Akira Yoshikawa, pengurung diri yang menghabiskan waktunya selama 4 tahun untuk menamatkan sebuah game yang hanya dimainkan oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Namun, setelah ia menamatkan game itu, hal mustahil mulai terjadi, Benua, Monster dan Raja Iblis yang ada di game semuanya menjadi nyata, bahkan beberapa orang dipilih menjadi Pahlawan untuk melawan para Monster, termasuk Akira, dan mereka yang dipilih sebagai pahlawan akan mendapatkan sebuah sistem.
Berbeda dengan Pahlawan yang lain, Akira ditakdirkan sebagai seseorang yang dapat menyelamatkan manusia dengan persentase tertinggi, walau dia tau, terkadang dia tidak menyadari, betapa kuat dirinya di hadapan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laten Kishi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Quest Kedua
Akira menatap layar status Lumina dengan muka datarnya, namun dibalik itu ia kebingungan dan sedang berpikir,
”Level 1? Bukannya ini stat awal Lumina saat pertama kali dipanggil di game."
Seolah bisa membaca pikiran, sistem menjawab rasa bingungnya.
Ding...
[Karena terkena batasan dan sistem yang digunakan oleh Pahlawan Lumina tidak menggunakan sistem yang sama dengan yang anda gunakan]
[Jadi saya melakukan pembaruan pada sistem Lumina dan mereset semua statusnya]
”jadi— maksudnya ada sistem yang berbeda?” pikirnya.
[Benar]
[Planet Bumi memiliki sistemnya sendiri, begitu juga Planet Remnant]
[Jika anda melihat sistem berwarna biru atau sebuah pengumuman skala besar itu milik Bumi, sedangkan saya adalah sistem khusus untuk anda di Bumi ini]
[Karena hal itu saya juga memasukan data palsu pada sistem Bumi, sehingga anda tetap akan menerima notif dari sistem Bumi]
[Dengan kata lain saya adalah penyusup baik yang mencoba menyelamatkan Bumi dengan bantuan anda]
“Mana ada penyusup yang baik," pikir Akira merasa aneh dengan sistem dihadapannya.
Saat Akira sedang sibuk dengan sistem, tiba- tiba terasa guncangan yang kuat, hingga atap- atap ruangan sedikit demi sedikit mulai roboh.
“Ada apa ini?” tanya Akira dengan tetap menjaga ekspresi datar dan wibawanya walaupun sebenarnya dia agak panik.
Lumina yang masih bertekuk lutut menjawab,
"Dimensi ini tidak bertahan lama setelah kedatangan anda, karena tujuannya sudah tercapai.”
"Bukannya bahaya kalau disini terus,” pikir Akira dengan panik.
“Lalu, bagaimana kita keluar dari sini?” tanya Akira dengan tenang.
“Saya bisa membuat kita berdua keluar dari sini ke lokasi di luar dalam jarak tertentu," jawab Lumina.
Akira yang mendengar perkataan Lumina terpikirkan sesuatu, kemudian ia berkata,
"Kalau begitu, apa kau bisa membuat kita keluar ke lokasi yang kuinginkan?” tanya Akira.
“Selama masih dalam jarak jangkauan, saya bisa melakukannya.”
Akira pun langsung meminta sistem untuk menunjukan sebuah peta kepada Lumina, setelah melihat peta yang diberikan, Lumina langsung berdiri, mengulurkan kedua tangannya ke depan, dan dalam sekejap sebuah cahaya yang sangat terang muncul.
Pukul 08:40 Malam Hari.
Mereka berdua muncul di apartemen tempat tinggal Akira, cahaya yang sebelumnya sangat terang perlahan menghilang dan menampilkan suasana yang gelap di apartemen.
Mereka berdua berdiri saling berhadapan, Akira terlihat tenang tak menunjukan ekspresi apapun, namun ia menyembunyikan kelegaannya.
“Untung saja aku bisa menunjukan peta lewat sistem," pikir Akira.
“Hmm…?” Akira melihat Lumina di depannya dengan kebingungan karena Pakaian dan pedang yang sebelumnya dipakai Lumina berubah menjadi pakaian lusuh dan pedang biasa.
Ding...
