Indonesia
NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Penyelamatan Berdarah dan Sangkar Ilusi yang Menghancurkan

​Di dalam kabin belakang Maybach hitam yang melesat membelah jalanan malam ibu kota, udara terasa lebih pekat daripada racun. Kaca film mobil yang gelap total memblokir segala pendaran lampu jalanan, menciptakan sebuah ruang isolasi yang mencekam bagi dua manusia di dalamnya.

​Senja Kirana duduk meringkuk di sudut jok kulit premium yang dingin. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal oleh isak tangis yang tak kunjung mereda. Seragam katering pinjamannya yang kusam tampak sangat kontras dengan kemewahan interior mobil miliaran rupiah tersebut. Ia melipat kedua kakinya, memeluk lututnya erat-erat, berusaha membuat dirinya sekecil mungkin agar tidak bersentuhan dengan pria yang duduk di sebelahnya.

​Arga Danendra duduk dalam diam. Pria itu menatap lurus ke depan, namun seluruh saraf di tubuhnya terfokus pada gadis yang sedang menangis di sudut kursi. Rahang Arga mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Setiap isakan Senja terasa seperti belati berkarat yang ditusukkan perlahan ke ulu hatinya, diputar tanpa ampun hingga ia merasa nyaris kehabisan napas.

​Perlahan, Arga memutar tubuhnya menghadap Senja. Ia mengulurkan tangan besarnya, berniat untuk merengkuh bahu gadis itu, berniat memberikan pelukan penenang seperti yang biasa ia lakukan di atas kasur busa mereka yang sempit.

​Namun, begitu ujung jari Arga menyentuh lengan Senja, gadis itu tersentak hebat seolah baru saja disengat listrik bertegangan tinggi.

​"Jangan sentuh aku!" jerit Senja parau, memukul tangan Arga dengan sisa-sisa tenaganya, menatap pria itu dengan sepasang mata bulat yang memancarkan teror absolut. "Menjauh dariku! Kumohon... jangan sentuh aku..."

​Tangan Arga membeku di udara. Matanya yang segelap obsidian membelalak samar.

​Penolakan itu tidak hanya sekadar kata-kata. Ada ketakutan murni di mata Senja. Gadis yang dulu rela mempertaruhkan nyawanya, pasang badan dari amukan rentenir hanya untuk melindunginya, kini menatapnya seolah ia adalah monster paling menjijikkan di muka bumi.

​"Senja," suara Arga serak, menelan ludah kepahitannya. "Ini aku. Kak Arga-mu. Aku tidak akan pernah menyakitimu."

​"Kau bukan Kak Arga!" bantah Senja histeris, air matanya kembali menderas. "Kak Arga tidak memiliki mobil seperti ini! Kak Arga tidak mematahkan tangan orang lain tanpa berkedip! Kau penipu! Kau iblis yang menggunakan wajahnya untuk menertawakan kemiskinanku! Turunkan aku sekarang juga!"

​"Aku tidak menertawakanmu! Aku menyembunyikan identitasku untuk melindungimu!" raung Arga kehilangan kesabaran, suaranya menggelegar di dalam kabin mobil yang kedap suara itu.

​Arga tidak tahan lagi melihat Senja menjauh darinya. Dengan satu gerakan cepat, ia menarik lengan Senja, memaksa tubuh mungil itu jatuh ke dalam pelukannya. Ia mengunci pinggang Senja dengan kedua lengannya, memeluknya dengan sangat erat dan putus asa.

​"Lepaskan!! Tuan Arga, lepaskan saya!!" Senja meronta brutal, memukul dada bidang Arga dengan kepalan tangannya yang bergetar. "Kau mempermainkanku! Kau membiarkanku menangis mencarimu keliling kota! Kau menganggapku mainan murahan!"

​"Aku mencarimu, Senja! Aku tidak pernah melepaskanmu dari pengawasanku sedetik pun!" bisik Arga tepat di telinga gadis itu, membiarkan dadanya dipukul berulang kali. "Kau adalah milikku. Kau tempatku pulang. Jangan pernah memintaku untuk melepaskanmu karena aku tidak akan pernah melakukannya."

​Senja akhirnya kelelahan. Tenaganya terkuras habis. Ia berhenti memukul, membiarkan wajahnya terbenam di dada Arga, dan menangis terisak dengan sangat menyayat hati. Ia menyadari betapa tidak berdayanya ia di hadapan kekuasaan pria ini. Di dalam mobil ini, ia hanyalah seekor burung kecil yang telah ditangkap dan dikunci paksa ke dalam sangkar emas.

