Indonesia
NovelToon NovelToon
TAI CHU : KITAB TAKDIR

TAI CHU : KITAB TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Spectree Je

Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 - PUNCAK HUASHAN YANG BEKU DAN TOPENG YANG DILEPAS

Salju biru es yang turun di Kedai Arak Tiga Musim di Jiangnan, 500 li dari Huashan, malam itu juga berhenti setelah dua naga emas kecil milik Mu Chen memakan salju itu.

Tapi di sumbernya, di Puncak Teratai Emas Huashan, salju biru es itu tidak pernah berhenti selama 3 bulan terakhir.

Puncak Teratai Emas yang 5 tahun lalu adalah puncak bunga teratai emas yang mekar, tempat kalimat emas TUJUH TAHUN LAGI, MURID MENENTUKAN LANGIT muncul, kini... menjadi kuburan es.

Seluruh puncak, dari Puncak Teratai Emas sampai 100 kaki ke bawah, membeku menjadi es biru. Bunga teratai emas mati, menjadi bunga es. Batu-batu menjadi es. Bahkan awan di atas puncak membeku menjadi awan es yang tidak bergerak.

Di tengah puncak es itu, duduk bersila seorang kakek tua.

Jubah naga emas yang sudah lusuh karena 50 tahun di dalam peti es, rambut putih panjang sampai menyentuh es di lantai, jenggot putih yang membeku menjadi es, kulit keriput seperti cangkang kura-kura 1.000 tahun, mata tertutup, napas satu kali dalam 1 hari.

Zhuo Wudi. Leluhur tua yang bangun, monster tua yang membuat Istana tidak lagi takut pada Paviliun Awan Hitam, pada Pengemis Utara, pada Pulau Bunga Persik.

3 bulan ia duduk di sini, tidak makan, tidak minum, hanya menunggu, karena ia tahu, 1 tahun lagi, semua bintang akan datang ke sini, seperti ngengat yang datang ke api. Dan ia akan memakan mereka satu per satu.

Tapi hari ini, 2 bulan setelah salju biru esnya dikirim ke Jiangnan dan dimakan oleh Mu Chen, ia merasakan 2 aura yang tidak ia sangka akan datang lebih dulu.

Satu aura panas, sangat panas, seperti matahari yang baru lahir, 9 matahari yang menjadi 1 matahari besar — 9 Yang yang hampir sempurna.

Satu aura... tidak ada aura. Kosong. Seperti mangkuk kosong. Tapi di dalam kosong itu, ada pedang kayu hitam yang dibakar 2 tahun di lava, ada topeng perunggu retak yang retakannya menyatu menjadi naga, ada dendam 15 tahun yang tidak pernah padam.

Angin di Puncak Teratai Emas yang beku berhenti.

Dari bawah puncak, dari jalan setapak Huashan yang sudah menjadi es licin, berjalan naik dua orang.

Satu pemuda 20 tahun, telanjang dada meski di puncak es, kulit merah seperti bara, rambut memerah seperti api, di sekelilingnya tidak ada lagi 9 matahari kecil, hanya 1 matahari besar yang kadang muncul kadang hilang di belakang punggungnya, seperti lingkaran cahaya Buddha.

Yang Lie.

Satu pria 35 tahun, jubah hitam sederhana, bukan jubah naga, pedang kayu hitam yang ujungnya merah membara di punggung, wajahnya tertutup topeng perunggu retak yang kini retakannya membentuk naga emas karena 2 tahun dibakar lava.

Zhuo Fan.

Zhuo Fan dan Yang Lie tiba di puncak Huashan, mereka berdua melihat ke arah Zhuo Wudi yang duduk bersila di tengah gunung es.

Yang Lie yang tubuhnya adalah matahari, mengerutkan kening, karena bahkan matahari di punggungnya pun mengecil, kedinginan oleh es biru milik Zhuo Wudi.

"Kak Zhuo Fan... kakek tua itu... esnya... bahkan 9 Yang saya yang hampir sempurna pun... kedinginan..."

