Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:202.4k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Bukan Lagi Perempuan yang Dulu

Levia terdiam sepersekian detik. Pertanyaan itu sebenarnya sederhana. Namun jawaban sebenarnya tidak mungkin ia berikan.

Sejak kehidupan sebelumnya. Sejak Vivian masih hidup. Sejak ia mengenal olahraga bukan hanya sebagai cara menjaga tubuh, tetapi sebagai sesuatu yang memang ia sukai.

Ia pernah berlatih silat sejak sekolah dan bahkan pernah memenangkan pertandingan tingkat provinsi. Ia juga terbiasa berlatih tinju untuk menjaga kebugaran. Kemampuan itu tidak menghilang hanya karena ia kini terbangun di tubuh orang lain.

Tubuh Levia memang berbeda. Lebih berat, lebih lambat, dan belum sepenuhnya terbiasa dengan pola gerakan yang dulu begitu mudah dilakukan Vivian. Namun ingatan otak dan pemahamannya tentang keseimbangan, jarak, tumpuan, serta arah serangan masih ada.

"Aku cuma banyak latihan," jawab Levia akhirnya.

Gultom menyipitkan mata. Ia tahu putrinya sedang menyembunyikan sesuatu. Namun ia juga tahu bahwa tidak semua hal harus dipaksa untuk diceritakan.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Kalau begitu kita lanjut."

Levia tersenyum lega. "Siap."

Kali ini Gultom tidak memberi kesempatan kepada putrinya untuk sekadar mengikuti. Ia mulai menguji kemampuan Levia.

Satu serangan. Levia menghindar. Serangan kedua, tangkisan. Serangan ketiga, Levia bergerak memutar dan mencoba mengunci lengan Gultom.

Gultom sempat terkejut. Ia segera menarik lengannya sebelum kuncian itu sempurna.

"Jangan terburu-buru," katanya.

Levia mengangguk. "Iya."

Mereka kembali berhadapan. Beberapa menit kemudian, keringat mulai membasahi dahi keduanya. Napas Levia terdengar lebih berat, tetapi ia tidak mundur.

Gultom justru tersenyum melihat semangat putrinya. Dulu, Levia bisa menghabiskan berjam-jam membicarakan Vandra. Sekarang, putrinya bisa berdiri di hadapannya selama hampir satu jam hanya untuk mempelajari cara mempertahankan diri.

Perubahannya bukan hanya terlihat dari tubuh. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara Levia menjalani hidup. Ia memiliki kesibukan, memiliki impian, memiliki tujuan. Dan yang paling membuat Gultom bahagia, putrinya mulai menikmati semua itu.

"Sudah cukup," kata Gultom akhirnya.

Levia menurunkan kedua tangannya. "Kenapa?"

"Kalau diteruskan, nanti malah terlalu lelah."

Levia mengusap keringat di dahinya. "Aku masih kuat."

"Besok kamu masih punya pekerjaan." Gultom tak ingin putrinya kelelahan.

Levia akhirnya menurut. "Baiklah."

Ia berjalan mengambil dua botol air dari meja, lalu menyerahkan salah satunya kepada Gultom. "Ini."

Gultom menerimanya. "Terima kasih."

Mereka duduk berdampingan di tepi matras. Beberapa saat keduanya hanya menikmati air dan mengatur napas.

Gultom kemudian melirik putrinya. "Kamu puas dengan hasil latihanmu?"

Levia mengangguk. "Puas."

"Kenapa?"

Levia menatap kedua tangannya. "Karena sekarang aku merasa tubuh ini bukan sesuatu yang harus aku benci."

Gultom terdiam.

"Dulu aku cuma ingin kurus," lanjut Levia. "Tapi sekarang aku ingin sehat. Aku ingin kuat. Kalau suatu hari ada sesuatu yang terjadi, aku gak mau cuma berdiri dan menunggu orang lain menyelamatkanku."

Gultom memandang putrinya dengan tatapan lembut. "Bagus."

Levia tersenyum, entah mengapa mendapat pujian dari ayahnya terasa menyenangkan.

"Yang penting jangan terlalu keras pada dirimu sendiri," lanjut Gultom. "Kamu gak harus berubah dalam satu malam."

"Aku tahu."

"Turunkan berat badan perlahan. Bangun perusahaanmu perlahan. Belajar juga perlahan," tutur Gultom.

Levia menoleh.

Gultom tersenyum. "Ayah gak mengejar hasil. Ayah lebih senang melihat kamu menikmati prosesnya."

Levia terdiam beberapa saat. Kalimat sederhana itu kembali membuat hatinya hangat. Di kehidupan sebelumnya, ia terbiasa mengejar target. Angka penjualan, pesanan klien, desain baru, jadwal kerja. Semua harus selesai dan harus sempurna.

