Indonesia
NovelToon NovelToon
RED CROWS

RED CROWS

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:670
Nilai: 5
Nama Author: D'syam

"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."

Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.

Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.

Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sindiran Lukas

Mesin penstabil kondisi biologis di ruang perawatan intensif berbunyi bip teratur, memancarkan garis-garis hijau stabil pada layar pemantau. Bau obat antiseptik yang menusuk hidung masih mendominasi udara, namun ketegangan yang sebelumnya menyelimuti ruangan medis itu perlahan-lahan mencair.

Dr. Anthony berdiri di samping ranjang dengan papan data di tangannya. Dahi dokter senior itu terlipat dalam, matanya tak berhenti menatap barisan angka dan analisis jaringan sel tubuh Daren yang terpampang pada tablet medisnya. Raut wajahnya tidak lagi dingin dan kaku seperti biasanya, melainkan dipenuhi oleh rasa tak percaya yang sangat nyata.

"Ini... ini sungguh di luar nalar," gumam Dr. Anthony pelan. Dia membetulkan posisi kacamata bacanya, lalu menyentuh punggung Daren yang kini sudah bersih dari perban tebal.

Daren duduk di tepi ranjang. Dia mengenakan pakaian kain serba hitam yang jauh lebih layak. Punggungnya—yang lima hari lalu merupakan gumpalan daging hancur berdarah akibat sabetan gesper kulit berujung besi—kini telah mengering total. Yang tersisa hanyalah garis-garis bekas luka berwarna kemerahan yang memudar. Bahkan trauma tumpul pada organ dalam serta tulang iganya yang retak telah menyambung dan pulih sempurna.

Menurut perkiraan medis awal Dr. Anthony, membutuhkan waktu setidaknya tiga minggu hingga satu bulan penuh bagi manusia biasa untuk bisa sekadar duduk pasca-cedera separah itu. Namun Daren... dia sembuh total hanya dalam waktu lima hari.

Pintu geser otomatis ruang medis bergeser terbuka. Argus melangkah masuk bersama Mike yang berjalan setia dua langkah di belakangnya.

"Bagaimana perkembangannya, Anthony?" tanya Argus pendek, matanya langsung tertuju pada Daren yang sedang menggerak-gerakkan jemari tangannya.

Dr. Anthony memutar tubuhnya, membungkuk hormat sejenak sebelum memberikan laporannya. "Perkiraan medis awal saya meleset jauh, Tuan Argus. Pemuda ini tidak hanya stabil, tapi tubuhnya meregenerasi sel-sel jaringan yang rusak dengan kecepatan empat kali lipat dari batas normal manusia biasa. Dalam lima hari, seluruh organ dalam dan luka fisiknya sudah sembuh total. Dia sudah siap melakukan aktivitas fisik penuh."

Mendengar laporan tersebut, sudut bibir Argus terangkat tipis. Matanya berbinar memancarkan kepuasan yang mendalam. Pria penguasa bawah tanah itu memalingkan wajahnya sedikit ke arah Mike.

"Kau mendengarnya, Mike?" ucap Argus dengan suara berat yang bergema. "Perkiraan dokter terbaik kita pun bisa dipatahkan oleh anak ini. Kau tidak hanya membawakan aku seorang rekrut biasa malam itu... kau membawakanku sebuah harta karun murni yang sangat berharga."

Mike menundukkan kepalanya tipis, wajah kaku dan dinginnya tidak berubah, namun ada kilatan kebanggaan terselubung di matanya. "Saya hanya menjalankan kewajiban saya di lapangan, Tuan Argus."

Argus kembali menatap Daren. Dia mengibaskan tangannya ke arah salah satu prajurit pengawal yang berdiri siaga di luar pintu. Seorang pria bertubuh tegap dengan seragam taktis lengkap segera masuk dan menunduk memberi hormat.

"Bawa Daren ke area pemukiman Sektor Satu," perintah Argus tegas. "Berikan dia kamar pribadi terbaik di lantai tiga. Sediakan seluruh fasilitas yang dia butuhkan—pakaian baru, makanan bernutrisi tinggi sesuai arahan ahli gizi, gawai komunikasi terenkripsi, serta akses bebas ke area latihan fisik."

Prajurit itu mengangguk patuh. "Siap, Tuan."

Daren yang duduk di tepi ranjang mendadak terpaku. Telinganya terasa seperti salah mendengar. Kamar pribadi? Pakaian baru? Makanan bernutrisi tinggi? Akses fasilitas mewah?

Selama sepuluh tahun hidupnya di kediaman Deni dan Tia, Daren hanya mengenal gudang bawah tangga yang sempit, gelap, dan berbau tengik. Dia hanya tahu cara memakan sisa-sisa makanan basi yang sudah dibuang ke tempat sampah, serta mengenakan kaus lusuh berlubang yang kekecilan. Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya ada orang yang memberikannya sebuah tempat tinggal yang layak, apalagi fasilitas melimpah seperti yang disebutkan Argus.

