Indonesia
NovelToon NovelToon
Segalanya Kamu (Kontrak Pernikahan Dengan Sahabatku) Part Of Rafa Dan Aluna

Segalanya Kamu (Kontrak Pernikahan Dengan Sahabatku) Part Of Rafa Dan Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hasriani

“Nikah sama aku saja, Aluna.”

Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.

Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.

Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal

mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merengek

Pagi itu, Aluna sangat tidak sabar menunggu hari esok datang.

Baru beberapa menit setelah menerima pesan panggilan interview, ia sudah sibuk berdiri di depan lemari bajunya untuk mempersiapkan pakaian yang akan dikenakan besok.

“Aku pakai apa, ya?” Gumamnya.

Aluna memperhatikan deretan pakaian yang tertata rapi di dalam lemari. Tangannya sesekali menarik satu pakaian, lalu mengembalikannya lagi karena merasa tidak ada yang cocok.

“Aduh, nggak ada yang kelihatan wanita karier banget lagi modelnya.”

Ia menghela napas kesal sebelum menutup lemari.

Aluna lalu berjalan menuju walk-in closet dan mulai mencari pakaian lain. Namun, setelah beberapa menit membongkar isi lemari, ia tetap tidak menemukan sesuatu yang menurutnya cocok untuk dipakai menghadiri interview.

Sebagian besar pakaiannya hanya berupa pakaian kasual, dress, dan beberapa baju yang biasa ia kenakan untuk pergi ke mal atau berkumpul bersama teman-temannya.

Sama sekali tidak ada pakaian yang menurut Aluna terlihat seperti milik seorang karyawan kantoran.

“Ngemall aja, deh.”

Tanpa berpikir panjang lagi, Aluna langsung meraih pakaian yang ingin dikenakannya. Ia mengganti baju dengan cepat, merapikan rambutnya, lalu bersiap pergi ke mal untuk membeli pakaian baru.

***

Begitu turun ke bawah, langkahnya langsung dihentikan oleh suara Mamanya.

“Mau ke mana, Aluna?”

Aluna menoleh dan melihat Mamanya yang tengah duduk di ruang keluarga.

“Biasa, Ma. Mau ke mal, mau belanja.”

Ia berusaha tersenyum senatural mungkin, meskipun sebenarnya jantungnya sedang berdetak cukup cepat. Entah kenapa, ia merasa gugup hanya karena hal yang ingin dilakukannya saat ini bertentangan dengan keputusan Mamanya.

“Sama Mama aja kalau gitu. Udah lama kita nggak shopping bareng.”

Seketika wajah Aluna menegang.

"Mati aku."

Dengan cepat otaknya bekerja keras mencari alasan.

“Anu, Ma... aku nggak ke mal yang biasa. Ini agak jauh, soalnya udah janjian sama teman mau belanja bareng.”

“Pagi amat mau belanjanya.”

“Iya, Ma. Soalnya Lila mau beli baju juga. Ada event di kantornya, katanya.”

Semakin lama ia berbicara, semakin banyak pula kebohongan yang keluar dari mulutnya.

Untungnya, Mamanya tidak terlihat terlalu mencurigai jawabannya.

“Ya udahlah. Kamu hati-hati, ya.”

Aluna hampir saja mengembuskan napas lega dengan berlebihan.

“Iya, Ma. Aluna berangkat dulu, ya.”

Ia segera berjalan keluar rumah sebelum Mamanya tiba-tiba berubah pikiran dan memutuskan untuk ikut bersamanya.

***

Mal yang dituju Aluna pun bukan mal yang biasa ia kunjungi. Ia sengaja memilih tempat yang berbeda karena takut bertemu dengan Mamanya di pusat perbelanjaan langganan mereka.

Begitu menemukan sebuah toko yang menjual pakaian formal, mata Aluna langsung berbinar.

“Wah, baju-baju kantornya cantik-cantik banget. Rasanya mau aku borong semuanya.”

Ia memperhatikan deretan blouse, celana bahan, blazer, dan rok span yang dipajang dengan rapi.

Tidak butuh waktu lama bagi Aluna untuk berubah pikiran.