Zhuo Fan tidak menjawab. Ia menatap kakek tua yang duduk bersila itu. Luka pedang besar dari pelipis sampai dagu di balik topengnya terasa perih lagi, seperti 15 tahun lalu di Lembah Pedang.

Ia maju satu langkah. Es biru di bawah kakinya retak. KRETEK.

Satu langkah lagi. Es biru di bawah kakinya meleleh menjadi air, lalu menguap menjadi asap, karena pedang kayu hitam merah membara di punggungnya memanas.

Langkah ketiga, ia sudah di depan Zhuo Wudi, jarak 10 kaki.

Zhuo Wudi masih memejamkan mata, tidak bergerak, seperti patung es.

Zhuo Fan mengangkat tangannya, perlahan, melepas topengnya.

Topeng perunggu retak naga yang sudah ia pakai 15 tahun, sejak malam ia diselamatkan Murong Fu di Lembah Pedang, sejak ia menjadi bayangan, menjadi pemburu, menjadi penjaga Yang Lie di Lembah Api.

Topeng itu dilepas.

Wajah tampan yang penuh luka bakar dan bekas pedang besar dari pelipis sampai dagu terlihat. Wajah Pangeran Mahkota yang mati 15 tahun lalu. Wajah yang seharusnya menjadi Kaisar, bukan Zhuo Tian.

Tak disangka. Kakek buyutku sendiri yang paling ingin nyawaku seru Zhuo Fan, suaranya serak, bukan karena lava, tapi karena 15 tahun menahan amarah.

"Zhuo Wudi! 15 tahun lalu di Lembah Pedang, kau yang menyuruh Zhuo Tian menjebakku! Kau yang melambaikan tangan dan berkata 'Bunuh'! Aku memanggilmu Kakek Buyut! Kau memanggilku sampah yang terlalu baik untuk menjadi Kaisar! Hari ini... aku kembali!"

Zhuo Wudi membuka matanya.

Matanya bukan hitam, bukan putih, tapi emas. Emas seperti naga, seperti mata kura-kura tua 1.000 tahun yang lapar.

Ia melihat wajah Zhuo Fan yang tanpa topeng, melihat luka pedang yang ia buat sendiri 15 tahun lalu dengan satu jarinya, dan ia tertawa keras.

Tawa itu membuat seluruh gunung es Puncak Teratai Emas bergetar. Es biru yang membeku 3 bulan retak-retak. Awan es di atas puncak yang tidak bergerak 3 bulan, bergerak, membentuk pusaran.

"HA HA HA HA! Zhuo Fan! Cucu cicitku yang baik hati! Kau... kau belum mati! Murong Fu, bajingan bunga persik itu, ternyata menyelamatkanmu! Bagus! Bagus! Aku sudah bosan menunggu Mu Chen si bocah goni dan Qin Ruyan si gadis bayangan! Kau datang lebih dulu! Darah Keluarga Zhuo... darah naga... masih mengalir di tubuhmu... jika aku meminum darahmu, esku akan lebih dingin, apiku akan lebih panas!"

Ia berdiri. Perlahan. Es biru di tubuhnya yang membeku menjadi jubah, jatuh, pecah. Jubah naga emas lusuhnya berkibar, meski tidak ada angin.

Mereka berdua bertarung dan saling tukar jurus di Puncak Huashan.

Zhuo Wudi tidak menggunakan senjata. Ia hanya mengangkat satu jari. Jari telunjuk kanannya yang keriput seperti cangkang kura-kura.

"50 tahun lalu, aku mengalahkan Jueyuan dengan satu jari ini. 15 tahun lalu, aku membuat luka di wajahmu dengan satu jari ini. Hari ini, aku akan membunuhmu juga dengan satu jari ini. Gui Xi Yi Zhi — Jari Kura-Kura Tidur!"

Jari itu menusuk udara. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Tapi es biru di seluruh Puncak Teratai Emas langsung berkumpul, menjadi satu jari es raksasa sebesar gunung, menusuk ke arah Zhuo Fan.