Rasa bingung, canggung, dan sedikit rasa takut bercampur menjadi satu di dalam dada Daren. Dia berdiri perlahan dari ranjangnya. Meski badannya masih terlihat sangat kurus dan tulang-tulang iganya masih agak menonjol akibat malnutrisi menahun, cara berdirinya kini jauh lebih tegap.

Daren menatap Argus dengan mata yang bergetar. "Tuan Argus... aku... aku tidak mengerti."

Argus menaikkan sebelah alisnya. "Apa yang tidak kau mengerti?"

"Fasilitas semua ini..." suara Daren terdengar agak tertahan di tenggorokan. "Aku hanyalah seorang anak yatim piatu yang tidak punya apa-apa. Aku tidak memiliki uang untuk membayar semua kamar dan makanan ini. Dengan cara apa... dengan cara apa aku harus membalas semua kebaikanmu ini, Tuan?"

Daren merasa berutang nyawa dan tempat berteduh. Di pikirannya yang lama, setiap kali Deni atau Tia memberinya sesuap nasi, dia harus dibayar dengan keringat dan darah melalui kerja paksa seharian penuh. Dia takut Argus akan meminta bayaran yang lebih mengerikan dari apa yang pernah dialaminya.

Namun, alih-alih memberikan tuntutan yang berat, Argus justru terkeh pelan—sebuah tawa rendah yang menenangkan namun tetap terasa mengintimidasi.

Argus melangkah maju, meletakkan tangannya yang besar dan kekar di atas bahu kurus Daren. Cengkeraman tangan itu terasa sangat hangat dan kokoh.

"Kebaikan?" ulang Argus seraya menyunggingkan senyuman tipis. "Jangan salah paham, Daren. Di tempat ini, tidak ada yang namanya kebaikan gratis. Tapi aku tidak butuh uangmu, dan aku tidak butuh kau menyapu lantai seperti yang dilakukan keluarga bajingan itu padamu."

Argus menatap lurus ke dalam manik mata Daren. "Investasi yang kuberikan padamu hari ini adalah untuk membangun senjataku. Aku memberimu kamar, makanan, dan tempat berteduh agar tubuhmu bisa tumbuh kuat. Jangan memikirkan cara membalasnya sekarang. Hal itu tidak perlu kau pusingkan."

Daren menelan ludahnya yang terasa kering. Kata-kata Argus meresap masuk ke dalam jiwanya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ada seseorang yang melihat nilainya bukan sebagai sampah atau pelayan, melainkan sebagai sesuatu yang berharga dan berpotensi menjadi kuat.

Daren mengepalkan kedua tangannya di samping paha. Dia membungkukkan badannya secara mendalam di hadapan Argus—sebuah gestur rasa hormat murni yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.

"Aku berjanji, Tuan Argus..." kata Daren dengan nada suara yang mantap dan tidak lagi bergetar. "Aku tidak akan pernah mengecewakanmu. Apapun yang kau perintahkan padaku kelak, aku akan melaksanakannya tanpa ragu."

"Bagus," sahut Argus pelan.

BEEP!

Pintu geser medis kembali mendesis terbuka lebar. Suara langkah kaki yang ramai dan nyaring mendadak memecahkan kedalaman suasana emosional di dalam ruangan.

"Arah sini, kan? Waaah, tempat ini baunya masih seperti kuburan rumah sakit!"

Sesosok pria muda berkemeja motif mencolok dengan jaket kulit mahal melangkah masuk dengan gaya luar biasa santai. Lukas—sang Eksekutif bermulut tengil—masuk seraya memutar-mutar kunci mobil sport-nya di jari telunjuknya. Di belakangnya, Mike berjalan tenang mengiringi langkah rekannya yang tak bisa diam itu.

Lukas langsung menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. Matanya yang tertutup kacamata hitam menyapu figur Daren dari atas ke bawah.

"Oho! Jadi ini dia 'si harta karun' yang bikin heboh seluruh markas?" seru Lukas dengan nada suara yang sengaja dibikin-bikin penuh ejekan.

Lukas berjalan memutari Daren seperti seorang pembeli yang sedang menilai barang dagangan murah di pasar kaget. Dia melepas kacamata hitamnya, menaruhnya di kerah kemeja, lalu mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari dada Daren.

Lukas menepuk-nepuk dada Daren yang masih tampak agak kempis dengan dua jarinya.

Puk! Puk!

"Astaga, Mike!" Lukas tertawa terbahak-bahak seraya menoleh ke arah Mike yang berdiri di dekat pintu. "Kau bilang anak ini punya daya tahan fisik monster? Kenapa yang kulihat cuma sekantung tulang berbalut kulit begini? Lihat dada kempis ini! Kalau kena angin malam di pelataran helipad, aku yakin bocah ini bisa langsung terbang sampai ke luar kota!"