Awalnya ia hanya berniat membeli satu set pakaian untuk interview. Namun, entah bagaimana, ia akhirnya membawa beberapa blouse, celana bahan, dan rok span ke ruang ganti.

Benar saja.

Aluna langsung kalap.

“Yang ini juga lucu... tapi yang ini kayaknya lebih cocok buat ke kantor.”

Pada akhirnya, ia membeli beberapa pakaian sekaligus.

Hatinya terasa sangat puas setelah selesai membayar semua belanjaannya. Dengan beberapa paper bag di tangan, Aluna segera kembali ke mobil.

Ia sudah tidak sabar ingin pulang dan mencoba lagi semua pakaian yang baru saja dibelinya.

Namun, di tengah perjalanan menuju rumah, tiba-tiba Aluna teringat sesuatu.

Sopir.

Aluna langsung menatap ke arah depan mobil.

Ia lupa satu hal yang cukup penting.

Selama ini, ke mana pun ia pergi, selalu ada sopir yang mengantarnya. Jika nanti ia benar-benar bekerja dari pagi sampai sore, bagaimana mungkin ia bisa membawa sopirnya setiap hari?

Bagaimana kalau harus lembur?

Atau pulang malam?

Mana mungkin aku bilang lagi sama Lila terus.

“Nanti malam aku harus merengek sama Mama sama Papa.”

Aluna mulai memikirkan alasan yang tepat agar dirinya diizinkan membawa mobil sendiri.

***

Malam harinya, waktu terasa berjalan begitu lambat bagi Aluna.

Sejak sore, pikirannya terus dipenuhi dengan interview yang akan dihadapinya besok. Ia sudah mencoba beberapa pakaian di depan cermin, lalu kembali memikirkan bagaimana cara meminta izin kepada kedua orangtuanya.

Begitu waktu makan malam tiba, Aluna langsung berjalan menuju ruang makan.

Papa, Mama, dan kedua kakak laki-lakinya sudah duduk di sana.

Seperti biasa, Aluna langsung menarik kursi yang berada di samping Papanya.

“Rapi banget, Kak. Malam-malam mau keluar lagi?”

Tanya Aluna kepada Abra yang duduk di hadapan Mamanya.

“Iya. Mau nongkrong sama Kai.”

Aluna langsung teringat laki-laki bernama Kai.

Teman kakaknya yang menyebalkan itu.

“Ah, teman Kakak itu.”

“Hm.”

Aluna hanya mengangguk kecil, tetapi dalam hatinya ia masih mengingat jelas sikap Kai yang selalu berhasil membuatnya kesal.

Pandangan Aluna kemudian beralih kepada Andrew yang juga tampak rapi malam itu.

Namun, ia sama sekali tidak tertarik bertanya ke mana kakak keduanya akan pergi.

Sudah pasti.

Mungkin akan bertemu Sarah, tunangannya.

Kedua kakaknya kemudian menyelesaikan makan malam mereka dan berpamitan untuk urusan masing-masing.

Sementara itu, Aluna masih duduk di tempatnya sambil terus melahap makanan, meskipun pikirannya sebenarnya sibuk mengumpulkan keberanian.

"Bilang sekarang atau nanti, ya?"

Setelah beberapa menit terdiam, akhirnya Aluna memberanikan diri.

“Ekhm... Pa, Ma. Aluna mau bicara.”

Papa dan Mamanya langsung menghentikan kegiatan mereka dan menatap putri satu-satunya itu.

“Bicara aja, Sayang. Kenapa?” tanya Papanya.

Aluna menatap keduanya secara bergantian.

Awalnya, wajahnya terlihat serius.

Namun, beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah menjadi tatapan penuh harap dengan mata yang mulai berbinar.

“Boleh nggak Aluna bawa mobil sendiri mulai besok?”

Mamanya langsung menatapnya.

“Risih kalau ke mana-mana harus diantar sopir terus.”

“Nggak boleh.”

Jawaban Mamanya begitu singkat dan tegas hingga Aluna langsung menekuk bibirnya.

“Maaa...”

Rengekannya mulai keluar.

“Mama kamu khawatir, Sayang. Waktu itu aja kamu nabrak teman kakak kamu,” ujar Papanya, berusaha menjelaskan alasan kekhawatiran mereka.

