Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mabuk
"Don Rion!" pinta seorang gadis pada
bartender yang ada di depannya, di dalam sebuah bar.
Dialah Anne, Anne Avantie Anderson gadis muda berusia 20 tahun yang anggun dan mempesona.
"Kau yakin kak akan memesan Absinthe
mahal ini?" tanya Selina dengan nada berbisik di sebelah gadis itu, sambil memapah tubuhnya yang sempoyongan.
"Ya. Aku akan membayarnya kau fikir aku
tidak mampu membayarnya hanya karena berita keluarga ku bangkrut, uangku masih cukup jika hanya untuk membeli satu botol minuman ini!" balas Anne ketika di remehkan oleh adik sepupunya itu, persetan jika uangnya akan habis dia gunakan hanya untuk membeli minuman ini, yang jelas dia ingin menyalurkan semua persoalan hidupnya malam ini.
Selina menyembunyikan senyum misteriusnya mendengar perkataan saudara nya itu, namun ia segera mengelak, "tidak begitu maksudku, kak. Kau belum pernah minum minuman ini, ku takut kau akan semakin mabuk."
"Aku tidak peduli, ayo cepat berikan aku
minuman itu. Lagi pula ini semakin bagus, supaya Davin marah jika tahu aku sedang mabuk dan menghabiskan banyak uang hanya untuk membeli minuman ini." Anne tampak tak peduli dengan nasehat adik sepupunya itu, dia tetap memaksa bartender pria di depannya untuk tetap memberikan minuman itu meski kini kondisinya sudah setengah mabuk oleh minuman pertamanya tadi.
Dalam hati Selina, dia bersorak setuju jika Anne akan mabuk berat malam ini.
Ya, mulanya adalah Selina yang mengajak Anne ke bar, ia mempunyai ide konyol supaya Anne mabuk supaya Davin datang menyelamatkan nya dan meminta maaf lalu kembali membahas pernikahan mereka setelah keluarganya membatalkan pernikahan itu hanya karena ayah Anne bangkrut.
Bartender itu pun tak mau melewatkan kesempatan ini saat menerima pesanan
minuman mahal karena ia akan mendapat bonus banyak setelah ini, lagipula pembeli adalah raja dan ia harus melayaninya dengan senang hati.
Gadis itu meraih gelas kecil itu dan menenggaknya dalam satu kali tegukan, dia memejamkan mata dan menggeleng pelan saat sensasi pahit bercampur hangat mengairi tenggorokannya.
Ia tak peduli alkohol akan membuatnya
kehilangan akal sehatnya malam ini, untuk semalam ini saja ia ingin meluapkan semua hal yang menggelayut di otaknya.
Tubuhnya semakin sempoyongan, Selina
yang tak kuasa menahan tubuh gadis itu pun memapahnya ke sebuah sofa dengan susah payah.
Saat melihat gadis itu sudah tidak berdaya, Selina segera berkata, "aku akan pergi sebentar, jangan kemana-mana. Setelah ini aku akan menghubungi kak Davin, jika kamu sedang ada disini dan mabuk. Dia pasti akan kemari dan memohon padamu lalu membicarakan lagi pernikahan kalian."
Anne mengangguk, bibirnya tersenyum,
begitu besar harapannya saat ini, "kamu
memang saudaraku yang sangat baik,".
Selina tersenyum, "jika nanti ada pria yang mendekati mu jangan menyuruhnya pergi, dia adalah temanku, bagian dari rencana ku untuk membuat Davin kembali melanjutkan pernikahan kalian."
Anne yang telah kehilangan akal sehatnya hanya mengangguk.
"Baiklah, baik. Jangan lama-lama meninggalkan ku." Anne pikir dengan berbuat seperti itu akan menjadi ancaman untuk Davin yang memang masih mencintainya.
"Ya, aku hanya sebentar." setelah itu Selina langsung menjauh, dan menuju ke tempat yang tidak terjangkau orang lain.
Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, apa gigolo yang aku pesan sudah
kamu siapkan?" tanya Selina menoleh ke kanan dan kiri memastikan tak ada orang yang mendengar pembicaraannya.
"Ya, sudah aku siapkan. Dia meminta DP
sebesar €350 dan aku sudah membayarnya." Balas suara dari seberang telepon itu.
"Bagus, suruh dia cepat kemari aku akan
mengganti uangmu nanti."
"Kamu tenang saja, dia akan datang tepat waktu."
Setelah mendapat balasan itu, Selina pun menutup panggilan itu.
Sambil melihat ke arah Anne lagi dari jarak aman untuk memastikan gigolo yang dia pesan telah datang.
Sungguh dia tidak akan menelepon Davin saat ini seperti yang dia katakan pada Anne, dia akan menghubungi Davin setelah gigolo itu mengirimi foto-foto telanjang Anne nanti, supaya Davin semakin yakin dengan keputusan orang tuanya jika Anne bukanlah gadis baik-baik.
