Punya nama Samson Perkasa Putra dan postur gagah setinggi 178 cm ternyata jadi beban berat buat Samson. Dituntut Papi jadi cowok macho penerus bengkel, Samson malah lebih paham urusan skincare dan bakat histeris tiap liat kecoa. Kehidupan Samson makin riweh saat dia harus bertahan di antara harapan keluarga yang manly abis, godaan gosip tetangga, hingga urusan asmara yang serba salah. Bisakah Samson membuktikan kalau pria "otot kawat, tulang lunak" juga punya caranya sendiri buat jadi pahlawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PenaGabut_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Kaleng Oli
"Kumis boleh tebal, tangan boleh kena oli, tapi rahasia masa lalu Papi ternyata lebih bening daripada air mawar."
"PAPI! JELASKAN SAMA SAMSON SEKARANG JUGA! PAPI DULU RACIK SERUM KAN, BUKAN OLI SIKLUS DUA TAK?!" jerit Samson membelah keheningan Bengkel Perkasa Putra.
Pagi itu, suasana bengkel tidak seperti biasanya. Tidak ada suara dentuman kunci pas atau raungan mesin mobil tua. Di tengah area servis yang biasanya berdebu, Papi duduk tertunduk di atas kursi plastik merah. Di depannya berdiri Samson dengan kedua tangan berkacak pinggang, Kenanga yang bersedekap dada, Bang Jarot yang masih klimis dengan jas pinjaman, serta Pak Reza yang sengaja datang langsung untuk meluruskan sejarah.
Papi perlahan menghela napas panjang. Pria berkumis tebal yang biasanya selalu membusungkan dada tegap itu kini tampak seperti murid sekolah yang ketahuan tidak mengerjakan PR.
"Papi... jujur sama Samson," ucap Samson dengan mata berkaca-kaca, jemari lentiknya menunjuk album foto hitam-putih yang kini tergeletak di atas kap mobil, "foto ini... Papi yang pegang botol serum pakai apron warna soft pink ini kan?!"
Papi memejamkan mata erat-erat. Kumis tebalnya bergetar pelan sebelum akhirnya ia mendongak dan menatap putra tunggalnya dengan raut pasrah total. "Iya, Sam... itu Papi, nama asli Papi itu Joko 'The Glowing' Perkasa..."
DUARRR!
Bang Jarot yang sedang minum kopi instan langsung tersedak sampai batuk-batuk. Kenanga menepuk jidatnya sendiri, sementara Mami yang baru keluar membawa baki berisi teh hangat cuma bisa senyum mesra.
"Oh...my...God... Papi?!" Samson memegang dadanya yang sesak, matanya berkedip-kedip tak percaya. "Jadi selama ini... Papi yang galak, Papi yang suruh Samson pegang kunci pas, Papi yang trauma kalau Samson ke salon... sebenarnya Papi mantan beauty advisor?!"
Pak Reza melangkah maju, menepuk bahu Papi dengan raut emosional. "Joko... dua puluh tahun aku cari kamu. Dulu setelah salon kita kebakaran dan formula racikan 'Krim Awet Muda Legendaris' itu hilang, kamu mendadak menghilang dan berubah jadi montir!"
"Gue terpaksa, Za!" potong Papi seraya berdiri dari kursinya. "Waktu itu persaingan bisnis salon keras banget! Gue trauma! Gue takut anak gue, Samson, ikut-ikutan masuk ke dunia yang penuh tekanan estetika itu! Makanya gue sembunyi di balik oli bekas, gue tebalin kumis gue, dan gue namai anak gue Samson Perkasa Putra biar dia tumbuh jadi cewek... eh, cowok berkulit badak!"
"Tapi Papi gagal total!" sahut Mami santai seraya meletakkan cangkir teh. "Gen skincare Papi itu mengalir seratus persen di darah Samson. Lihat tuh, umur dua puluh dua tahun pori-porinya lebih bersih dari masa depan kita!"
Samson masih shock. Ia menatap kedua tangan Papi yang kasar dan penuh noda oli kehitaman. Dibalik ketegasan dan kepura-puraan Papi selama bertahun-tahun, ternyata ada jiwa pecinta kecantikan alami yang dipendam demi melindunginya.
"Papi..." Samson melangkah mendekat, lalu menggenggam kedua tangan Papi yang kasar. Samson mengedip-ngedipkan matanya centil dan polos, berusaha memasang raut muka paling menggemaskan yang ia miliki. "Kenapa Papi harus malu? Bakat merawat kulit itu bukan kelemahan, Pi! Itu seni! Lihat tuh Bang Jarot, gara-gara Samson ajarin skincare, dia kagak jadi ratakan bengkel kita!"
Bang Jarot mengangguk mantap seraya meraba pipinya yang mulus. "Bener, Pak Joko! Muka saya sekarang lebih kenyal berkat racikan anak situ. Kalau situ buka salon lagi bareng Samson, gue sama anak-anak Serigala Jalanan siap jadi tim security VIP-nya!"
Papi menatap Samson, lalu menatap Kenanga, Bang Jarot, dan Pak Reza. Matanya berkaca-kaca. Dinding kepura-puraan sebagai pria garang yang ia bangun selama dua puluh tahun akhirnya runtuh total, digantikan oleh rasa bangga yang luar biasa pada putra tunggalnya. "Kamu... beneran kagak malu punya Papi yang dulu racik krim malam, Sam?" tanya Papi bergetar.
