Indonesia
NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Keluarga besar Tuan Anton tengah berkumpul dengan santai di ruang keluarga mewah mereka. Beberapa di antaranya tampak sibuk membahas urusan bisnis dan pekerjaan kantor, sementara di sudut sofa yang lain, Louis terlihat sedang telaten mengajari Bian—anak keempat di keluarga itu—untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya.

"Mom, ini berapa kalau tiga ditambah delapan?" tanya Bian sambil mengetuk-ngetukkan ujung pensilnya ke dagu.

Louis tersenyum lembut. "Coba Bian hitung pakai bantuan jari. Tangan Bian kan totalnya ada sepuluh. Sekarang, yang dua jari ditutup dulu. Terus, karena jari kaki Bian ada sepuluh juga, coba ambil tiga jari kaki, lalu hitung semuanya berurutan."

Bian mulai menggerakkan jari-jarinya dengan serius. "Satu, dua, tiga, cuatro, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas ... jadi totalnya sebelas, Mommy!" seru Bian girang.

"Nah, berarti jawabannya adalah sebelas," ucap Louis mengusap kepala putranya.

Di sisi lain ruang keluarga, Maxime tiba-tiba menoleh ke arah sofa tunggal. "Cas," panggil Maxime pelan.

Caesar—sang anak sulung—sontak mengalihkan pandangannya dan menatap tajam ke arah Maxime. Mendapat tatapan sedingin es dari abang pertamanya itu, Maxime refleks meneguk ludahnya kasar secara diam-diam.

"Maksudnya ... Bang Caesar," ralat Maxime buru-buru membetulkan panggilannya agar lebih sopan.

"Hmm," dehem Caesar singkat tanpa ekspresi.

"Abang ... kamu tidak ingin punya pacar atau pasangan gitu?" tanya Maxime memancing obrolan.

Caesar menyipitkan mata. "Kenapa?"

"Kalau Abang mau, saya punya kandidat orang yang sangat tepat buat Abang. Namanya Brian, dia sahabat dekatnya Elvian. Karakteristiknya dominan dan keras kepala. Bukannya Abang memang sedang mencari tipe pacar yang menantang seperti itu?" tawar Maxime setengah berpromosi.

"Foto?" tanya Caesar ringkas, rupanya mulai tertarik.

"Gak ada di saya. Nanti saya mintakan dulu ke Elvian," jawab Maxime. Caesar hanya mengangguk pelan sebagai tanda setuju, lalu kembali fokus pada dunianya sendiri.

Michael yang sejak tadi menyimak dari sofa sebelah ikut menyela. "Bang, elo beneran emang udah resmi pacaran sama pemuda manis yang bernama Elvian itu?"

"Sudah. Kami sudah resmi bersama sekarang," ucap Maxime bangga dengan senyuman tipis.

"Pasti elo paksa, kan? Secara, elo kan emang hobinya suka memaksakan kehendak," cibir Michael meremehkan.

Maxime mendengus sinis. "Hmm. Omong-omong, elo sendiri mau gak kalau gue kenalin sama Revangga? Dia juga sahabatnya Elvian. Siapa tahu kalian berdua cocok. Lagian elo kan udah menyandang status jomblo akut tuh," balas Maxime membalas dengan tatapan mengejek.

"Cih! Biarin aja gue jomblo terhormat, daripada elo yang hobinya maksa orang buat jadi pacar elo, Bang!" ejek Michael balik dengan senyum meledek.

Mendengar ekor kalimat adiknya, Maxime langsung melemparkan tatapan membunuh. Merasa keselamatannya terancam, Michael langsung meloncat dari sofa dan berlari cepat untuk bersembunyi di balik tubuh Louis.

"Mom, tolong! Ada singa ngamuk mau memangsa orang!" adu Michael dramatis.

Louis hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putranya. "Kamu itu ya, Cael, hobi banget menjahili abangmu sendiri. Sudah tahu abangmu itu tipikal yang menyeramkan, masih saja suka diganggu."

Bian yang baru selesai menulis ikut menimpali dari meja belajar. "Abang Cael kayak anak kecil, deh, suka ganggu Bang Max terus."

"Biarin! Suka-suka Abang, lah! Situ kok sok-sokan ngatur, bocah!" semprot Michael tidak terima.

"Abang Cael itu yang sebenarnya bocah! Aku gak ya!" balas Bian mengerucutkan bibirnya.

"Elo itu tetap bocah!"