​Setengah jam kemudian, iring-iringan mobil itu melambat dan berbelok memasuki sebuah gerbang besi raksasa yang dijaga ketat oleh puluhan pasukan keamanan berseragam hitam.

​Mereka telah tiba di Danendra Private Estate, sebuah kawasan hunian super eksklusif di jantung kota yang hanya dihuni oleh Arga. Mansion bergaya Eropa modern itu berdiri megah, dikelilingi oleh taman luas dan kolam air mancur berlampu kristal. Di area lobi luar, tampak beberapa mobil sport mewah terparkir.

​Rupanya, malam ini Raka mengadakan pesta kecil-kecilan di area lounge utama mansion bersama beberapa pewaris perusahaan (anak-anak konglomerat kolega bisnis Danendra Group) untuk merayakan kembalinya Arga ke singgasana.

​Mobil Maybach yang ditumpangi Arga dan Senja berhenti tepat di depan pilar lobi.

​Raka, yang mengemudikan mobil, mematikan mesin dan berbalik menatap Arga dengan pandangan cemas. "Kita sudah sampai, Ga. Tapi di lounge depan ada beberapa tamu pewaris grup bisnis yang sedang menunggu untuk menyambutmu."

​Arga mengumpat pelan. "Suruh mereka bubar. Aku tidak punya waktu untuk meladeni lintah-lintah penjilat itu. Aku akan membawa Senja ke lantai atas melewati lobi utama."

​"Mengerti," Raka mengangguk, lalu keluar dari mobil untuk membukakan pintu belakang.

​Saat pintu mobil dibuka, udara malam yang dingin berembus masuk. Cengkeraman Arga di pinggang Senja sedikit mengendur karena ia harus bergerak untuk turun.

​Bagi Senja, kelonggaran sesaat itu adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki. Adrenalin bertahan hidup yang memuncak tiba-tiba mengambil alih tubuhnya.

​Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Senja menendang pintu mobil yang setengah terbuka hingga Raka harus mundur selangkah, lalu ia mendorong dada Arga dengan sangat keras. Mengambil celah di saat Arga lengah, Senja melompat keluar dari mobil.

​"Senja! Berhenti!" teriak Arga terkejut.

​Gadis itu tidak menoleh. Ia berlari sekencang-kencangnya dengan kaki telanjang—sepatu pantofelnya tertinggal di dalam mobil. Ia berlari menaiki tangga pualam lobi mansion, berniat mencari pintu keluar lain atau tempat untuk bersembunyi dari cengkeraman pria itu.

​Namun, pandangan Senja yang kabur oleh air mata membuatnya tidak memperhatikan jalan. Begitu ia menerobos masuk melewati pintu kaca otomatis lobi utama, tubuhnya menabrak seseorang dengan sangat keras.

​Bruk!

​"Aw!! Sialan! Mata ditaruh di mana?!" jerit sebuah suara wanita yang melengking kesal.

​Senja terjerembab ke lantai marmer yang dingin. Ia mendongak, napasnya terengah-engah.

​Di depannya, berdiri sekelompok tamu yang sedang memegang gelas wine. Mereka adalah lima orang pemuda dan pemudi pewaris keluarga konglomerat yang diundang Raka malam ini. Wanita yang baru saja ditabrak Senja adalah Clarissa, putri dari seorang taipan properti yang terkenal arogan dan kejam. Clarissa mengenakan gaun merah menyala yang sangat minim, memamerkan perhiasan berlian di leher dan pergelangannya. Di sebelahnya berdiri tunangannya, Dion, seorang pemuda sombong pewaris jaringan hotel berbintang.

​Clarissa menatap jijik pada gaun merahnya yang sedikit lecek karena ditabrak, lalu beralih menatap Senja yang terduduk di lantai dengan seragam katering lusuh dan rambut berantakan.

​"Pelayan kotor dari mana ini?!" bentak Clarissa dengan nada tinggi, mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir lalat. "Berani-beraninya kau masuk ke area lobi VVIP kediaman Tuan Arga?! Pengawal! Ke mana para pengawal?! Kenapa gembel menjijikkan ini bisa berkeliaran di sini?!"

