Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Hampir Terucap
Event cosplay itu resmi ditutup jam setengah lima sore, tapi butuh hampir satu jam lagi sebelum kami benar-benar bisa pulang.
Bukan karena ada acara tambahan. Karena bongkar booth itu selalu lebih lama dari yang dibayangkan siapa pun yang enggak pernah ikut jaga booth. Panel-panel dekorasi harus dilepas satu per satu, kabel lampu digulung supaya enggak kusut, dan ada semacam hukum alam yang bikin barang-barang kecil selalu lebih susah dicari waktu packing dibanding waktu unpacking.
Aku ikut bantu gulung kabel karena enggak ada kerjaan lain yang bisa aku lakukan tanpa merusak sesuatu. Cahaya sibuk di sudut lain, masih pakai kostumnya yang tadi sempat sobek dan sudah aku jahit darurat, ngobrol sama dua orang dari komunitas cosplay yang booth-nya persis di sebelah kami. Sesekali ada yang minta foto bareng. Ia selalu bilang iya, meskipun aku bisa lihat dari cara ia berdiri kalau kakinya sudah mulai protes sejak dua jam lalu.
"Ren, tolong ambilin tas biru di belakang panel."
Aku ambil. Tasnya berat, isinya entah apa. Aku enggak tanya.
"Makasih." Ia menyampirkan tas itu ke bahu, masih senyum ke arah orang-orang yang lewat, tapi begitu mereka menjauh senyumnya turun sedikit, berganti jadi ekspresi capek yang lebih jujur. "Kaki gue udah kayak mau copot."
"Dari tadi siang."
"Iya, dari tadi siang." Ia duduk di kursi lipat, akhirnya, melepas salah satu sepatu bootnya sebentar buat ngelurusin jari kaki. "Tapi seru sih. Lo enggak nyesel kan ikut?"
Aku pikirkan pertanyaan itu sebentar. Jujur, di awal hari aku memang agak enggan. Event ramai bukan tempat yang nyaman buatku, apalagi kalau harus berdiri lama di tengah orang-orang yang aku enggak kenal. Tapi ada beberapa momen hari ini yang, kalau dihitung-hitung, cukup untuk menutupi rasa enggak nyaman itu. Salah satunya waktu ada anak SMA yang mendekat ke Cahaya dan dengan suara agak gemetar bilang dia juga suka Stellar Requiem, dan enggak nyangka ada yang cosplay Kaito Amagi karena karakter itu enggak terlalu terkenal.
Cahaya waktu itu langsung semangat cerita soal detail kostumnya, soal bros yang dia bikin dari logam bekas kalung ibunya, soal kenapa dia pilih warna biru yang agak lebih gelap dari yang biasa dipakai orang lain.
Aku cuma berdiri di belakang dengerin.
"Enggak," jawabku akhirnya. "Enggak nyesel."
"Bagus." Ia pakai lagi sepatunya, meringis sedikit. "Soalnya lo bakal ikut lagi bulan depan. Ada event yang lebih gede di kota sebelah."
"Aku belum bilang iya."
"Belum. Tapi bakal iya."
Aku enggak bantah itu, karena kemungkinan besar dia benar.
Kami keluar dari gedung convention hall sekitar jam setengah enam, sudah ganti baju biasa, dan langit di luar udah mulai berubah warna. Bukan jingga terang kayak biasanya. Lebih ke abu-abu keunguan, tanda kalau hujan mungkin bakal turun malam ini.
"Kita jalan kaki dulu ke halte," kata Cahaya, ngelirik ponselnya. "Ojol lagi surge, mahal banget."
"Berapa jauh halte dari sini?"
"Kayak lima belas menit jalan. Kenapa, lo capek?"
"Enggak. Tanya doang."
Sebenarnya aku agak capek, tapi enggak separah Cahaya yang dari tadi jalan agak pincang karena kaki kirinya lecet kena sepatu boot. Aku enggak bilang itu juga, karena kalau aku sebut dia bakal bilang dia baik-baik aja padahal jelas enggak.
Jalan menuju halte itu lewat area yang lumayan sepi, di antara gedung convention hall dan jalan utama, dilewatin cuma sama beberapa orang yang juga baru keluar dari event. Ada dua anak yang masih pakai kostum lengkap, salah satunya bawa properti pedang plastik yang cukup besar dan bikin orang-orang di trotoar seberang jalan menoleh sebentar sebelum lanjut jalan.
