Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Bisikan Malam dan Janji di Balik Tirai Privat
Makan malam yang penuh kejutan dan ketegangan itu akhirnya usai. Udara malam kota Jakarta yang dingin menyambut ketika pintu kaca restoran fine dining tersebut terbuka. Di pelataran parkir khusus VIP, dua mobil mewah—Rolls-Royce hitam milik keluarga Dirgantara dan Mercedes-Benz putih milik keluarga Pramudya—sudah bersiap menyambut tuannya masing-masing.
Namun, sebelum mereka benar-benar berpisah malam itu, Hendra Dirgantara berdeham pelan, menahan langkah semua orang di area teras restoran yang sepi dan eksklusif.
"Surya, Maria, Sarah," panggil Hendra dengan wibawa khasnya. "Karena anak-anak kita sudah... saling mengenal dengan cara yang sangat unik tadi, saya rasa tidak ada alasan lagi untuk mengulur waktu."
Exel yang sedang membetulkan kancing jasnya mendadak menghentikan gerakannya. Tatapan matanya yang dingin langsung mengarah pada sang papa. Di sampingnya, Alexa yang sedang berusaha merapikan rambutnya yang agak berantakan seketika membeku, memegang tali tas kecilnya erat-erat.
"Maksud Papa apa?" tanya Exel dengan nada suara rendah yang penuh kewaspadaan.
Surya Pramudya tersenyum lebar, memegang bahu istrinya. "Saya setuju, Hendra. Lebih baik kita langsung tentukan tanggal acara pertunangan mereka. Tidak perlu pesta yang terlalu megah dan terbuka untuk media dulu. Kita buat acara privat saja."
"Benar sekali!" Maria menggenggam kedua tangan Sarah dengan binar mata antusias. "Hanya untuk keluarga inti dan orang-orang tersayang. Paling banyak... dua puluh sampai tiga puluh orang saja. Yang penting sakral, hangat, dan mengikat mereka berdua secara sah di mata dua keluarga."
"Tunggu, tunggu, tunggu!"
Suara cempreng Alexa memecah ketegangan, melengking tinggi hingga membuat seorang pelayan restoran yang berdiri di dekat pintu sedikit melonjak terkejut. Alexa maju satu langkah, matanya yang bulat menatap orang tuanya dan orang tua Exel secara bergantian dengan raut wajah panik yang tak dibuat-buat.
"Tant—maksud Alexa, Tante Maria, Om Hendra... ini gak kemajuan banget?" cerocos Alexa tanpa henti, jarinya menunjuk-nunjuk kaku ke udara. "Alexa ini minggu depan ada ujian semester! Terus Alexa masih harus mikirin tugas kelompok, latihan ekstrakulikuler, belum lagi—"
"Alexa," potong Sarah lembut namun mematikan. "Acara pertunangan tidak akan mengganggu sekolahmu. Lagipula, ini cuma pesta privat. Kamu cuma perlu memakai gaun yang cantik, duduk manis, dan memasangkan cincin."
"Tapi Ma! Masang cincin sama Pria Es Batu ini?!" jerit Alexa pelan, menunjuk Exel dengan lirikan maut. "Tatapannya aja udah kaya mau makan Alexa hidup-hidup! Nanti kalau pas dipasangin cincin jari Alexa dipatahkan gimana?!"
Achmad yang berdiri dua langkah di belakang Exel refleks menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Suara batuk buatannya terdengar konyol saat ia berusaha setengah mati menahan tawa membayangkan CEO paling ditakuti di dunia bisnis itu dituduh bakal mematahkan jari seorang anak SMA.
Exel memejamkan matanya rapat-rapat. Urat di pelipisnya bertambah tegang. Kata-kata yang keluar dari bibir mungil gadis itu benar-benar menguji batas kesabarannya yang biasanya setipis kertas.
"Papa, Mama," suara Exel terdengar berat dan dingin, memotong kepanikan Alexa. "Bisa beri kami waktu bicara sebentar? Berdua saja."
Hendra dan Maria saling pandang sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju.
"Bagus," ujar Hendra. "Bicaralah baik-baik di sudut taman itu. Jangan kaku begitu, Exel."
