—Bram semakin dekat dengannya. Pemuda yang dulu dikenal sebagai preman paling ditakuti di sekolah itu kini hampir setiap hari menghabiskan waktu bersama Rangga. Ia sering membantu Rangga berjualan di pasar malam, mengangkat barang-barang berat, melayani pelanggan dengan senyum yang dulu tidak pernah ia tunjukkan. Bram juga sering belajar bersama Rangga di perpustakaan, bertanya tentang pelajaran yang ia lewatkan selama bertahun-tahun menjadi preman. Bahkan kadang Bram menginap di kamar asrama Rangga untuk sekadar mengobrol hingga larut malam, berbagi cerita tentang masa lalu dan mimpi-mimpi mereka untuk masa depan.
"Rangga, aku tidak tahu harus berterima kasih bagaimana padamu," kata Bram suatu malam saat mereka sedang membereskan peralatan jualan di pasar malam. Lampu-lampu mulai padam satu per satu, dan hanya tinggal mereka berdua yang masih sibuk. "Kau telah mengubah hidupku. Sebelum bertemu denganmu, aku hanya anak yang hilang arah. Aku tidak punya tujuan, tidak punya mimpi, dan tidak punya harapan. Aku hanya marah pada dunia dan tidak tahu bagaimana menyalurkan amarah itu."
Rangga tersenyum, mengusap keringat di dahinya. "Kau sendiri yang memilih untuk berubah, Bram. Aku hanya menunjukkan jalan. Kau yang memutuskan untuk berjalan di jalan itu. Itu semua karena kemauanmu sendiri."
"Aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu," kata Bram dengan tulus, matanya berkaca-kaca. "Kau menyelamatkanku dari kehidupan yang gelap. Aku tidak akan melupakan itu."
"Kau tidak perlu membalas apa pun," jawab Rangga dengan lembut. "Cukup terus menjadi orang yang lebih baik setiap hari. Itu sudah cukup bagiku. Melihatmu berubah adalah hadiah terbesar yang bisa aku terima."
Suatu hari, saat jam istirahat dan suasana sekolah sedang ramai, pengumuman besar datang dari pihak sekolah. Seluruh siswa berkumpul di lapangan upacara yang panas, duduk di rumput yang sedikit kering karena musim kemarau. Pak Surono, kepala sekolah, berdiri di atas panggung dengan mikrofon di tangannya, wajahnya berseri-seri penuh antusiasme.
"Anak-anak, aku punya kabar gembira untuk kalian semua!" seru Pak Surono dengan suara lantang dan penuh semangat. "Sekolah kita akan mengadakan study tour ke Yogyakarta! Ini adalah program tahunan yang bertujuan untuk memperkaya wawasan kalian tentang sejarah dan budaya Indonesia. Kita akan mengunjungi Candi Borobudur, Candi Prambanan, Keraton Yogyakarta, dan berbagai tempat wisata sejarah lainnya! Ini adalah kesempatan emas untuk belajar langsung dari peninggalan sejarah nenek moyang kita!"
Sorak-sorai dan tepuk tangan bergemuruh memenuhi lapangan. Semua siswa bersemangat mendengar kabar itu. Yogyakarta adalah kota yang penuh dengan sejarah dan budaya, dan mengunjungi tempat-tempat seperti Candi Borobudur yang merupakan salah satu keajaiban dunia adalah impian banyak siswa. Beberapa siswa bahkan melompat-lompat kegirangan, berteriak-teriak tidak percaya.
"Study tour akan dilaksanakan selama tiga hari dua malam," lanjut Pak Surono, berusaha menenangkan kerumunan yang mulai riuh. "Biaya untuk setiap siswa adalah lima ratus ribu rupiah. Pendaftaran akan dibuka minggu depan. Bagi siswa yang berminat, silakan segera mendaftar di kantor tata usaha. Jangan sampai ketinggalan!"
Kegembiraan siswa semakin bertambah, tetapi di antara mereka, Rangga justru terdiam. Wajahnya berubah pucat, dan pikirannya mulai kacau seperti badai yang menerpa. Lima ratus ribu rupiah—itu adalah jumlah yang sangat besar baginya. Uang itu hampir sama dengan pendapatannya selama dua bulan berjualan di pasar malam dengan susah payah. Bagaimana ia bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat? Ia harus membayar biaya sekolah, membeli buku, dan juga mengirim uang untuk Nenek Saroh yang kesehatannya semakin menurun.
