Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB
Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?
Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.
Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!
Karya Author// DILARANG PLAGIAT//
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demam di Balik Topeng Es
Gerimis di luar jendela penthouse lantai empat puluh itu perlahan berubah menjadi badai kecil yang menghantam permukaan kaca transparan dengan suara bergemuruh. Lampu-lampu kota di bawah sana tampak mengerjap bagai kunang-kunang di tengah pekatnya malam. Namun, di dalam kamar tidur utama Reina, suasana justru terasa begitu kontras—panas, pengap, dan menyesakkan.
Reina meringkuk di balik selimut tebalnya dengan tubuh yang bergetar hebat. Keningnya basah oleh keringat dingin, sementara napasnya memburu pendek-pendek. Tenggorokannya terasa seperti terbakar, dan sekujur persendian tulangnya mendadak ngilu luar biasa. Akibat kehujanan kemarin malam saat nekat menerobos angin dingin tanpa payung memadai, pertahanan fisik gadis itu akhirnya menyerah total.
Tok... tok... tok.
Ketukan pelan terdengar di daun pintu kamar, disusul oleh suara berat yang familier. "Reina? Kau sudah tidur?"
Belum sempat Reina menjawab atau bahkan sekadar mengangkat suaranya, gagang pintu berputar perlahan. Jino West melangkah masuk ke dalam kamar. Pria itu tampak sudah melepaskan jas kerjanya; ia hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung rapi sampai siku.
Awalnya, ekspresi Jino tampak datar, siap melontarkan sindiran tajam andai Reina kembali berulah atau mengabaikannya. Namun, langkah pria itu langsung terhenti seketika saat melihat sosok gadis di atas ranjang yang meringkuk lemah dengan wajah pucat pasi.
Jino mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia melangkah cepat mendekati tempat tidur, lalu meletakkan punggung tangannya di atas kening Reina. Suhu panas yang menyengat langsung menjalar ke kulit tangannya.
"Badanmu panas sekali, Reina," suara Jino berubah drastis—tidak ada lagi nada dingin atau menyebalkan yang biasa ia gunakan. Yang tersisa hanyalah nada panik tertahan yang dibungkus kepedulian mendadak.
Reina membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Ia menatap wajah Jino yang tampak buram di balik kabut demam. Dengan suara serak dan parau, ia mencoba bergeser menjauh. "Jangan... jangan mendekat. Nanti... nanti kau tertular virus rewelku, Tuan Es..."
Jino mendengus pelan, meski manik mata kelamnya menyiratkan kecemasan yang nyata. "Kau ini benar-benar mahasiswi paling ceroboh yang pernah kutemui. Sakit seperti ini masih saja sempat-sempatnya bicara menyebalkan."
Tanpa mendengarkan protes lemah dari Reina, Jino berbalik sejenak untuk mengambil mangkuk kecil berisi air hangat dan handuk kecil yang ia ambil dari kamar mandi. Dengan telaten, pria yang biasanya terkenal angkuh dan tidak pernah merawat orang lain itu duduk di tepi ranjang. Ia memeras handuk kecil tersebut, lalu dengan sangat hati-hati mengusap keringat di kening serta leher Reina.
Sentuhan tangan hangat Jino di kulitnya membuat Reina tertegun sejenak. Di tengah rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya, ada kehangatan asing yang menjalar ke lubuk hatinya. Selama ini, Reina selalu mengira Jino adalah sosok robot berhati dingin yang hanya peduli pada bisnis dan gengsi keluarganya. Namun malam ini, pria itu justru duduk berjam-jam di sisinya, mengurusnya dengan kesabaran tingkat tinggi.
"Kenapa... kenapa kau sebaik ini padaku?" bisik Reina lirih, suaranya nyaris tenggelam di antara suara deru angin badai di luar jendela. "Bukankah... bukankah kau paling benci direpotkan?"
Jino menghentikan gerakan tangannya sejenak. Ia menatap lekat-lekat manik mata cokelat Reina yang sayu. Ada kilat emosi yang dalam di mata kelam Jino—sesuatu yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik topeng arogansinya.
"Aku tidak baik, Reina," jawab Jino dengan suara rendah yang berat, begitu dekat hingga Reina bisa merasakan embusan napas hangat pria itu. "Aku hanya... tidak suka melihatmu menyerah pada keadaan. Kau adalah kucing liar yang harus selalu sehat untuk terus mencakar-cakarku."
Reina tersenyum lemah mendengar istilah konyol itu. Ia menggeleng pelan, lalu tanpa sadar, tangan kecilnya terulur untuk mencengkeram ujung kemeja Jino. "Kepalaku sakit sekali, Jino..."
Melihat kerapuhan gadis yang biasanya selalu berapi-api itu, pertahanan terakhir di hati Jino seketika runtuh. Tanpa ragu lagi, ia meletakkan handuk kecil di nakas, lalu dengan gerakan lembut, Jino menarik selimut Reina lebih tinggi dan merebahkan diri di sebelah tubuh gadis itu di atas ranjang yang luas. Ia merengkuh tubuh panas Reina ke dalam dekapan hangat dadanya, membiarkan kepala gadis itu bersandar nyaman di ceruk lehernya.
Reina tidak melawan. Ia terbuai dalam kehangatan pelukan itu, merasa begitu aman di tengah badai demam yang menyerangnya. Aroma woody bercampur mint dari tubuh Jino menjadi obat penenang paling mujarab yang membuat napasnya perlahan-lahan kembali teratur.
"Tidurlah, gadis desa," bisik Jino lembut di samping telinga Reina, mengecup sekilas puncak kepala gadis itu dengan penuh kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya. "Aku di sini. Aku tidak akan kemana-mana."
Malam itu, di bawah atap penthouse mewah yang diselimuti badai hujan, dinding permusuhan di antara mereka akhirnya benar-benar runtuh, menyisakan debaran jantung dua insan yang perlahan-lahan mulai belajar menyatu dalam satu ikatan rasa yang tulus.