Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.
Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Penghulu yang bertugas, tersenyum ramah kepada kedua mempelai lalu memulai prosesi akad dengan suara yang tenang dan berwibawa. Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan khotbah nikah singkat, tibalah pada inti acara yang paling mendebarkan.
Penghulu mengulurkan tangan kanannya kepada Aksa, pria itu menyambutnya dengan genggaman yang mantap dan erat, telapak tangan mereka saling bertaut hangat.
"Saudara Raihan Aksa Mahendra bin Aditya Mahendra. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Nadia Zafirah binti almarhum Hermantyo, dengan maskawin seperangkat alat salat dan perhiasan berlian seberat 50 gram dan uang 9 juta dibayar tunai!" ucap sang penghulu dengan nada tegas.
Tanpa keraguan sedetik pun, dengan suara bariton yang berat, lantang dan penuh keyakinan mutlak, Aksa merapal kalimat ijab kabul dalam satu tarikan napas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nadia Zafirah binti almarhum Hermantyo dengan maskawin tersebut, tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu kepada para saksi di meja.
"Sah!" jawab para saksi dan seluruh tamu undangan serentak.
"Alhamdulillah...," ucap seluruh ruangan bergemuruh penuh syukur.
Papa Mahendra mengembuskan napas lega sambil tersenyum lebar, sementara Mama Bella sudah tak kuasa menahan air mata bahagianya dan mendekap erat lengan suaminya.
Sorot mata Aksa langsung beralih sepenuhnya menatap Nadia, ada kelegaan luar biasa sekaligus rasa kepemilikan yang mendalam bergemuruh di dada pria itu, ia kini telah resmi menjadi suami sah dari gadis yang dulunya hancur lebur diinjak-injak dunia.
Acara dilanjutkan dengan penandatanganan buku nikah serta prosesi penyerahan dan pemasangan cincin kawin. Aksa mengambil kotak velvet hitam, mengeluarkan sebuah cincin berlian berukir indah lalu meraih jemari lentik Nadia yang terasa sedikit dingin. Dengan sangat hati-hati, Aksa menyelipkan cincin tersebut di jari manis kiri sang istri.
Nadia balas mengambil cincin pria berwarna platinum dengan ukiran minimalis, lalu meraih tangan kokoh Aksa. Jemarinya yang bergetar pelan berhasil menyematkan cincin itu di jari manis Aksa. Selesai memasang cincin, Nadia mengangkat wajahnya, mendapati Aksa tengah menatapnya dengan senyuman tipis yang sangat langka, senyuman tulus yang hanya ia tunjukkan khusus untuk wanita di hadapannya.
"Cium tangan suamimu, Nak," ucap penghulu ramah.
Nadia mengangguk pelan, ia meraih tangan kanan Aksa dan mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Aksa, sebagai bentuk balasan dan kasih sayang yang membuncah, mengangkat tangan kirinya untuk mengelus puncak kepala Nadia yang tertutup kerudung putih dengan sangat lembut.
"Sah sebagai suami istri," umum penghulu diiringi tepuk tangan meriah dari seluruh keluarga yang hadir.
Resepsi pernikahan malam harinya digelar secara masif dan mewah di Ballroom Hotel Paramarta. Ribuan tamu undangan dari kalangan elite, mulai dari menteri, kolega bisnis multinasional, hingga para pesohor sosialita tampak memenuhi ruangan yang disulap menjadi hutan kristal putih.
Gemuruh tepuk tangan membahana begitu Aksa dan Nadia memasuki area ballroom utama. Pintu raksasa berlapis emas terbuka perlahan, menyambut kedatangan sang pengantin di bawah hujan kelopak mawar putih yang turun dari langit-langit kristal.
Lampu sorot berwarna warm white mengikuti langkah mereka, menciptakan efek magis yang memukau. Nadia berjalan dengan anggun di samping Aksa, lengannya yang terbalut renda sutra terselip dengan pas di lengan jas pria itu dan setiap langkahnya terasa seperti mimpi.
Aksa berjalan dengan dagu terangkat, memancarkan aura dominasi yang tenang. Sesekali, ia memiringkan tubuhnya untuk melihat sang istri.
Saat mereka sampai di pelaminan yang didekorasi dengan ribuan bunga Hydrangea dan White Rose asli, fotografer profesional mulai mengabadikan momen tersebut. Namun, perhatian para tamu tidak teralihkan pada dekorasi, melainkan pada kemesraan dingin namun protektif yang ditunjukkan Aksa.