​Senja menelan ludah. Tubuhnya gemetar hebat. Ia mencoba berdiri, namun lututnya terasa ngilu. "M-Maafkan saya, Nona... S-Saya tidak sengaja... Saya hanya ingin mencari jalan keluar..."

​"Mencari jalan keluar?!" Dion, tunangan Clarissa, mendengus sinis. Ia melangkah maju dan dengan kasar menendang lengan Senja yang baru setengah berdiri, membuat gadis itu kembali jatuh ke lantai.

​"Alasan macam apa itu? Penampilanmu seperti gembel jalanan. Seragam katering pinjaman yang sudah bau keringat. Jangan-jangan kau ini pencuri yang sengaja menyelinap ke mansion ini untuk mencuri barang antik Tuan Arga, ya?!" tuduh Dion dengan suara lantang.

​Teman-teman sosialita mereka yang lain mulai tertawa merendahkan.

​"Lihat kakinya, kotor sekali tidak pakai sepatu! Menjijikkan! Dia pasti maling yang sedang dikejar pengawal!" sahut salah satu teman Clarissa, menutupi hidungnya dengan gaya berlebihan.

​"Cuih," Clarissa meludah pelan ke arah lantai di dekat Senja. "Gadis miskin sepertimu memang hanya pantas menjadi tikus got. Berani-beraninya kau menabrakku. Kau tidak tahu siapa aku, hah?! Sujud dan bersihkan gaunku sekarang, atau aku akan menyuruh pengawalku mematahkan kakimu agar kau tidak bisa mencuri lagi!"

​Penghinaan itu terdengar sangat familier di telinga Senja. Peristiwa saat ia dipaksa berlutut oleh Nyonya Vina kembali terputar di kepalanya bagaikan kaset rusak. Rasa trauma, kelelahan, dan rasa sakit karena merasa dipermainkan oleh Arga membuat pertahanan mental Senja benar-benar hancur malam ini.

​Senja tidak menangis memohon ampun. Ia hanya menundukkan kepalanya, tertawa hambar dengan air mata yang menetes membasahi lantai marmer.

​Di mana-mana sama saja, batin Senja putus asa. Dunia orang kaya selalu melihatku sebagai sampah. Dan Arga Danendra ingin memaksaku hidup di dunia yang dipenuhi oleh monster-monster seperti mereka.

​Dion yang melihat Senja malah tertawa pelan, merasa harga dirinya dilecehkan. Pemuda sombong itu maju, mencengkeram kasar lengan atas Senja, dan menarik gadis itu berdiri dengan paksa.

​"Berani kau menertawakan kami, Pelayan Sialan?! Kau pikir kau siapa?!" bentak Dion, mengangkat tangannya yang bebas bersiap mendaratkan tamparan keras ke wajah Senja.

​Namun, tangan Dion tidak pernah menyentuh kulit Senja.

​KRAK!!

​"AAAAAAARRRGGGHHH!!!"

​Jeritan kesakitan yang sangat melengking, jauh lebih mengerikan dari suara apa pun, tiba-tiba memecah kemegahan lobi tersebut.

​Dion jatuh berlutut ke lantai marmer dengan mata mendelik nyaris keluar. Pergelangan tangannya yang tadi mencengkeram lengan Senja kini telah patah, terpelintir ke arah belakang dengan sudut yang sangat tidak wajar, hingga tulang putihnya nyaris merobek kulit.

​Di belakang Dion, berdiri sesosok pria raksasa dengan aura iblis yang mematikan.

​Arga Danendra telah mencengkeram tangan pemuda itu dari belakang dan mematahkannya dalam satu gerakan kilat tanpa emosi. Kemeja hitam sutranya tampak semakin kelam oleh aura membunuh yang menguar pekat dari pori-pori kulitnya. Mata elangnya yang biasanya tenang, kini memerah menyala, menatap sekumpulan tamu arogan itu seolah mereka adalah tumpukan daging mati.

​Clarissa dan teman-temannya menjerit histeris, mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi. Gelas wine di tangan mereka jatuh pecah berserakan.

​"T-Tuan Arga...!!" jerit Clarissa, suaranya bergetar hebat melihat idolanya yang kejam itu baru saja mematahkan tangan tunangannya tanpa aba-aba.

​Senja yang terlepas dari cengkeraman Dion, mundur tertatih-tatih hingga punggungnya menabrak pilar marmer. Gadis itu menutup mulutnya, menatap kekejaman Arga dengan mata yang dipenuhi teror murni.

