Indonesia
NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:206
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16: Rendra Ingin Laras Kembali

Dan untuk pertama kalinya, Vania tidak tahu perubahan mana yang akan menghantam berikutnya.

Rendra menerima surat penonaktifan sementara satu jam kemudian.

Ia masih boleh masuk rumah sakit untuk pemeriksaan internal, tetapi tidak boleh menerima pasien sampai komite menyelesaikan evaluasi keluhan dan konflik kepentingan dalam penanganan kasus keracunan pesta keluarganya.

Direktur medis memanggilnya ke ruangan. Di atas meja terdapat cetakan komentar pasien, salinan video Bu Marni dan Vania saling menyalahkan, serta daftar orang yang meminta dokter lain setelah mengetahui Rendra ikut menyetujui vendor bermasalah.

"Ini bukan hukuman final," kata direktur. "Tapi kepercayaan pasien terganggu. Anda juga tidak melaporkan sejak awal bahwa sebagian korban berasal dari acara keluarga Anda ketika ikut melakukan triase."

"Saya menolong dalam keadaan darurat."

"Dan itu benar. Namun setelah keadaan stabil, Anda tetap harus menyerahkan penanganan kepada tim yang tidak punya konflik. Komite akan menilai semuanya. Selama itu, jangan menemui pasien atas nama rumah sakit."

Rendra ingin membantah, tetapi tanda tangannya sendiri ada pada kontrak catering dan laporan awal. Ia akhirnya menerima surat dengan rahang kaku.

Di luar ruangan, seorang pasien yang mengenalinya menarik anaknya menjauh. Gerakan kecil itu melukai harga dirinya lebih dalam daripada kata penonaktifan.

Ketika melewati meja perawat, ia mendengar dua pegawai membicarakan Laras.

"Istrinya Mayor Bram hebat, ya. Baru menangani PMK, sekarang menyelamatkan satu bus."

"Cantik juga. Aku lihat videonya saat akad."

Rendra berhenti. "Kalian tidak punya pekerjaan?"

Kedua perawat langsung menunduk, tetapi ucapan mereka sudah telanjur masuk ke kepalanya.

Dahulu, ia mengejar Laras karena kecantikannya membuat semua lelaki di kampung menoleh. Setelah menikah, ia menyimpan perempuan itu di rumah bersama Bu Marni, lalu menganggap kepatuhan dan wajah cantiknya sebagai sesuatu yang pasti selalu tersedia.

Sekarang Laras bukan hanya cantik. Ia dihormati sebagai `Bu drh.`, dipuji satuan, dan berdiri di sisi seorang mayor.

Seandainya mereka belum bercerai, semua pujian itu ikut mengangkat nama Rendra.

Vania masuk membawa kotak makan. "Mas, aku dengar soal surat penonaktifan. Kita bisa mengajukan keberatan."

"Keberatan apa? Video pertengkaran kalian menyebar ke mana-mana."

"Kalian? Aku juga korban."

"Kalau kamu tidak menuntut mahar dan pesta berlebihan, Mama tidak perlu memilih catering murah."

Vania membeku. "Mas sendiri setuju memakai gedung itu karena tidak mau kalah dari Laras."

Rendra menghantam map ke meja. Beberapa kepala menoleh. Ia segera menarik napas dan merendahkan suara, kembali memakai wajah dokter yang tenang.

"Aku sedang tertekan. Jangan memperkeruh keadaan."

Vania menaruh kotak makan tanpa berkata lagi. Dalam ingatannya, Rendra adalah suami sukses yang akan memberinya hidup nyaman. Tidak ada penonaktifan, utang biaya pengobatan, atau tatapan lelaki itu yang terus kembali kepada mantan istri.

Setelah Vania pergi, Rendra membuka foto pernikahan Laras yang tersimpan dari grup. Ia meyakinkan diri bahwa Bram hanya tertarik sesaat. Dua orang yang dianggap tidak subur tidak akan bertahan lama sebagai keluarga. Ketika Laras lelah menjalani rumah tangga dingin, Rendra akan menerimanya kembali dan membuatnya bersyukur.

Pikiran itu begitu sombong sampai ia tidak pernah bertanya apakah Laras masih menginginkannya.

Di asrama, Laras menerima paket penghargaan dari pemerintah daerah dan satuan. Isinya sebuah plakat kecil, perlengkapan rumah yang berguna, serta pena logam dengan namanya terukir.