"Rangga, kau tidak terlihat senang," kata Anisa yang melihat ekspresi Rangga berubah. Wajahnya penuh kekhawatiran. "Ada apa? Kenapa kau diam saja?"
Rangga menghela napas panjang, mencoba menyembunyikan kekecewaannya yang mendalam. "Aku tidak punya uang untuk ikut, Anisa. Lima ratus ribu terlalu banyak untukku. Aku tidak bisa meminta uang sebanyak itu kepada Nenek. Dia sudah tua dan sakit-sakitan."
Anisa memegang tangannya dengan erat, memberikan kekuatan melalui sentuhannya. "Tapi Rangga, ini kesempatan yang bagus untuk kita. Kita bisa belajar banyak dari study tour ini. Dan kita bisa pergi bersama-sama, menikmati pengalaman yang tak terlupakan."
"Aku tahu, Anisa. Tapi aku tidak bisa memaksakan diri. Aku harus memikirkan biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari. Nenek juga butuh uang untuk pengobatannya yang semakin mahal." Rangga menunduk, mencoba menyembunyikan air mata yang mulai menggenang di matanya.
Bram yang mendengar percakapan mereka dari belakang langsung mendekat dengan langkah tegas. "Rangga, kau tidak bisa melewatkan ini. Kita akan ke Candi Borobudur! Itu impian banyak orang! Aku akan membantumu mengumpulkan uang."
"Tapi Bram, lima ratus ribu bukan jumlah kecil. Aku tidak mau membebanimu," kata Rangga dengan suara lemah.
"Aku tahu itu bukan jumlah kecil," kata Bram dengan keyakinan yang membara. "Tapi kita bisa mencari cara. Kita bisa berjualan lebih banyak di pasar malam, memperpanjang jam jualan, dan mencari pelanggan baru. Aku akan membantumu setiap hari tanpa lelah. Dan mungkin kita bisa mengajak Fajar dan Gilang untuk ikut membantu. Kita bisa melakukan ini bersama-sama, Rangga. Aku tidak akan membiarkanmu melewatkan kesempatan ini."
Rangga menatap Bram dengan haru, air mata mulai mengalir di pipinya. "Kau benar-benar ingin membantuku?"
"Aku tidak akan menyerah padamu, Rangga. Kau tidak pernah menyerah padaku ketika aku sedang dalam masa-masa tergelap. Sekarang giliranku untuk membantumu. Kita akan melewati ini bersama," kata Bram dengan penuh keyakinan.
Sejak hari itu, Bram dan Anisa mulai membantu Rangga dengan lebih serius dan intensif. Mereka berjualan di pasar malam setiap malam, bahkan pada hari-hari biasa setelah pulang sekolah. Bram belajar memasak dari Rangga dan membantu menyiapkan makanan dengan tekun. Anisa membantu melayani pelanggan dengan ramah dan mengatur keuangan dengan teliti. Fajar dan Gilang juga ikut membantu, kadang membawa pelanggan tambahan dari teman-teman mereka dan menyebarkan kabar tentang dagangan Rangga.
"Rangga, kita akan mengumpulkan uang ini bersama-sama," kata Anisa suatu malam saat mereka sedang membersihkan peralatan jualan. "Kau tidak akan pergi sendirian ke Yogyakarta. Kita akan pergi bersama-sama, dan itu akan menjadi pengalaman yang paling berharga."
"Aku tidak tahu harus berkata apa," kata Rangga dengan mata berkaca-kaca. "Kalian semua begitu baik padaku. Aku tidak pantas memiliki teman-teman seperti kalian."
"Kau pantas mendapatkannya, Rangga," kata Fajar dengan tulus. "Kau selalu membantu orang lain tanpa pamrih. Sekarang giliran kami membantumu. Itulah arti persahabatan sejati."
