Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.
Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.
Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 — AIR WAKTU
Danau Waktu Terlupakan tersembunyi jauh di dalam lipatan dimensi Alam Fana. Permukaan airnya sangat bening, namun setiap kali riak kecil terbentuk di atasnya, bayangan masa lalu dan masa depan berkelebat cepat bagaikan gulungan film yang berputar.
Lu Chen bersama anggota tim kecilnya berdiri di tepi danau. Suhu di sekitar tempat itu terasa sangat berat, seolah-olah waktu itu sendiri memiliki massa yang menekan pundak mereka.
[Panel: Info Danau] TARGET: ARTEFAK KEDUA - AIR WAKTU EFEK SAMPING: MENGHAPUS SEGALA RISIKO KONFLIK DARAH SAAT PENYEMBUHAN PENJAGA: PENJAGA WAKTU - ENTITAS ABSTRAK, TIDAK BISA DIAJAK BERBICARA
"Aturan utama di sini adalah keputusasaan," kata Luna memperingatkan. "Jika kau melakukan kesalahan dalam ujian mental, kau akan terjebak dalam siklus kematian yang diulang terus-menerus tanpa akhir."
Wolf telah memerintahkan ketiga puluh anak buahnya untuk bersiaga penuh di lingkaran luar. "Bos, berikan perintah kami."
Lu Chen menarik napas panjang. "Aku akan masuk sendirian."
Begitu ujung jarinya menyentuh permukaan air danau, SHUUU! Seluruh dunia di sekelilingnya berputar kencang dalam pusaran cahaya.
Time Loop Dimulai
Lu Chen mendapati dirinya kembali berdiri di tanah Desa Batas—hari pertama ia tertangkap basah oleh patroli Istana Langit.
DUAR! Sambaran petir eksekusi meluncur telak. Lu Chen mati seketika.
SHUUU! Kesadarannya ditarik kembali ke tepi danau, lalu dilempar ke putaran waktu berikutnya.
Loop kedua: Ia melawan dan berhasil membunuh tiga Penegak Langit, namun Xue Ling tewas di hadapannya. Loop ketiga: Ia memilih kabur sendirian, namun Lin Yue tertangkap musuh. Loop keempat: Ia menyerah untuk menyelamatkan semua orang, namun ia disiksa perlahan hingga tewas kelaparan di penjara.
Sepuluh kali perputaran waktu berjalan. Sepuluh kali pula ia menyaksikan seluruh orang yang dicintainya mati dengan tragis di akhir cerita.
Lu Chen jatuh bersimpuh di atas air dengan napas terengah-engah dan air mata yang menetes. "Siksaan macam apa ini..."
Sebuah suara gaung yang tua dan tanpa wujud menggema di kepalanya: "UNTUK MENDAPATKAN AIR WAKTU, KAU HARUS BELAJAR MELEPASKAN."
"MELEPASKAN APA?!" teriak Lu Chen frustrasi.
"LEPASKAN ORANG YANG PALING KAU SAYANGI DI DUNIA INI."
Lu Chen menggertak gigi hingga berdarah. "Tidak. Aku menolak!"
SHUUU! Putaran waktu kesebelas dimulai.
Kali ini, bayangan ibunya, Shen Yue, muncul di hadapannya sedang disiksa secara brutal di dalam sel Penjara Langit.
Dewa Eksekusi berteriak murka: "DIMANA ANAKMU BERSEMBUNYI?!" Shen Yue tersenyum penuh darah: "Dia akan datang dan menghancurkan kalian semua."
SRET! Sambaran cambuk petir menghujam tubuh ibunya.
Lu Chen menjerit histeris. Ia berusaha melompat untuk menolong, namun tubuhnya langsung ditarik paksa kembali oleh hukum waktu danau.
"LEPASKAN IKATAN ITU!" suara gaung tersebut memaksa.
Lu Chen menangis sesenggukan. "Ibu..."
Ia memejamkan mata rapat-rapat. Di dalam batinnya, ia membayangkan sebuah skenario terburuk: ia melepaskan genggamannya, berbalik arah, dan meninggalkan ibunya seorang diri di dalam siksaan.
DUAR!
Seketika itu juga, riak air di danau berhenti bergerak total.
Tepat di tengah-tengah permukaan danau, sebuah botol kristal kecil berisi cairan perak yang berkilau muncul mengapung perlahan.
[Panel: Artefak] AIR WAKTU PEMILIK ASLI: DEWA WAKTU EFEK: MENSTABILKAN KONFLIK TIGA JENIS DARAH SEPENUHNYA
Lu Chen mengulurkan tangan dengan jemari yang bergetar hebat. Ia mengambil botol tersebut. "Maafkan aku, Ibu... aku harus menjadi jauh lebih kuat."
Ujian Time Loop resmi selesai. KRAK!
Ia terlempar keluar dan kembali ke sisi timnya. Di dunia nyata, waktu yang berlalu baru berjalan selama lima menit.
Namun wajah Lu Chen tampak sangat pucat pasi, dan sehelai rambut di kepalanya telah berubah menjadi putih bersih.
Xue Ling berlari menghampiri dengan panik. "Lu Chen! Apa yang terjadi di dalam sana?"
Lu Chen menyerahkan botol kristal perak itu. "Aku berhasil mendapatkannya."
