Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.
Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.
Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.
Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.
Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.
Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.
📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Evaluasi
Slide terakhir presentasi kuartal pertama menampilkan satu nama yang muncul lebih sering dari yang lain, dan Gwen menghitung sendiri berapa kali namanya disebut sejak rapat dimulai empat puluh menit lalu.
Tiga kali, sejauh ini. Sekali di bagian Meridian, sekali di bagian efisiensi distribusi gudang, sekali lagi di bagian negosiasi Suryamas. Dia tidak menganggap itu berlebihan—tiga proyek yang kebetulan dia pegang, kebetulan berhasil, dan wajar kalau namanya muncul di laporan yang membahas hasil kerja tiga bulan terakhir.
Ruang rapat besar lantai lima belas penuh hari itu—seluruh kepala divisi, manajer senior, dan beberapa anggota board yang datang khusus untuk evaluasi kuartal pertama. Madoc berdiri di depan, memegang remote presentasi, menyampaikan rangkuman performa perusahaan dengan gaya yang sama seperti biasa: tenang, terkontrol, tanpa banyak basa-basi.
"Kuartal ini," katanya, menutup slide terakhir, "kita berhasil menyelesaikan tiga proyek besar sesuai atau bahkan lebih cepat dari target, dengan efisiensi budget yang naik signifikan dibanding kuartal sebelumnya."
Dia berhenti sebentar, matanya menyapu ruangan sebelum berhenti di satu titik—Gwen, yang duduk di baris ketiga bersama tim operasional, mencatat sesuatu di notesnya tanpa sadar sedang jadi pusat perhatian.
"Saya mau kasih apresiasi khusus," lanjutnya, "buat Gwen Aditya. Baru tiga bulan di sini, tapi kontribusinya di proyek Meridian, efisiensi distribusi gudang, sama negosiasi Suryamas jadi salah satu faktor terbesar kenapa kuartal ini hasilnya di atas ekspektasi."
Seluruh ruangan menoleh ke arahnya. Beberapa orang bertepuk tangan pelan, yang lain mengangguk setuju. Gwen merasakan wajahnya sedikit menghangat, tidak terbiasa jadi pusat perhatian dengan cara seformal ini, tapi dia tetap duduk tegak, mengangguk sopan sebagai tanda terima kasih.
"Kerja bagus," kata Madoc, matanya masih tertuju padanya. "Semoga bisa dipertahankan buat kuartal depan."
---
Itu seharusnya cukup. Kalimat pujian formal, sesuai standar rapat evaluasi mana pun, disampaikan dengan nada profesional yang tidak berlebihan.
Tapi Madoc tidak berhenti di situ.
"Saya jarang liat orang baru," katanya, suaranya sedikit melambat, seolah kalimat berikutnya keluar sebelum dia sempat memikirkannya dengan penuh, "yang bisa langsung—"
Dia berhenti.
Kata yang hampir keluar dari mulutnya bukan kata yang cocok untuk konteks rapat formal di depan seluruh manajemen. Yang bisa langsung bikin saya notice dia dari hari pertama. Kalimat itu sudah setengah terbentuk di kepalanya, sudah nyaris sampai ke ujung lidahnya, sebelum dia sadar sedang berdiri di depan puluhan orang, bukan sedang mengobrol berdua di kubikel kosong jam sembilan malam.
Dia berdehem, mengambil jeda yang terasa lebih lama dari yang seharusnya, cukup lama sampai beberapa orang di ruangan mulai saling lirik bingung.
"—yang bisa langsung beradaptasi secepat itu," katanya akhirnya, menyelesaikan kalimatnya dengan versi yang jauh lebih aman, lebih formal, lebih sesuai dengan apa yang seharusnya dia katakan sejak awal. "Itu jarang, dan patut diapresiasi."
Dia melanjutkan ke slide berikutnya secepat mungkin, mengalihkan topik ke rencana kuartal kedua, suaranya kembali ke ritme profesional yang biasa, seolah jeda tadi tidak pernah terjadi.
Tapi di kepalanya, kalimat yang tidak jadi dia ucapkan masih terngiang, dan dia tidak bisa berhenti bertanya-tanya seberapa dekat dia baru saja dengan mengatakan sesuatu yang jauh lebih personal dari yang seharusnya, di depan orang-orang yang salah, di waktu yang salah.
---
Gwen tidak menangkap apa pun dari jeda itu.
