Indonesia
NovelToon NovelToon
MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Rumahhantu
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Iephe Tyo

Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.

keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Pak Wibowo tersenyum tipis. Ia merangkul pundak anaknya dengan penuh kasih, meredam penolakan Theo.

"Le, dengarkan Ayah," kata Pak Wibowo sungguh-sungguh. "Bukan soal siapa yang paling berhak secara garis keturunan. Tapi ini tentang amanah, dan yang paling penting... ini adalah permintaan mutlak dari Kakungmu."

Pak Wibowo menatap lurus ke mata Theo, menyiratkan ketegasan yang tak bisa dibantah. "Kakungmu sudah memilihmu dengan penuh keyakinan. Beliau tahu kapasitasmu, dan beliau tahu alasan kenapa harus kamu yang memegang kendali atas rumah dan rahasia yang ada di tempat ini. Ayah dan keluarga hanya menjalankan apa yang sudah digariskan oleh Kakung."

Theo tertegun. Kalimat ayahnya kembali mengingatkannya pada bisikan terakhir sang kakek di rumah sakit—tentang rumah tua ini, Bu Sri, dan hal-hal mistis yang hanya bisa dikendalikan oleh dirinya. Penolakannya mendadak tertelan oleh rasa tanggung jawab yang kini terasa begitu berat menghujam pundaknya.

Theo terdiam lama, menatap kepulan asap rokok yang perlahan buyar diembus angin malam. Ia tahu betul penolakannya tadi bukanlah penolakan mutlak, melainkan bentuk keterkejutan atas beban besar yang tiba-tiba dijatuhkan ke pundaknya.

"Bukannya Theo tidak mau, Yah..." ucap Theo akhirnya dengan suara lirih, memecah keheningan di antara mereka berdua. Ia menoleh menatap sang ayah. "Tapi, Theo belum bicara dengan Tiara. Pekerjaan Theo di Jakarta juga masih ada kerjaan dan tanggung jawab di sana tidak bisa ditinggal begitu saja dalam waktu dekat."

Pak Wibowo mengangguk-angguk pelan, menyimak setiap keraguan yang diutarakan anaknya. Namun, jauh di lubuk hatinya, Pak Wibowo sangat paham ada hal lain yang jauh lebih besar yang sedang berkecamuk di dalam kepala Theo—sesuatu yang sengaja tidak ingin diucapkan oleh pemuda itu di hadapan ayahnya.

Di dalam benak Theo, keraguan terbesarnya bukanlah sekadar soal pekerjaan di ibu kota atau urusan izin dengan Tiara. Theo menyimpan sebuah rahasia besar; ia tahu persis bahwa rumah tua ini menyimpan misteri kelam yang tidak wajar.

Meski Theo tidak mengatakannya secara terang-terangan, Pak Wibowo seolah bisa membaca pikiran anaknya. Sebagai anak kandung Pak Harto yang juga besar di rumah itu, Pak Wibowo tahu bahwa sang ayah tidak pernah bertindak tanpa alasan.

"Ayah mengerti, Nak," ujar Pak Wibowo sambil menepuk pelan pundak Theo. "Ayah tahu apa yang kamu pikirkan, dan Ayah juga tahu apa yang ada di dalam rumah ini. Tapi percayalah pada Kakung. Ayah sangat mengenal beliau; Kakung tidak akan pernah salah pilih orang. Kalau Kakung menyerahkan tempat ini padamu, itu karena beliau tahu kamu satu-satunya yang mampu menghadapinya."

Theo menunduk, dadanya bergemuruh. Kata-kata ayahnya terasa begitu telak.

Bukan hanya sekadar dari cerita bisik-bisik warga desa atau pesan terakhir di rumah sakit, Theo tahu betul apa yang ada di rumah mewah milik kakeknya ini. Kenangan masa lalu itu kembali menyeruak, berputar jelas di dalam kepalanya, menarik kesadarannya mundur jauh ke belakang—ke masa di mana usianya baru menginjak bangku kelas 2 SMP.

.

.

.

FLASHBACK KE TAHUN 2005 (SAAT THEO SMP)

Udara sore di pedesaan terasa sejuk menyambut kedatangan Theo. Di usianya yang menginjak 14 tahun—duduk di bangku kelas 2 SMP—Theo sangat antusias melangkah masuk ke dalam rumah mewah bergaya Eropa klasik milik kakek dan neneknya.

Sebenarnya, rumah megah berlantai dua dengan pilar-pilar tinggi dan jendela besar itu bukanlah tempat yang asing bagi Theo. Ia bahkan lahir dan menghabiskan tahun-tahun pertama balitanya di rumah tersebut. Namun, karena suatu alasan pelik di masa lalu, Pak Wibowo memutuskan untuk memboyong keluarganya pindah dan menetap di kota lain, membuat kunjungan kali ini terasa begitu istimewa setelah bertahun-tahun lamanya ia tidak pulang.