"Yuk, Sarah, Surya... kita tunggu di dalam mobil saja biar anak-anak bisa mengobrol," ajak Maria ramah. Sebelum melangkah pergi, Maria sempat berbisik manis pada Alexa, "Jangan takut ya, Cantik. Exel itu kelihatan galak di luar saja, aslinya dia sangat penyayang."
Alexa hanya meringis kaku. Penyayang dari mananya? Penyayang macan iya! batin Alexa menjerit.
Satu per satu orang tua mereka berjalan menuju area parkir, meninggalkan Exel dan Alexa berdiri berhadapan di area taman privat restoran yang dihiasi lampu-lampu taman bernuansa kuning hangat. Achmad dengan sigap berdiri di jarak yang cukup jauh—menjaga privasi bosnya tapi tetap memasang telinga lebar-lebar untuk menonton drama gratis ini.
Atmosfer mendadak berubah menjadi sangat canggung. Angin malam yang berembus pelan menerbangkan sehelai rambut Alexa, sementara Exel berdiri tegap dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana bahannya. Posturnya yang tinggi dan tegap benar-benar membuat Alexa terasa sangat mungil di hadapannya.
Exel menatap gadis di depannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Harus ia akui, malam ini Alexa tampak berbeda dibanding tadi pagi saat memakai helm bogo beruangnya. Dress berwarna pink pastel itu sangat pas di tubuh mungilnya, memancarkan kesan polos dan cantik bak boneka porselen. Namun, begitu mengingat betapa cempreng dan kurang ajarnya gadis ini, kekaguman samar di otak Exel langsung menguap begitu saja.
"Dengar, Bocah Cempreng," buka Exel dengan suara dalam dan datar, memecah keheningan.
Alexa langsung mendongak, bersedekap dada sambil memayunkan bibirnya. "Nama aku Alexa Pramudya! Bukan Bocah Cempreng, ya! Dasar Pria Kanebo Kering!"
Exel menggeram pelan, melangkah satu pijakan lebih dekat. Bayangan tubuh tingginya langsung menutupi Alexa. "Jaga bicaramu. Kamu tahu siapa yang sedang kamu ajak bicara sekarang?"
"Tahu! Om-om galak, kaku, kaya es batu yang kebetulan punya perusahaan gede dan hobi pamer mau beli sepuluh motor!" cerocos Alexa tanpa rasa takut sedikit pun. Sejak kecil, Alexa memang paling tidak bisa diintimidasi. Makin ditatap galak, makin heboh ia membalasnya.
Exel menatap Alexa dalam-dalam. Biasanya, hanya dengan satu tatapan tajam darinya, para staf, klien bisnis, bahkan musuh politiknya akan menunduk ketakutan. Tapi gadis mungil berumur belasan tahun ini? Dia justru menatap balik matanya dengan pijar keberanian yang sangat menjengkelkan sekaligus... asing bagi Exel.
Exel menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya agar tidak meledak. Ia menarik tangannya dari saku, melipatnya di dada.
"Aku tidak punya waktu untuk melayani drama anak SMA seperti kamu," kata Exel dingin. "Soal pertunangan ini... aku juga dituntut oleh orang tuaku. Ini bukan kemauanku."
Alexa sedikit tertegun. Raut heboh di wajahnya sedikit mereda, digantikan oleh rasa ingin tahu. "Jadi... kamu juga gak mau dijodohin sama aku?"
"Tentu saja tidak," sahut Exel kaku tanpa ragu sedikit pun. "Kamu terlalu bising, tidak bisa diatur, dan sama sekali bukan tipe wanita yang aku inginkan."
Alexa menepuk dadanya sendiri, pura-pura terkejut dengan raut wajah mendramatisir. "Wah, sombongnya luar biasa! Kamu pikir kamu tipe aku?! Tipe cowok idaman aku itu yang ramah, manis, humoris kaya member boyband Korea! Bukan yang mukanya ditekuk terus kaya dompet tanggal tua!"
"Kamu—" Exel memotong ucapannya sendiri, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan saraf kepalanya yang mendadak pening. "Terserah. Yang jelas, acara pertunangan privat ini akan tetap terjadi."
