Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1
Janda Pembawa Sial
Konon, tidak ada perempuan di Jakarta yang lebih kotor daripada Ratri Kusuma.
Tiga tahun menjanda tanpa jasad suami, tetapi ranjangnya tak pernah dingin. Begitu kata akun-akun gosip. Ada yang bersumpah pernah melihatnya keluar dari hotel bersama anggota dewan. Ada pula yang mengaku tahu jumlah lelaki yang pernah tidur dengannya. Seratus. Dua ratus. Mungkin seluruh lelaki berkuasa di kota ini.
Versi lain jauh lebih menjijikkan.
Adik iparnya sendiri pernah naik ke ranjangnya.
Namun, anehnya, perempuan yang dituduh menjual tubuh demi perlindungan itu juga disebut sebagai pengacara paling ditakuti di Jakarta. Tangannya konon mampu membalik hitam menjadi putih. Pengetahuannya tentang mayat begitu mengerikan hingga orang-orang memanggilnya ahli forensik yang bisa membunuh tanpa meninggalkan jejak.
Ada dua nyawa yang selalu diseret bersama namanya.
Larasati Wiryawan, tunangan Baskara sebelum Ratri masuk ke keluarga Adiningrat, mati karena dirinya.
Ibu kandung Ratri melompat dari gedung demi menanggung dosa putrinya. Ketika tubuh wanita itu remuk di aspal, Ratri berdiri di sampingnya dan tertawa.
Setidaknya, begitulah cerita yang beredar dari ruang arisan ke grup WhatsApp keluarga, lalu berpindah ke infotainment dan akun gosip. Tak seorang pun peduli bahwa setiap versi saling bertentangan. Tak seorang pun bertanya siapa yang pertama kali mengucapkannya.
Mereka hanya sepakat pada satu hal.
Ratri Kusuma adalah janda pembawa sial.
Dan malam ini, halaman belakang rumah keluarga Adiningrat dipenuhi bau darah.
"Lepaskan gue, perempuan gila!"
Teriakan Bimo memecah sunyi menjelang tengah malam.
Tubuhnya terikat pada salah satu tiang batu di tepi pendopo. Kemeja mahalnya terbuka hingga dada, dua kancingnya hilang entah ke mana. Satu sisi wajahnya bengkak. Darah mengalir dari sudut bibir, menodai kerah putih yang tadi dipakainya saat menyelinap ke kamar kakak iparnya.
Empat laki-laki berpakaian hitam berdiri mengelilinginya. Tak satu pun bergerak meski Bimo terus meronta.
Di hadapan mereka, Ratri duduk di kursi rotan dengan satu kaki menyilang di atas kaki lain.
Gaun tidur hitam yang tertutup jubah panjang membuat kulitnya tampak semakin pucat. Rambutnya tergerai, menyembunyikan luka di belakang kepala. Akan tetapi, ujung rambut yang basah oleh darah tetap menempel di tengkuknya.
Wajah perempuan berusia dua puluh satu tahun itu terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja nyaris diperkosa di kamar sendiri.
"Nyai," ujar Wira pelan. "Lukanya harus dilihat dokter. Darahnya belum berhenti."
Ratri tidak menoleh. "Nanti."
"Tapi kepala Nyai kena sudut meja. Kalau sampai gegar otak..."
"Aku bilang nanti."
Wira mengatupkan rahang. Sebagai mantan petinju, ia pernah melihat orang berdiri setelah menerima pukulan yang seharusnya merobohkan mereka. Namun, ketegaran Ratri malam ini tidak membuatnya kagum. Itu membuat tengkuknya dingin.
Bimo telah menyerang dari belakang. Luka di kepala itu tidak kecil. Tetap saja Ratri masih duduk tegak, seakan darah yang merembes di balik rambutnya milik orang lain.
"Lo dengar sendiri, kan?" Bimo tertawa pendek, meski suaranya bergetar. "Dia sudah enggak waras. Sebentar lagi dia mati sendiri. Buat apa kalian masih nurut sama janda sial ini?"
Wira melangkah maju.
Ratri mengangkat telunjuk. Satu gerakan kecil itu menghentikannya.
"Buka kotaknya," katanya.
Seorang pengawal segera meletakkan kotak kayu jati di meja rendah. Bunyi engselnya terdengar tajam di halaman yang terlalu sunyi.
Di dalamnya terbaring sebilah belati.
Sarungnya hitam, gagangnya tua dengan ukiran sederhana. Tidak ada batu permata, tidak ada hiasan mencolok. Namun, ketika Ratri menariknya perlahan, cahaya lampu pendopo meluncur di sepanjang mata bilah yang tipis.
Bibi Sari yang mengintip dari balik pintu dapur buru-buru menutup mulut. Gelas di tangannya beradu dengan tatakan.
Ting.
Bimo menoleh ke arah suara itu, lalu kembali memandang belati di tangan Ratri. Kesombongan di matanya goyah.
"Lo mau apa?"
Ratri menguji ujung belati dengan ibu jarinya. "Menurutmu?"
