"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balas Dendam Vane
"Kael?! Kael, jawab gue!! Kael!!" jerit Nio menekan earpiece-nya dengan pergelangan tangan yang gemetar.
Hanya gesekan suara statis dan desis sinyal putus-putus yang merayap masuk ke gendang telinganya.
"Nio... apa yang terjadi pada Paman Kael?!" tanya Nora seraya memegang lengan jaket Nio dengan raut wajah pucat pasi.
"Kedai... Zero menyerang kedai," pangkas Nio cepat, matanya memancarkan pendar amarah dingin yang mengerikan.
Tanpa membuang waktu, Nio merebut harddisk fisik dari tangan Nora lalu menyimpannya rapat di dalam tas kedap air.
"Elias, bawa Nora ke rumah aman sektor bawah!" perintah Nio seraya memeriksa sisa amunisi di mejanya.
"T-tapi bagaimana denganmu, Nio?! Kamu mau kembali ke sana sendirian?!" cerceh Nora panik dengan telapak tangan bergetar.
"Tempat itu satu-satunya presensi nyata yang tersisa dalam hidup gue, Nora," pangkas Nio datar.
"Gue tidak akan membiarkan Zero mencabutnya begitu saja!" lanjut Nio seraya berbalik melompati kontainer.
Dalam waktu lima belas menit, mobil tua milik Nio melaju membelah hujan deras menuju pusat Sektor Terluar.
Lampu sirene kendaraan layanan publik tampak memantulkan pendar merah di kaca depan mobil Nio saat mendekati lokasi.
Dari kejauhan, asap hitam membumbung tinggi dari bangunan dua lantai yang selama ini menjadi persembunyian Nio.
Pintu kedai kayu yang biasa menyambut pelanggan dengan aroma kopi hangat kini hangus menjadi arang yang retak.
Nio menembus garis polisi tanpa peduli pada teriakan petugas patroli yang mencoba menghentikan langkahnya.
Di sudut trotoar yang basah, Kael terduduk lemas di atas kursi plastik dengan selimut darurat melapisi bahunya.
Wajah pria tua itu penuh jelaga, matanya menatap kosong ke arah reruntuhan kedai yang kini menjadi amorf hitam.
"Kael..." panggil Nio seraya berlutut di samping pria tua itu.
"Nio... kamu... kamu selamat..." bisik Kael dengan suara serak, napasnya terengah-engah dan megap-megap.
"Siapa yang melakukan ini? Apakah pria berantai itu?" cecar Nio dengan vokal yang tertahan keras.
"Bukan... bukan dia secara langsung..." rintih Kael memegang dada kirinya yang terasa sesak.
"Seseorang datang membawa dokumen eksekusi resmi... lima menit sebelum ledakan terjadi..." lanjut Kael.
TAP! TAP! TAP!
Langkah sepatu berhak keras mendekat dari balik bayangan mobil petugas, memecah keheningan malam yang basah.
Seorang pria berjas rapi dengan lencana kementerian otoritas data berdiri seraya memegang tablet digital.
"Kaelan Sastrowijoyo?" sapa pria berjas itu dengan nada bicara formal yang terkesan sangat kaku.
Kael mengangkat wajahnya yang layu, menatap pria asing di depannya dengan sisa-sisa tenaga.
"I-iya... saya pemilik bangunan ini..." sahut Kael pelan.
"Kami menyampaikan pemberitahuan bahwa lisensi usaha Kedai Kael resmi dicabut oleh otoritas pusat," pangkas pria berjas itu.
"A-apa?! Atas dasar apa kalian mencabut izin usaha saya?!" protes Kael seraya berusaha berdiri, namun tubuhnya terlalu lemas.
"Bangunan ini terdeteksi memuat anomali data terlarang dan aktivitas buronan tingkat tinggi," lanjut sang pejabat tanpa emosi.
Pria itu menyapu layar tabletnya, mengirimkan dokumen pembekuan identitas secara langsung ke perangkat pribadi Kael.
"Seluruh rekening perbankan, aset properti, dan hak sipil Anda telah dibekukan mulai detik ini," sambung pria itu dingin.
BZZZZT!
Ponsel tua milik Kael bergetar hebat sebelum layarnya mendadak berubah menjadi merah pekat dengan tulisan: STATUS TERELIMINASI.
"Tidaaak... ini... ini seluruh tabungan masa tua saya..." jerit Kael histeris seraya meremas ponselnya.