Dan dalam sekejap, terjadilah aksi saling adu mulut dan berdebat yang heboh antara Michael dan Bian di ruang keluarga tersebut.

"Sudah, cukup! Michael, apa perlu Papa antar kamu malam ini juga ke kediaman Paman Jo?" lerai Anton dengan suara beratnya yang seketika membungkam ruangan.

Mendengar nama Paman Jo disebut, nyali Michael langsung menciut. "Tidak mau, Pa," tolak Michael dengan sangat cepat.

"Makanya diam," tegas Anton mutlak.

"Wek! Abang jelek, wek!" ejek Bian pelan sambil menjulurkan lidahnya ke arah Michael saat sang ayah tidak melihat.

"Bian, tidak boleh bersikap seperti itu," peringat Louis dengan nada menegur yang lembut.

"Habisnya Bian kesal banget, Mom, sama Bang Cael," gerutu Bian dengan wajah merengut pasrah.

Louis mengusap bahu Bian. "Pekerjaan rumahnya sudah selesai disalin belum?"

"Sudah, Mom," ucap Bian patuh.

"Kalau sudah selesai, sekarang sana langsung ganti baju dan tidur. Besok pagi kamu harus sekolah," titah Louis.

"Iya, Mom." Bian segera membereskan buku dan pensilnya ke dalam tas sekolah dengan rapi.

Sebelum beranjak naik ke lantai atas, Bian menyempatkan diri untuk mencium pipi Louis dengan sayang. "Selamat malam Mommy, Daddy, dan abang-abang semuanya!" seru Bian ceria.

"Malam, Dek," sahut Louis dan Michael berbarengan, sementara Caesar hanya membalas dengan deheman "hmm" pelan.

Setelah memastikan Bian naik ke kamarnya, Louis melangkah menghampiri Anton yang masih sibuk mengetik sesuatu di laptop pribadinya. "Apa pekerjaannya masih sangat banyak, Mas?" tanya Louis lembut.

"Sebentar lagi selesai, Sayang." Tidak butuh waktu lama, Anton akhirnya menutup laptopnya dan menyelesaikan tugas kantornya malam itu.

Begitu laptop tertutupAnton langsung menarik pinggang Louis mendekat dan mencium bibir kekasihnya itu dengan mesra tanpa memedulikan keberadaan anak-anaknya. Melihat pemandangan sensor itu, ketiga anak laki-laki mereka kompak memutar bola mata malas.

"Bucin terus jalan terus! Gak lihat apa, di sini ada kami yang statusnya jomblo merana ini?" gerutu Michael protes.

Maxime menyahut dengan nada sombong dari sofanya. "Dih, elo aja kali yang jomblo merana. Gue mah sorry-sorry ya, udah punya pacar manis."

"Cih! Mentang-mentang baru punya pacar, sok banget elo, Bang!" ketus Michael kesal.

"Terserah gue, dong! Makanya, kalian berdua itu cepat cari pacar! Jangan cuma pekerjaan kantor terus yang kalian pacari setiap hari, dasar orang-orang gila kerja," timpal Anton membela diri sekaligus menyindir anak-anaknya.

"Daddy juga sama saja! Kalau Daddy dulu gak nikah sama Mommy Louis, mungkin sampai sekarang Daddy juga bakal berakhir sama kayak Bang Caesar, gila pekerjaan dan dingin," balas Michael tidak mau kalah.

Caesar yang merasa namanya terseret hanya melirik dingin dari sudut matanya. "Tidak sadar diri," gumam Caesar telak yang langsung menusuk ulu hati Michael.

Oeeek ... oeeek ...!

Suara tangisan bayi mendadak terdengar memecah keheningan malam dari arah lantai atas.

"Tio menangis. Aku ke atas dulu ya, Mas," ucap Louis pamit yang langsung diangguki paham oleh Anton.

Ceklek. Louis membuka pintu kamar bayi dan mendapati anak bungsunya sudah terbangun dengan air mata yang membasahi pipi gembulnya.

"Huaaaa ... Mommy ... hiks, hiks ... susu, Mom ..." tangis Tio menyedihkan sambil merentangkan tangan kecilnya.

"Cup, cup, cup, anak pintar. Sini, sayang, mau nen sama Mommy, hmm?" tawar Louis hangat sambil menggendong tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Tio langsung mengangguk senang dan menghentikan tangisnya.

Louis mengambil posisi duduk di kursi goyang, lalu membuka setengah pakaian atasnya. Tio dengan sigap langsung menempelkan bibir mungilnya dan menyedot kuat puting susu Louis untuk menuntaskan rasa hausnya.