[Karena pakaian dan pedang yang digunakan pahlawan Lumina sebelumnya adalah barang tingkat tinggi]
[Akan berbahaya jika memaksakan transfer barang tingkat tinggi ke Planet Bumi saat ini]
“Begitu ya…”
Akira yang sedang berpikir berganti fokus melihat Lumina yang sedang mengamati sekitarnya dengan wajah yang terlihat polos, kemudian Lumina berbicara,
"Maaf Tuan, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Ada apa?”
“Apa ini gudang anda?” tanya Lumina.
Pertanyaan dari Lumina membuat ruangan penuh keheningan, seolah hanya suara angin yang terdengar, Akira terdiam sementara, kemudian menjawab.
“Ini tempat tinggalku, apa ada masalah?”
Lumina menggelengkan kepalanya dan berkata,
”Tidak Tuan, hanya saja rasanya kurang cocok dengan anda."
“Yah… karena berbagai alasan tempat tinggalku begini," jawab Akira dengan santai sambil berjalan menuju kursi putarnya lalu duduk sambil memutar kursinya menghadap Lumina.
Disaat bersamaan ketika Akira duduk, Lumina langsung duduk berlutut di lantai.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Akira karena kebingungan kenapa Lumina duduk di lantai.
“Maaf, saya akan berdiri lagi,” jawab Lumina dengan muka polosnya sambil berdiri kembali.
Akira yang mendengar perkataan Lumina merasa tidak enak, kemudian ia berbicara.
“Tidak, maksudku jangan duduk di lantai, setidaknya duduklah di kasurku."
“Baik, Terimakasih Tuan.”
Lumina pun duduk di tepi kasur menghadap Akira, Akira yang melihat Lumina secara seksama berpikir,
“Kelakuannya mirip sekali dengan deskripsi karakternya di game."
Ding...
[Selamat anda telah berhasil menyelesaikan Quest Pertama kebangkitan Sang Raja Pahlawan dan mendapatkan Pahlawan Rank F Lumina]
[Karena penyelesaian Quest pertama anda, anda mendapatkan hadiah tambahan]
[Hadiah tambahan:Spell Fireball]
Akira yang melihat sistem di depannya terlihat tenang diluar, namun dipikirannya ia sedikit senang karena setidaknya dia bisa mendapat skill penyerang.
Yang dia ingat Spell Fireball digunakan saat ia masih bermain dengan tujuan membantu para pahlawan dari balik layar, walau dia tau Fireball tidak begitu kuat dia tetap senang akan hal itu.
Ding...
[Quest Kedua Kebangkitan Sang Raja Pahlawan dimulai]
[Quest Kedua: Masuk ke Retakan Portal dan dapatkan Harta Sang Raja Pahlawan]
[Terdapat Retakan Portal yang menyimpan Harta Sang Raja Pahlawan yang dijaga oleh beberapa Monster Replika, karena anda memiliki Otoritas Raja Pahlawan anda dapat mengklaim Harta tanpa harus bertarung]
[Peringatan:Jika orang lain menaklukan Retakan Portal maka otomatis hadiah akan diberikan kepada orang yang menaklukannya
[Berikut adalah rute ke Retakan Portal tersebut]
[*Menunjukan Peta*]
Akira yang melihat Quest kedua sudah dimulai, hanya bisa menatap peta yang ditunjukan sambil berpikir.
Karena jarak dari tempatnya berada agak jauh dan hari sudah malam, ia memutuskan untuk melakukan Quest kedua tersebut saat esok hari.
Akira yang sedari tadi sedang melihat panel sistem sambil berpikir, menyadari tatapan Lumina di hadapannya yang menembus panel sistem, membuat fokusnya sedikit terganggu.
Lumina terlihat menatap seksama ke arah wajah Akira sambil mengedipkan matanya, awalnya Akira tidak memperdulikannya, tapi semakin lama dia merasa penasaran dan bertanya,
”Kenapa kau menatap wajahku terus?”
“Jika ini mengganggu anda, saya akan menutup mata saya.” Dengan polosnya Lumina langsung menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
Akira yang hanya bisa bingung dengan tingkah laku Lumina pun berkata,
“Bukan begitu, kau boleh membuka matamu, aku hanya penasaran.”
Lumina pun membuka matanya yang tertutup oleh kedua telapak tangannya, kemudian ia berbicara.