Air mata pria tua itu menetes membasahi jelaga di pipinya, meratapi seluruh hidupnya yang musnah dalam hitungan detik.
"Kertas kosong ini tidak bicara, tetapi dialah satu-satunya hal yang tidak pernah berbohong padaku," bisik Nio dalam batinnya.
Jemari Nio di dalam saku meremas lembaran kertas polosnya dengan sangat kencang hingga kukunya memutih.
Ancamannya tidak lagi mengejar Nio secara fisik, melainkan menghancurkan ekosistem manusia di sekitarnya hingga terasing.
Nio berdiri tegak, memotong jarak dan menatap tepat ke manik mata pejabat otoritas tersebut.
"Siapa yang memerintahkan rekonstruksi pembekuan ini?" ancam Nio dengan nada bersuhu nol derajat.
Pejabat itu mundur satu tindak, merasa tertekan oleh aura membunuh yang mendadak mengejawantah dari tubuh Nio.
"I-ini perintah langsung dari Biro Arsip Pusat! D-dan Tinta Mati!" gagap pejabat itu seraya merapikan dasinya.
"Vane... ini ulah Vane dan Zero," bisik Nio menyadari pola taktik kotor yang sedang dimainkan musuhnya.
Gagal mengalahkan Nio di pertarungan terbuka, Vane menggunakan sisa akses peretasnya untuk menghancurkan Kael.
Pria berjas itu buru-buru berbalik dan masuk ke dalam mobil dinasnya sebelum melaju pergi meninggalkan area.
Nio kembali berlutut di depan Kael, merangkul bahu pria tua yang kini telah kehilangan segalanya itu.
"Kael... maafkan gue. Ini semua karena gue ada di sini," kata Nio dengan nada penuh penyesalan mendalam.
"Jangan bicara begitu, Nio..." rintih Kael seraya memegang pergelangan tangan Nio dengan jemarinya yang gemetar.
"Kamu satu-satunya orang yang membuat tempat ini terasa seperti rumah... bukan sekadar bangunan kayu..." bisik Kael.
Nio memejamkan mata sejenak, meresapi rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya bagai racun mematikan.
'Zero ingin membuktikan bahwa siapapun yang menyimpan namaku akan hancur tanpa preseden,' batin Nio mengepal jemari.
Sebuah denting notifikasi khusus berbunyi dari konsol tersembunyi di pergelangan tangan Nio.
Pesan teks anonim masuk dari jalur enkripsi Tinta Mati yang sangat dikenal Nio.
"Bagaimana rasanya melihat dunia di sekitarmu berubah menjadi tabula rasa, Pakar Data?"
"Ini baru permulaan. Nora dan adiknya adalah target berikutnya dalam durasi tiga puluh menit."
Nio membacanya dengan dada yang bergemuruh kencang, menahan amarah yang siap meledak kapan saja.
Penyangkalan atas rasa takutnya telah habis; kini yang tersisa hanyalah naluri bertahan hidup yang sangat dingin.
"Kael, ikut gue sekarang. Gue akan titipkan lu di tempat aman yang tidak tersentuh sistem," tegas Nio.
"T-tapi kedai ini... hidup saya ada di sini, Nio..." tangis Kael pecah menatap arang bangunan rumahnya.
"Bangunan ini bisa dibangun ulang, tapi eksistensi lu harus tetap selamat malam ini!" pangkas Nio tanpa ragu.
Nio merangkul tubuh Kael, memapahnya masuk ke dalam mobil sebelum menyalakan mesin berdaya tinggi.
Roda mobil berdecit keras di atas aspal wet, membuang genangan air ke udara saat Nio menginjak gas dalam-dalam.
Di dalam benaknya, Nio menyusun rekonstruksi rencana balasan yang jauh lebih agresif dan mematikan.
Jika Zero menggunakan sistem kota untuk menghapus hidup orang lain, maka Nio akan meretas balik jantung sistem tersebut.
Ponsel Nio mendadak berdering kembali, menampilkan panggilan dari nomor nirnama yang tidak terdaftar.
"Nio!! Tolong kami!! Mereka menemukannya!!" jerit suara Nora histeris dari seberang telepon.
"Nora?! Siapa yang menemukan kalian?!" cecar Nio seraya membanting stir melintasi persimpangan.
"Seseorang berantai besi... dia sudah ada di dalam rumah aman!!" jerit Nora sebelum suara benturan keras mengakhiri panggilan.