"Ssshh ... pelan-pelan menyusunya, Dek," ringis Louis pelan saat merasakan hisapan kuat dari bayinya.

Ceklek. Pintu kamar kembali terbuka.

Mendengar suara langkah kaki, Tio mendadak melepaskan mulutnya dari puting Louis sejenak. "Daddy! Sini duduk sini!" seru Tio dengan suara cadelnya, menunjuk space kosong di sebelah sang ibu.

Anton tersenyum hangat, lalu mengambil posisi duduk di samping Louis yang sedang fokus menyusui Tio. Tangan besar Anton bergerak lembut mengelus rambut lebat Tio yang kembali asyik menyusu dengan tenang. Di tengah keheningan itu, Anton mendadak mendekatkan wajahnya ke telinga Louis dan berbisik dengan suara berat yang seksi.

"Setelah Tio selesai ... giliran saya juga yang mau ya, Sayang," bisik Anton sensual.

Seketika, kedua pipi Louis langsung memerah sempurna sampai ke leher. "Mas ... ada Tio loh di sini. Bisa-bisanya Mas ngomong hal mesum kayak gitu," tegur Louis dengan suara berbisik panik.

"Biarkan saja, dia tidak akan paham" sahut Anton cuek, lalu mulai mendaratkan kecupan-kecupan ringan di pipi putih bersih milik Louis.

Plak! Plak!

"Daddy jangan ganggu Mommy terus!" protes Tio kesal. Tangan kecilnya bergerak memukul pelan kepala Anton yang sedari tadi terus mengganggu kenyamanan momen menyusunya bersama sang ibu.

Anton terkekeh geli mendapat protes dari anak bungsunya. "Oke, oke, jagoan. Daddy tidak akan mengganggu Mommy lagi," ucap Anton mengalah sambil mengangkat kedua tangannya.

Sementara itu, kembali ke situasi di dalam apartemen Elvian dan kawan-kawan.

Malam itu, mereka mendadak kedatangan empat orang tamu yang sama sekali tidak diundang. Siapa lagi kalau bukan empat curut: Langit, Lee, Resta, dan Marlo. Mereka tiba-tiba datang menginvasi apartemen dengan alasan klasik, yaitu bosan berada di rumah masing-masing.

"Bro, nonton film horor yuk! Udah lama banget kita gak uji nyali nonton film horor bareng," usul Langit bersemangat sambil duduk bersila di karpet.

Elvian meliriknya sangsi. "Elo kayak yang berani aja nonton film horor, Lang."

"Berani lah gue! Jangan meremehkan!" ucap Langit penuh dengan rasa percaya diri yang tinggi.

Brian yang sedang mengunyah keripik langsung menatapnya mengejek. "Sok-sokan berani elo! Waktu terakhir kali kita nonton film horor bareng, elo malah berujung pipis di celana karena ketakutan!" bongkar Brian tanpa ampun.

"Sue elo pada! Itu kan udah lama banget!" kesal Langit dengan wajah memerah menahan malu.

"Ayok lah, gas! Gue juga udah lama gak nonton film horor," dukung Revangga menengahi perdebatan.

"Oke, bentar gue cari kasetnya dulu di lemari tv," ucap Marlo.

Setelah mengobrak-abrik lemari jajaran kaset, Marlo akhirnya menemukan sebuah kaset dengan judul yang cukup nyeleneh: Horor Pemburu Sempak Setan. Tanpa membuang waktu, Marlo langsung menghidupkan televisi dan memutar film tersebut.

Pada bagian awal film, suasana masih terbilang aman. Terdengar suara burung hantu yang saling bersahutan menambah kesan mencekam, namun belum ada tanda-tanda penampakan makhluk halus yang muncul. Barulah saat film sudah memasuki pertengahan cerita, para demit dan makhluk astral mulai menampakkan wujud mereka satu per satu.

Dan tiba-tiba ...

JENG JENG!

"HUAAAAAAAA!"

Mereka semua sontak berteriak histeris secara serempak saat tiba-tiba sesosok hantu berwajah hancur muncul dengan efek jumpscare tepat menghadap ke arah kamera.

"Hiiiii! Seram banget, Cok!" umpat Langit yang kini sudah menutup rapat kedua matanya menggunakan kedua tangan, tubuhnya bergetar.

Hihihihi ... hihihihi ...

