[SEASON 3]
"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)
"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)
"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)
"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)
Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.
Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.
Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Utusan Istana
"Mohon maaf, apakah Anda adalah... Nona Elisa Morpheana?"
Sebuah suara bernada dingin, datar, namun menguar karakteristik formal yang kental mendadak bergaung keras, menghentikan ritme langkah kaki cepat Elisa tepat di depan anak tangga gerbang megah Panti Asuhan Pendragon.
Elisa mendongakkan kepalanya dengan cepat, tubuh manusianya refleks berjengkit mundur satu langkah ke belakang karena terkejut akibat interupsi instan tersebut.
Tepat di hadapannya saat ini, berdiri tegak seorang pelayan wanita paruh baya yang mengenakan setel pakaian pelayan klasik hitam-putih Inggris yang teramat rapi tanpa setitik noda pun.
Namun, ada sebaris keanehan ganjil yang memancar kuat dari anatomi fisik pelayan tua tersebut. Permukaan wajah pelayan wanita itu tampak begitu putih pucat pasi tanpa adanya rona kemerahan sel darah fana sedikit pun, dan sepasang manik matanya menatap datar ke arah Elisa dengan sebaris aura dingin supranatural yang menurut insting Elisa terasa sedikit menyeramkan dan kaku.
"I-iya... benar, saya adalah Elisa Morpheana," jawab Elisa terbata-bata dengan nada suara yang sedikit bergetar, mencoba sekuat tenaga menetralkan ritme detak jantung manusianya yang kembali berdegup kencang dilingkupi rasa waspada.
Jemari tangannya bergerak canggung meremas ujung kain gaun hijaunya yang robek.
"Kedatanganku ke tempat ini... karena saya ingin segera masuk menemui ibu asuh dan belasan adik-adik panti saya yang beberapa jam lalu baru saja dipindahkan ke kompleks gedung ini."
"Kebetulan sekali, Nona Elisa. Saya memang ditugaskan di sini untuk menyambut sekaligus mengarahkan Anda," ucap wanita paruh baya itu.
Ia membungkukkan tubuhnya memberi penghormatan dengan gerakan yang teramat kaku, seolah-olah ia adalah sebuah manekin hidup yang digerakkan oleh seutas benang tak kasat mata.
"Perkenalkan, nama saya Marrie. Sebenarnya saya bukan pekerja resmi di bawah naungan yayasan panti asuhan Pendragon ini."
Elisa mengernyitkan sepasang kening manusianya dalam-dalam. Insting waspada dalam dirinya seketika berteriak nyaring, mendeteksi sebaris hawa dingin yang menguar ganjil dari tubuh pelayan itu.
"Bukan pekerja di sini? Lalu... Anda bekerja untuk siapa?"
Marrie menegakkan kembali postur tubuh kaku pelayannya, menyunggingkan seulas senyuman tipis di bibir pucatnya yang terasa teramat dingin.
"Saya adalah pelayan pribadi yang diutus langsung dari kediaman Tuan Muda Josiah Salvatore. Beliau telah memberikan perintah mutlak yang tidak bisa diganggu gugat, bahwa Anda harus tinggal menetap di dalam kastil pribadinya. Untuk itu, saya diperintahkan secara khusus untuk menjemput sekaligus mengawal Anda ke sana, tepat setelah seluruh urusan administrasi Anda selesai di panti asuhan ini."
Mendengar pelafalan nama 'Josiah' keluar dari mulut pelayan itu, pelipis kepala Elisa mendadak didera oleh rasa denyutan nyeri yang luar biasa tajam selama beberapa detik.
Di dalam dimensi benak terdalamnya, ilusi jam pasir abstrak kuno tampak kembali bergulir, menumpahkan sebutir pasir perak magis yang bekerja menyegel ketat memori ingatan jangka pendeknya perihal wajah, suara, dan nama pemuda playboy yang sempat mengklaimnya sebagai Mate di hutan cemara tadi siang.
Akibat dari kutukan siklus yang berjalan tersebut, Elisa hanya bisa mengerjapkan sepasang matanya dengan pancaran binar kebingungan yang nyata.
Ia sama sekali tidak mampu mengingat atau mengenali siapa sesungguhnya identitas pria bernama Josiah itu.
"Josiah?" gumam Elisa dengan dahi yang berkerut semakin dalam. "Siapa sebenarnya sosok Tuan Muda Josiah itu? Aku sama sekali tidak merasa pernah mengenal atau bertemu dengan pria yang memiliki nama seaneh itu. Dan kenapa juga aku harus dipaksa tinggal menetap di dalam kastil pribadinya?!"
Marrie sama sekali tidak menampilkan ekspresi terkejut atau heran melihat reaksi linglung dari sang gadis.