Selama prosesi wedding reception, suasana berubah menjadi syahdu saat lantunan piano klasik mengalun lembut. Tamu-tamu penting dari kalangan high-society yang biasanya hanya bisa ditemui di majalah bisnis, kini berkumpul dengan pakaian formal terbaik mereka.
"Lihat, itu Tuan Aksa? Ternyata rumor itu benar, dia menikahi gadis dari keluarga biasa?" bisik seorang sosialita kepada temannya di sudut ruangan.
"Jangan salah, lihat cara dia menatap istrinya. Tuan Aksa tidak pernah memperlakukan siapa pun dengan tatapan selembut itu, gadis itu benar-benar beruntung," sahut lainnya.
Di tengah-tengah acara, Aksa memberikan isyarat kepada pembawa acara. Musik yang tadinya tenang perlahan berubah menjadi alunan lagu romantis yang lebih mendalam. Aksa berdiri, lalu memutar tubuhnya menghadap Nadia. Ia membungkuk sedikit, menawarkan tangannya dengan sikap seorang pangeran.
Nadia sempat tertegun sejenak, menatap telapak tangan Aksa yang terulur. Ia menyambutnya, membiarkan suaminya membimbingnya ke tengah lantai dansa yang dikelilingi oleh para tamu.
Musik pun dimulai, Aksa meletakkan satu tangan di pinggang ramping Nadia. Sementara tangan lainnya menggenggam jemari gadis itu dengan mantap, mereka mulai berdansa. Meski Nadia tidak memiliki latar belakang dansa formal, Aksa menuntunnya dengan gerakan yang begitu sinkron.
Dalam setiap putaran, Aksa selalu memastikan tubuh Nadia berada dalam kendalinya, menjaganya agar tidak terinjak atau merasa tidak nyaman. Di tengah lantai dansa, dunia seolah menghilang bagi mereka berdua.
"Mulai hari ini, kamu adalah istriku. Jangan menunduk di depan orang lain, kamu harus menatap mereka dengan berani," ucap Aksa.
Nadia mendongak, menatap mata hitam pekat suaminya yang kini memancarkan api kasih sayang yang hangat. Ia mengangguk pelan, senyum tulus yang mempesona terukir di bibirnya.
Lagu dansa berirama syahdu perlahan-lahan memudar, digantikan oleh tepuk tangan meriah dari ratusan tamu undangan yang memenuhi sudut-sudut Ballroom. Aksa membawa Nadia kembali melangkah ke panggung utama, menempati singgasana pelaminan bernuansa serba putih yang didekorasi begitu megah.
Di atas kursi pelaminan berukir kayu dilapisi kain velvet mewah itu, Aksa dengan sigap merapikan ujung gaun pengantin Nadia sebelum ia sendiri duduk di sisi sang istri. Sikap protektif dan penuh perhatian yang ditunjukkan oleh seorang Aksa, pria yang selama ini terkenal dingin dan kejam di dunia bisnis, membuat para hadirin, terutama para sosialita papan atas, semakin terpesona sekaligus merasa iri.
"Tarik napas, jangan tegang begitu," ucap Aksa dengan suara baritonnya yang rendah, menyadari jemari Nadia masih sedikit meremas lipatan gaunnya karena gugup menghadapi keramaian.
Nadia menoleh, mendapati sorot mata pekat suaminya menatapnya penuh ketenangan. Hatinya yang berdegup kencang seketika melunak, lalu ia membalasnya dengan senyuman tipis penuh rasa syukur.
Pembawa acara dengan suara berwibawa lantas mempersilakan para tamu undangan terhormat untuk naik ke atas panggung guna memberikan ucapan selamat serta doa restu kepada kedua mempelai. Antrean panjang yang terdiri dari para menteri, relasi bisnis multinasional, hingga kerabat dekat keluarga Mahendra mulai bergerak tertib.
Sementara itu, di pintu masuk utama ballroom yang dihiasi pilar-pilar kristal raksasa, dua orang tamu baru saja melangkah masuk dengan langkah setengah terburu-buru, mereka adalah Tamara dan Roy.
.
.
.
Bersambung.....
se brutal apa pun masalah kalau istri yang utama di hati pasti langsung mentok di istri...😤
udah tua bukannya cari hidup damai malah masih mikirin harta orang...
jadi ingat temanku yang di pisahkan dari anak kandung karena keluarga pacarnya nggak merestui.bahkan ketika temanku hamil mereka ngotot minta tes DNA dulu demi membuktikan itu cucu mereka atau bukan.setelah bayi lahir malah mereka merebut hak asuhnya.uang bisa mengatur segalanya..😤