Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Mafia di Biara

Sang Mafia di Biara

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Gizelly Ladislau

Dante Herrera adalah bos organisasi kriminal paling ditakuti—seorang pria yang tumbuh di dunia penuh timah panas, perintah, dan darah. Namun ketika sebuah bom menghancurkan helikopternya, takdir menjatuhkannya ke tempat yang paling mustahil: halaman sebuah biara yang sunyi.

Mary Mendez baru delapan belas tahun. Seorang yatim piatu yang dibesarkan di balik tembok biara, hidupnya adalah doa, ketenangan, dan kasih tanpa syarat untuk anak-anak panti asuhan. Sampai ia menemukan pria berlumuran darah itu di halaman—dan sesuatu dalam hatinya berbisik bahwa kedatangannya akan mengubah segalanya.

Dua dunia yang seharusnya tak pernah bersinggungan kini saling bertaut. Sang mafia yang tak percaya cinta, dan sang suster yang terikat sumpah pada Tuhan. Setiap tatapan adalah dosa. Setiap detak jantung adalah pertaruhan. Dan semakin keras mereka berusaha menjauh, semakin dalam mereka terjerat.

Namun cinta terlarang bukan satu-satunya bahaya. Rahasia masa lalu, sebuah keluarga yang mengubah gairah menjadi setia, dan musuh lama yang haus balas dendam—semua bersiap menyeret mereka ke dalam badai yang belum pernah mereka bayangkan.

Bisakah kemurnian menyelamatkan seorang pria yang tangannya berlumur dosa? Dan sanggupkah cinta bertahan ketika seluruh dunia menuntut mereka berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gizelly Ladislau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Foto Kostum Para Tokoh untuk Acara Amal:

Mary

Natália

Bárbara

Graziela

Keluarga Herrera

POV Mary Mendez

Sepanjang perjalanan menuju acara itu, jantungku serasa ingin melompat keluar dari dada.

Begitu pintu limosin tertutup, Dante menarikku mendekat tanpa peduli pada siapa pun di sekitar kami. Lengannya melingkari pinggangku erat-erat, seolah ia butuh memastikan bahwa aku benar-benar ada di sana.

"Kamu tidak tahu betapa aku merindukanmu, putriku..." bisiknya di dekat telingaku.

Ciumannya menyusul segera setelah itu, dalam, penuh kerinduan dan perasaan yang terpendam selama minggu-minggu terpisah. Untuk pertama kalinya tidak ada keraguan di matanya. Hanya cinta.

Ketika kami menjauh, kulihat bukan hanya kami berdua.

Giovanni benar-benar terkejut.

Bárbara, yang selama ini selalu menghindarinya, kini justru memeluknya.

Sebuah pelukan yang tulus.

Tanpa ejekan.

Tanpa perdebatan.

Tanpa penghalang.

Beberapa detik Giovanni terpaku, tak percaya.

"Kamu tidak mau bilang apa-apa?" tanya Bárbara pelan.

"Kalau aku bicara, aku akan merusak momen ini."

Bárbara tersenyum.

Lalu ia membiarkan Giovanni menciumnya.

Ciuman yang lambat dan lembut, yang membuat Giovanni memejamkan mata seolah sedang mewujudkan mimpi yang mustahil.

Di samping mereka, Graziela gemetar gugup.

Kevin menggenggam kedua tangannya.

"Hei... lihat aku."

Graziela menurut.

"Kamu cantik sekali."

Kevin mengangkat tangan Graziela ke bibirnya dan menciumnya lembut.

Gerakan sederhana itu sudah cukup untuk menenangkannya.

Kemudian ia memeluk Graziela ke dadanya.

"Ada aku di sini."

Graziela menarik napas dalam-dalam.

Lalu Kevin mencium pipinya dengan sayang sebelum akhirnya menemukan bibirnya dalam ciuman yang romantis dan tenang, membuat Graziela benar-benar rileks.

Di sisi lain limosin, Natália menatap jendela, mencoba menyembunyikan rasa takutnya.

Malam itu terasa terlalu megah.

Ia merasa tidak pantas berada di dunia semacam itu.

Namun Pietro memegang wajahnya dan memaksanya menatapnya.

Matanya serius.

Tajam.

Dalam.

Penuh perasaan yang jarang ia perlihatkan.

"Berhenti terlalu banyak berpikir."

"Pietro..."

Pietro tidak membiarkannya melanjutkan.

Ia hanya menciumnya.