"Lho?! Kenapa tetap terjadi kalau kita berdua sama-sama gak mau?!" protes Alexa heboh lagi.
Exel menatap lurus ke arah mata bulat Alexa. Tatapannya mendadak berubah sangat serius dan sarat akan ketegasan. "Karena aku menyayangi Ibuku. Dan kamu... kalau kamu punya rasa hormat pada orang tuamu, kamu tidak akan membuat mereka kecewa di depan umum."
Alexa bungkam seketika. Kata-kata Exel barusan menghantam tepat di dadanya. Ia teringat raut wajah papanya yang begitu berharap dan senyuman mamanya yang sangat bahagia saat membicarakan janji mendiang kakeknya tadi. Alexa memang nakal dan heboh, tapi ia paling tidak tega jika harus menghancurkan kebahagiaan orang tuanya.
Melihat Alexa yang mendadak diam dengan mata yang agak meredup, ada sedikit rasa bersalah yang terbit di hati Exel. Namun, pria itu dengan cepat mengabaikannya.
"Perjodohan ini hanya formalitas," lanjut Exel dengan nada yang lebih tenang. "Aku sudah membuat kesepakatan dengan Papaku. Kita jalani pertunangan ini selama enam bulan. Hanya enam bulan. Acara pertunangan nanti hanya akan dihadiri keluarga dekat dan orang-orang kepercayaan. Tidak ada media, tidak ada pesta besar-besaran."
Alexa mendongak pelan. "Enam bulan?"
"Ya. Dalam enam bulan, kita bisa berpura-pura mencoba. Setelah itu, kita bilang pada orang tua kita bahwa kita memang tidak cocok dan berpisah secara baik-baik. Tanpa ada yang disakiti," jelas Exel panjang lebar—sebuah rekor bicara terpanjangnya untuk orang luar dalam beberapa tahun terakhir.
Alexa mencerna kalimat demi kalimat dari pria di depannya. Pikiran anak sekolahnya mencoba menimbang-nimbang. Enam bulan aja? Terus acaranya privat cuma 20-30 orang? Berarti Rin, Safi, sama Melati gak perlu tahu dong? Teman-teman sekolah juga gak bakal tahu kalau aku tunangan sama om-om ini!
"Jadi... di sekolah aku tetap bisa hidup bebas kaya biasa?" tanya Alexa memastikan, matanya kembali berbinar curiga.
"Tentu saja. Aku tidak punya kepentingan untuk mencampuri urusan sekolahmu," jawab Exel datar. "Tapi ingat satu hal."
Exel memajukan tubuhnya sedikit, menunduk hingga jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa puluh sentimeter. Bau harum parfum masculine woody mahal milik Exel mendadak menusuk indra penciuman Alexa, membuat jantung gadis itu berdegup kencang secara tidak wajar.
"Selama status kita masih bertunangan di mata keluarga," bisik Exel dengan suara rendah yang berat, "jaga sikapmu. Jangan buat masalah yang bisa mencoreng nama baik keluargaku atau keluargamu. Paham, Bocah Cempreng?"
Alexa menelan ludahnya kaku. Aura dominan dari pria di depannya ini benar-benar terasa menekan. Namun, gengsi tinggi Alexa menolak untuk terlihat lemah. Gadis mungil itu sengaja berjinjit sedikit untuk menyetarakan tingginya, menatap lurus ke mata tajam Exel.
"Paham, Om Es Batu!" balas Alexa setengah berbisik namun penuh penekanan. "Dan satu lagi! Jangan pernah panggil aku 'Bocah Cempreng' kalau di depan orang lain! Panggil nama aku!"
Exel hanya mengetatkan rahangnya, tidak berniat mengabulkan permintaan itu. Ia menegakkan kembali tubuhnya, lalu berbalik membelakangi Alexa.
"Sana masuk ke mobil orang tuamu. Sudah malam," perintah Exel dingin seraya melangkah pergi menuju mobil Rolls-Royce miliknya.
Alexa mengepalkan tangan mungilnya ke udara, memeragakan gerakan memukul punggung lebar Exel dari belakang tanpa bersuara. "Hih! Ngeselin banget! Dasar manusia tanpa ekspresi!" gerutu Alexa pelan sebelum akhirnya berlari-lari kecil menuju mobil orang tuanya.