Lukas kembali menatap Daren dengan cengiran tengilnya yang sangat menyebalkan. "Hei, Bocah Babu! Kau ini kurang gizi atau memang tidak pernah diberi makan sama majikanmu, huh? Tulang rusukmu kelihatan jelas sekali sampai bisa dipakai buat main gitar!"

Daren mendadak menegang. Tangannya kembali mengepal kencang. Sindiran tentang penderitaannya di rumah Deni adalah titik sensitif yang mampu menyulut amarahnya. Namun, sebelum Daren sempat merespons atau menggerakkan tubuhnya, Argus sudah lebih dulu melangkah di antara mereka.

Argus mengibaskan tangannya, menepis pelan pundak Lukas hingga pria tengil itu terdorong mundur satu langkah.

Argus menoleh pada Daren, lalu menggelengkan kepalanya perlahan dengan raut wajah pasrah.

"Daren, tidak perlu dimasukkan ke dalam hati ucapan orang gila ini," kata Argus datar tanpa memedulikan Lukas yang berada di sampingnya. "Dia memang tidak punya otak dan mulutnya selalu bocor sejak pertama kali bergabung dengan Red Crows."

Ucapan Argus yang begitu santai namun menohok itu membuat tawa Lukas seketika terhenti.

Mata Lukas membelalak. Mulutnya meruncing membusung memprotes, bibirnya mengerucutkan garis jengkel yang sangat ketara. Lukas menatap sang Pemimpin Tertinggi dengan raut wajah seperti anak kecil yang baru saja dirampas mainannya.

"Tuan Argus! Tega sekali Anda bicara begitu!" panggil Lukas dengan nada merajuk yang sengaja dibuat-buat. Dia menepuk dadanya sendiri penuh rasa ketidakadilan. "Aku ini Eksekutif kesayangan Anda! Aku baru saja pulang dari Sektor Utara membawa kemenangan bersih, dan Anda malah menyebutku orang gila di depan bocah baru ini?"

Lukas melipat kedua tangannya di dada, memalingkan wajahnya dari Argus dengan gaya keanak-anakan.

"Lagipula, coba Anda bayangkan!" omel Lukas dengan suara nyaring, jarinya menunjuk-nunjuk udara. "Kalau tidak ada aku di markas ini, tempat ini bakal sepi dan dingin seperti kuburan tua! Mike kerjaannya cuma diam mematuhi perintah kayak patung batu, Joe cuma mandangin layar komputer melulu, dan Anda selalu memasang wajah menyeramkan! Cuma aku satu-satunya sumber keceriaan dan warna di organisasi hitam ini!"

Mike yang berdiri di dekat pintu hanya menghela napas berat, memijat pangkal hidungnya pelan. Dia sudah sangat terbiasa dengan drama tak berguna yang selalu dibuat oleh Lukas setiap hari.

"Kau terlalu banyak bicara, Lukas. Kembali ke Sektor Utara jika kau kekurangan pekerjaan," sela Mike dingin, memberikan tatapan tajam yang mampu membekukan orang biasa.

"Enak saja! Aku mau beristirahat di sini!" balas Lukas seraya menjulurkan lidahnya tipis ke arah Mike sebelum kembali memakai kacamata hitamnya.

Melihat tingkah kocak sekaligus menyebalkan dari para Eksekutif tertingginya, Argus hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Di balik kekejaman dan dominasi mutlak yang ia miliki di dunia bawah tanah Kota Atlas, interaksi dinamis antara Mike yang dingin, Lukas yang tengil, dan Joe yang asosial adalah fondasi kebersamaan yang menjaga organisasi Red Crows tetap solid dari dalam.

Argus memalingkan kembali pandangannya pada Daren yang masih terpaku mengamati tingkah Lukas.

"Ikuti pengawalmu menuju kamar baru," ucap Argus mengakhiri percakapan di ruang medis. "Istirahatlah malam ini. Nikmati fasilitasmu. Mulai besok pagi tepat pukul lima, pelatihan nerakamu akan dimulai."

Daren menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Baik, Tuan Argus."

Dengan langkah yang kini jauh lebih mantap dan penuh percaya diri, Daren melangkah keluar dari ruang medis mengiringi prajurit pengawalnya. Saat dia melewati Lukas, pria tengil itu sempat memberikan lambaian tangan jahil dan kedipan mata mengejek, namun Daren tidak lagi merasa terancam.

Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Daren berjalan menuju sebuah tempat yang tidak lagi disebut sebagai gudang penyiksaan, melainkan sebuah tempat di mana dia akan menempa dirinya sendiri menjadi sosok monster yang siap mengguncang Kota Atlas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!