Namun meskipun semua orang berusaha membantu dengan sekuat tenaga, uang yang terkumpul masih jauh dari cukup. Setiap malam Rangga menghitung uang receh yang terkumpul, dan setiap malam hatinya semakin berat. Ia mulai kehilangan harapan dan memikirkan untuk mengundurkan diri dari study tour, meskipun hatinya sangat ingin pergi dan merasakan pengalaman itu.
Suatu hari, saat Rangga sedang duduk termenung di taman sekolah dengan pandangan kosong, ia dipanggil ke kantor kepala sekolah. Ia datang dengan perasaan cemas dan takut, tidak tahu apa yang akan terjadi. Pak Surono menyambutnya dengan ramah, senyum hangat terukir di wajahnya yang bijaksana.
"Rangga, aku mendengar kau kesulitan membayar biaya study tour," kata Pak Surono dengan suara lembut.
Rangga menunduk, tidak berani menatap kepala sekolahnya. "Iya, Pak. Saya tidak punya cukup uang. Saya sudah berusaha mengumpulkan, tetapi masih kurang banyak."
Pak Surono tersenyum dan mengeluarkan sebuah amplop dari laci mejanya. "Aku sudah bicara dengan guru-guru dan komite sekolah. Kami semua sangat terkesan dengan prestasimu di festival seni dan sikapmu yang selalu rendah hati. Kami memutuskan untuk memberikan beasiswa khusus untukmu. Biaya study tourmu akan ditanggung sepenuhnya oleh sekolah."
Rangga terkejut, matanya membulat tidak percaya. "Benarkah, Pak? Saya tidak percaya. Ini terlalu baik untuk menjadi kenyataan."
"Ini adalah bentuk penghargaan sekolah atas prestasimu, Rangga," kata Pak Surono dengan tulus. "Kau telah mengharumkan nama sekolah di festival seni. Kau juga telah menjadi contoh yang baik bagi siswa lain dengan kerja keras dan kerendahan hatimu. Kami semua bangga padamu."
Rangga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir deras. "Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus berkata apa. Ini benar-benar kejutan yang luar biasa."
"Kau tidak perlu berkata apa-apa," kata Pak Surono sambil menepuk pundaknya. "Yang perlu kau lakukan adalah terus berprestasi dan menjadi kebanggaan sekolah. Nikmati study tour-mu, Rangga. Kau pantas mendapatkannya."
Kabar baik itu segera menyebar di antara teman-teman Rangga seperti api di padang rumput kering. Mereka semua bersorak gembira mendengarnya. Bram memeluk Rangga erat-erat sampai hampir tercekik. "Aku tahu kau pasti bisa, Rangga! Aku tidak pernah meragukanmu sedikit pun! Kau berhasil!"
Anisa menangis haru di pelukan Rangga. "Kita akan pergi bersama, Rangga. Kita akan ke Candi Borobudur bersama-sama dan membuat kenangan yang tak terlupakan."
Malam itu, Rangga duduk sendirian di teras asramanya, memandangi langit yang dipenuhi bintang-bintang gemerlap. Ia merenungkan semua yang telah terjadi—perjuangannya yang melelahkan untuk mengumpulkan uang, bantuan tanpa pamrih dari teman-temannya, dan kebaikan sekolah yang memberinya beasiswa. Ia merasa sangat bersyukur memiliki orang-orang baik di sekitarnya yang selalu mendukungnya.
Ia teringat pada Nenek Saroh di desa yang jauh. Ia membayangkan wajah Nenek yang akan tersenyum bangga mendengar kabar baik ini. Ia berdoa dalam hatinya, berterima kasih pada Tuhan atas semua kebaikan yang ia terima dan semua orang yang telah membantunya.
"Besok, aku akan mulai bersiap untuk study tour," bisiknya pada dirinya sendiri dengan senyum bahagia. "Aku akan belajar banyak di Yogyakarta. Aku akan melihat Candi Borobudur dengan mataku sendiri. Dan ketika aku kembali, aku akan menceritakan semua pengalamanku pada Nenek."
Ia memejamkan mata, merasakan kedamaian yang menyelimuti hatinya. Perjalanan ke Yogyakarta akan menjadi petualangan baru dalam hidupnya, dan ia tidak sabar untuk mengalaminya bersama teman-temannya yang setia.
---
[Bersambung...]
---