"Capek banget hari ini," kata Cahaya, lebih ke diri sendiri daripada ke aku.
"Tapi seneng."
"Iya. Tapi seneng." Ia ngelirik aku. "Lo tau enggak, tadi ada tiga orang yang nanya kostum lo juga dari mana. Kirain lo yang bikin sendiri."
"Bukan aku yang bikin."
"Iya, aku yang bikin, tapi mereka kira lo juga cosplayer." Ia ketawa kecil. "Padahal lo cuma dateng pake hoodie item sama earphone kayak biasa."
"Itu bukan kostum. Itu pakaian sehari-hari."
"Buat orang lain mungkin keliatan kayak konsep minimalis."
"Itu bukan konsep apa-apa."
"Terserah. Yang penting mereka mikir kita couple cosplay atau semacamnya."
Aku diam sebentar. "Couple cosplay?"
"Iya. Kostum couple. Lo yang jadi... apa ya, mungkin figuran di anime yang sama."
"Aku enggak pakai kostum."
"Makanya jadi figuran. Figuran enggak butuh kostum khusus." Ia ketawa lagi, kali ini lebih keras, dan beberapa orang yang jalan di depan kami menoleh sebentar sebelum balik lagi ke arah masing-masing.
Aku enggak tau harus jawab apa soal itu. Jadi aku diam aja, jalan di sebelahnya, ngedengerin suara langkahnya yang agak berat karena kelelahan.
Sampai di halte, ternyata bus yang kami tunggu baru dateng dua puluh menit lagi. Cahaya duduk di bangku besi yang catnya udah mulai ngelupas, aku duduk di sebelahnya, dan buat sesaat kami cuma diam, ngeliatin jalanan yang mulai ramai sama orang pulang kerja.
"Laper enggak?" tanya Cahaya, tiba-tiba.
"Sedikit."
"Ada angkringan di ujung jalan sana. Keliatan dari sini." Ia nunjuk ke arah lampu kuning temaram sekitar seratus meter dari halte. "Kita jalan ke sana dulu, makan bentar, terus balik pas bus udah mau dateng."
"Kalau bus-nya dateng duluan?"
"Bus di sini enggak pernah tepat waktu, Ren. Percaya deh."
Aku enggak punya data buat bantah itu, jadi aku ikut aja.
Angkringan itu ternyata lebih ramai dari yang kelihatan dari jauh. Ada sekitar tujuh delapan orang duduk lesehan di tikar, sebagian bapak-bapak yang kayaknya abis kerja, sebagian lagi anak muda yang mungkin juga abis dari event yang sama kayak kami. Baunya khas, arang bakar campur bumbu kecap, dan asap tipis ngambang di atas gerobak.
Kami pesan nasi kucing sama beberapa sate, duduk di ujung tikar yang agak jauh dari kerumunan. Cahaya makan dengan cara yang khas dia, cepat tapi tetap rapi, sementara aku lebih pelan karena masih mikirin hal-hal enggak penting kayak kenapa nasi kucing dinamain nasi kucing padahal porsinya emang buat manusia bukan buat kucing.
"Lo lagi mikirin apaan?" tanya Cahaya, ngeliat ekspresiku.
"Enggak ada."
"Bohong. Muka lo lagi mikir sesuatu yang enggak penting."
"Aku lagi mikirin asal-usul nama nasi kucing."
Cahaya diem sebentar, terus ketawa, sampe hampir keselek. "Serius lo mikirin itu sekarang?"
"Kepikiran aja."
"Dasar." Ia geleng-geleng kepala, masih senyum. "Nih, minum dulu." Ia sodorin teh anget yang tadi dia pesen, padahal aku belum pesan minum apa-apa.
"Itu punya kamu."
"Aku pesen dua. Yang satu emang buat lo."
Aku ambil gelas itu, minum sedikit. Manis, pas.
Kami makan dalam diam beberapa menit. Suasana angkringan enggak berisik banget, cuma obrolan pelan dari orang-orang lain, suara motor lewat sesekali, dan radio kecil dari gerobak yang muter lagu dangdut lawas dengan volume rendah.
"Ren," kata Cahaya, tiba-tiba, nadanya beda dari yang tadi.
"Hm?"
Ia enggak langsung ngomong. Naruh gelas tehnya, natap ke depan, ke arah jalan yang mulai dipenuhi lampu-lampu kendaraan yang lewat.