​Arga tidak memedulikan tatapan ngeri para tamunya. Ia menendang tubuh Dion yang sedang mengerang kesakitan di lantai hingga pemuda itu terpental beberapa meter.

​"Kau," suara Arga mengalun sangat rendah, serak, dan mematikan. Ia menatap Clarissa yang kini gemetar seperti daun tertiup badai. "Kau menyebut wanitaku sebagai tikus got?"

​W-Wanitanya?!

​Jantung Clarissa serasa berhenti berdetak. Seluruh aliran darah di tubuhnya membeku. Pemuda-pemudi pewaris perusahaan itu menatap Senja dengan ketidakpercayaan yang luar biasa. Pelayan katering lusuh dan kotor ini... adalah wanita milik Sang Iblis Korporat?! Mitos tentang wanita misterius yang membuat Arga menghancurkan seluruh keluarga Vina satu jam yang lalu... ternyata adalah gadis gembel ini?!

​"A-Ampun... T-Tuan Arga... s-saya tidak tahu..." Clarissa langsung menjatuhkan dirinya ke lantai, bersujud dengan gemetar, tak lagi memedulikan gaun mahalnya yang mengotori lantai marmer. "S-Saya mohon ampun... Saya buta... Tolong jangan hancurkan keluarga saya..."

​Teman-temannya yang lain ikut bersujud serentak, tubuh mereka bergetar hebat. Mereka tahu, memancing kemarahan Arga sama dengan menandatangani surat kematian bagi seluruh perusahaan orang tua mereka.

​Arga mendengus jijik. Ia melangkah maju, berdiri tepat di depan Clarissa yang sedang bersujud, lalu menginjak gaun merah wanita itu dengan sepatu kulitnya yang mengilap.

​"Kau menyuruhnya berlutut dan membersihkan gaunmu?" desis Arga, nada suaranya begitu dingin hingga bisa membekukan neraka. "Raka!"

​Raka yang baru saja masuk ke lobi langsung berdiri tegap di belakang Arga. "Ya, Bos."

​"Bawa wanita ini dan teman-temannya ke halaman belakang. Paksa mereka berlutut dan membersihkan seluruh jalan masuk mansion ini dengan lidah mereka. Jika mereka berhenti sebelum jalanan itu mengilap, cabut semua investasi Danendra Group dari perusahaan orang tua mereka, dan buat mereka menjadi gelandangan sebelum matahari terbit," titah Arga tanpa ampun.

​"Siap, Bos," Raka memberi isyarat pada belasan pengawal yang langsung menyeret Clarissa dan teman-temannya yang menangis meraung-raung memohon pengampunan.

​Sementara Dion yang tangannya patah, diseret keluar seperti binatang buruan yang sudah mati.

​Hanya butuh waktu kurang dari dua menit. Lobi yang megah itu kembali sunyi senyap. Sisa-sisa arogansi para tamu kaya raya itu telah dibersihkan secara paksa, menyisakan Arga dan Senja di ruangan yang dingin tersebut.

​Arga menarik napas panjang, mencoba menekan aura membunuhnya. Ia mengubah raut wajahnya selembut mungkin, lalu memutar tubuhnya menghadap Senja yang masih berdiri mematung di balik pilar.

​Arga melangkah mendekati gadis itu, mengulurkan sebelah tangannya.

​"Semuanya sudah aman, Senja. Mereka tidak akan pernah berani menyentuhmu lagi," ucap Arga dengan suara yang memohon, berharap gadis itu akan melihatnya sebagai pelindung, seperti saat ia melindungi Senja dari rentenir Bang Jali. "Kemarilah."

​Namun, reaksi Senja sangat jauh dari harapan Arga.

​Bukannya menyambut uluran tangan itu, Senja justru menyusut mundur, merapatkan punggungnya ke pilar marmer hingga tubuhnya bergetar. Gadis itu menatap Arga dengan bola mata yang membelalak, memancarkan ketakutan yang sangat absolut. Ia bernapas dengan cepat, menggelengkan kepalanya berkali-kali.

​"K-Kau monster..." bisik Senja parau. Air mata kembali mengalir membasahi wajahnya yang pucat pasi.

​Tangan Arga yang terulur di udara seolah membeku. Kata 'monster' yang diucapkan langsung oleh bibir gadis yang paling ia cintai terasa seperti ribuan panah beracun yang menembus jantungnya secara bersamaan.