Di dekat mobil, Achmad yang menyaksikan seluruh interaksi tersebut langsung menyegat Exel begitu pria itu mendekat. Achmad membukakan pintu mobil untuk bosnya sambil menahan cengiran lebar yang hampir meledak.
"Gimana, Bos? Sudah selesai negosiasi bisnis masa depannya?" goda Achmad santai saat mereka berdua sudah duduk di dalam mobil yang mulai melaju membelah jalanan malam Jakarta.
Exel menyandarkan punggungnya di jok kulit yang empuk, memejamkan mata kencang. "Gua pusing, Mad."
Achmad tertawa kecil sambil fokus memegang kemudi. "Pusing kenapa? Perasaan tadi gua lihat lu lancar banget ngobrolnya. Biasanya sama cewek jangankan ngobrol lima menit, dilirik aja kaga."
"Dia bukan cewek biasa," desis Exel tanpa membuka mata. "Dia itu bencana. Suaranya bikin kepalaku mau pecah, kelakuannya tidak ada anggun-anggunnya sama sekali."
"Tapi cantik kan?" tembak Achmad jahat. "Jujur lu, Cel. Pas dia pakai baju pink tadi, imut kan kaya boneka?"
Exel membuka matanya seketika, menatap tajam ke arah kaca spion tengah untuk memotong pandangan Achmad. "Fokus menyetir atau gua turunkan lu di tol."
Achmad terkekeh pasrah, mengangkat satu tangannya. "Siap, Bapak CEO yang terhormat! Tapi jujur ya, Cel... gua rasa takdir lagi bercanda sama lu. Lu yang dingin kaya es kutub dipasangkan sama cewek yang hangat dan meledak-ledak kaya kembang api. Kita lihat aja dalam enam bulan ini... siapa yang bakal menyerah duluan."
Exel tidak membalas lagi. Ia kembali menatap keluar jendela mobil, menyaksikan kerlip lampu kota yang membayang di kaca. Di dalam hatinya, sebuah benteng pertahanan yang kuat telah berdiri kokoh. Enam bulan, batinnya menegaskan. Hanya enam bulan, lalu semua drama gila ini akan berakhir.
Di dalam mobil Mercedes-Benz putih yang berjalan beberapa ratus meter di belakang mereka, Alexa sedang menyandarkan kepalanya di kaca jendela. Ibunya, Sarah, tak henti-hentinya tersenyum sambil memandangi putrinya dari samping.
"Gimana, Alexa? Sudah ngobrol apa saja sama Exel?" tanya Sarah penasaran.
Alexa menghela napas panjang, memutar bolanya malas. "Gak ada, Ma. Cuma bahas soal acara pertunangan nanti."
"Dia ganteng kan, Sayang?" goda Sarah lagi.
Alexa teringat sejenak pada tatapan mata cokelat gelap dan wangi parfum pria itu saat jarak mereka begitu dekat tadi. Wajah mungil Alexa mendadak terasa sedikit hangat, namun dengan cepat ia menepis perasaan aneh itu.
"Ganteng dari mananya sih, Ma? Gantengan juga idol Korea kesukaan Alexa!" cerocos Alexa menutupi kegugupannya. "Lagian dia itu kaku banget, Ma! Nanti pas acara pertunangan privat itu, Alexa gak mau ya ada acara pegangan tangan lama-lama! Nanti tangan Alexa ikutan membeku!"
Surya yang duduk di kursi depan hanya bisa tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan putrinya. "Ada-ada saja kamu ini, Alexa. Ya sudah, yang penting kamu sudah setuju dengan acara privat ini. Minggu depan kita mulai fitting baju."
"MINGGU DEPAN?!" jerit Alexa lagi dengan suara cempreng khasnya yang kembali memenuhi kabin mobil.
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang sama, dua manusia dari dunia yang saling bertolak belakang telah menyepakati sebuah perjanjian bisu. Sebuah pertunangan privat yang awalnya dirancang sebagai formalitas enam bulan, tanpa mereka sadari, akan menjadi awal dari kekacauan manis yang akan mengubah hidup mereka selamanya.