"Hari ini... seneng banget ya."
"Iya."
"Bukan cuma soal eventnya." Ia masih natap ke depan, enggak ke arahku. "Maksud aku, lo ikut. Lo enggak keliatan keberatan. Padahal aku tau lo enggak suka keramaian."
"Aku enggak bilang aku enggak suka."
"Tapi lo enggak suka. Aku tau dari cara lo berdiri di tempat rame. Kayak lagi nunggu waktu buat kabur."
Aku enggak bantah itu, karena memang benar.
"Tapi hari ini lo tetep dateng," lanjutnya. "Dan lo bantuin gue jahit kostum yang sobek, padahal itu bukan tanggung jawab lo. Dan lo dengerin gue cerita ke orang-orang soal Kaito Amagi tanpa keliatan bosen."
"Aku enggak bosen. Aku suka nostalgia soal itu."
"Tau." Ia diem sebentar. "Tapi bukan itu maksud aku."
Aku nunggu.
Cahaya masih natap ke depan, tangan mainin gelas teh yang udah kosong, dan ada sesuatu di caranya diam yang beda dari diam yang biasa. Bukan diam karena capek. Lebih ke... nyari kata.
"Ren, sebenernya ada sesuatu yang pengen aku—"
Ponselnya berbunyi.
Nyaring, dengan nada dering yang khas dia pakai buat kontak tertentu, dan Cahaya langsung nengok ke layar dengan refleks yang cepat banget, kayak reaksi yang udah terlatih.
"Bentar," katanya, sambil angkat telepon. "Halo? Ya, Sas, kenapa?"
Aku enggak denger apa yang dibilang Sasa dari seberang, tapi dari ekspresi Cahaya yang berubah dari serius jadi agak panik, kayaknya ada sesuatu yang cukup mendesak.
"Hah? Serius? Sekarang?" Cahaya berdiri, satu tangan masih pegang ponsel, tangan lain mulai ngerapiin tas. "Oke, oke, bentar, gue lagi di jalan pulang. Iya, deket kok. Sepuluh menit lagi nyampe."
Ia tutup telepon, natap aku dengan ekspresi setengah panik setengah kesal.
"Ada apa?" tanyaku.
"Sasa nitip barang di rumah aku, katanya dia lupa taro di mana, terus mama dia lagi cari-cari karena besok mau dipake buat acara keluarga. Aku harus balik cepetan, bantuin cari."
"Barang apa?"
"Enggak tau, dia enggak jelasin, cuma bilang penting banget." Cahaya udah berdiri, ngerapiin sisa makanan ke piring, buru-buru. "Ayo, kita harus buruan ke halte. Kalo bisa naik ojol aja, lupa sama bus."
Aku ikut berdiri, bantuin beresin meja seadanya, bayar ke ibu penjual angkringan yang senyum ramah walau kami buru-buru.
Waktu kami jalan cepat balik ke arah halte, aku masih mikirin kalimat yang tadi terpotong.
Ren, sebenernya ada sesuatu yang pengen aku—
Aku enggak tanya lanjutannya. Enggak tau kenapa, tapi rasanya ini bukan momen yang pas buat nanya, apalagi Cahaya udah sibuk pesen ojol lewat aplikasi sambil jalan setengah lari, sepatu bootnya yang tadi bikin dia pincang sekarang kayak enggak jadi masalah lagi karena dia terlalu fokus mikirin barang titipan Sasa.
Ojol dateng lebih cepat dari yang dikira. Kami naik berdua, Cahaya di belakang, aku duduk di depan sebelah pengemudi karena motor yang dipesan cuma muat segitu.
Sepanjang jalan, Cahaya sibuk chat sama Sasa, sesekali nunjukin layar ponselnya ke arahku buat nunjukin percakapan yang, jujur aja, enggak terlalu aku ngerti karena aku enggak tau konteks lengkapnya.
"Katanya barangnya kotak kado warna ungu," kata Cahaya, masih natap layar. "Isinya hadiah ulang tahun buat sepupunya. Ketinggalan pas Sasa main ke rumah aku minggu lalu."
"Kenapa baru dicari sekarang?"
"Soalnya acaranya besok pagi, dan mama Sasa baru sadar kadonya enggak ada pas mau dibungkus ulang."
"Logis."
"Enggak logis juga sih, tapi ya udahlah."