"Jalurnya akan diperiksa menyeluruh," kata petugas pengantar. "Bukan hanya titik longsor. Gorong-gorong dan bahu jalan sepanjang rute akan diaudit."

"Itu hadiah terbaiknya," jawab Laras.

Setelah petugas pergi, ia membantu Rina membuat kandang ayam di halaman belakang. Mereka melapisi kotak kayu dengan kertas tebal pada sisi yang terkena angin, memberi alas jerami kering, dan menyisakan lubang ventilasi di bagian atas.

"Siang di NTT panas, tapi dini hari bisa dingin," jelas Laras. "Alas harus tetap kering. Kalau lembap, ayam mudah sakit. Kedelai direndam, digiling, lalu ampasnya dikeringkan sebelum dicampur sedikit ke pakan. Jangan berlebihan."

Bintang duduk di tikar dekat Rina, memainkan sendok kayu. Tiga ayam betina mengais tanah di kandang baru.

Seorang perempuan dari rumah sebelah memperhatikan mereka melalui pagar. Namanya Bu Yuni, janda seorang anggota yang meninggal saat bertugas, ibu dari Toro, Ipin, dan Ino.

Di mata orang lain, Bu Yuni adalah perempuan yang patut dibantu. Namun ia selalu merasa bantuan yang diterimanya belum cukup. Ia ingin kedekatan dengan keluarga pejabat satuan, rumah lebih baik, dan seorang lelaki berpangkat yang bisa mengangkat hidupnya.

Garang menjadi salah satu penghalang.

Anjing besar bermata biru itu milik Bu Endah dan pernah menyelamatkan keluarganya dari penyusup. Garang selalu berpatroli di sekitar rumah, membuat Bu Yuni sulit datang diam-diam atau mengamati orang yang ia incar.

Beberapa minggu sebelumnya, Bu Yuni mencoba membawa makanan ke rumah Bu Endah saat Kolonel Wibowo sedang ada di sana. Garang berdiri di depan pagar dan terus menggeram sampai ajudan meminta Bu Yuni pulang. Sejak itu, ia menganggap anjing tersebut sengaja membuat keluarga perwira memandangnya mencurigakan.

Ia juga melihat bagaimana Bu Endah membantu kebutuhan tiga putranya melalui jalur resmi satuan, tetapi tidak pernah memberinya uang tunai sebanyak yang diminta. Dalam pikirannya, menjadi janda pahlawan seharusnya membuka semua pintu. Ketika tidak mendapat yang diinginkan, rasa berhak itu berubah menjadi dendam.

Toro, Ipin, dan Ino sedang bermain di rumah kerabat pagi itu. Tidak satu pun anak mengetahui apa yang disiapkan ibunya.

Pagi tadi, Bu Yuni membungkus potongan daging dengan serpihan kawat halus dan tali pancing. Ia menanam umpan itu di tepi jalur yang biasa dilewati Garang.

Ketika melihat Laras bersiap pergi ke peternakan, ia tahu waktunya hampir tiba.

"Mau ke mana, Bu Laras?" sapanya manis.

"Ke peternakan. Ada laporan yang harus saya periksa."

"Saya dengar Ibu hebat sekali. Baru pindah sudah dikenal banyak orang."

"Saya hanya menjalankan pekerjaan."

Bu Yuni tersenyum. Di kejauhan, Garang berlari mengikuti Bu Endah yang sedang berjalan pulang. Sesaat kemudian, anjing itu mencium tanah dan berhenti di dekat semak.

Bu Yuni cepat-cepat mendekat. "Bu Endah, biar saya ajak Garang ke klinik kalau ada apa-apa. Saya tahu jalan tercepat."

Garang menelan daging sebelum Bu Endah sempat menarik talinya.

Beberapa langkah kemudian, tubuh besarnya tersentak. Ia mengais mulut, batuk tanpa suara, lalu jatuh ke sisi jalan. Busa bercampur garis darah muncul di bibirnya.

"Garang!" Bu Endah menjerit.

Orang-orang mundur ketakutan.

"Jangan dekat! Mungkin rabies!"

Laras menjatuhkan tas belanja dan berlari.

Garang kejang, matanya yang biru menatap lurus kepadanya, seolah meminta pertolongan terakhir.

Waktu untuk menolongnya tinggal hitungan detik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!