“Sebelumnya maaf, jika Tuan benar benar diri lain Raja Pahlawan, maka wajah Tuan adalah wajah Raja Pahlawan kan?”
“Maksudnya?” tanya Akira karena tak mengerti apa yang dikatakan Lumina.
“Di planet Remnant Wajah Raja Pahlawan tidak terlihat jelas, jadi saat saya melihat wajah anda sekarang dengan sangat jelas, saya merasa ini momen yang langka!” jawab Lumina dengan mata berbinar dan wajah polosnya.
“Eh.. begitu ya.” Akira yang mendengar hal itu bingung menjawab apa, jadi ia hanya menjawab seadanya saja.
Tiba tiba Akira kembali teringat sesuatu yang penting, lalu berbicara kepada Lumina.
“Aku ada sedikit urusan, kau boleh istirahat dulu kalau mau.”
"Baik Tuan," jawab Lumina.
Pukul 10:00 Malam Hari.
Akira sedang sibuk menganalisa dengan melihat peta dan rute pada Quest Kedua, menggunakan komputernya yang sebelumnya mengalami glitch, namun sekarang bisa dinyalakan kembali.
Tetapi fokusnya terganggu ketika ia menyadari Lumina yang duduk di tepi kasur masih terbangun dengan mata yang terlihat sudah mengantuk dan kepalanya terlihat lemas sehingga terkadang sedikit jatuh lalu bangun lagi.
Akira yang menyadari hal itu segera bertanya kepada Lumina.
“Kenapa kau belum tidur?”
“Saya— berjaga...”
Suara Lumina terdengar lemas, matanya juga terlihat menahan ngantuk.
“Tidurlah duluan, kau bisa tidur di kasurku, aku akan tidur di lantai memakai selimut.”
“Tidak— bisa…” Suaranya semakin lemas dan Akira melihat mata Lumina perlahan menutup.
“Kau tidur di kasur saja, suaramu saja sudah terdengar sangat lemas, sebaiknya cepat istirahat."
“Baik— makasih...”
Lumina dengan lemas menaruh pedangnya yang tersarung di samping kasur lalu berbaring diatas kasur dan langsung tertidur pulas.
Setelah melihat Lumina tertidur, Akira memutar kursinya menghadap ke meja komputernya kembali, kemudian ia mencoba mencari sesuatu di komputernya, saat menemukannya ia berpikir.
”Sudah kuduga, mereka sudah bergerak, Kalau begitu, aku harus langsung berangkat besok pagi.”
13 Februari, Pukul 7:00 Pagi.
Akira bangun dari tidurnya diatas lantai yang dialasi selimut, ia mengucek matanya, lalu mengecek ponsel yang ia taruh di sebelahnya, melihat jam sebentar, kemudian ia berdiri dan melihat Lumina yang masih tertidur, dia mendekat ke arah kasur mencoba membangunkan Lumina dengan menyentuh pundaknya.
Namun belum sempat menyentuhnya, Lumina membuka matanya dalam sekejap, dengan cepat ia langsung mengambil pedangnya yang tersarung di samping kasur lalu menghunuskan pedangnya dan berhenti tepat di leher Akira.
“Eh?”
Akira kebingungan dengan apa yang terjadi, karena tak sempat bereaksi, ia hanya bisa terdiam.
"...."
Keheningan berlalu hingga tatapan mata mereka saling bertemu, Lumina yang sebelumnya memasang ekspresi serius langsung segera sadar, menyadari apa yang dilakukannya ia langsung turun dari kasur dan duduk berlutut di lantai sambil kepalanya sedikit menunduk.
”Ma-maafkan saya!, saya kira ada musuh yang mencoba menyerang, saya siap mendapatkan hukuman apapun!” ucap Lumina tergagap dengan rasa bersalah sambil menyerahkan pedangnya ke arah Akira dengan dua tangannya.
Akira yang masih terdiam kemudian melihat ke arah Lumina dan berbicara.
”Tidak apa-apa.”
Mendengar hal itu Lumina merasa sangat berterimakasih karena telah dimaafkan.
Disisi lain Akira yang terlihat tenang sebenarnya ia menyembunyikan kepanikannya.
"Kukira aku akan tertebas..."