Kedatangan Theo disambut dengan pelukan hangat penuh kerinduan dari Pak Harto dan Bu Sri. Selama liburan sekolah itu, Theo benar-benar dimanjakan oleh kakek dan neneknya. Setiap hari, Kakung mengajaknya berkeliling peternakan, sementara Bu Sri selalu menyajikan berbagai makanan kesukaan cucu kesayangannya itu. Rumah mewah yang megah ini terasa begitu hangat dan penuh kasih sayang.

Namun, kehangatan itu mulai bergeser seiring tenggelamnya matahari.

Menjelang magrib, suasana di dalam rumah besar berarsitektur kuno tersebut mendadak berubah drastis. Langit di luar berangsur gelap, meninggalkan bayangan-bayangan panjang di setiap sudut ruangan yang luas. Saat itu, Pak Harto sedang pergi keluar sebentar untuk urusan peternakan, sementara Bu Sri tengah sibuk menyiapkan makan malam di dapur belakang.

Theo yang tadinya bersantai di ruang tamu besar mulai merasa ada kejanggalan. Suhu udara di dalam rumah tiba-tiba merosot drastis, menjadi begitu dingin hingga menusuk tulang, jauh berbeda dari udara sore tadi.

Lampu-lampu gantung di ruang tamu yang menggantung di langit-langit tinggi mendadak berkedip-kedip lemah, menciptakan pantulan cahaya yang menyeramkan di lantai marmer yang mengkilap. Lampu gantung besar yang harusnya kokoh tersebut tiba tiba berayun pelan seakan akan di gerakkan oleh sesuatu yang besar.

Theo mengerutkan kening, mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman di dadanya. Namun, saat ia berniat beranjak untuk menyusul sang nenek ke dapur, sudut matanya menangkap sesuatu yang bergerak di ujung tangga yang mengarah ke lantai dua rumah besar tersebut.

Di sana, berdiri sesosok bayangan hitam tinggi besar dengan postur membungkuk, seolah sedang mengawasi setiap gerak-geriknya dari balik temaram cahaya lampu.

Bayangan hitam legam itu perlahan memisahkan diri dari kegelapan di bawah tangga beton yang megah. Sosoknya tinggi besar, membungkuk, dengan postur yang tidak wajar. Bulu lebat berwarna hitam pekat menutupi seluruh tubuhnya yang berotot, memancarkan aura dingin yang mencekam. Saat ia melangkah menuruni anak tangga satu per satu, terdengar suara dentuman langkah kaki yang berat, beradu dengan deru napas makhluk tersebut yang terdengar seperti desisan angin kuburan.

Mata merah menyala menatap tajam ke arah Theo yang masih terpaku di sofa ruang tamu. Mulutnya menyeringai, menampilkan barisan gigi taring yang runcing dan tajam, sementara kuku-kuku hitam panjang melengkung di ujung jari-jarinya yang besar. Theo kecil—yang baru berusia 14 tahun dan tengah menikmati liburan—membeku di tempat. Lidahnya kelu, jantungnya berdegup kencang seakan ingin meloncat keluar dari dada. Pikirannya berkecamuk, mencoba mencerna pemandangan mengerikan di depan matanya. Belum pernah seumur hidupnya ia melihat makhluk sekeji itu secara nyata. Sosok hitam, berbulu, dengan gigi runcing dan kuku panjang itu terus berjalan mendekat, langkah demi langkah yang terasa begitu lambat namun mematikan.

Tepat saat makhluk itu mengulurkan tangan besarnya ke arah Theo, pintu depan tiba-tiba terbuka dengan dentuman keras.

"Pergi kau, makhluk terkutuk!" suara berat Pak Harto menggema, memecah kesunyian mencekam di dalam rumah.

Pak Harto berdiri di ambang pintu, wajahnya memerah menahan amarah. Tanpa rasa takut sedikitpun, ia melangkah masuk sambil menggenggam tasbih kayu tua di tangan kirinya. Dengan suara lantang dan penuh keyakinan, Pak Harto membacakan ayat-ayat suci Al-Quran dan doa perlindungan, mengusir sosok Genderuwo tersebut dengan tatapan tajam yang tak gentar.

Seketika itu juga, aura panas dan mencekam di dalam ruangan sirna. Makhluk hitam besar itu hilang begitu saja.