Suara tawa melengking khas kuntilanak mendadak terdengar menggema di ruangan yang remang-remang tersebut.

"Hei, hei, Bro ... elo pada denger suara aneh gak? Kok kayak suara kuntilanak beneran ya?" bisik Lee dengan bulu kuduk yang mulai meremang.

"Gue gak denger apa-apa. Mungkin itu cuma efek suara dari dalam tv aja kali," sahut Resta mencoba berpikir positif.

Hihihihi ... hihihihi ...

Suara tawa menyeramkan itu kembali terdengar untuk yang kedua kalinya. Namun kali ini, nadanya terdengar jauh lebih jelas dan nyata, membuat bulu kuduk mereka semua otomatis berdiri tegak.

"I–iya, ini f-fix suara kuntilanak beneran, Bro!" ucap Elvian dengan suara bergetar ketakutan, ia refleks mencengkeram lengan sofa.

"Iya, Cok! Suaranya kayak dekat banget di belakang kita!" timpal Marlo yang sudah memucat.

Hihihihi ... hihihihi ...

Seketika mereka semua terdiam mematung, menahan napas karena menyadari bahwa sumber suara mistis itu tepat berada di balik punggung mereka. Dengan gerakan patah-patah yang sangat lambat, mereka semua memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, dan ...

"HUAAAAAAA! SETAN! JURIG GILA!" teriak mereka histeris sampai ada yang terjungkal dari sofa.

"Hua-ha-ha-ha! Takut gak lo pada, hah?!" tawa Brian meledak dengan sangat puas.

Rupanya, suara kuntilanak mengerikan tadi murni berasal dari rekaman audio di ponsel Brian. Pemuda usil itu sengaja bersembunyi di balik partisi ruangan untuk menakuti teman-temannya.

"Astaga, Brian! Bikin copot jantung aja elo itu!" amuk Marlo sambil mengelus dadanya yang berdegup kencang akibat syok.

"Gimana kalau jantung gue beneran copot dan menggelinding keluar, hah?! Emang elo mau tanggung jawab ganti pakai jantung elo?!" marah Lee dengan napas tersengal-sengal karena kesal dijahili.

Brian hanya menjulurkan lidahnya jenaka. "Ganti aja pakai jantung pisang, gitu aja kok repot banget."

"Kalian ngapain sih, malam-malam begini berisik banget kayak pasar?" tanya sebuah suara berat dari arah koridor kamar. Tampak Raja sudah berdiri tegak di ambang pintu kamar dengan melipat tangan di dada.

Melihat sosok jangkung yang asing itu, Langit mengernyitkan dahi bingung. "Elo siapa, Kocak? Tinggal di sini juga? Main masuk-masuk aja elo," ucap Langit heran.

Brian merangkul pundak adiknya yang menjulang tinggi itu dengan bangga. "Kenalan dulu, Bro. Dia adik bontot kandung gue, namanya Raja."

"Seriusan orang cakep begini adalah adek kandung elo, Brian?!" tanya Marlo melongo, membandingkan fisik keduanya.

"Iya lah! Emang kenapa? Ada masalah?!" tanya Brian sewot.

"Kok dia bisa cakep dan tinggi semampai begini ya? Gak kayak elo yang bentukannya jelek, pendek, terus masih hidup lagi," ejek Marlo tanpa menyaring ucapannya.

Seketika, urat pertemanan di dahi Brian menegang. "Wah, wah, wah! Elo kayaknya beneran minta gue gebukin malam ini ya, Mar!" ucap Brian dengan wajah garang sambil menggulung kedua lengan baju panjangnya, siap untuk baku hantam.

"Bercanda doang, Brian! Sensi amat elo malam ini, udah kayak cewek yang lagi dapet PMS aja," cibir Marlo buru-buru mundur selangkah.

Tian yang sejak tadi mengawasi dari area dapur akhirnya melangkah maju untuk melerai. "Sudah, sudah, jangan berantem terus. Sebaiknya kalian semua sekarang masuk ke kamar dan tidur. Ini sudah larut malam," nasihat Tian dengan tegas namun lembut.

Mendengar instruksi dari pemilik ketertiban apartemen, mereka akhirnya memutuskan untuk menyudahi malam itu dan beranjak ke kamar masing-masing. Dan karena salah satu kamar kosong kini sudah resmi ditempati oleh Raja secara permanen, terpaksa malam ini Langit dan Lee harus berbagi kasur untuk tidur berdua di kamar tamu yang tersisa.

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!