​"Senja... aku melakukan ini untuk melindungimu," Arga berusaha menjelaskan, suaranya terdengar putus asa. "Mereka menghinamu. Mereka menyakitimu. Aku tidak bisa membiarkan siapa pun melukaimu!"

​"Melindungiku?!" Senja akhirnya menjerit, meledakkan seluruh keputusasaan dan rasa sakit di dadanya. "Kau bukan melindungiku, Arga Danendra! Kau sedang memamerkan kekuasaanmu untuk menunjukkan betapa lemahnya diriku!"

​Senja menunjuk tangan Arga yang masih terangkat dengan jari yang bergetar.

​"Kau pikir menghancurkan tangan orang, menghancurkan perusahaan orang, dan membuat mereka menjilat lantai akan membuatku kagum padamu?! Tidak! Itu membuatku muak! Itu membuatku takut setengah mati!"

​Dada Senja naik turun. Ia menangis terisak, mengeluarkan seluruh beban yang menghancurkan kewarasannya malam ini.

​"Kau mempermainkanku sejak awal! Kau tahu kau memiliki kekuasaan sebesar ini, tapi kau memilih untuk berdiam di rumah kumuhku, melihatku bekerja banting tulang menahan lapar untuk membelikanmu makanan! Kau menertawakan kemiskinanku dari balik topeng amnesiamu! Kau menjadikan rasa ibaku sebagai lelucon!"

​"Aku tidak pernah menertawakanmu!" bantah Arga keras, melangkah maju dan mencengkeram kedua bahu Senja, memaksa gadis itu menatap matanya. "Semua yang kulakukan, setiap detik yang kuhabiskan di kontrakanmu, adalah waktu paling nyata dan paling membahagiakan dalam hidupku! Aku membohongimu karena aku takut kehilangan kehangatanmu jika kau tahu aku kaya!"

​"Tapi kenyataannya kau sudah menghancurkannya!" jerit Senja meronta, memukul dada Arga. "Kau pikir aku bisa memeluk pria yang bisa menghancurkan hidup orang hanya dengan satu jentikan jari?! Kau pikir aku bisa tersenyum di sisimu sementara aku tahu kau hidup di dunia yang dipenuhi oleh monster-monster arogan seperti mereka?!"

​Senja menatap lurus ke dalam mata Arga. Air matanya tak kunjung berhenti, mencerminkan betapa patah hatinya gadis itu.

​"Di rumah kumuh itu... aku memberikan seluruh ketulusanku pada pria bernama Kak Arga. Aku rela lapar, aku rela sakit, karena aku pikir kita setara, karena aku pikir kita saling membutuhkan. Tapi ternyata... kau tidak membutuhkanku. Kau memiliki segalanya. Aku hanyalah mainan miskin yang menarik perhatianmu sesaat. Dan saat kau bosan, kau menyeretku paksa masuk ke sangkar emasmu ini."

​"Senja, cukup," Arga menelan ludah, suaranya parau. Setiap kata yang keluar dari mulut Senja adalah kebenaran yang tak terbantahkan, dan itu membunuh Arga perlahan-lahan.

​"Biarkan aku pergi, Arga," mohon Senja, suaranya melemah menjadi isakan yang menyayat hati. "Aku mohon... jika kau memiliki sedikit saja hati nurani tersisa, lepaskan aku. Aku tidak pantas berada di istanamu ini. Aku akan mati lemas di sini. Kembalikan aku ke jalanan, tempat di mana aku seharusnya berada."

​Mendengar permohonan itu, rahang Arga mengeras kembali. Bayangan saat Senja berlari meninggalkannya di hotel seminggu lalu kembali berputar di kepalanya. Selama satu minggu ia membiarkan gadis ini pergi, Senja disiksa oleh mandor katering, ditampar, dan diinjak-injak oleh dunia luar. Arga tidak akan mengulangi kesalahan bodoh itu lagi.

​"Tidak," jawab Arga dingin. Suaranya kembali berubah menjadi suara Sang Tiran, mematikan segala bentuk empati demi mempertahankan obsesinya.

​Senja melebarkan matanya. "A-Apa?"

​Arga melingkarkan lengannya di pinggang Senja, menarik gadis itu paksa hingga tubuh mereka menempel erat. Arga menundukkan wajahnya, menatap tepat ke dalam mata Senja dengan sorot posesif yang sangat menggelap.