Ciuman yang sarat kerinduan, hasrat, dan perlindungan.

Untuk pertama kalinya Pietro membiarkan emosinya terlihat sepenuhnya.

Dan Natália merasakan jantungnya berdegup kencang.

Ketika limosin akhirnya berhenti di depan rumah sakit yang baru diresmikan, semua menarik napas dalam-dalam.

Saatnya telah tiba.

Pintu-pintu terbuka.

Dan seketika lampu-lampu kamera mulai berkilat.

Reporter.

Fotografer.

Wartawan.

Para pengusaha.

Tokoh-tokoh penting.

Sepertinya semua orang berhenti hanya untuk menatap mereka.

Para bersaudara Herrera turun lebih dulu.

Elegan.

Berwibawa.

Berbalut hitam.

Memancarkan kekuasaan dan rasa hormat di setiap langkah mereka.

Tetapi malam itu bukan mereka yang paling menarik perhatian.

Melainkan para wanita di samping mereka.

Mary.

Natália.

Bárbara.

Graziela.

Para mantan novis yang kini bersinar dalam gaun pesta yang layak dikenakan para putri.

Para fotografer nyaris berebut tempat.

"Tuan Dante!"

"Satu foto ke sini!"

"Siapa gadis-gadis ini?"

"Tuan Pietro!"

"Tuan Giovanni!"

"Tuan Kevin!"

Para bersaudara hanya tersenyum tipis.

Mereka berpose untuk beberapa foto di samping pasangan masing-masing, lalu melangkah menuju pintu utama.

Bahkan di dalam aula pun mereka terus menyita pandangan.

Mustahil untuk mengabaikan mereka.

Selama upacara resmi, Consuelo naik ke atas panggung.

Elegan seperti biasa.

Bangga.

Terharu.

Ia secara resmi memperkenalkan rumah sakit itu dan menjelaskan program bantuan bagi anak-anak yatim dan anak-anak sakit yang membutuhkan perawatan.

Tak lama kemudian ia memperkenalkan gadis-gadis itu.

Ia bercerita tentang kerja sukarela mereka.

Tentang dedikasi mereka.

Tentang cinta yang mereka berikan kepada anak-anak setiap hari.

Seluruh aula memberikan tepuk tangan sambil berdiri.

Mary merasakan air matanya mulai muncul.

Natália menggenggam tangannya.

Bárbara tersenyum tipis.

Graziela tampak nyaris menangis.

Lalu terjadilah sesuatu yang bahkan lebih indah.

Donasi mulai berdatangan.

Satu demi satu.

Para pengusaha.

Keluarga-keluarga berpengaruh.

Berbagai yayasan.

Semua ingin ikut menyumbang.

Dalam beberapa jam, angka yang mencengangkan telah terkumpul untuk menjamin perawatan, obat-obatan, dan perbaikan bagi anak-anak.

Jauh lebih besar daripada yang pernah dibayangkan siapa pun di antara mereka.

Namun di meja utama, emosi lain sedang berlangsung.

Pasangan-pasangan itu tetap duduk berdampingan.

Mereka jarang bicara.

Nyaris tak sepatah kata pun.

Karena memang tidak perlu.

Tatapan mereka sudah mengatakan segalanya.

Dante memandangi Mary setiap kali ia bisa.

Dan setiap kali mata mereka bertemu, Mary merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

Giovanni tak mampu menyembunyikan senyumnya ketika Bárbara memalingkan pandangan, jelas-jelas malu.

Kevin membiarkan tangannya menutupi tangan Graziela di bawah meja.

Sebuah gerakan sederhana.

Namun penuh kasih sayang.

Dan Pietro...

Pietro memandang Natália seolah ialah satu-satunya orang di aula raksasa itu.

Tak sepatah kata pun terucap.

Tak ada pengakuan yang perlu diucapkan.

Karena malam itu mereka semua memahami sesuatu yang penting.

Cinta itu sudah ada.

Mungkin belum sepenuhnya diakui.

Mungkin masih ada rintangan.

Tapi cinta itu ada di sana.

Diam.

Kuat.

Mustahil untuk disangkal.

Dan saat musik elegan memenuhi aula dan para tamu merayakan kesuksesan malam yang tak terlupakan itu, empat pasangan saling bertukar tatapan yang sarat janji akan masa depan yang mulai terbentang di hadapan mereka.

Masa depan yang tak seorang pun dari mereka berani tinggalkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!