Baginya, itu cuma bagian normal dari cara orang bicara di depan umum—kadang ada yang berhenti sebentar untuk memilih kata yang tepat, terutama kalau sedang memberi pujian ke bawahan di depan atasan lain. Dia sendiri sering melakukan hal serupa waktu presentasi, berhenti sejenak untuk memastikan kalimatnya keluar dengan benar sebelum melanjutkan.
Yang dia rasakan cuma kebanggaan yang tenang—jenis kebanggaan yang tidak butuh diumbar, tapi tetap terasa hangat di dada. Tiga bulan kerja keras, tiga proyek yang berhasil dia selesaikan dengan caranya sendiri, dan sekarang diakui secara formal di depan seluruh manajemen. Itu cukup.
Dia tidak butuh lebih dari itu.
Rapat berlanjut ke topik lain—rencana ekspansi kuartal kedua, target baru yang harus dikejar tim, alokasi resource untuk proyek berikutnya. Gwen kembali fokus mencatat, sesekali mengajukan pertanyaan teknis kalau ada yang perlu diklarifikasi, dan sepenuhnya tidak menyadari bahwa satu jeda kecil yang barusan terjadi di depan sana sudah cukup membuat beberapa orang di ruangan itu mulai bertanya-tanya sendiri.
---
Reza, yang duduk di sampingnya, mencondongkan tubuh sedikit dan berbisik.
"Lo denger tadi?"
"Denger apa?" bisik Gwen balik, tanpa mengangkat kepala dari notesnya.
"Pak Kane. Kayak mau bilang sesuatu, terus stop, terus ganti kalimat."
Gwen mengangkat bahu. "Mungkin lagi mikirin kata yang lebih tepat aja. Wajar kali."
"Iya sih," kata Reza, tapi nadanya tidak sepenuhnya yakin, "cuma jedanya lama banget buat sekadar milih kata."
"Lo terlalu banyak analisis," kata Gwen, tersenyum kecil, kembali fokus ke presentasi yang sekarang membahas target Q2.
Reza tidak melanjutkan lebih jauh, tapi dia menoleh sekilas ke arah Madoc yang masih berdiri di depan, memperhatikan bagaimana CEO itu sekarang bicara dengan kecepatan yang sedikit lebih cepat dari biasanya—seolah sedang buru-buru menyelesaikan sesuatu sebelum ada pertanyaan lebih lanjut.
---
Di sudut ruangan, Elias berdiri sambil memegang tablet, pura-pura mencatat sesuatu, padahal sebenarnya dia sedang mengamati bosnya dengan seksama sejak jeda aneh tadi terjadi.
Dia sudah cukup lama kerja untuk Madoc untuk tahu persis kapan bosnya sedang menyembunyikan sesuatu—cara dia berdehem sebelum kalimat penting, cara dia mempercepat topik begitu ada yang terasa terlalu dekat dengan sesuatu yang personal.
Barusan, dia hampir yakin melihat momen itu terjadi persis di depan seluruh manajemen perusahaan.
Dia melirik ke arah Gwen, yang masih tenang mencatat, sepenuhnya tidak curiga apa pun, lalu kembali ke Madoc yang sudah lanjut ke slide berikutnya dengan suara yang terdengar sedikit lebih formal dari biasanya—terlalu formal, sebenarnya, untuk seseorang yang baru saja memuji kinerja bawahannya.
Hampir kepeleset, pikir Elias, menahan diri untuk tidak tersenyum di tengah rapat seserius ini.
Dia sudah menyaksikan cukup banyak tanda selama beberapa minggu terakhir—kopi pagi yang spesifik, rapat progress yang terlalu sering, tawaran anter pulang yang alasannya dipaksakan, momen berdiri diam di lorong memperhatikan dari jauh. Tapi ini yang pertama kalinya dia melihat bosnya nyaris kehilangan kendali di depan publik, di momen paling formal yang ada di kalender kerja mereka.
Kalau ini terus berlanjut dengan kecepatan seperti ini, Elias mulai berpikir, mungkin bukan cuma dia sendiri yang akan sadar duluan sebelum Gwen menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Mungkin seluruh lantai lima belas juga akan sampai ke kesimpulan yang sama, jauh sebelum dua orang yang paling terlibat langsung di dalamnya sempat mengakuinya sendiri.
Rapat berakhir lima belas menit kemudian, dan Gwen keluar ruangan dengan perasaan puas yang sederhana—kerja kerasnya diakui, kuartal pertamanya berjalan baik, dan tidak ada satu pun kecurigaan yang singgah di kepalanya soal apa yang sebenarnya terjadi di balik jeda kecil yang baru saja hampir mengubah segalanya.