Namun di kehidupan ini, ia mulai memahami sesuatu yang sebelumnya sering ia lupakan. Tidak semua hal harus dicapai secepat mungkin. Ada proses yang layak dinikmati.

Levia tersenyum. "Kalau begitu, besok latihan lagi."

Gultom tertawa. "Baru saja Ayah bilang jangan terlalu keras pada diri sendiri."

"Aku gak keras."

"Terus?" Gultom mengangkat sebelah alisnya.

"Aku cuma semangat."

Gultom menggeleng geli. "Baiklah. Besok kita latihan lagi."

Levia mengangkat tangannya, mengacungkan jari kelingkingnya. "Janji?"

Gultom mengaitkan kelingkingnya di jari putrinya. "Janji."

Levia tersenyum lebar.

Gultom ikut tersenyum. Namun jauh di dalam pikirannya, satu pertanyaan masih tersimpan.

Dari mana sebenarnya putrinya mendapatkan kemampuan seperti itu?

Ia tidak tahu jawabannya. Dan untuk saat ini, ia memilih menunggu sampai Levia sendiri siap menceritakannya.

***

Di Lebanon.

Sore itu, beberapa personel sedang duduk di area istirahat setelah menyelesaikan tugas.

Vandra baru saja membuka botol air ketika salah seorang rekannya tiba-tiba berkata, "Kapten."

"Hm?" sahut Vandra tanpa menoleh.

"Istrimu ternyata sekarang sering ikut kegiatan Persit, ya?"

Tangan Vandra berhenti, ia menoleh. "Dari mana kamu tahu?"

"Emang Kapten belum tahu?" Pria itu terkekeh. "Istriku cerita. Katanya Levia sekarang cukup aktif datang ke pertemuan."

Vandra terdiam, ia tak tahu soal itu.

Rekannya mengangguk. "Istriku sampai heran. Sekarang dia malah gampang diajak ngobrol."

Vandra tidak menjawab. Ia hanya memutar tutup botol di tangannya.

Seorang pria di depannya menimpali. "Katanya penampilannya juga berubah."

Alis Vandra sedikit terangkat. "Berubah?"

"Iya." Rekannya tersenyum. "Katanya Levia sekarang lebih modis. Istriku bahkan sempat memuji bajunya."

Vandra mendengarkan tanpa sadar.

"Terus katanya wajahnya kelihatan lebih segar." Rekannya tertawa kecil. "Berat badannya juga mulai turun. Gak segendut dulu."

Jari Vandra yang memegang botol kembali mengencang. "Mulai turun?"

Ia teringat ketika terakhir kali melihat Levia di markas saat ia hendak berangkat. Tubuh wanita itu memang masih besar, tetapi wajahnya terlihat lebih segar. Riasannya juga lebih natural.

Dan entah mengapa saat itu ia sempat berpikir Levia terlihat berbeda. Namun ia buru-buru menganggapnya sebagai perasaannya sendiri.

"Bukan cuma itu," lanjut rekannya.

"Apa lagi?" tanya Vandra penasaran.

"Istriku bilang Levia sekarang punya kesibukan sendiri."

Vandra mengernyit. "Kesibukan?"

Pri di sampingnya menyahuti, "Katanya dia sedang membangun usaha fashion."

Vandra langsung menoleh. "Usaha?"

"Iya. Kayaknya sudah mulai produksi pakaian." Rekannya mengangkat bahu. "Katanya kecil-kecilan dulu. Tapi karena ayahnya punya pabrik tekstil, bahan bakunya lebih gampang."

Vandra terdiam. Ada sesuatu yang terasa asing dalam semua informasi itu. Levia yang ia kenal tidak pernah tertarik dengan pekerjaan. Tidak pernah membicarakan bisnis. Tidak pernah memiliki kesibukan selain dirinya.

Namun sekarang, wanita itu aktif mengikuti kegiatan Persit. Mulai memperhatikan penampilan, berat badannya turun, membangun usaha. Dan selama tujuh bulan terakhir, sama sekali tidak mencarinya.

"Hebat juga."

Ucapan rekannya membuat Vandra tersadar. "Apanya?"

"Istriku bilang dia sekarang beda banget." Pria itu menatap Vandra sambil tersenyum. "Katanya kalau gak tahu sebelumnya, dia gak akan menyangka itu Levia."

Vandra tidak menjawab, tatapannya jatuh pada lantai. Entah kenapa, mendengar semua itu membuat dadanya terasa tidak nyaman. Ia seharusnya senang.

Bukankah perubahan itu bagus? Bukankah selama ini ia berharap Levia memiliki kehidupan sendiri dan berhenti bergantung kepadanya?

