Indonesia
NovelToon NovelToon
SHADOWS OF THE THRONE

SHADOWS OF THE THRONE

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Iblis / Tamat
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: IΠD

Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Servant

Gerobak kuda beroda kayu itu berhenti dengan sentakan kasar di depan sebuah rumah pelayan tua yang terpencil di sayap barat istana. Malam itu, embusan angin musim dingin membungkus lingkungan sekitar dengan hawa yang membekukan. Seorang pengawal istana turun lebih dulu, menarik tudung jubahnya untuk menghindari terjangan salju, lalu membuka pintu belakang gerobak. Di dalam dekapannya, ia membawa keranjang kayu beralaskan kain kasar tempat sang bayi laki-laki berbaring.

​Pengawal itu melangkah cepat menuju pintu kayu lapuk dan mengetuknya tiga kali dengan keras. Tak lama kemudian, pintu berderit terbuka, menampakkan wajah seorang wanita paruh baya—Nyonya Martha—bersama suaminya, seorang tukang kebun istana bernama Goro. Keduanya langsung membungkuk hormat dengan tubuh gemetar.

​"Cepat, ambil anak ini," bisik pengawal itu tajam, menyerahkan keranjang kayu tersebut ke tangan Martha. "Ingat perintah Raja. Mulai detik ini, ia tidak memiliki garis keturunan kerajaan. Di akta asuh dan catatan harian keluarga kalian, ia adalah anak kandung kalian yang baru lahir, dan namanya adalah Aragoto."

​Goro menelan ludah dengan susah payah, mengangguk kaku sambil merangkul istrinya yang mulai terisak pelan. "Kami mengerti, Tuan. Kami akan merawatnya dengan nyawa kami," jawab Goro dengan suara tercekat. Tanpa membuang waktu, sang pengawal langsung berbalik dan meninggalkan mereka berdua di tengah salju yang semakin lebat.

​Di dalam rumah yang hangat oleh nyala perapian batu, Martha dan Goro mendekati meja kecil di dekat perapian. Mereka membuka kain penutup keranjang dengan hati-hati, menatap bayi mungil yang menjadi pusat dari rahasia terbesar kerajaan malam itu.

​"Lihatlah wajahnya, Goro..." bisik Martha dengan suara bergetar, air matanya jatuh menetes mengenai ujung kain wol. "Ia adalah kakak dari sang Putri Mahkota. Darah yang sama mengalir di nadinya, tetapi takdir telah merenggut segalanya dari anak malang ini."

​Goro mendekat, merangkul bahu istrinya dengan penuh kelembutan. Wajah pria paruh baya itu tampak tegar, meski matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. "Jangan pernah sebutkan hal itu lagi, Martha. Mulai malam ini, di rumah kecil ini, ia bukan lagi seorang pangeran yang terbuang. Ia adalah anak kita... ia adalah Aragoto."

​Martha mengangguk pelan. Ia menyeka air matanya, lalu perlahan mengangkat tubuh mungil bayi itu ke dalam dekapannya. Namun, di tengah ketegangan dan isak tangis kedua orang tua angkatnya, Aragoto kecil tidak menunjukkan ketakutan sama sekali. Bayi itu hanya terdiam tenang, kelopak matanya perlahan menutup, dan ia jatuh tertidur pulas dalam kehangatan pelukan pertama di dunia barunya yang penuh dengan bayang-bayang.

Suasana di dalam rumah kecil keluarga pelayan itu perlahan mereda setelah derap kaki pengawal istana benar-benar hilang ditelan badai salju di luar. Di sudut ruangan, nyala api dari perapian batu memancarkan kehangatan, mengusir hawa dingin yang sempat mencengkeram.

​Martha berdiri di dekat meja dapur kayu, tangannya cekatan meracik bahan-bahan yang telah ia siapkan dengan penuh kehati-hatian. Berbekal pengalamannya bertahun-tahun merawat anak-anak di lingkungan istana, ia meramu campuran susu nabati hangat, madu hutan pilihan, dan sari biji-bijian bernutrisi tinggi yang tekstur serta rasanya dibuat menyerupai air susu ibu.

​Goro mendekati istrinya, memperhatikan setiap gerakan tangan Martha dengan tatapan penuh rasa cemas. "Apakah ramuan itu akan aman untuk bayi sekecil itu, Martha? Ia baru saja lahir dan melewati malam yang mengerikan," bisik Goro dengan nada khawatir.

​Martha menghentikan sejenak pekerjaannya, menoleh ke arah suaminya dengan senyuman tipis yang menenangkan. "Tenanglah, Goro. Aku tahu apa yang kulakukan," jawab Martha dengan suara lembut namun sarat akan pengalaman. Ia mengaduk cairan hangat di dalam mangkuk kecil itu perlahan, lalu meniupnya pelan untuk memastikan suhunya pas. "Bertahun-tahun aku bekerja di dapur istana dan merawat anak-anak para pengabdi. Tubuh mungil ini butuh nutrisi yang tepat agar ia bisa bertahan hidup di tengah dinginnya dunia."

​Martha kemudian beralih ke ranjang kecil darurat yang mereka siapkan di dekat perapian. Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan penuh kelembutan, ia mengangkat tubuh mungil Aragoto ke dalam dekapannya. Bayi laki-laki itu sempat menggeliat kecil, napasnya terdengar tipis, namun matanya masih terpejam rapat.

​"Anak baik... anak manis..." bisik Martha penuh kasih sayang, seolah ia sedang menumpahkan seluruh rasa keibuannya pada bayi yang bukan darah dagingnya sendiri. Ia mulai menyuapkan cairan hangat itu tetes demi tetes menggunakan sendok perak kecil khusus bayi.

​Goro berlutut di sebelah istrinya, mengulurkan tangan kasarnya untuk menyentuh jemari mungil Aragoto yang terkepal kecil. "Lihatlah dia, Martha... begitu tenang. Seolah-olah dia tahu bahwa di tempat ini, dia tidak perlu lagi merasa takut."

​Benar apa yang dikatakan Goro. Setelah beberapa tetes cairan hangat itu masuk dan perut kecilnya terisi, kerutan di dahi Aragoto perlahan mengendur. Tangis yang tadinya nyaris pecah di perjalanan kini berganti dengan napas yang teratur dan damai. Bayi itu kembali terlelap pulas dalam dekapan hangat Martha, seolah menemukan ketenangan di pelukan ibu angkatnya yang berpengalaman.

​Martha mengusap lembut rambut hitam tipis Aragoto, sementara air mata kelegaan menetes membasahi pipinya. "Tidurlah, Aragoto kecil," gumam Martha pelan sambil mendekap bayi itu semakin erat ke dadanya. "Mulai hari ini, dunia luar boleh merenggut takhtamu, tapi di rumah ini... kau akan tumbuh dengan aman di bawah perlindungan kami."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!