​"Aku membiarkanmu pergi minggu lalu, dan kau pulang dengan pipi yang memar dan lutut berdarah," desis Arga penuh penekanan. "Kau pikir kau kuat menghadapi dunia? Kau naif, Senja. Dunia luar akan terus memakanmu hidup-hidup karena kau terlalu baik."

​"Itu urusanku! Itu hidupku!" bantah Senja marah.

​"Sekarang itu adalah hidupku juga," potong Arga mutlak. "Kau menganggapku monster? Baiklah. Aku akan menjadi monster yang akan mengurungmu di mansion ini seumur hidupmu. Kau tidak akan pernah melangkah keluar dari gerbang itu lagi tanpa izinku."

​Tanpa memedulikan rontaan dan jeritan histeris Senja, Arga kembali mengangkat tubuh gadis itu dalam gendongan bridal style.

​"Turunkan aku!! Dasar bajingan egois! Turunkan!!" Senja menangis, memukuli punggung Arga dengan keputusasaan yang tak terperi.

​Arga membisu. Ia melangkah menaiki tangga pualam melingkar menuju lantai dua mansion mewahnya. Wajahnya membeku layaknya pahatan es, namun jauh di dalam hatinya, sang miliarder itu ikut menangis darah.

​Ia telah mendapatkan kembali bidadarinya, namun harga yang harus ia bayar sangatlah mahal. Ia telah membunuh cinta murni di mata gadis itu, mengubahnya menjadi kebencian dan ketakutan.

​Arga menendang pintu kamar utama yang terbuat dari kayu mahoni berukir emas. Ia membawa Senja masuk ke dalam kamar raksasa yang dihiasi lampu kristal dan ranjang ukuran king tersebut. Ia meletakkan Senja perlahan di atas kasur berlapis sutra yang sangat empuk.

​Senja buru-buru merangkak mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang, memeluk lututnya, menatap Arga dengan pandangan awas layaknya rusa yang terjebak di kandang harimau.

​Arga berdiri di tepi ranjang. Ia menatap gadis yang sedang gemetar ketakutan itu dalam diam. Hatinya menjerit ingin memeluk, ingin meminta maaf, dan ingin mencium air mata itu. Namun ia menahan diri. Ia tahu sentuhannya hanya akan membuat Senja semakin ketakutan.

​"Mulai malam ini, ini adalah kamarmu," ucap Arga dengan suara bariton yang berat. "Pengawal wanita akan membawakan pakaian dan makanan untukmu. Jika kau mencoba kabur lagi, aku berjanji, bukan hanya orang-orang yang menabrakmu yang akan kuhancurkan... tapi aku juga akan meratakan panti asuhan tempatmu dibesarkan."

​Ancaman itu adalah kartu truf paling kotor yang pernah Arga keluarkan seumur hidupnya, tapi ia tidak punya pilihan lain untuk membuat Senja tetap diam di sangkarnya.

​Mata Senja membelalak ngeri. Ia membenci pria ini. Ia sangat, sangat membenci Arga Danendra.

​Arga memutar tubuhnya, berjalan keluar dari kamar raksasa itu. Saat ia menutup pintu dari luar, terdengar bunyi klik yang sangat keras—suara kunci yang diputar, mengurung Senja dari luar.

​Senja jatuh meringkuk di atas kasur sutra yang dingin itu. Ia menangis terisak, meratapi nasibnya yang kini benar-benar menjadi tawanan seorang monster.

​Di luar kamar, Arga bersandar pada pintu kayu mahoni tersebut. Ia mendengarkan isakan tangis Senja dari balik pintu dengan dada yang terasa seperti diiris silet berulang kali.

​Sang Penguasa Dunia itu merosot turun hingga terduduk di lantai lorong mansionnya yang megah. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

​Maafkan aku, Senja. Bencilah aku sesukamu. Anggap aku monster. Aku lebih memilih dibenci olehmu seumur hidupku, daripada harus hidup satu detik pun tanpa melihat wajahmu, rintih batin Arga dalam keputusasaan yang sunyi.

​Sangkar emas itu kini telah terkunci rapat. Namun pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai. Pertarungan antara kebencian seorang gadis yang harga dirinya terinjak, melawan obsesi dan cinta buta seorang pria yang tak tahu cara mencintai selain dengan memaksa. Di dalam mansion megah ini, dua jiwa yang terluka akan saling menyiksa satu sama lain, hingga takdir kembali berbelas kasih untuk mengajari mereka arti pengampunan.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!