Dia tersenyum puas dengan idenya.
Dia begitu senang setelah pernikahan Anne batal, karena menurutnya Anne selalu menjadi penghalang untuk dirinya menjadi wanita nomor satu.
Anne elalu mendapat pujian di kampus, di keluarganya dan di manapun.
Bahkan laki-laki lebih sering mendekati nya dari pada ia, ia iri dan ingin membuat Anne benar-benar hancur malam ini.
Anne terlihat duduk dengan gelisah di
atas sofa itu.
Sejak tadi orang-orang yang melihatnya tampak menatap dengan penuh cibiran, berita pernikahan nya yang gagal sudah beredar, tapi dia malah terlihat mabuk di tempat ini.
Namun ada juga yang menatapnya dengan kasihan, sebab ia terlihat begitu hancur.
Namun tak jarang juga pria-pria dewasa
disini menatap liar saat melihat kecantikan dan kemolekan yang di miliki Anne.
Kondisinya yang mabuk serta pakainya yang seksi malam ini telah mengundang hasrat liar mereka.
Pria-pria itu tampak tersenyum ke arahnya, mengedipkan mata, bahkan membasahi bibir mereka untuk menggoda.
Tapi Anne tak peduli, dia fokus pada
ponselnya.
Menatap layar ponsel yang sejak tadi dia pegang, dia menunggu-nunggu kehadiran Davin.
Namun sejak tadi ponselnya tak juga menyala, apakah Selina sudah menghubungi Davin? Mengapa juga dia tak segera kembali.
Sebenarnya dia bisa menghubungi pria itu sendiri, tapi pria itu akan lebih percaya jika orang lain yang memberi tahu.
Lagi pula ia tak ingin menurunkan harga dirinya ketika mengatakan terang-terangan jika ia mabuk karenanya.
Akhirnya ia melangkah kembali ke meja bar, barangkali ia harus menunggu teman Selina datang untuk menyempurnakan rencana itu.
Mungkin nanti Davin akan datang, lalu
menyelamatkannya disini.
Dan memohon sehingga dia akan membujuk orang tuanya untuk melanjutkan pernikahan mereka.
Sebab ayah Anne sangat kecewa setelah
pernikahan putrinya batal, dia tidak mau
membuat orang satu-satunya yang paling dia sayangi berkecil hati.
"Berikan aku satu gelas Absinthe lagi"
pinta Anne pada bartender pria didepannya.
Pria di depannya itu tampak ragu memberikan minuman karena melihat Anne sudah benar-benar mabuk, bahkan wajahnya sudah memerah dengan mata meredup.
Namun karena paksaan darinya, pria itu
memberikan apa yang Anne mau.
Anne pun meneguk lagi minuman itu.
Tawa pun lalu membuncah dari bibir ranumnya saat ia teringat ketika dia sudah bertahan dalam hubungan yang berakhir sia-sia, mencintai pria yang dikendalikan sepenuhnya oleh keluarganya.
Bahkan bayangan indah yang telah dia
rancang sedemikian itu kini harus terkubur sia-sia.
Dia harus menelan kenyataan pahit, jika
keinginannya untuk bahagia di tolak mentah-mentah oleh dunia, dia harus terpental dan kembali ke dasar terdalam.
"Aku ingin bertanya padamu," seru Anne
pada wanita di depannya.
"Ya, silahkan. Aku akan mendengar apapun yang kamu keluhkan nona." bartender itu membalas dengan suara datar lebih ke profesional.
"Apa aku ini terlalu jelek sampai membuat dia meninggalkanku? Kenapa semua orang hanya menghargai si cantik yang kaya?" kesal Anne dengan gerakan tangan didepan tubuhnya, ia benar-benar meluapkan seluruh kekesalannya saat ini.
Bartender itu pun menyimak, dan melihat ada banyak kekecewaan yang terpancar dari matanya.
la seperti orang frustasi akibat patah hati, dia juga tahu berita yang tengah beredar saat ini, Anne adalah putri pengusaha kaya yang kini bangkrut dan batal menikah.
Dia mencoba mengerti bagaimana perasaan nya.
Selain itu juga dia tak menampakkan pertanyaan yang dilayangkan darinya, jika Anne adalah gadis yang cantik, dia mengakui itu.
Bahkan ia sendiri mengalami sesuatu yang aneh pada tubuhnya sendiri walaupun ia berhasil menyembunyikan hasrat dibalik keprofesionalnya dengan baik.
"Tidak, kau cantik, nona. Aku rasa kekasihmu sudah salah menyia-nyiakan orang tulus seperti mu,"
Seketika tawa Anne pun pecah, "orang
yang tulus akan kalah dengan orang yang kaya, lihatlah! Dan aku adalah korbannya" ketika keluarganya masih berjaya banyak orang mendekat untuk menjadi saudara, tapi ketika dia terjatuh mereka malah menjauh.
