Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Vroom!
Suara mesin mobil Ferrari hitam membelah jalanan pesisir utara Jakarta dengan kecepatan tinggi.
Ardi memutar setir kemudinya dan memasuki kawasan Pelabuhan Marina Batavia yang dipenuhi deretan kapal pesiar mewah.
Angin laut berembus menyegarkan wajah Ardi saat dia memarkirkan mobilnya di area VIP pelabuhan tersebut.
Dia melangkah keluar dari mobil dan langsung disambut oleh pemandangan lautan biru yang sangat indah.
Mata Ardi menyapu dermaga dan langsung tertuju pada sebuah kapal pesiar raksasa berwarna putih bersih.
Kapal itu memiliki lima tingkat dek, helipad di bagian atas, dan ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari kapal mana pun di sana.
"Itu pasti Sea King milikku, ukurannya benar-benar tidak masuk akal," gumam Ardi sambil tersenyum puas.
Ardi berjalan santai menyusuri dermaga kayu menuju tempat kapal pesiar raksasa itu bersandar.
Namun, langkah Ardi sedikit terhenti saat melihat kerumunan orang berpakaian mewah berkumpul di dekat tangga masuk kapalnya.
Ada puluhan selebriti, model cantik, dan para pengusaha kaya yang sedang mengadakan pesta minum sampanye di sana.
Mereka sengaja berpesta di dekat kapal Sea King hanya untuk menumpang foto dengan latar belakang kapal termewah itu.
Ardi terus berjalan mendekat tanpa mempedulikan tatapan heran dari beberapa tamu elit di sana.
Tap tap tap.
Suara langkah sepatu Ardi terdengar saat dia melewati kerumunan orang-orang kaya tersebut.
"Hei lihat, siapa pemuda tampan yang baru datang itu?" bisik seorang artis wanita dengan mata berbinar.
"Penampilannya sangat berkelas, apakah dia salah satu aktor pendatang baru?" timpal temannya penasaran.
Tiba-tiba, sebuah suara tawa wanita yang sangat nyaring dan mengganggu terdengar dari arah meja bar sementara.
Ardi menoleh dan matanya langsung menyipit melihat sosok wanita bergaun merah ketat yang sedang memegang gelas anggur.
Itu adalah Siska, mantan pacarnya yang tidak tahu malu, yang baru saja dia usir kemarin sore.
Siska sedang bergelayut manja di lengan seorang pria tua botak dengan perut buncit dan cerutu di mulutnya.
"Tuan Darmawan memang yang paling hebat, Anda bahkan bisa membawa saya ke pesta eksklusif ini," rayu Siska dengan nada menjilat.
"Tentu saja sayang, aku adalah salah satu pengusaha kapal kargo terbesar di pelabuhan ini," jawab pria tua bernama Darmawan itu dengan sombong.
Siska tertawa dibuat-buat, namun tawanya mendadak terhenti saat matanya tidak sengaja bertatapan dengan Ardi.
Wajah Siska seketika berubah menjadi kaku dan matanya membelalak lebar karena terkejut.
Rasa malu dan marah yang dia rasakan kemarin sore kembali mendidih di dalam dadanya saat melihat wajah tenang Ardi.
"Sedang apa kau di tempat elit seperti ini Ardi!" bentak Siska sambil melangkah maju meninggalkan Darmawan.
Semua tamu pesta langsung menoleh ke arah mereka berdua karena teriakan Siska yang sangat keras.
Ardi hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menatap Siska dengan pandangan merendahkan.
"Aku hanya sedang berjalan menuju properti milikku, kenapa kau harus berteriak seperti orang gila?" jawab Ardi santai.
"Properti milikmu? Jangan membuatku tertawa sampai mati Ardi!" ejek Siska dengan suara melengking.
"Kau mungkin menipuku kemarin dengan menyewa gedung kantor itu, tapi ini adalah pelabuhan internasional!" tambah Siska bersikeras menyangkal kekayaan Ardi.
Siska masih tidak mau menerima kenyataan bahwa pria yang dia campakkan adalah seorang triliuner.
Darmawan yang melihat pacar barunya marah langsung berjalan mendekat sambil membusungkan perut buncitnya.
"Ada apa ini sayang? Siapa pemuda ingusan yang berani mengganggumu ini?" tanya Darmawan sambil menatap Ardi dari atas ke bawah.
"Dia ini mantan pacarku yang miskin dan gila itu Tuan Darmawan," adu Siska sambil merangkul lengan pria tua itu.
"Dia pasti menyelinap masuk ke pelabuhan ini untuk mencari sisa makanan dari pesta kita," fitnah Siska tanpa ampun.
Ardi menggelengkan kepalanya pelan melihat betapa bodoh dan rendahnya pola pikir mantan pacarnya itu.
"Kalian berdua benar-benar pasangan yang serasi, sama-sama buta dan suka berhalusinasi," ucap Ardi dengan senyum sinis.
"Jaga mulutmu bocah! Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa hah!" bentak Darmawan merasa terhina.
"Aku adalah Darmawan, pemilik puluhan kapal kargo yang beroperasi di pelabuhan Batavia ini!" pamer pria tua itu dengan suara lantang.
Beberapa tamu pesta mulai berbisik-bisik membenarkan ucapan Darmawan karena pria itu memang cukup terkenal di sana.
"Lalu apa urusannya denganku? Kapal kargomu itu tidak ada bedanya dengan perahu nelayan di mataku," balas Ardi sangat dingin.
Wajah Darmawan memerah padam seperti kepiting rebus mendengar hinaan yang sangat merendahkan itu.
"Kurang ajar! Keamanan! Seret gembel ini keluar dari area pelabuhan sekarang juga!" teriak Darmawan memanggil petugas.
Dua orang petugas keamanan pelabuhan segera berlari mendekat mendengar keributan tersebut.
"Lihat saja Ardi, Tuan Darmawan akan membuatmu berlutut meminta ampun hari ini juga!" ancam Siska dengan senyum penuh kemenangan.
"Kau hanya beruntung kemarin, tapi di sini kekuasaan Tuan Darmawan adalah hukum mutlak!" tambah wanita licik itu.
Ardi sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri, dia justru menatap ke arah kapal Sea King di belakang mereka.
"Cepat usir dia Pak Satpam! Pemuda ini penyelundup yang ingin merusak pesta kami!" perintah Siska pada kedua petugas yang baru tiba.
Namun, sebelum kedua petugas keamanan itu berani menyentuh Ardi, sebuah suara berat terdengar dari arah tangga kapal.
"Hentikan tindakan bodoh kalian sekarang juga!" bentak suara pria bule berpakaian seragam kapten pelaut berwarna putih bersih.
Semua orang langsung menoleh ke arah tangga kapal pesiar Sea King.