“Nggak sengaja itu, Pa. Aluna janji bakal lebih hati-hati kali ini.”

Ia kembali menatap keduanya dengan wajah penuh harap.

“Please, ya, Ma? Pa?”

Matanya mulai terlihat berkaca-kaca.

Papanya yang sejak tadi memperhatikan putrinya perlahan mulai luluh.

“Kasih aja, Ma. Kasihan juga dia kalau memang nggak nyaman.”

Mata Aluna langsung berbinar mendengar dukungan dari Papanya.

Namun, Mamanya masih belum terlihat yakin.

“Tapi, Pa... kalau ada apa-apa gimana? Mama nggak mau anak perempuan Mama satu-satunya sampai celaka.”

“Ya ampun, Ma. Aku bisa jaga diri. Beneran, deh.”

Aluna kembali merengek.

“Aku janji sama Mama, kali ini aku bakal lebih bertanggung jawab dan hati-hati. Boleh, ya, Ma? Please...”

Binar di mata Aluna membuat hati Mamanya perlahan melunak.

Namun, kekhawatiran seorang ibu tetap saja sulit dihilangkan.

“Hati Mama berat, Aluna.”

Aluna langsung duduk sedikit lebih tegak.

“Gini aja. Aku janji, kalau kali ini aku sampai nabrak lagi, aku nggak bakal minta bawa mobil sendiri lagi.”

Mamanya menatap Aluna cukup lama.

Lalu, Aluna mulai memasang ekspresi paling memprihatinkan yang ia bisa.

Matanya membulat.

Bibirnya sedikit menekuk.

Sementara wajahnya dibuat seolah-olah ia akan sangat sedih jika permintaannya kembali ditolak.

“Janji?” tanya Mamanya akhirnya.

“Janjiiii.”

Jawab Aluna dengan cepat.

“Boleh, ya? Boleh, ya?”

Mamanya mengembuskan napas panjang.

“Huff... ya sudah.”

Seketika wajah Aluna berubah cerah.

“YEYYYY!”

Ia langsung merangkul lengan Papanya dengan penuh kegembiraan.

“Makasih, Ma! Makasih, Pa!”

Namun, rasa senangnya tiba-tiba sedikit terganggu ketika Andrew muncul kembali.

Entah sejak kapan ia berdiri di dekat sana.

“Minta apa lagi lo?”

Nada sinis itu langsung membuat Aluna memutar bola matanya.

“Bukan urusan lo.”

Jawabnya tanpa peduli.

“Loh, kamu belum berangkat?”

Mamanya langsung menatap Andrew.

“Sarah mungkin udah nungguin kamu.”

Tebakan Aluna tadi memang benar.

Andrew memang berencana bertemu dengan Sarah malam itu.

“Ada yang ketinggalan tadi, Ma. Aku berangkat dulu.”

“Hati-hati nyetirnya,” pesan Mamanya.

Andrew kemudian berjalan pergi setelah sempat melemparkan tatapan tajam kepada Aluna.

Namun, Aluna sama sekali tidak tertarik menanggapinya.

Begitu Andrew pergi, suasana hati Aluna kembali membaik.

Ia kembali menatap Papa dan Mamanya dengan senyum lebar.

“Makasih ya, Ma. Makasih, Papa.”

Kemudian, Aluna mencium pipi Papanya.

“Mamanya nggak dicium juga?”

Aluna langsung menoleh.

“Cium juga donggg.”

Ia segera berdiri dan berjalan ke arah Mamanya.

Aluna mencium pipi Mamanya cukup lama, bahkan sengaja memeluk wanita itu dengan manja.

“Nah, gini dong.”

Mamanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah putrinya.

Papa dan Mama Aluna hanya bisa ikut tersenyum.

Bagi mereka, permintaan Aluna mungkin terlihat sederhana.

Hanya ingin membawa mobil sendiri.

Namun, melihat putri mereka tersenyum sebahagia itu membuat keduanya kembali luluh.

Mereka tidak tahu, bagi Aluna, izin kecil yang baru saja didapatkannya malam itu adalah langkah pertama menuju sesuatu yang jauh lebih besar.

1
Mira Hastati
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!