Zhuo Fan tidak menghindar. Ia mencabut pedang kayu hitam merah membara di punggungnya.

Pedang kayu hitam yang 2 tahun dibakar di lautan lava Lembah Api, kayu 100 tahun yang kini menjadi bara abadi.

Zhuo Fan mengeluarkan 3 jurus andalannya.

Jurus pertama: Zhuo Long Chu Hai — Naga Keruh Keluar Dari Laut!

Pedang kayu hitam merah membara itu ditebas ke depan. Bukan tebasan pedang, tapi tebasan naga keruh. Dari pedang kayu itu keluar naga hitam kemerahan, naga yang terbuat dari lava dan darah 15 tahun, naga yang memakan jari es raksasa Zhuo Wudi.

BOOM!

Jari es raksasa dan naga keruh bertabrakan. Setengah Puncak Teratai Emas mencair, setengah lagi membeku lagi. Es dan lava bergantian.

Zhuo Wudi mundur setengah langkah, pertama kalinya dalam 3 bulan duduknya. Matanya emasnya berbinar.

"Bagus! Darah naga Keluarga Zhuo di tubuhmu sudah bercampur lava! Jurus kedua!"

Zhuo Fan berputar, pedang kayu hitam di tangannya berputar seperti gasing.

Jurus kedua: Mu Long Yin Shi — Naga Kayu Membuka Dunia!

Pedang kayu hitam itu tumbuh. Kayu 100 tahun yang dibakar 2 tahun di lava, kini tumbuh menjadi pohon besar dalam 1 detik, akar-akar kayu hitam keluar dari pedang, menusuk es biru, membelah gunung es, mencari tanah di bawah es.

Akar-akar itu melilit kaki Zhuo Wudi, ingin mengurung kura-kura tua itu.

Zhuo Wudi tertawa, mengangkat kakinya, menginjak akar-akar kayu hitam itu.

KRETEK!

Akar-akar kayu hitam itu membeku menjadi es, lalu patah.

"Tapi masih kurang panas! Jurus ketiga! Keluarkan jurus ketigamu! Jika tidak, kau mati!"

Zhuo Fan muntah darah, darahnya merah hitam, jatuh ke es biru, es biru itu meleleh. Ia menatap Yang Lie yang berdiri di belakang, yang dari tadi tidak bergerak, yang matanya terpejam.

Ia tahu, Yang Lie sedang melihat pertarungan itu dan melatihnya dalam hati.

Zhuo Fan mengangkat pedang kayu hitam merah membara tinggi-tinggi di atas kepala, dengan dua tangan, seperti ingin membelah langit dan bumi.

Dan ia berteriak, bukan nama jurus, tapi nama seseorang:

"MURONG FU! AJARI AKU SEKALI LAGI!"

Dan ia menebas ke bawah.

Jurus ketiga: Wu Jian Wu Wo — Tanpa Pedang Tanpa Aku!

Jurus yang 15 tahun lalu diajarkan Murong Fu padanya di Pulau Bunga Persik selama setengah tahun, jurus yang ia tidak pernah bisa kuasai sempurna karena hatinya masih ada dendam, masih ada aku.

Hari ini, di Puncak Huashan yang beku, di depan kakek buyutnya yang paling ingin nyawanya, untuk pertama kalinya, ia melepaskan topeng, melepaskan dendam, melepaskan aku.

Pedang kayu hitam merah membara itu... hilang. Tidak ada pedang. Tidak ada Zhuo Fan. Hanya ada satu garis. Garis cahaya hitam merah yang membelah gunung es, membelah awan es, membelah langit.

Garis itu menuju leher Zhuo Wudi.

Zhuo Wudi yang dari tadi tertawa, untuk pertama kalinya, tidak tertawa. Matanya yang emas mengecil.

"Jurus ini... bukan jurus Keluarga Zhuo... ini... ini jurus Murong... Tao Hua Ying Luo... Bunga Persik Jatuh...?!"

Ia mengangkat dua tangannya, dua tangan kura-kura tua, untuk menahan garis cahaya hitam merah itu.