Kami sampai di rumah Cahaya sekitar jam tujuh kurang. Ibunya udah nunggu di teras, keliatan agak khawatir, langsung nanya soal kotak ungu begitu Cahaya turun dari motor.
"Coba cek di kamar dulu, mah," kata Cahaya, langsung masuk rumah tanpa sempat lepas sepatu dengan benar. "Terakhir Sasa ke sini kan dia duduk di kamar aku."
Aku berdiri di teras, enggak yakin harus ikut masuk atau nunggu di luar. Tapi Cahaya udah nengok balik dari pintu, bilang, "Ren, masuk aja, bantuin cari."
Jadi aku masuk.
Pencarian itu berlangsung sekitar dua puluh menit, melibatkan Cahaya yang ngobrak-abrik lemari, kolong ranjang, bahkan sampai ke dapur karena ada kemungkinan kecil kotaknya kebawa pas mereka bikin cemilan minggu lalu. Aku bantu cari di ruang tamu, di bawah sofa, di rak sepatu, meskipun logikanya kecil banget kotak kado bisa nyasar sampe sana.
Akhirnya ketemu, di lemari baju Cahaya, terselip di antara tumpukan baju yang belum disetrika.
"KETEMU!" teriak Cahaya dari kamarnya, suaranya kedengeran sampai ke ruang tamu.
Ibunya langsung ke kamar, dan aku dengar suara lega bercampur omelan kecil soal kenapa bisa nyasar sampai sana. Cahaya keluar bawa kotak ungu itu, langsung foto dan kirim ke Sasa sebagai bukti, disusul dengan balasan stiker heboh dari Sasa yang aku enggak lihat tapi bisa dibayangkan isinya.
"Fyuh." Cahaya duduk di sofa ruang tamu, capek. "Untung ketemu. Kalo enggak, bisa dimarahin abis-abisan sama mamanya Sasa."
"Kenapa penting banget?"
"Soalnya itu kado dari almarhum kakeknya buat sepupunya, dititipin sebelum kakeknya meninggal tahun lalu. Jadi enggak bisa diganti."
Oh. Itu jelas lebih masuk akal kenapa Cahaya panik.
Aku duduk di sofa, di seberangnya, dan buat sesaat kami cuma diem, sama-sama capek habis hari yang panjang.
"Ren," kata Cahaya lagi, setelah beberapa menit hening.
"Hm?"
"Tadi, sebelum Sasa telepon..."
Aku nunggu.
Tapi ibunya keburu masuk ruang tamu, bawa dua gelas air putih, natap kami berdua dengan ekspresi yang aku enggak bisa baca sepenuhnya, campuran antara geli dan sesuatu yang lain.
"Rendy udah makan malam?" tanya ibunya Cahaya.
"Udah tadi, Tante. Di angkringan."
"Oh bagus. Mau nginep? Udah malem, hujan kayaknya mau turun."
Aku ngelirik ke luar jendela. Emang, langit udah gelap total, dan ada suara guntur samar dari kejauhan.
"Enggak usah, Tante. Rumah deket kok."
"Ya udah, hati-hati. Bawa payung kalo perlu, ada di rak deket pintu."
Ibunya balik ke dalam, dan momen yang tadi kayaknya udah keburu ilang. Cahaya natap ke arah kotak ungu di meja, terus ke arahku, terus balik lagi ke kotak itu.
"Tadi mau ngomong apa?" tanyaku, akhirnya, karena penasaran udah keburu numpuk sejak di angkringan.
Cahaya diem sebentar. Terlalu lama buat pertanyaan sesederhana itu.
"Enggak jadi," katanya akhirnya, dengan senyum yang enggak sepenuhnya sampai ke matanya. "Lupa. Ntar aja kalo inget lagi."
"Kamu bilang gitu terus."
"Bilang apa?"
"Lupa. Padahal kamu enggak pernah lupa apa-apa."
Cahaya natap aku sebentar, ekspresinya sulit dibaca dalam cahaya lampu ruang tamu yang agak redup. "Kadang ada hal yang emang lebih gampang dilupain aja, Ren."
Aku enggak ngerti maksudnya, tapi enggak nanya lebih jauh, karena udah kerasa kalau ini bukan topik yang mau dia lanjutin sekarang.
"Ya udah," kataku. "Aku pulang duluan sebelum hujan."
"Bawa payung."
"Rumah kan deket."