"Malu kenapa?! Samson justru bangga banget!" seru Samson heboh seraya memeluk tubuh tegap Papi erat-erat. "Berarti koleksi skincare Samson di kamar sekarang bisa kita upgrade pakai racikan resep rahasia Papi, dong?!"
Pak Reza tertawa lebar melihat adegan haru tersebut. "Nah! Karena masalah lahan sudah selesai dan formula rahasia tidak pernah dicuri orang lain, bagaimana kalau Developer Mega Indah mendanai renovasi tempat ini? Kita bangun Bengkel & Auto-Beauty Lounge Perkasa Putra! Sambil nunggu mobil dicuci dan diganti oli sama Pak Joko, para pelanggan bisa facial dan konsul kulit sama Samson!"
"Hah?! Beneran, Pak?!" mata Samson berbinar-binar bagai ketumpahan bintang malam.
"Gue setuju!" potong Kenanga cepat seraya tersenyum tipis, "nanti padepokan silat gue yang bakal ngelatih Samson pertahanan diri, biar kalau ada pelanggan yang rewel, Samson kagak perlu lempar cumi asin lagi."
Semua orang di halaman bengkel tertawa lepas. Beban berat yang membayangi Bengkel Perkasa Putra dan Pasar Subuh kini sirna sepenuhnya, berganti dengan awal baru yang jauh lebih glowing.
Namun, tepat saat Samson hendak merayakan kemenangan estetikanya dengan mengoleskan hand cream, suara klakson bus pariwisata berbunyi nyaring dari depan gerbang. Dari dalam bus, turun puluhan wanita paruh baya dengan pakaian seragam daster batik warna-warni.
Mami menepuk jidatnya heboh. "Aduh! Samson! Itu rombongan Arisan PKK Se-Kabupaten sudah datang! Mami tadi malam keceplosan bilang sama ibu-ibu, kalau kamu mau kasih facial gratis buat lima puluh orang!"
Wajah Samson yang baru saja berseri-seri seketika pucat pasi kembali. Matanya membelalak menatap puluhan ibu-ibu yang melangkah ke arahnya seraya berteriak memanggil nama "Mas Samson Glowing".
"Mm...aamii... lima puluh orang?!" ucap Samson dengan bibir bergetar. "PAPI! MBAK KEN! BANG JAROT! TOLONGIN SAMSON! PITA BANDO FACIAL AKU CUMA ADA TIGA!"
***
"MAS SAMSON! SAYA DULUAN YA YANG DI-FACIAL! FLEK HITAM SAYA UDAH KAYAK PETA BUTA NIH!" teriak salah satu ibu daster merah dari barisan terdepan.
Halaman Bengkel Perkasa Putra yang baru saja tenang seketika berubah menjadi medan pertempuran paling heboh dalam sejarah.
Lima puluh ibu-ibu PKK dengan semangat membara menyerbu ke arah meja kosmetik Samson. Suara riuh renyah, gelak tawa, dan aroma minyak kayu putih mendadak memenuhi udara, mengalahkan bau oli bekas Papi.
Samson yang berdiri di tengah kepungan hanya bisa memegangi kedua pipinya yang pucat. Tubuh bongsor 178 sentimeter itu terhuyung mundur, bersembunyi di balik punggung kekar Bang Jarot dan Kenanga. "Mbak Kenanga! Bang Jarot! Ini lebih mengerikan daripada lima preman pasar berkayu balok! Tolong lindungi serum kesayangan aku dari jarahan!" jerit Samson melengking bagai anak ayam kehilangan induk.
Kenanga dengan sigap melangkah ke depan, memasang kuda-kuda silat terbaiknya untuk menahan gelombang serbuan. "Ibu-ibu! Harap antre dengan tertib! Jangan sampai ada yang saling dorong!"
Sementara itu, Bang Jarot—sang ketua geng motor Serigala Jalanan yang ditakuti. langsung sigap mengambil papan jalan dan spidol, "Ayo, ayo! Ambil nomor antrean di gue! Yang kagak antre, gue suruh eksfoliasi pakai amplas kayu!" gertaknya galak tapi kocak.
Papi Joko yang menyaksikan dari teras rumah hanya bisa tertawa lebar bersama Mami. Papi lalu melangkah mendekati Samson, mengenakan kembali apron salon pink lamanya yang legendaris, lalu merangkul bahu sang anak. "Jangan panik, Sam! Ini saatnya Joko The Glowing dan Samson Perkasa Putra menunjukkan keahlian kita!" seru Papi bersemangat.
Samson menatap Papi, lalu menatap Kenanga dan Bang Jarot yang sibuk mengatur barisan. Rasa takutnya perlahan mereda, berganti dengan senyuman centil paling manis yang ia miliki. Samson mengedip-ngedipkan matanya polos dan penuh percaya diri, siap menyambut masa depan barunya yang cerah berbinar.
"Siap, Papi! Mari kita glowing-kan Ibu-ibu arisan ini!" seru Samson mantap seraya mengangkat tinggi-tinggi botol serum kesayangannya ke udara.