Indonesia
NovelToon NovelToon
Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Status: tamat
Genre:Preman / Dark Romance / Tamat
Popularitas:174
Nilai: 5
Nama Author: Husni

Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Rubah Kecil

Livia berguling ke kanan dan kiri sepanjang malam tanpa bisa memejamkan mata.

Ketika turun ke lantai bawah pada pagi hari, lingkaran hitam di bawah matanya tampak sangat jelas. Nathan sudah lama menunggunya di meja makan.

Pria itu duduk tegap seperti pohon pinus. Setelan gelap yang dijahit pas membingkai tubuhnya yang tinggi dan ramping. Dasi biru tua serasi dengan warna jas, sedangkan kancing teratas kemejanya sedikit terbuka, memberinya kesan santai tanpa mengurangi keanggunan.

Cahaya pagi jatuh tepat di bahunya. Kilau keemasan memantul pada bingkai kacamata di batang hidungnya, menambah aura terhormat yang sulit didekati.

Tangan kirinya bertumpu santai di tepi meja. Sesekali, jemarinya yang panjang mengusap guratan kayu pada permukaan meja.

Nathan menunggu sampai Livia duduk dengan tenang di hadapannya, barulah ia bertanya lembut, "Masih marah?"

Livia tidak tahu Nathan sedang membicarakan masalah yang mana.

Pertunangannya dengan Jolene? Kepergiannya ke luar negeri tanpa kabar? Atau tindakannya membenturkan kepala Livia begitu kembali?

Sebenarnya, Livia tidak marah karena semua itu. Ia hanya merasa Nathan telah berubah, terutama setelah mendengar perkataan pria tersebut semalam ketika mengira dirinya tertidur.

Setiap kata mengungkap ambisi yang begitu besar.

Nathan tidak puas hanya dengan memiliki beberapa tempat hiburan. Ia juga bukan pria yang akan terlena oleh cinta sesaat.

Livia lahir di luar Kota Kayan, tetapi tumbuh besar di kota perbatasan itu. Ia tahu bahwa untuk bertahan hidup di sini, orang harus terus mendaki dan menjadi lebih kuat.

Nathan tidak salah karena berjuang mendapatkan nama, kekuasaan, dan keuntungan. Ia bahkan meminta Livia menunggunya. Jolene tak pernah benar-benar berada di hatinya; wanita itu hanyalah bidak yang ia genggam.

Livia seharusnya merasa senang.

Namun ia tidak bisa.

Mungkin karena dalam pandangan Livia, seberapa kotor pun dunia ini, cinta seharusnya tetap bersih dan murni. Cinta tidak semestinya menjadi alat untuk naik ke puncak atau memanfaatkan seseorang.

Ketika mengingat tatapan penuh kasih Nathan kepada Jolene dan hasrat yang diperlihatkannya semalam, Livia merasa merinding.

Semua itu hanya topeng yang sengaja dipakai Nathan.

Pria seperti ini terasa asing baginya.

"Aku tidak marah kepada Om Nathan."

Livia menggeleng, lalu mengambil bubur hangat untuk dirinya sendiri. Emosi di matanya terlihat datar, tidak lincah dan menggemaskan seperti biasanya.

Sikap itu justru memicu amarah tak bernama di dada Nathan.

Pada saat itu, ia lebih rela melihat Livia menyapu seluruh hidangan dari meja, menangis, mengamuk, lalu mengatakan bahwa ia tidak menyukai Jolene dan melarang pertunangan tersebut.

Sayangnya, hal yang paling membuat Nathan tenang sekaligus sakit kepala adalah kemampuan Livia menyesuaikan diri.

Gadis itu sangat pandai menyenangkan orang dan menyembunyikan perasaan. Di hadapan siapa pun, ia bisa dengan cepat menunjukkan sikap yang mereka sukai dan mengucapkan kata-kata yang ingin mereka dengar.

Itulah cara Livia bertahan hidup.

Nathan mengambil serbet dan membersihkan tangannya dengan teliti.

Tidak boleh terburu-buru. Ia hanya perlu membiarkan Livia merasa sedih selama beberapa bulan lagi. Sekarang belum waktunya membujuk gadis itu.

Tit! Tit!

Ponsel di atas meja berbunyi.

Nathan menurunkan kepala. Pesan itu dari Jolene, yang mengajaknya pergi ke pusat perbelanjaan untuk memilih hadiah ulang tahun ketujuh puluh Pak Hadi.

Ia kemudian memandang Livia.

"Aku harus keluar. Malam ini aku tidak pergi ke klub. Kau tetap di rumah dan tidak boleh pergi ke mana pun."

"Aku ingin bekerja." Livia menelan bubur di mulutnya, lalu berbicara serius. "Sehari setelah Om Nathan pergi ke luar negeri, Kak Jolene datang menemuiku. Dia berbicara sebagai calon nyonya rumah Vila Pir."

Gerakan tangan Nathan yang memegang ponsel langsung berhenti.

"Jadi dia yang mengusirmu?"

"Ya."

Livia mengangguk dan menunggu pria itu menemukan kejanggalan dalam ceritanya. Nathan tidak mengecewakan. Ia segera mengerutkan kening.

"Kenapa baru memberitahuku sekarang?"

Tentu saja karena sebelumnya Livia tidak ingin merusak hubungan Nathan dan Jolene.

Namun setelah tahu Nathan tak pernah serius, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya.

Livia meletakkan sendok dan menatap pria itu. Wajah kecilnya dipenuhi keluhan yang ditahan.