Namun ada satu pertanyaan yang justru muncul di kepalanya. "Kalau dia sudah punya kehidupan sendiri, apa dia masih menginginkanku?"

Vandra menggeleng kecil. "Aku ngapain mikirin itu?"

Rekannya menatap heran. "Kapten?"

"Gak apa-apa." Vandra berdiri. "Aku mau istirahat."

Ia berjalan meninggalkan tempat itu. Namun langkahnya terasa lebih berat daripada sebelumnya. Selama tujuh bulan, ia mengira jarak akan membuatnya semakin mudah melupakan Levia.

Ternyata justru sebaliknya.

"Jika benar kata mereka, berarti Levia telah membangun hidupnya tanpa aku." Vandra menghentikan langkahnya, menengadah ke arah langit sore. "Aku ingin tahu... seperti apa kamu sekarang."

 

...✨“Dulu ia ingin berubah agar pantas dicintai. Sekarang ia berubah karena ingin mencintai dirinya sendiri.”...

...“Jangan terlalu sibuk mengejar perubahan sampai lupa menikmati prosesnya. Sebab hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan tentang bagaimana kita belajar mencintai diri sendiri di sepanjang perjalanan.”✨...

.

To be continued

1
kymlove...
cuma up. 1 part aja nih Thor?!!!!
Mundri Astuti
ga ngotak si klo punya obsesi .... kan papamu jadi terseret ...percuma punya gelar dokter ...
abimasta
ayo para hakim siapa yang akan kalian bela seorang jendralkah atau si kapten
No Nong
thorr dekdegan tau gak di bab ini, langsung bab selanjutnya yok thorr, semangat 💪😍
lin sya
baru muncul thor up lgi
Anitha
Bagus Van kamu punya bukti yang lebih kuat lagi di saat pertemuan dengan Pramono,bukti sudah jelas apa masih mau mencari celah untuk membela si Risa....

Pak Hakim pasti adilkaan jelas Levia dan Vandra itu korban mereka...
berharap si Risa dan Bapaknya juga ikut di Penjara termasuk si Ninis
Ma Em
Semoga Risa dan Ninis tdk bisa bebas dari hukum yg menjerat nya , walaupun bapak nya Risa seorang jenderal tapi yg bersalah tetap hrs dihukum .
Ass Yfa
ternyata Vandra merekam semua pembicaraannya dgn sang jendral
abimasta
hohoho sang jendral akan tau tidak semua bisa ditekan dengan jabatan
anonim
Ceritanya bagus dan menarik untuk diikut sampai tuntas membacanya
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Septi Wijaya
vandra berani membawa bukti krusial... ga espek bakaln rekam pembicaraan dengan Pramono... smart👍
Wega Luna
itu senjata yg pas buat keluarga pelakor ,nama jabatan di grepek sampai halus👍
Puji Hastuti
duh gimana kelanjutannya ya,gak sabar liat Risa dinyatakan bersalah
lin sya
smga dgn adanya bukti, ninis, risa dan promono dpt karma, klo dpt karma hukum sprti dimasukin penjara bsa bikin ninis dan risa tmbah sadar gk ya, sedangkan pramono mngkin ya, jabatannya terancam didpn publik, menyalahgunakan kekuasaan utk putri tersayang pdhl sbntar lgi end
Mundri Astuti
cakep vandra...biar kicep tu jendral ma anaknya...katanya dokter...tapi bisa berbuat kriminal cuma gara" suka sama laki org
anonim
Gultom senang putrinya sekarang mau mengenal dan bahkan membantu pekerjaannya.

Levia mengutarakan keinginannya menjadi desainer.

Gultom yang semula bingung dengan keinginan putrinya, begitu melihat beberapa desain yang dibuat Levia - rasa kagumnya tak bisa disembunyikan.

Gultom memuji desain yang dibuat Levia.

Ayahnya menawarin Levia buat perusahaan fasion kecil dulu.

Levia tentu terkejut mendengar itu.
anonim
Levia bisa bantu Ayahnya menghitung pemasukan dan pengeluaran. Barang masuk dan keluar juga.

Ayahnya heran Levia mau bantuin pekerjaannya.

Dulu Levia tidak pernah tertarik. Dia bilang juga heran. Sekarang ingin tahu.

Levia yang sekarang jelas pinter, Levia yang dulu pinternya mengejar orang yang tidak peduli padanya 😄.

Ayahnya semakin heran tapi juga kagum pada Levia. Semua dikoreksi sama Levia.

Sampai Ayahnya bertanya Levia belajar dari mana?
Kadek Sri
lanjut
Anitha
Vandra modus tidur minta peluk-pelukan biar Levia fesh besok padahal itu akal-akalannya Vandra biar bisa meluk Via🤣
Kadek Sri
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!