Namun, dampak dari pertemuan mengerikan itu sudah terlanjur menghancurkan mental Theo. Begitu makhluk itu menghilang, pertahanan diri Theo runtuh. Ia menjerit histeris, tubuhnya gemetar hebat, dan akhirnya jatuh pingsan.

Suasana di ruang tamu mendadak kacau. Bu Sri yang baru saja keluar dari dapur karena mendengar keributan langsung berlari menghampiri cucunya yang terkulai lemas.

"Ya Allah, Theo! Ada apa, Pak?" panik Bu Sri sambil mendekap tubuh Theo yang dingin.

Pak Harto bergegas ikut duduk di samping istrinya, wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. Ia menempelkan telapak tangannya ke dahi Theo yang terasa panas.

"Makhluk itu tadi menampakkan diri, Bu," jawab Pak Harto dengan suara berat, nadanya terdengar muram. "Dia sangat kuat, mungkin sudah lama menunggu saat Theo lengah."

"Kita bawa Theo ke kamar sekarang, Pak. Nanti aku buatkan kompres air hangat," perintah Bu Sri dengan suara bergetar menahan tangis, air mata mulai membasahi pipinya.

Dengan penuh kasih sayang, Pak Harto menggendong tubuh cucunya yang lemah dan tidak sadarkan diri, melangkah menuju kamar tidur mereka, diikuti oleh Bu Sri yang setia mendampingi. Sementara itu di luar, malam semakin kelam, menyisakan misteri kelam yang tersingkap di balik tembok megah rumah warisan leluhur mereka. Kejadian malam itu meninggalkan trauma mendalam bagi Theo, membuatnya jatuh sakit selama berhari-hari dan tak pernah lagi berani sendirian di ruang tamu saat hari mulai gelap.

.......FLASHBACK SELESAI......

Theo kembali tersadar sesaat setelah mengingat masa lalu nya tentang kejadian 11 tahun yang lalu itu dan lamunan panjang itu perlahan buyar. Theo mengerjap beberapa kali, menarik napas dalam-dalam untuk menetralisir debaran di dadanya. Udara malam terasa dingin menyentuh kulitnya, membawanya kembali ke kenyataan di teras rumah warisan Pak Harto.

Ayahnya sudah beranjak masuk ke dalam untuk beristirahat. Namun, alih-alih ikut bangkit, pandangan Theo justru terpaku ke satu titik di sudut halaman belakang yang luas.

Tanpa alasan yang jelas, matanya terarah pada sebatang pohon kelengkeng tua berukuran besar yang berdiri kokoh dalam kepekatan malam. Konon, pohon itu sudah ada sejak zaman kakeknya masih muda, dengan dahan-dahan lebat yang merentang luas dan dedaunan rimbun yang menciptakan bayangan hitam pekat di atas tanah.

Pandangan Theo terkunci pada rimbunan daun pohon kelengkeng tua di sudut halaman. Di tengah temaram lampu halaman, detik demi detik berlalu hingga napasnya tertahan seketika.

Di antara gelapnya sela-sela dahan yang merunduk, Theo melihat ada .....

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh... Bakalan ada apa lagi, nih?
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Tita Tata
sumpahhhh penasaran bgt sama kelanjutannya
Tita Tata
pokoknya terus lanjut bacaa
Tita Tata
suara apa itu thorrrrrrr
Tita Tata
lanjut thor ... semakin seruuuu
Tita Tata
jadi Theo pernah se trauma itu yaaa
Tita Tata
aku suka bngt sama tulisan author ini
Tita Tata
apa yang akan terjadi selanjutnya yah
Tita Tata
tegang bgt sumpah
Tita Tata
lanjut thorrrr
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Loh, wafatnya Kakung Theo belom dikasih kabar ke orang tuanya kah??? 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kira-kira Theo bisa "merasakan" kejanggalan di rumah peninggalan Kakeknya gak, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Owalaaah... Jadi makhluk-makhluk yang mengganggu itu kiriman orang lain ternyataaa... Gak bisa dibiarin terus kalo begitu...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh, saya bener-bener jadi inget sama Almarhum Mbah saya pas baca BAB ini, Kak... Emosi memorinya kuat banget... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Jangan-jangan semua makhluk yang ada di rumah Almarhum Kakek Theo itu, sosok penjaga rumah itu kah???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya suka banget nih, ceritanya semakin mendebarkan... 🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Siapa sih, wanita yang menangis itu? Penasaran banget jadinya...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waaah, nostalgia banget pas baca kata "Playstation"... Jadi sama-sama inget masa SMP dulu, mirip kayak Theo... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waduh, ada rahasia apa di balik rumah dan peternakan Almarhum Kakek Theo, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah... Makin seru ceritanya Thor!

Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???

🤨🤨🤨🤨🤨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!