BOOOOM!

Seluruh Puncak Teratai Emas Huashan yang sudah menjadi gunung es selama 3 bulan... meledak. Es biru beterbangan ke langit, mencair menjadi hujan di 100 li sekitar Huashan. Bunga teratai emas yang mati menjadi es 3 bulan, untuk sesaat, mekar lagi, lalu layu lagi.

Zhuo Fan terpental 100 kaki, jatuh berlutut, pedang kayu hitam merah membara di tangannya patah menjadi dua. Topeng perunggu naga di tanah, pecah menjadi dua.

Zhuo Wudi masih berdiri di tengah puncak yang kini tidak ada es lagi, hanya batu hitam yang hangus dan meleleh. Di dadanya, ada garis tipis merah, garis luka, darah emas keluar, darah naga Keluarga Zhuo yang sudah tidur 50 tahun.

Darah emas itu menetes ke batu hitam, batu hitam itu meleleh.

Zhuo Wudi menatap garis luka di dadanya, menatap Zhuo Fan yang berlutut dengan pedang patah, dan ia tertawa lagi, tapi tawa kali ini bukan tawa lapar, tawa kaget dan bangga.

"Bagus... bagus... cucu cicitku... kau... kau melukaiku... dengan jurus Murong... 15 tahun lalu aku membuat luka di wajahmu... hari ini kau membuat luka di dadaku... kita impas..."

Ia duduk kembali, bersila, menutup matanya yang emas.

"Yang Lie... bocah matahari... bawa kakakmu pergi... bawa dia ke Jiangnan... ke Kedai Arak Tiga Musim... di sana ada 7 bintang Jiangnan dan bocah goni yang bisa menyembuhkan luka pedang kayu hitam patah... Aku... aku tidak akan membunuh kalian hari ini... karena luka ini... membuatku ingat... 50 tahun lalu, sebelum tidur, aku juga pernah punya cucu yang baik hati sepertimu... dan aku membunuhnya juga... karena aku ingin menjadi Kaisar..."

Zhuo Fan yang berlutut, dengan pedang kayu hitam patah di tangan, darah di mulut, menatap kakek buyutnya yang kembali memejamkan mata, tidak mengerti.

Yang Lie yang melihat pertarungan itu dan melatihnya dalam hati, membuka matanya yang kini merah seperti matahari. Di dalam hatinya, 3 jurus Zhuo Fan tadi — Naga Keruh Keluar Dari Laut, Naga Kayu Membuka Dunia, Tanpa Pedang Tanpa Aku — sudah ia hafal, bukan dengan mata, tapi dengan hati matahari.

Ia menggendong Zhuo Fan yang pingsan karena kehabisan darah dan Qi, menggendong pedang kayu hitam patah dan topeng naga pecah, dan berjalan turun dari Puncak Huashan yang sudah tidak beku lagi.

Di belakang mereka, Zhuo Wudi yang duduk bersila, luka garis merah di dadanya perlahan membeku menjadi es biru lagi, tapi es biru itu tidak bisa menutup luka itu sepenuhnya.

Karena luka itu dibuat oleh jurus Tanpa Pedang Tanpa Aku — jurus yang tidak ada aku, jadi tidak bisa disembuhkan oleh es yang masih ada aku yang ingin abadi.

Salju biru es tidak turun lagi di Puncak Teratai Emas malam itu.

Dan di Kedai Arak Tiga Musim, 500 li jauhnya, Mu Chen yang sedang makan bakpao keempat, tiba-tiba menjatuhkan bakpaonya, menatap ke arah Huashan.

"Ada... ada yang terluka... bau darah naga... bau Keluarga Zhuo..."

7 Pendekar Jiangnan dan Shi Potian yang duduk di lantai bersamanya, juga menatap ke arah Huashan, di mana langit yang tadi biru es, kini... hitam merah, seperti habis terbakar dan membeku bersamaan.

1
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuutt...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuttt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Laaaaannnjjuuttt..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Maaaannnttaapp..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!