Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Yang Menimbun Selamat, Yang Menawar Rugi
Bu Marni tidak sedang menggedor rumah Laras. Ia berdiri di depan pos bantuan kompleks, menuntut beras, air, dan obat karena persediaan rumahnya habis.
"Kami belum makan sejak sore!" teriaknya. "Menantu saya bilang badai tidak akan besar. Siapa yang bertanggung jawab?"
Petugas menjelaskan bahwa paket darurat dibagikan berdasarkan jumlah penghuni dan kebutuhan medis. Bu Marni sudah menerima jatah awal, tetapi menggunakannya untuk menjamu dua kerabat sebelum listrik padam.
"Itu sedikit sekali. Laras punya banyak makanan di rumah. Dia menimbun!"
Bram membuka pintu, tetapi Laras menahan lengannya. "Biarkan petugas mencatat. Kalau kita keluar sekarang, dia akan mengubah bantuan resmi menjadi pertengkaran pribadi."
Bram mengangguk. Mereka tidak tidur banyak. Begitu hujan berhenti, Laras kembali ke peternakan untuk pemeriksaan pagi.
Pemandangan di sepanjang jalan menunjukkan betapa sempit jarak antara persiapan dan kerugian. Pohon tumbang menutup separuh gang. Atap kandang kecil milik warga terlepas. Karung pakan yang diletakkan langsung di tanah berubah menjadi bubur cokelat.
Di peternakan koperasi, seluruh kandang utama masih berdiri.
Pak Sutrisno membacakan hasil awal. Tidak ada ternak hilang. Dua kambing mengalami lecet ringan saat berdesakan. Sapi nomor dua belas belum melahirkan, tetapi kondisinya stabil. Gudang pakan tetap kering dan tandon tertutup tidak tercemar.
Pak Yohanes mengangkat ujung celananya yang berlumpur. "Kalau kita tidak mengikuti Bu Laras, air sudah masuk setinggi lutut ke kandang tengah."
Para pekerja memandang saluran yang penuh ranting. Mereka telah menertawakan penggalian di tengah kemarau, tetapi kini tak seorang pun menganggapnya berlebihan.
Laras tidak berhenti untuk menerima pujian. Ia membagi tim pemeriksaan. Ternak harus dihitung ulang, air diuji, atap dinilai dari bawah sebelum siapa pun naik, dan semua pakan yang terkena percikan dipisahkan. Badai lewat, tetapi infeksi, jamur, serta luka sering baru terlihat setelahnya.
Ia membuat tiga pos kecil di halaman. Pos pertama menerima laporan ternak terluka. Pos kedua memeriksa pakan dan air yang mungkin tercemar. Pos ketiga mencatat kerusakan kandang agar bantuan bahan bangunan diberikan berdasarkan kebutuhan, bukan siapa yang paling keras berteriak.
"Kasus dengan perdarahan, sesak, atau tidak bisa berdiri masuk lebih dulu," kata Laras. "Luka ringan dibersihkan sambil menunggu. Pemilik harus menyebut waktu kejadian dan tindakan yang sudah diberikan."
Wati memimpin pemeriksaan awal. Pak Yohanes mengatur kandang sementara bagi hewan yang tempatnya roboh. Santi menempel daftar biaya resmi dan program bantuan di meja, sehingga tak seorang pun bisa mengaku diminta membayar diam-diam.
Dalam satu jam, sembilan laporan masuk. Dua ternyata hanya lecet. Satu kambing mengalami luka dalam dan dirujuk ke Puskeswan. Seekor sapi kembung karena pemiliknya memberi pakan basah terlalu banyak saat badai, lalu ditangani sebelum kondisinya memburuk.
Wati baru selesai mencatat ketika Bu Yuni datang dengan pakaian kotor. Seekor kambing jantannya pincang, bagian bahu tertimpa balok saat kandang belakang roboh.
"Tolong, Bu Laras. Dia satu-satunya kambing yang tersisa."
Kemarin Bu Yuni menyebut Laras mencari sensasi. Hari ini suaranya mengecil di depan orang yang sama.
Laras memeriksa kambing tanpa menyinggung pesan grup. Tidak ada tulang menembus kulit, tetapi bengkak besar dan rasa sakit membuat hewan itu tidak mau menapak.
"Kita perlu membersihkan luka, mengendalikan nyeri sesuai dosis, lalu memeriksa kemungkinan retak di Puskeswan. Jangan dipaksa berjalan."
Bu Yuni menunduk. "Saya tidak punya uang banyak."