"Jangan macam-macam. Gue masuk ke kamar lo karena lo yang manggil. Semua orang tahu perempuan kayak apa lo."
"Begitu?"
"Kalau gue sampai terluka, Mama bakal bikin lo merangkak keluar dari rumah ini. Rumah ini milik keluarga gue. Bukan milik pelacur yang bahkan enggak bisa menjaga suaminya."
Mata Ratri turun perlahan.
Bukan ke luka di bahunya. Bukan pula ke darah di mulutnya.
Tatapannya berhenti di bawah pinggang Bimo.
Lelaki itu seketika merapatkan kedua kakinya, walau tali yang mengikat tubuhnya membuat gerakan itu tampak menyedihkan.
"Kau masuk ke kamar seorang perempuan lewat tengah malam," kata Ratri. "Mengunci pintu dari dalam. Memukul kepalanya. Lalu merobek bajunya."
Ia memiringkan belati. Ujungnya menunjuk tepat ke bagian yang berusaha dilindungi Bimo.
"Kalau aku memotongnya sekarang, apa kau masih bisa mengarang cerita yang sama?"
Wajah Bimo kehilangan warna.
"Lo enggak berani."
Ratri tersenyum tipis. Tidak hangat. Tidak juga lebar. Senyum itu hanya cukup untuk membuat Bibi Sari mundur setapak di balik pintu.
"Kenapa tidak?"
Ia bangkit dari kursi.
Untuk sesaat pandangannya menghitam. Tiang-tiang pendopo seolah miring, lalu kembali tegak. Jemarinya mencengkeram gagang belati lebih erat. Tak seorang pun melihat lututnya nyaris kehilangan tenaga.
Ratri berjalan mendekati Bimo.
Satu langkah.
Dua langkah.
Hak sandalnya menekan batu yang basah oleh embun dan darah.
"Katanya aku membunuh Baskara," lanjutnya lembut. "Katanya aku membunuh Larasati agar bisa menikah dengannya. Katanya ibuku mati karena aku."
Bimo menelan ludah.
"Kalau semua itu benar, satu Bimo Adiningrat seharusnya bukan masalah besar."
"Gue adik Baskara!"
"Adik seayah."
"Darah Adiningrat tetap mengalir di tubuh gue!"
"Sayang sekali darah itu tidak membawa otak."
Salah satu pengawal menunduk, menyembunyikan senyum. Wira tidak ikut tertawa. Matanya terus mengawasi darah yang menetes dari ujung rambut Ratri.
Bimo menarik tali sampai kulit pergelangan tangannya lecet.
"Mama sudah tahu gue di sini. Kalau gue enggak pulang, dia bakal datang bawa orang. Lo habis malam ini. Dengar, Ratri? Habis!"
"Bagus."
Ratri berhenti dua meter di depannya.
"Biar dia datang dan melihat sendiri apa yang dilakukan putranya di kamar menantu keluarga Adiningrat."
"Siapa yang bakal percaya sama lo?" Bimo menyeringai lagi setelah menemukan sedikit keberanian. "Seluruh Jakarta tahu berapa banyak laki-laki yang sudah masuk ke kamar lo. Semua orang tahu lo cari duit dan perlindungan lewat ranjang. Lo cuma marah karena malam ini gue enggak mau bayar."
Suasana halaman berubah.
Wira mengepalkan tangan. Dua pengawal lain maju setengah langkah. Bahkan Bibi Sari menatap Bimo dengan wajah muak.
Ratri tetap diam.
Hanya ibu jarinya yang bergerak di atas gagang belati.
Di balik jubah, tangan kirinya terasa dingin. Luka tipis bekas kuku Bimo di punggung tangannya kembali terbuka. Darah merayap melewati buku-buku jari, hangat dan lambat, lalu menetes ke lantai.
Satu tetes.
Dua tetes.
Luka sedangkal itu seharusnya sudah berhenti sejak tadi.
Ratri menyelipkan tangan kiri ke saku jubah. Jemarinya menemukan benda kecil yang selalu dibawanya, sebuah pusaka tua berbungkus kain lurik. Milik terakhir yang masih menghubungkannya dengan ibunya.
Kain itu lembap oleh darah di telapak tangannya.
Sebuah potongan ingatan menyusup tanpa izin. Aspal basah. Kilatan kamera. Kaki telanjang seorang perempuan yang tak lagi bergerak. Lalu suara orang-orang di belakang garis polisi.
Anaknya yang membuat dia lompat.
Lihat, anaknya malah tersenyum.
Janda iblis.
Ratri menekan pusaka itu sampai sudut logamnya menyakiti telapak. Potongan ingatan tersebut padam sebelum sempat mengubah wajahnya.
"Nyai?" Wira memanggil hati-hati.
"Aku tidak apa-apa."
Itu bohong. Wira tahu. Ratri juga tahu ia tidak memercayainya.
Bimo, yang tidak melihat tangan berdarah di dalam saku, kembali tertawa. "Kenapa diam? Kena, ya?"
Ratri mengangkat wajah.