Bartender itu tak menyela dengan ucapan apapun lagi meski yang di katakan Anne benar, tapi melayani orang mabuk hanya akan membuat ia kewalahan.
Anne tampak begitu kacau dia menggumam sendiri seperti orang gila, "kau memang benar-benar bajingan Davin, kau memilih menyerah dengan keputusan orang tuamu. Fuck! Apa kau benar-benar tidak mencintai ku?" murka Anne dengan tatapan mata tajam seraya menunjuk wanita yang sedang sibuk meracik minuman itu.
Pria itu terkesiap melihat kemarahan Anne tapi dia tetap profesional bekerja.
"Brengsek! Pasti Davin juga tidak di bolehkan orang tuanya untuk pergi malam ini!" racau Anne semakin frustasi.
Dia meremas rambut nya.
Di saat yang sama, seorang pria bertubuh ramping datang mendekatinya. "Hi."
Saat itu juga mata Anne berbinar. "Hi," dia membalasnya tanpa merasa curiga. Berfikir ini adalah teman Selina, Pria itu tersenyum lalu duduk di sebelahnya, "Kamu sangat cantik sekali malam ini." pujinya lalu mengulurkan tangannya membelai lengan mulusnya yang terekspos.
Sebenarnya Anne tidak nyaman, namun karena alkohol telah membuat dia hilang
kesadaran dia tak memperdulikannya, yang dia ingin hanya Davin datang kesini setelah ini.
Pria itu terus menggodanya.
Bahkan tak sungkan menyentuh tangannya.
Mereka ngobrol cukup lama, Anne sudah tidak bisa terkontrol lagi, dia terus meladen pria itu.
Bartender di depannya yang melihat
mereka pun sedikit khawatir, apalagi tampang pria itu seperti tidak asing, dia terlihat sudah biasa berbaur di tempat ini, hingga ia akhirnya menyuruh mereka pergi.
Setelah itu bertender itu melayani pelanggan yang lain sementara Anne dibiarkan teler di tempatnya.
Hingga pria itu datang kembali lalu memapah Anne, dan malah membawanya ke sebuah kamar.
Dari kejauhan Selina tersenyum puas
melihat gadis itu tidak berdaya.
Dia pun segera memotretnya, lalu pergi
dari bar itu.
Dan tak sabar ingin melihat reaksi Davin nantinya.
Sementara dari arah lain, di sudut ruangan itu, sepasang mata tajam bagaikan elang telah memperhatikannya dengan seksama, sejak gadis itu pertama kali minum disini.
Dia terus mengawasinya, sampai akhirnya ia membangkitkan tubuhnya dan menyusul keduanya yang semakin hilang dari pandangan nya.
"Kau akan kemana tuan?" tanya Vin sang asisten yang menemaninya malam ini.
Pria itu tak menjawab dia segera membuang rokok di tangannya setelah
menghisapnya dengan dalam untuk yang
terakhir kali.
Vin menatap penuh keheranan, sejak
tadi banyak sekali wanita yang datang dan menggodanya, bahkan menawarinya kehangatan secara cuma-cuma, tapi dia hanya mengabaikan nya.
Namun saat melihat wanita mabuk itu dia malah mengejarnya, sungguh aneh.
Viktor melangkah dengan tegas, sapapun yang melihatnya dan menghalangi jalannya akan buru-buru bergeser.
Mereka tahu siapa Viktor, pria itu sangat berkuasa dari siapapun disini, bahkan dari pemilik bar ini sendiri.
Dia mewarisi Montesano Corporation perusahaan terbesar di Eropa yang juga
berkembang di sejumlah wilayah lainnya,
selain sukses menguasai dunia bisnis atas dia juga menguasai dunia bawah, menjadi pemimpin juga pengendali klan Lucchesi.
Dia tidak akan segan mematahkan leher
siapapun yang menghalanginya.
Pria itu sangat mengerikan namun begitu
tampan, memiliki kesempurnaan yang sangat di idam-idamkan banyak wanita, tubuhnya kekar memiliki otot yang liat di tiap tubuh nya.
Hidungnya mancung, bibirnya tebal sensual, dengan alis hitam tegas, serta bola mata hitam yang jernih dan tajam sedalam lautan.
Segelap malam tanpa bulan.
Brak!
Satu tendangan kuat darinya, berhasil
membuka pintu itu.
Suara teriakan Anne dari dalam juga terdengar.
Gigolo itu terbelalak melihat seseorang
yang berdiri di belakangnya ketika ia tengah mencoba melucuti pakaian gadis itu.
Saat itu, saat melihat sorot matanya yang tajam dia langsung mengenalinya dan merasa cemas.
Tubuh nya bergetar dengan keringat dingin yang mengucur.
"Davin! Kamu sungguh datang?" Anne yang benar-benar mabuk berfikir sosok itu ialah Davin, dia tidak bisa melihat sosok itu ketika tertutup pria di depannya dan hanya bergumam sesuai nalurinya.