"Bawa aja, biar enggak basah kuyup."
Aku ambil payung dari rak deket pintu sesuai saran ibunya, sambil Cahaya nganterin sampai teras.
Di teras, sebelum aku bener-bener jalan pulang, ada jeda sebentar di mana kami cuma berdiri, enggak ngomong apa-apa. Angin udah mulai kenceng, bawa bau tanah basah yang khas sebelum hujan turun beneran.
"Makasih udah nemenin hari ini," kata Cahaya, akhirnya.
"Sama-sama."
"Beneran seru kan?"
"Beneran."
Ia senyum, kali ini lebih tulus dari yang tadi di dalam. "Besok ketemu di kampus."
"Besok."
Aku jalan turun dari teras, buka payung meskipun hujan belum bener-bener turun, cuma gerimis kecil yang baru mulai. Di persimpangan gang, sebelum belok ke arah rumahku, aku noleh sebentar.
Cahaya masih berdiri di teras, ngeliatin ke arahku, dan waktu mata kami ketemu dia langsung ngelambai cepat terus masuk ke rumah, kayak ketauan lagi ngapain yang enggak seharusnya.
Aku lanjut jalan, sambil mikirin kalimat yang dua kali terpotong hari ini.
Ren, sebenernya ada sesuatu yang pengen aku—
Tadi, sebelum Sasa telepon—
Dua kali. Dua kali dia mau ngomong sesuatu, dan dua kali juga keburu keganggu sama hal lain yang, jujur, enggak ada satupun yang direncanakan. Bukan salah siapa-siapa. Cuma kebetulan yang, kalau dipikir-pikir lagi, kok bisa pas banget waktunya.
Aku enggak tau apa yang mau dia bilang. Bisa aja hal kecil, kayak dia mau minta tolong sesuatu, atau mau cerita soal rencana event bulan depan. Bisa juga bukan hal kecil.
Aku enggak tau, dan bagian dari diriku yang biasanya suka mikirin segala kemungkinan sampai detail, kali ini milih buat enggak terlalu dipikirin. Mungkin karena udah capek. Mungkin karena emang enggak semua hal butuh dianalisis sampai tuntas malam itu juga.
Hujan mulai turun lebih deras waktu aku sampe di depan rumah. Aku tutup payung, masuk, dan ibu langsung nanya dari mana aja seharian.
"Event cosplay," jawabku singkat, taruh sepatu di rak.
"Sama Cahaya?"
"Iya."
"Seru?"
Aku pikirkan jawabannya sebentar sebelum jawab. "Lumayan."
Ibu cuma ngangguk, enggak nanya lebih jauh, dan aku naik ke kamar.
Malam itu, sebelum tidur, aku buka ponsel, dan ada satu pesan masuk dari Cahaya, dikirim sekitar sepuluh menit lalu.
"Ren, makasih lagi ya buat hari ini. Beneran."
Aku balas: "Sama-sama. Istirahat, kaki kamu pasti sakit banget."
"Iya nih. Tapi worth it."
Ada jeda beberapa menit sebelum pesan berikutnya masuk.
"Ren."
"Hm?"
"Enggak jadi. Besok aja."
Aku natap layar itu cukup lama.
Ada rasa penasaran yang enggak nyaman, semacam gatal kecil di kepala yang enggak bisa digaruk. Tapi aku juga enggak mau maksa, karena kalau Cahaya emang belum siap ngomong, mungkin ada alasannya, dan aku enggak dalam posisi buat maksa dia buka sesuatu yang dia sendiri belum yakin mau dibuka.
"Oke," balasku. "Besok."
Enggak ada balasan lagi setelah itu.
Aku taruh ponsel di meja, matiin lampu, dan berbaring natap langit-langit kamar yang gelap.
Ada dua kalimat yang terpotong hari ini, dan aku enggak tau apa yang lebih bikin enggak nyaman: fakta kalau kalimatnya terpotong, atau fakta kalau aku enggak sepenuhnya berusaha nyari tau lanjutannya.
Mungkin besok dia bakal cerita. Mungkin enggak.
Aku enggak tau, dan malam ini, entah kenapa, itu cukup buat aku biarin aja.
Hujan masih turun di luar, suaranya konsisten, dan di antara suara itu aku akhirnya ketiduran tanpa benar-benar menemukan jawaban atas pertanyaan yang bahkan enggak sempat aku ucapkan.