"Wira."
"Ya, Nyai."
"Pastikan rekaman dari lorong, pintu kamar, dan dalam kamar tersimpan di tiga tempat berbeda. Jangan ada satu detik pun yang hilang."
Senyum Bimo membeku.
"Rekaman apa?"
Ratri menatapnya seolah baru menyadari ada orang bodoh di hadapannya.
"Kau pikir rumah sebesar ini tidak punya kamera?"
"Di kamar enggak mungkin ada kamera. Itu melanggar privasi!"
"Kamera menghadap pintu dan ruang duduk. Cukup untuk merekam wajahmu saat memasukkan obat ke gelasku. Cukup untuk merekammu mengunci pintu, memukulku, lalu merobek jubahku."
Napas Bimo tersangkut.
Untuk pertama kalinya malam itu, ketakutan di wajahnya tidak bisa disembunyikan oleh makian.
"Lo bohong."
"Mau menontonnya bersama Mama?"
"Hapus rekaman itu."
Ratri mengangkat sebelah alis.
"Gue bilang hapus!" Bimo kembali meronta. "Lo enggak tahu siapa yang bakal kena kalau ini keluar. Nama keluarga Adiningrat ikut hancur!"
"Tadi kau bilang rumah dan nama keluarga ini milikmu." Suara Ratri tetap datar. "Sekarang urus sendiri kehancurannya."
"Mbak Ratri."
Perubahan panggilan itu begitu cepat hingga Wira mendengus.
Bimo menjilat bibirnya yang pecah. "Kita keluarga. Gue tadi cuma khilaf. Gue enggak benar-benar mau menyakiti Mbak. Kasih gue kesempatan. Belatinya diturunin dulu, ya?"
Ratri memandangnya cukup lama.
Wajah Bimo mulai dipenuhi harapan.
Lalu pergelangan tangan Ratri bergerak.
Belati itu melesat.
Udara terbelah oleh desing tipis. Sesaat kemudian, mata bilah menembus bahu kanan Bimo dan menghantam tiang batu di belakangnya.
Darah memercik ke kemeja putih.
Jeritannya mengguncang seluruh halaman.
"Bajingan! Sakit! Cabut! Cepat cabut!"
Bibi Sari menjatuhkan tatakan. Bunyi porselen pecah bercampur dengan makian Bimo. Salah satu pengawal menoleh kepadanya, tetapi perempuan tua itu hanya menggeleng cepat dan menepi, wajahnya pucat.
Ratri kembali duduk di kursi rotan. Gerakannya tenang, seolah baru saja melempar bunga ke meja, bukan sebilah senjata ke tubuh seseorang.
"Wira."
"Siap, Nyai."
"Cabut belatinya. Rawat lukanya secukupnya."
Bimo mengembuskan napas lega di sela tangis.
Kalimat berikutnya merampas kelegaan itu.
"Lalu bawa dia ke kebun belakang."
Wira menatap Ratri, menunggu perintah lengkap.
"Pukul dia sampai mengerti perbedaan antara kamar kakak ipar dan rumah bordil. Jangan bunuh. Aku tidak mau halaman rumah ini dikotori bangkai bodoh."
"Baik, Nyai."
Wira mencengkeram gagang belati, lalu mencabutnya dalam satu tarikan. Jeritan Bimo pecah lagi. Seorang pengawal segera menekan kain kasa pada luka itu dan membebat bahunya sekadarnya.
Dua pengawal membuka ikatan Bimo hanya untuk mencengkeram kedua lengannya. Kakinya tak lagi mampu menyangga tubuh. Ia diseret melewati batu halaman, meninggalkan garis merah tipis.
"Mama bakal bunuh lo!" teriaknya. "Dengar, Ratri! Begitu Mama datang, lo bakal merangkak minta ampun!"
Ratri mengeluarkan tangan kirinya dari saku.
Darah telah membasahi kain lurik pembungkus pusaka milik ibunya. Setetes jatuh tepat di punggung tangannya, menyatu dengan aliran dari luka kecil yang tak kunjung menutup.
Wira berjongkok di samping kursi. "Sekarang kita ke rumah sakit."
"Ambil kotak P3K."
"Nyai, ini bukan luka yang bisa ditutup plester."
"Kalau aku pergi sekarang, Suryani akan bilang aku kabur setelah menyiksa anaknya."
"Biar saya yang hadapi Bu Suryani."
Ratri menatap ke arah jalan masuk halaman. Di balik gerbang samping, cahaya lampu kendaraan menyapu dinding. Suara beberapa pintu mobil dibanting hampir bersamaan.
Terlambat.
Langkah-langkah tergesa mendekat. Suara perempuan memerintah orang-orang membuka jalan, tajam dan penuh amarah.
Pintu belakang didorong begitu keras hingga membentur dinding.
"Bimo!"
Suryani berdiri di ambang pintu bersama belasan orang. Wajah anggunnya berubah buas ketika melihat darah di lantai.
Tatapannya menghunjam Ratri.
"Di mana anak saya?"