"Biaya resmi dicatat. Kalau memenuhi syarat bantuan bencana, pengurus akan memberi tahu. Saya tidak menentukan berdasarkan siapa yang menyukai saya."
Beberapa ibu yang ikut melihat membuka kembali tangkapan layar. Salah satu dari mereka menulis di grup:
Kemarin yang mengejek Bu Laras siapa? Sekarang kambingnya juga ditolong tanpa dihina.
Pesan Bu Yuni tentang dunia mau kiamat dikirim ulang di bawahnya. Ia menghapus pesan lama, tetapi tangkapan layar sudah menyebar.
Di sisi timur kota, kerugian lebih besar. Kandang milik kerabat Bu Marni kehilangan atap. Seekor domba terluka, dua karung jagung basah, dan obat hewan tersimpan tanpa pendingin saat listrik padam. Mereka meminta Bu Marni menghubungi peternakan karena mengira mantan menantunya bisa memberikan pakan gratis.
Bu Marni datang menjelang siang bersama Vania. Wajah keduanya lelah.
"Kami mau mengambil sepuluh karung dedak dulu," kata Bu Marni. "Nanti dibayar setelah keadaan normal."
Pak Sutrisno membuka buku koperasi. "Stok ini disiapkan untuk ternak terdaftar. Pinjaman darurat bisa diajukan dengan nama pemilik, jumlah ternak, dan jadwal pembayaran. Bukan diambil begitu saja."
"Laras mengenal kami."
Semua orang menoleh kepada Laras.
"Saya mengenal Ibu," katanya. "Karena itu saya tahu urusan tanpa catatan mudah berubah menjadi tuduhan. Kalau ternaknya perlu makan, isi formulir dan ambil sesuai penilaian petugas."
Bu Marni memerah. "Kamu tega membiarkan keluarga mantan suamimu kelaparan?"
"Yang dibicarakan pakan ternak, bukan makanan keluarga. Pos bantuan sudah memberi jatah rumah tangga. Jangan mencampur dua hal."
Vania mencoba mengambil alih. "Kami hanya salah memperkirakan cuaca. Semua orang bisa salah."
"Benar," jawab Laras. "Karena itu setelah salah, ikuti prosedur. Jangan meminta kerugian kalian dibayar orang lain."
Vania tidak mampu membalas. Di sekelilingnya, karung kering, atap utuh, dan ternak yang tenang menjadi bukti bahwa kesalahan itu bukan nasib semata. Mereka telah menerima peringatan dan memilih menertawakannya.
Pak Sutrisno akhirnya menyetujui tiga karung berdasarkan jumlah ternak yang masih hidup, bukan sepuluh seperti tuntutan Bu Marni. Semuanya dicatat sebagai pinjaman koperasi. Bu Marni harus menandatangani penerimaan dan tidak boleh menjual kembali.
Laras lalu memeriksa domba yang terluka. Ia menolong hewan itu dengan standar yang sama, tetapi tidak memberikan keistimewaan kepada pemiliknya.
Menjelang sore, grup kompleks penuh foto perbandingan. Kandang yang diperkuat tetap utuh. Kandang yang dibiarkan memiliki atap terbuka. Orang-orang mulai meminta panduan saluran dan daftar persediaan dari Santi.
Pak Sutrisno juga membuka rekap pengeluaran di depan perwakilan koperasi. Setiap terpal, kawat, karung, dan biaya angkut memiliki kuitansi. Dana cadangan memang berkurang, tetapi nilai ternak yang selamat jauh lebih besar. Bahkan pekerja yang sebelumnya ragu mengakui bahwa persiapan itu menyelamatkan mata pencaharian mereka.
Laras berdiri di depan gudang sambil memeriksa kuitansi terakhir. Ia tidak merasa perlu merayakan kekalahan Vania. Menang bagi Laras berarti ternak hidup, pekerja pulang utuh, dan tak ada satu pun keluarga kehilangan sumber nafkah karena ia lalai.
Saat Bu Marni hendak pergi, ia menoleh dengan wajah masam. "Jangan sombong. Suatu hari kamu juga akan kembali meminta bantuan kepadaku."
Kalimat itu mengingatkan Laras pada satu urusan yang belum selesai. Ketika ia meninggalkan rumah Kusnadi, Bu Marni menahan emas pemberian ibunya dan uang hasil penjualan motor lama dengan alasan biaya rumah tangga.
Laras menutup buku koperasi.
Kalau Bu Marni ingin membicarakan utang budi, sudah waktunya mereka menghitung utang yang sebenarnya.