Sebagai sesosok pelayan setia yang tumbuh besar di bawah hukum dunia Immortal, ia sudah paham betul bahwa kesadaran jiwa manusia di hadapannya ini memang sedang dimanipulasi oleh garis takdir kuno.
"Anda dipastikan akan segera mengingatnya kembali setelah sepasang mata Anda bertemu langsung dengan wujud beliau, Nona Elisa," jawab Marrie, suaranya tetap terdengar formal, datar, namun mengisyaratkan sebaris penolakan yang mutlak.
"Untuk sekarang, silakan Anda melangkahkan kaki masuk terlebih dahulu. Seluruh anggota keluarga panti Anda saat ini sudah menunggu kedatangan Anda di lantai atas."
Dengan langkah kaki yang dipenuhi keraguan dan batin yang masih berkecamuk hebat, Elisa akhirnya memantapkan langkah, berjalan masuk melewati gerbang lobi gedung panti asuhan yang megah itu. Namun, tepat begitu daun pintu lobi otomatis terbuka lebar, seberkas hawa hangat dan aroma kebahagiaan fana langsung menyambut kedatangan jiwanya.
"Kak Elisa!"
Sebuah pekikan riang yang berasal dari suara anak-anak panti seketika bergaung keras memecah keheningan lobi. Belasan anak kecil berambut emas dan cokelat tampak langsung berlarian kencang dari arah tangga, menghambur maju dan memeluk erat tubuh mungil Elisa dengan penuh kerinduan.
Kini, penampilan fisik dari adik-adik panti asuhannya telah bertransformasi total menjadi jauh lebih bersih, wangi, dan rapi. Tubuh mereka terbungkus oleh setel pakaian baru berbahan kain premium berkualitas tinggi—sebuah pemandangan visual yang terasa sangat kontras dengan kondisi tubuh kurus mereka yang sempat menderita akibat kurang gizi selama menetap di panti asuhan lama.
Elisa berlutut di atas lantai marmer, membalas pelukan erat anak-anak itu dengan segenap rasa cinta yang membuncah dari dalam dadanya.
Tanpa bisa ditahan lagi, setetes air mata kebahagiaan luruh melewati pipinya yang kotor. Sebuah rasa kelegaan yang luar biasa masif kini memenuhi rongga dadanya, seolah-olah ia baru saja kembali pulang dari sebuah perjalanan panjang terpisah selama bertahun-tahun.
Ibu Iris yang berdiri tegak di area belakang bersama sosok Scarlett dan Alan Pendragon ikut melangkahkan kaki mendekat.
Sebenarnya, semenjak insiden kepindahan paksa yang dilakukan oleh Louis tadi pagi, Scarlett didera rasa khawatir yang luar biasa besar terhadap keselamatan Elisa.
Gadis berambut perak keturunan Pegasus itu langsung memacu kecepatannya menuju ke gedung panti ini dengan harapan besar Elisa bersedia ikut pindah menetap bersama mereka.
Namun, begitu tim yayasan tiba di lokasi, mereka sama sekali tidak mendapati keberadaan tanda-tanda fisik Elisa.
Scarlett akhirnya memilih opsi untuk tetap tinggal menunggu di lobi. Ia tahu betul bagaimana besarnya rasa ketakutan psikologis yang menghantam jiwa Elisa saat gadis itu dipaksa menghadapi intimidasi dari ketiga sepupu Salvatore-nya di halaman belakang kastil tadi, ditambah lagi Elisa sempat tertinggal dari rombongan bus besar yang mengangkut Ibu Iris.
"Elisa, kau... kau baik-baik saja, Sayang? Kau pasti didera kesusahan besar untuk bisa mencari lokasi tempat baru ini, ya?"
Ibu Iris memegangi kedua belah bahu kecil Elisa, menatap gadis itu dengan binar mata dipenuhi kecemasan yang tulus dari ujung kepala hingga kaki.
"Ini jam dinding sudah hampir menunjukkan tepat pukul empat sore, El. Dari mana saja kau berkeliaran sejak tadi pagi? Ibu benar-benar merasa teramat khawatir dengan keselamatanmu."
"Uhm... iya, mohon maaf, Bu. Aku... aku sempat tersesat mengambil arah jalan raya saat menuju ke pusat kota tadi," ucap Elisa berbohong, memaksakan seulas senyuman tipis.
Ia terpaksa menyembunyikan memori fragmen perihal serangan vampir dan penemuannya atas dimensi hutan purba Alfheim, yang anehnya saat ini rasanya kian mengabur dan menjauh dari kesadaran otaknya.
"Ya ampun, Elisa! Kenapa sepasang kaki telanjangmu bisa terluka parah dan berdarah-darah seperti ini?! Kau sedang mencoba membohongi Ibu, ya?"