"Aku hanya ingin mendukung kebahagiaan Om. Tapi Om malah marah kepadaku, memecat Bi Marni dan semua pelayan, memukulku tadi malam, lalu sekarang ingin mengurungku di rumah."

Nathan menatapnya selama tiga detik dan langsung memahami maksud sebenarnya.

Namun para pelayan yang sudah dipecat mungkin akan menyimpan dendam jika dipekerjakan kembali. Nathan yang selalu curiga tak mau mengambil risiko tersebut, sehingga ia tidak mengalah.

"Bi Marni sudah lanjut usia dan tidak lagi cocok bekerja di Vila Pir. Pesangon yang kuberikan, ditambah penghasilannya selama ini, cukup untuk menjamin hidupnya sampai tua. Para pelayan lain juga memiliki tempat tujuan masing-masing. Kau tidak perlu khawatir."

Livia mengerucutkan bibir dan tidak menjawab.

Nathan pun bangkit dan pindah duduk di sebelahnya. Ia mengambil sendok, menyendok bubur, kemudian menyodorkannya ke bibir Livia.

"Aku salah karena memukulmu. Aku minta maaf. Selain meminta mereka kembali, kau boleh menginginkan apa saja."

Nathan sangat mudah curiga dan selalu berhati-hati. Livia tahu Bi Marni tidak mungkin kembali.

Namun perkataan terakhir itulah yang sejak awal ia tunggu.

Tanpa sungkan, Livia membuka mulut dan menikmati suapan. Pada saat yang sama, ia memastikan sekali lagi, "Aku boleh meminta apa saja?"

"Ya. Apa saja."

"Kalau begitu, Om tidak boleh mengurungku. Aku ingin bekerja di klub dan mencari uang untuk membayar utangku!"

Nathan tidak mampu menahan tawa.

"Kau bekerja di klub milikku, mendapat uang dariku, lalu mengembalikannya kepadaku?"

"Bukan begitu." Dengan percaya diri, Livia membetulkan ucapannya. "Aku membantu Om menghasilkan uang. Anggap saja aku pohon uang milikmu. Kak Jolene benar, setelah Om menikah nanti, aku tidak boleh terus bergantung kepadamu."

Kalimat itu menjadi pengingat yang sangat tepat bagi Nathan. Kebetulan, ia juga sedang membutuhkan alasan untuk meredakan pertentangan di antara mereka.

Setelah menyuapi Livia hampir setengah mangkuk bubur, Nathan akhirnya mengabulkan keinginannya dengan senyum tipis.

"Kau boleh mencari uang untuk membayarku. Lima juta. Kalau kau bisa menghasilkan jumlah itu untukku, kau boleh pergi."

"Lima juta?"

Mata Livia berbinar. Ia menunduk dan mulai menghitung dalam hati.

"Lima juta rupiah? Aku bahkan bisa—"

"Aku belum selesai." Nathan memotong harapannya tanpa belas kasihan. "Lima juta dolar Amerika."

Dengan kurs sekarang, jumlah itu hampir delapan puluh miliar rupiah.

"Kau baru boleh meninggalkan Vila Pir setelah mendapatkan semuanya. Sebelum itu, kau harus tetap tinggal di sini dengan patuh."

"Apa?!"

Senyum Livia yang baru terangkat bahkan belum bertahan sedetik sebelum jatuh lagi. Alisnya merosot dan ia mendorong tangan Nathan.

"Aku tidak mau makan! Lima juta dolar? Kapan aku bisa mengumpulkan uang sebanyak itu?"

"Itu urusanmu. Carilah cara sendiri."

Suasana hati Nathan terlihat sangat baik. Ia mengembalikan sendok ke telapak tangan Livia, menyuruhnya makan sendiri.

"Aku berangkat."

"Om Nathan!"

Livia menangkap ujung jasnya.

"Orang-orang yang Om kurung kemarin... bisakah Om membebaskan mereka?"

Nathan menunduk dan menatapnya.

Sejak memasuki ruang makan, secara tersirat maupun terang-terangan, Livia telah mengajukan tiga permintaan. Satu ditolaknya, satu lagi diberi batas yang nyaris mustahil, dan permintaan terakhir merupakan yang paling mudah.

Tatapan Nathan jatuh pada lebam di dahi Livia, kemudian pada kedua matanya yang terlihat menyedihkan. Seolah jika Nathan kembali menolak, air mata akan segera tumpah.

Ia menyipitkan mata dan akhirnya mengangguk.

"Baik. Nanti aku akan menelepon Barto. Kuncinya ada di ruang kerjaku, lantai satu gedung A. Ambil sendiri."

"Terima kasih, Om Nathan!"

Tujuannya tercapai. Semua kemuraman di hati Livia langsung hilang.

Ia tersenyum sampai kedua matanya melengkung seperti bulan sabit. Cahaya bening berkilau di pupil cokelat mudanya dan perlahan menyebar ke hati Nathan.

Pria itu berhasil menangkap kelicikan yang melintas sesaat di mata Livia, tetapi tidak membongkarnya. Pandangannya bergerak turun dari wajah cantik gadis itu dan menyapu sosoknya.

Rubah kecil.

Tenggorokan Nathan mengering. Ia mengatupkan rahang, menahan keinginan untuk menyentuh pipi Livia dan mendekatinya lebih jauh.

Akhirnya, ia hanya mengambil ponsel di atas meja dan mengirim pesan kepada Jolene.

Aku akan menjemputmu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!