Wolf menatap cemas. "Bos... apakah kau baru saja menangis?"
Lu Chen mengusap wajahnya kasar. "Hanya percikan air danau."
Penyerangan Mendadak
BOOM!
Suara ledakan keras memecah keheningan lembah. Lima puluh Penegak Hukum Langit bersama dua puluh iblis elit bawaan Mo Tian turun secara bersamaan mengepung lokasi mereka.
"Kebetulan sekali menemukan sarang tikus ini," seru Komandan Langit sinis. "Dua buronan besar sekaligus dalam satu tempat."
"Anakku!" seru suara menggelegar dari angkasa. Raja Iblis Mo Tian melayang turun. "Serahkan Air Waktu itu kepada Ayah!"
Perang tiga kubu yang kacau balau pecah seketika di tepi danau.
Wolf berteriak komando: "Bentuk formasi pertahanan total!" Luna merapal sihir: HUJAN PANAH PERAK. Xue Ling menghunus pedang: 99 TEBASAN SALJU.
Lu Chen mengabaikan hiruk-pikuk pertempuran di sekitarnya. Ia mengeluarkan botol Air Waktu dan langsung menyatukannya ke dalam inti segel di dadanya.
CAHAYA PERAK MEMANCAR TERANG.
[Panel: Segel Update] ARTEFAK PENYELAMAT: 2/3 TERKUMPUL EFEK: KONFLIK DARAH 0% - TINGKAT STABILITAS 100% KOMPOSISI DARAH: IBLIS 65% | MANUSIA 32% | DEWA 3%
Racun di dalam segel lenyap tak tersisa. Kini, seluruh potensi kekuatan tiga darah di tubuhnya menyatu sempurna tanpa ada risiko penolakan fisik.
Lu Chen membuka matanya. Manik matanya tidak lagi memancarkan warna merah mengerikan, melainkan jernih berkilau.
"Kalian menginginkan ibuku?" ucap Lu Chen dingin. "Kalau begitu, ambil dari atas mayatku."
DUAR!
Tinju Tiga Alam: 70%.
Ia menghantamkan satu pukulan telak ke tanah. Gelombang kejut energi tiga warna melesat dahsyat, memukul mundur sepuluh Penegak Langit dan lima iblis elit hingga terpental jauh sejauh ratusan meter.
Mo Tian terperanjat kaget. "Kekuatan anak itu... meningkat drastis!"
Dewa Eksekusi berteriak histeris: "MUSNAHKAN DIA SEBELUM ARTEFAK KETIGANYA LENGKAP!"
Pertempuran sengit berlangsung selama lima belas menit penuh.
Lu Chen menahan seluruh gempuran musuh seorang diri. Ia tidak berniat merenggut nyawa siapa pun; setiap serangannya hanya ditujukan untuk melumpuhkan pergerakan lawan. Namun tubuhnya sendiri kini dipenuhi oleh luka-luka baru akibat kelelahan luar biasa.
Di saat situasi berada di ambang batas kritis, Wolf berteriak kencang dari kejauhan: "BOS, MUNDUR SEKARANG!"
Sebuah portal dimensi darurat terbuka lebar, menunjukkan jalur pelarian menuju Jantung Bumi.
Lu Chen segera membopong Lin Yue yang pingsan, lalu melompat masuk bersama anggota tim lainnya. SHUUU!
Sebelum portal tertutup rapat di belakang mereka, Lu Chen mendongakkan kepalanya ke langit. Di antara celah awan badai, ia melihat bayangan ilusi Shen Yue tersenyum lembut padanya.
"Ibu... sebentar lagi," bisiknya.
BOOM! Portal dimensi tertutup rapat.
Di Dalam Gua Jantung Bumi
Gua tempat persembunyian baru mereka terasa sangat panas dan pengap. Di kedalaman batu gunung tersebut, suara detak jantung raksasa terdengar berdenyut konstan: DUM... DUM... DUM...
Seluruh anggota tim terduduk lemas dengan luka parah di sekujur tubuh.
Luna mengoleskan ramuan obat ke bahu Lu Chen. "Di dalam danau tadi... sebenarnya apa yang kau lihat?"
Lu Chen terdiam cukup lama sebelum menjawab dengan suara serak. "Aku harus melepaskan ibuku... demi bisa menyelamatkannya."
Luna tertegun pelan. "Itu adalah bentuk pengorbanan yang paling menyakitkan."
Lu Chen menempelkan sisa artefak ke dadanya. Segel suci itu kini menyala terang dua pertiga bagian.
"Target terakhir kita," kata Lu Chen mantap. "Jantung Bumi."
Xue Ling bangkit dengan bertumpu pada pedangnya. "Di sana bersemayam Naga Tulang. Makhluk itu jauh lebih mengerikan dibandingkan Naga Kayu di hutan Elf."
Lu Chen berdiri tegak, memandang lurus ke arah langit-langit gua. "Kalau begitu, kita akan merundingkannya dengan cara kita sendiri."
Dari dalam inti segel di dadanya, bisikan suara ibunya terdengar sayup-sayup: “...anakku... Ibu sangat bangga padamu... satu artefak lagi...”
Lu Chen tersenyum tipis—senyuman tulus pertamanya setelah melewati ujian Time Loop yang melelahkan.
"Aku siap."